Mlangi, Sleman — Di tengah padatnya agenda keagamaan, Pondok Pesantren Aswaja Nusantara memilih menambahkan satu ikhtiar yang berbeda. Bukan pengajian, bukan pula seremoni. Pesantren ini menggelar pelatihan digital bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Sabtu (31/1/2026). Kegiatan itu menjadi bagian dari rangkaian Haflah Pesantren yang berlangsung selama sepekan.
Pelatihan berlangsung sejak pagi hingga sore hari di Aula PPM Aswaja Nusantara, Mlangi, Sleman. Puluhan peserta hadir. Mereka datang dari beragam latar belakang. Santri, alumni pesantren, dan warga sekitar duduk dalam satu ruangan. Mereka membawa ponsel masing-masing. Bukan sekadar untuk mencatat, juga untuk praktik langsung.

Kegiatan ini dirancang sebagai program pengabdian masyarakat pesantren. Tujuannya jelas. Membekali pelaku UMKM dengan keterampilan pemasaran digital yang relevan dengan perubahan zaman. Di era ketika transaksi bergeser ke ruang daring, pesantren mencoba mengambil peran yang lebih luas. Tidak hanya sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga sebagai ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat
Menjawab Tantangan UMKM di Era Digital
Pelatihan digital UMKM tahun ini mengusung tema Pelatihan Digital Marketing, Media Sosial, dan Konten Kreatif Tingkat Menengah untuk UMKM. Tema tersebut dipilih bukan tanpa alasan. Banyak pelaku usaha kecil dinilai masih tertinggal dalam pemanfaatan teknologi digital, meskipun produk yang mereka hasilkan memiliki kualitas yang baik.
Pengasuh Pondok Pesantren Aswaja Nusantara, Gus Mustafid, menyampaikan bahwa pelatihan ini lahir dari keprihatinan atas kondisi tersebut. Menurut dia, tidak sedikit UMKM yang sudah memiliki akun toko daring, tetapi belum mampu mengoptimalkannya. Akibatnya, produk sulit menjangkau pasar yang lebih luas.
“Banyak UMKM produknya bagus. Rasanya enak. Kualitasnya baik. Tapi pemasaran digitalnya belum maksimal,” ujar Gus Mustafid saat membuka kegiatan. Ia menegaskan bahwa teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan hambatan. Pesantren, kata dia, berkewajiban ikut membantu masyarakat memahami hal itu
Peserta Datang dari Beragam Latar Usaha
Sebanyak 34 peserta tercatat mengikuti pelatihan ini. Angka itu mungkin tidak besar. Namun, latar belakang mereka cukup beragam. Ada pelaku usaha kuliner rumahan. Ada perajin fesyen dan konveksi. Ada pula yang bergerak di bidang kerajinan tangan dan produk olahan.

Sebagian peserta adalah santri dan alumni pesantren yang baru merintis usaha. Sebagian lainnya sudah menjalankan usaha bertahun-tahun, tetapi masih mengandalkan penjualan offline. Mereka datang dengan harapan yang sama. Ingin memahami cara memasarkan produk di ruang digital secara lebih efektif.
Pelatihan menghadirkan tiga narasumber, yakni Iwan J Prasetyo, Wisnu Nugroho, dan Nova Ardiyanto. Ketiganya dikenal sebagai tim pelatih yang aktif memberikan pelatihan literasi digital di berbagai daerah. Dalam pemaparannya, para narasumber menekankan bahwa perubahan perilaku konsumen tidak bisa dihindari.

“Kalau UMKM tidak masuk ke digital, maka akan tertinggal,” kata salah satu narasumber. Menurut dia, kehadiran di media sosial dan marketplace bukan lagi pilihan tambahan, tetapi kebutuhan dasar bagi pelaku usaha saat ini.
Potret UMKM Peserta : Antara Kebutuhan Digital dan Tantangan Lapangan
Sebelum pelatihan dilakukan pendataan dan asesmen terhadap peserta. Pendataan digital melalui google form yang harus diisi peserta ketika mendaftar. Data yang masuk menunjukkan wajah berikut ini.

Data pendataan peserta Program Pelatihan Digital Marketing Pesantren Aswaja Nusantara Mlangi memberikan gambaran yang cukup utuh mengenai kondisi riil pelaku UMKM di lingkungan pesantren dan masyarakat sekitarnya. Dari puluhan responden yang terdata, terlihat bahwa UMKM yang terlibat berasal dari beragam latar belakang usia, jenis usaha, dan tingkat pengalaman, dengan satu benang merah yang sama: kebutuhan kuat terhadap penguatan kapasitas digital.
Sebagian besar peserta berada pada rentang usia produktif, mulai dari awal 20-an hingga 50-an tahun. Ini menunjukkan bahwa pelaku UMKM pesantren tidak hanya didominasi oleh generasi muda, tetapi juga generasi dewasa yang telah lama menjalankan usaha. Jenis usaha yang digeluti pun cukup variatif, dengan dominasi sektor fashion (batik, pakaian jadi, ecoprint, konveksi) dan kuliner (snack, bakery, bakso, kopi, sambal, risol, dan makanan olahan). Di luar itu, terdapat pula UMKM di bidang pertanian, herbal, ritel, serta afiliasi dan reseller digital. Variasi ini mencerminkan potensi ekonomi lokal yang cukup kaya dan berbasis kearifan setempat.
Dari sisi skala usaha, mayoritas UMKM masih berbentuk usaha perorangan, dengan sebagian kecil telah memiliki legalitas seperti PIRT, sertifikasi halal, bahkan badan hukum PT. Namun, masih terdapat pula pelaku usaha yang belum memiliki perizinan sama sekali atau baru akan memulai usaha. Hal ini menunjukkan bahwa ekosistem UMKM berada pada fase transisi: sebagian mulai naik kelas, sementara sebagian lainnya masih membutuhkan pendampingan dasar, baik dari sisi legalitas maupun manajemen usaha
Pendapatan bulanan UMKM peserta sangat beragam. Sebagian besar berada pada kisaran Rp1 juta hingga Rp10 juta per bulan, meskipun terdapat pula beberapa usaha dengan omzet puluhan hingga ratusan juta rupiah. Model penjualan yang digunakan menunjukkan kecenderungan hybrid, yakni menggabungkan penjualan online dan offline. Namun, mayoritas responden mengakui bahwa pemasaran online dinilai lebih menguntungkan, terutama karena jangkauan pasar yang lebih luas, fleksibilitas waktu, dan efisiensi biaya. Meski demikian, masih ada pelaku usaha yang bertumpu pada penjualan offline karena keterbatasan pengetahuan atau kesiapan digital.
Dari sisi pemanfaatan teknologi, data menunjukkan bahwa sebagian besar UMKM telah menggunakan media sosial dan aplikasi percakapan seperti WhatsApp, Instagram, Facebook, TikTok, serta marketplace seperti Shopee dan Tokopedia. Namun, penggunaan tersebut masih bersifat dasar dan belum terintegrasi dalam strategi digital marketing yang matang. Hal ini diperkuat oleh fakta bahwa sebagian besar peserta belum pernah mengikuti pelatihan digital marketing secara formal. Mereka belajar secara otodidak, dari pengalaman pribadi, atau sekadar mengikuti tren tanpa pemahaman mendalam.
Ketika ditanya mengenai tingkat kepentingan digital marketing, mayoritas peserta menilai digital marketing sebagai faktor sangat penting bagi keberlanjutan usaha mereka. Materi yang paling diharapkan untuk dikuasai mencakup strategi media sosial, fotografi dan editing konten, serta integrasi teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Harapan ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa persaingan usaha tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh kemampuan membangun narasi, visual, dan kepercayaan di ruang digital.
Adapun hambatan utama yang dihadapi pelaku UMKM dalam menerapkan digital marketing meliputi kesulitan mencari ide konten, memahami algoritma media sosial, menjaga konsistensi, keterbatasan kemampuan editing, hingga kendala teknis seperti perangkat dan jaringan internet. Hambatan tersebut bersifat struktural dan kultural, bukan sekadar persoalan kemauan. Meski demikian, hampir seluruh responden menyatakan kesediaan penuh untuk mengikuti pelatihan dari awal hingga akhir, yang menunjukkan motivasi belajar dan keinginan kuat untuk berkembang.
Secara keseluruhan, data ini menegaskan bahwa UMKM di lingkungan Pesantren Aswaja Nusantara memiliki potensi besar untuk berkembang di era digital, namun masih membutuhkan intervensi pelatihan yang terstruktur, aplikatif, dan berkelanjutan. Pelatihan digital marketing bukan sekadar transfer pengetahuan teknis, melainkan langkah strategis untuk menjembatani kesenjangan antara potensi usaha lokal dan tuntutan ekonomi digital yang terus bergerak cepat.
Belajar dari Praktik, Bukan Sekadar Teori
Pelatihan tidak dikemas dalam format ceramah satu arah. Setelah pemaparan materi, peserta langsung diajak praktik. Mereka diminta memotret produk menggunakan ponsel masing-masing. Mereka belajar menata cahaya sederhana. Menentukan sudut pengambilan gambar. Menulis caption promosi dengan kalimat yang ringkas dan menarik.
Para narasumber juga menjelaskan waktu unggah konten yang dinilai lebih efektif. Peserta diajak memahami algoritma media sosial secara sederhana. Tidak rumit. Tidak teknis berlebihan. Fokus pada hal-hal yang bisa langsung diterapkan.
Suasana pelatihan terlihat hidup. Pertanyaan muncul dari berbagai sudut ruangan. Peserta menceritakan kendala yang selama ini mereka hadapi. Mulai dari sepi pembeli, sulit membuat konten, hingga bingung menentukan harga jual.
“Saya baru tahu kalau foto produk dan kata-kata promosi itu sangat berpengaruh,” ujar Ali Muqoddam, salah satu peserta. Menurut dia, selama ini ia mengira pemasaran digital membutuhkan biaya besar. Pelatihan ini mengubah pandangannya. Konsistensi, kata Ali, jauh lebih penting daripada peralatan mahal.
Pesantren dan Penguatan Ekonomi Umat
Dalam sambutannya, Gus Mustafid menegaskan bahwa pesantren tidak boleh berhenti pada fungsi tradisional semata. Pesantren, menurut dia, harus mampu membaca kebutuhan zaman. Salah satunya dengan membekali santri dan masyarakat keterampilan ekonomi yang relevan.
“Pesantren tidak hanya mencetak santri yang paham ilmu agama,” ujarnya. “Tetapi juga harus mampu melahirkan pelaku usaha yang profesional dan berakhlak.”
Ia melihat pelatihan digital UMKM sebagai langkah awal membangun ekosistem usaha berbasis pesantren. Ekosistem yang tidak hanya mengandalkan individu, tetapi juga kolaborasi. Antara pesantren, masyarakat, dan berbagai pihak lain yang memiliki kepedulian serupa
Harapan Akan Pendampingan Berkelanjutan
Pelatihan ini tidak dimaksudkan sebagai kegiatan satu kali. Pihak pesantren menyadari bahwa perubahan tidak terjadi secara instan. Dibutuhkan pendampingan berkelanjutan agar pelaku UMKM benar-benar bisa naik kelas.
Ke depan, Pesantren Aswaja Nusantara berencana menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Mulai dari akademisi, praktisi, hingga lembaga yang bergerak di bidang pengembangan UMKM. Pendampingan diharapkan dapat membantu pelaku usaha mengatasi kendala yang muncul setelah pelatihan. “Kami ingin ada tindak lanjut,” kata Gus Mustafid. “Tidak hanya pelatihan, tetapi juga pendampingan agar UMKM benar-benar berkembang.”
Harapan serupa disampaikan para peserta. Ihwaty, pelaku usaha konveksi, mengaku selama ini hanya mengandalkan penjualan offline. Setelah mengikuti pelatihan, ia merasa lebih percaya diri untuk mulai berjualan secara daring.
“Materinya sederhana dan langsung bisa dipraktikkan,” ujarnya. Hal senada disampaikan Tatik, peserta lain, yang merasa mendapatkan wawasan baru tentang pentingnya branding dan konsistensi dalam berjualan di era digital
Haflah sebagai Ruang Integrasi Nilai
Pelatihan digital UMKM ini merupakan bagian dari rangkaian Haflah Pondok Pesantren Aswaja Nusantara yang berlangsung selama tujuh hari, dari 31 Januari hingga 7 Februari 2026. Selain pelatihan, haflah juga diisi dengan simaan Al-Qur’an 30 juz, Ngabdul Qodiran, silaturahim akademisi lintas kampus, diskusi kelompok terfokus tentang Islam dalam babad, serta ziarah maqbarah.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, pesantren berupaya mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi dalam satu momentum. Haflah tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga ruang refleksi dan penguatan peran sosial pesantren.
Dengan pelatihan digital UMKM ini, Pesantren Aswaja Nusantara menegaskan posisinya sebagai bagian dari denyut kehidupan masyarakat. Pesantren hadir, tidak hanya dalam doa dan pengajian, tetapi juga dalam upaya konkret memperkuat ekonomi umat di tengah perubahan zaman.

