Prof. Nurhayati Rahman Sampaikan Pidato Guru Besar tentang Perempuan Intelektual Penggerak Zaman di Sulawesi Selatan

Yogyakarta, 12 Desember 2025 — Forum 2045 bersama Fakultas Pertanian UGM, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, dan Desanomia, serta didukung oleh Fisipol Universitas Proklamasi 45, STIA “AAN” Yogyakarta, Faperta Universitas Janabadra, FKIP Universitas Sulawesi Tenggara, Institut Pertanian INTAN, Sekolah Pembaruan Desa, dan Akademi Hikmah, kembali menggelar Pidato Guru Besar edisi ke-41 dengan menghadirkan Prof. Dr. Nurhayati Rahman, M.S., Guru Besar Filologi Universitas Hasanuddin. 

Dalam pidatonya yang bertajuk “Wanita-wanita Intelektual Penggerak Zaman di Sulawesi Selatan”, Prof. Nurhayati mengajak publik melihat kembali jejak panjang peran perempuan dalam sejarah Bugis-Makassar—jejak yang menurutnya jauh melampaui zamannya.

Acara yang berlangsung Jumat malam (12/12) secara daring melalui Zoom ini dipandu oleh Pinurba Parama Pratiyudha, S.Sos., M.A. sebagai host, dengan Moh. Adiwarman Cahyana, aktivis muda dari Palu, bertindak sebagai moderator. Hadir pula Prof. Dr. M. Baiquni, M.A., Ketua Dewan Guru Besar Universitas Gadjah Mada, yang memberikan sambutan pembuka.

Foto Host dan Moderator Acara Pidato Guru Besar, 12 Desember 2025 (Sumber: Dokumen Redaksi)

Perempuan Bugis-Makassar: Tidak Dipinggirkan, Tetapi Diberi Tempat Memimpin

Dalam pidatonya, Prof. Nurhayati menjelaskan bahwa sistem pemerintahan tradisional Sulawesi Selatan memiliki kemiripan dengan demokrasi. Keberadaan dewan adat—yang memiliki otoritas melantik hingga menurunkan raja—menjadikan kepemimpinan tidak bergantung pada garis keturunan, melainkan pada kompetensi, integritas, keberanian, dan kecakapan sosial.

Prinsip moral yang terkenal, yakni “macca, malempu’, magetteng, warani” (cerdas, jujur, teguh pendirian, berani), menjadi ukuran kepantasan bagi siapa pun untuk tampil di ruang publik—baik laki-laki maupun perempuan.

“Di Sulawesi Selatan tidak ada diskriminasi gender dalam kiprah publik. Yang berlaku adalah sistem bilateral. Siapa pun yang memenuhi syarat boleh memimpin, bahkan memberi fatwa,” ujar Prof. Nurhayati.

Tokoh-Tokoh Perempuan Penggerak Zaman

1. Sultana Siti Aisyah (Besek Kajuara)

Ratu Bone yang terkenal karena keberanian fisiknya dalam memimpin perang terhadap Belanda. Dua peristiwa yang membuat Belanda tersinggung—pembalikan bendera Belanda dan pencegatan misionaris—mendorong pecahnya perang panjang, di mana pasukan kolonial beberapa kali kewalahan menghadapi strategi gerilyanya.

2. Colliq Pujié (Retna Kencana)

Perempuan bangsawan yang dikenal sebagai intelektual besar Bugis, penulis, penyalin naskah, sekaligus pemimpin yang memengaruhi opini publik melalui karya-karyanya. Dialah yang menyalin 12 jilid epos La Galigo—yang kini tersimpan di Belanda dan diakui UNESCO sebagai Memory of the World.

Colliq Pujié pernah menjadi tahanan politik akibat aktivitas perlawanan dan pengaruh intelektualnya yang dianggap menggerakkan massa.

“Belanda sering kewalahan karena setiap ekspedisi ke Pancana selalu ada pemberontakan. Itu membuat Colliq Pujié dianggap ancaman politik,” jelas Prof. Nurhayati.

Refleksi Hari Ibu dan Tantangan Generasi Kini

Dalam sambutannya, Prof. Baiquni menyinggung momentum Hari Ibu yang segera tiba. Ia mengajak publik merefleksikan ketangguhan perempuan Indonesia, terutama dalam konteks bencana dan pemulihan sosial.

Diskusi yang mengikuti pidato kemudian berkembang luas: dari peran perempuan Bugis, prinsip moral siri’ na pacce, hingga kegelisahan publik terhadap fenomena media sosial yang dianggap mengikis keteladanan generasi muda.

Menanggapi hal ini, Prof. Nurhayati mengingatkan bahwa tantangan hari ini jauh berbeda dibanding masa lalu.

“Sekarang gelombang informasi datang seperti air bah. Tidak ada kontrol. Padahal dulu, harga diri (siri’) dijaga sangat kuat.”

Ia menekankan pentingnya kontrol orang tua, pendidikan nilai sejak kecil, serta revitalisasi kesadaran budaya.

Keunikan Sistem Gender di Bugis

Salah satu bagian menarik dari pidato adalah penjelasan Prof. Nurhayati tentang keberadaan lima gender dalam masyarakat Bugis, yaitu:

  1. Oroané (laki-laki)
  2. Makkunrai (perempuan)
  3. Calabai (laki-laki dengan peran feminin)
  4. Calalai (perempuan dengan peran maskulin)
  5. Bissu (pendeta suci non-biner, penjaga tradisi)

Menurut Prof. Nurhayati, keberadaan lima gender sudah berlangsung sejak masa pra-Islam dan tetap bertahan karena budaya Bugis menghargai eksistensi setiap individu selama mereka tidak merusak tatanan sosial.

Ajakan Memperkuat Ruang Pengetahuan

Di akhir acara, moderator Adiwarman Cahyana menegaskan pentingnya ruang-ruang diskusi seperti Forum 2045 untuk menjaga tradisi berpikir.

“Masa depan Indonesia tidak dibangun hanya dengan beton, tapi dengan gagasan-gagasan yang jernih dan keberanian membaca ulang pengetahuan lama,” ujarnya.

Acara kemudian ditutup oleh host Pinurba Parama Pratiyudha, yang menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan menegaskan komitmen forum untuk terus membuka ruang bagi para guru besar, intelektual, dan masyarakat sipil dalam menyumbang pikiran bagi Indonesia.

Related Articles

Artikel baru