Yogyakarta — Forum 2045 kembali menggelar Pidato Utama Guru Besar pada Jumat malam (14/11/2025) dengan mengangkat tema “Pahlawan Ekonomi Biru: Perempuan Menyeimbangkan Budidaya Perairan untuk Pariwisata Berkelanjutan.” Acara yang berlangsung secara daring melalui Zoom ini menghadirkan Prof. Dr. Ir. Winda Mercedes Mingkid, M.Mar.Sc., Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi, sebagai narasumber utama.
Acara dibuka oleh host Pinurba Parama Pratiyudha, S.Sos., M.A., yang menyambut peserta dari berbagai wilayah, mulai dari akademisi, mahasiswa, aktivis, hingga praktisi perikanan dan kelautan. Ia menjelaskan bahwa diskusi malam itu merupakan bagian dari Diskusi Mingguan Forum 2045, sebuah ruang epistemik yang diinisiasi para akademisi lintas kampus untuk menyiapkan gagasan menuju Indonesia Emas 2045.
“Forum 2045 ini adalah investasi pemikiran,” ujar Pinurba. “Ruang untuk menyemai ide-ide yang kelak akan kita panen pada tahun 2045.” Setelah pembukaan dan doa bersama, peserta menyanyikan Indonesia Raya sebagai pengingat komitmen kebangsaan.

Sambutan disampaikan oleh Prof. Dr. M. Baiquni, M.A., Ketua Majelis Dewan Guru Besar PTNBH, yang menekankan pentingnya diskusi lintas universitas untuk memperkuat gagasan keberlanjutan. Ia menggarisbawahi bahwa topik kali ini relevan dengan konteks kepulauan Indonesia serta peran perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam.
Diskusi kemudian dipandu oleh moderator Anthonius Yoshi Tamariska, S.Pi., M.Sc., kandidat doktor bidang perikanan dan satwa liar di Virginia Tech, Amerika Serikat. Ia mempersilakan peserta untuk mengaktifkan kamera dan ikut terlibat pada sesi dialog setelah pemaparan.
Budidaya Perairan dan Pariwisata Berkelanjutan: Titik Temu Ekonomi Biru
Dalam pemaparannya, Prof. Winda menguraikan pentingnya budidaya perairan (aquaculture) sebagai pilar ketahanan pangan (food security) dan sumber ekonomi masyarakat pesisir. Indonesia, jelasnya, adalah salah satu negara produsen hasil budidaya perairan terbesar di dunia, baik ikan air laut, ikan air tawar, maupun komoditas laut lainnya seperti oyster dan kerapu.
Menurutnya, budidaya perairan bukan hanya menopang ketersediaan pangan, tetapi juga membuka peluang ekowisata, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki area perairan indah seperti Manado, Derawan, Bali, hingga Maluku Utara.
“Banyak turis datang bukan hanya untuk berwisata, tetapi juga ingin mempelajari model budidaya dan pengelolaan perikanan berkelanjutan. Dari sekadar melihat, itu bisa menjadi bisnis baru bagi Indonesia,” jelasnya.
Prof. Winda menjelaskan empat alasan pentingnya budidaya perairan:
1.Mendorong ketahanan pangan (food security).
2.Meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir.
3.Memberi manfaat ekologis.
4.Melestarikan biodiversitas laut.
Mengapa Ekonomi Biru Harus Melibatkan Perempuan?
Prof. Winda kemudian mengurai gagasan inti malam itu: peran perempuan dalam ekonomi biru. Menurutnya, perempuan memiliki kontribusi yang besar dalam berbagai aspek budidaya dan pengelolaan pesisir, namun sering tidak mendapatkan pengakuan.
Ia menjabarkan empat bentuk peran strategis perempuan:
– Inovasi teknologi dan bisnis budidaya.
– Mendorong kesetaraan gender dan hak-hak kerja.
– Menjaga praktik budidaya agar bertanggung jawab dan berkelanjutan.
– Menopang stabilitas ekonomi keluarga dan komunitas melalui usaha hasil laut.
“Perempuan bukan sekadar pelengkap dalam ekonomi pesisir,” tegas Prof. Winda. “Mereka adalah penyeimbang. Pahlawan ekologi yang menjaga keberlanjutan budidaya dan pariwisata.”
Tantangan dan Solusi: Dari Akses Hingga Perubahan Iklim
Dalam paparannya, Prof. Winda juga menyebut lima masalah utama yang dihadapi perempuan dalam industri budidaya perairan:
I.Akses terbatas terhadap sumber daya.
II.Hambatan budaya dan sosial.
III.Beban kerja ganda.
IV.Minimnya pendidikan dan pelatihan teknis.
V.Dampak perubahan iklim.
Untuk masing-masing permasalahan tersebut, ia menawarkan solusi praktis:
1)Meningkatkan akses perempuan ke modal, alat, dan lahan.
2)Program pelatihan dan pendidikan berbasis komunitas.
3)Kebijakan kerja responsif gender untuk mengurangi beban ganda.
4)Penguatan dukungan komunitas dan jaringan perempuan pesisir.
5)Strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
6)Kerja Kolaborasi Antaruniversitas
Acara ini terselenggara melalui kerja sama Forum 2045 dengan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Desanomia, serta didukung sejumlah lembaga pendidikan seperti Fisipol UP45, STIA “AAN” Yogyakarta, Universitas Janabadra, FKIP Universitas Sulawesi Tenggara, Institut Pertanian INTAN, Sekolah Pembaruan Desa, dan Akademi Hikmah.
Penutup
Di akhir pidatonya, Prof. Winda mengajak mahasiswa, peneliti, dan pembuat kebijakan untuk memperkuat peran perempuan dalam ekonomi biru melalui inovasi, pendidikan, dan kebijakan yang berpihak. “Kita semua punya peran dalam memastikan laut tetap sehat, pangan tetap tersedia, dan perempuan diberi ruang untuk memimpin,” tutupnya.
Forum 2045 menegaskan harapannya bahwa gagasan yang disampaikan dalam seri ke-37 ini dapat menjadi bahan kebijakan dan inisiatif nyata dalam upaya mewujudkan ekonomi biru yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.

