Di tengah arus modernisasi yang kian deras, ruang untuk merenung tentang akar kebudayaan dan keislaman kita terasa semakin sempit. Pameran “Islam di Minangkabau: Surau dan Ritus Keberagamaan di Sumatera Barat” karya Edy Utama menghadirkan kembali ruang refleksi, atau ruang untuk merenung itu. Pameran ini diselenggarakan di Galeri Taman Budaya Sumatera Barat, pada tanggal 24-31 Oktober 2025. Poin utama dari pameran ini adalah ajakan untuk menengok ulang hubungan yang panjang dan dinamis antara Islam, adat, dan kehidupan masyarakat Minangkabau.
Melalui metode etnofotografi, Edy Utama mempersembahkan hampir dua ratus gambar yang diambilnya selama dua puluh tahun terakhir. Gambar-gambar tersebut menangkap sisi spiritual dan budaya di berbagai daerah Minangkabau: surau-surau tua bersejarah yang terus berfungsi, ritual sedekah padi, doa tolak bala, balimau, hingga tabuik. Namun, lebih dari sekadar dokumentasi gambar, karya-karya ini merupakan permenungan tentang bagaimana masyarakat menjalani Islam dalam keseharian mereka—melalui cara berdoa, saling membantu, gotong royong, dan menjaga keselarasan dengan alam.

Dalam liputannya, Muhammad Taufik dari Cagak.id menyampaikan bahwa Edy Utama memulai dari perspektif bahwa “foto tidak hanya sekadar menangkap realitas, tetapi juga menciptakan cara pandang. ” Dengan demikian, pameran ini tidak hanya sekadar memperlihatkan gambar, tetapi juga memberikan ruang untuk interpretasi: bagaimana Islam dimaknai dan diungkapkan dalam budaya Minangkabau. Ia menggarisbawahi bahwa keberagamaan tidaklah tunggal, melainkan hasil dari dialog yang panjang antara teks dan konteks, antara syarak dan adat, antara nilai dan praktik.
Sebagaimana diungkapkan dalam pepatah Minang, “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah,” pameran ini mengingatkan kita bahwa Islam ada, bukan menghapus tradisi, malainkan adalah untuk menyempurnakannya. Hubungan semacam ini, pada dasarnya mencerminkan prinsip moderasi, keseimbangan, dan toleransi—yang memungkinkan Islam berintegrasi dengan kebijaksanaan lokal tanpa kehilangan esensinya.
Dengan melihat foto-foto karya Edy Utama ini, kita seolah diajak untuk menyelami denyut kehidupan masyarakat yang masih setia pada nilai-nilai dasarnya. Namun, seperti yang diingatkan oleh fotografer tersebut, kita sering kali terlalu sibuk dengan “muara”—modernitas, kebanggaan identitas, dan simbol-simbol keagamaan—sementara melupakan “hulu”: akar spiritualitas yang memberikan makna dalam kehidupan.
Pertanyaan yang muncul adalah: apakah generasi saat ini masih memahami makna yang terkandung di balik ritual dan tradisi keagamaan tersebut? Ataukah semua itu hanya menjadi tontonan tanpa makna? Pameran ini mengajak kita untuk menjawabnya bukan dengan sikap nostalgia, melainkan dengan pemahaman yang baru: bahwa Islam di Nusantara, terutama di Minangkabau, merupakan hasil dari pertemuan yang bernilai antara iman dan budaya.
Pameran ini penting bukan hanya karena nilai estetikanya, tetapi karena pesan yang dibawanya: bahwa Islam rahmatan lil alamin selalu menemukan keindahannya ketika bersentuhan dengan budaya yang menghargai kehidupan. Foto-foto Edy Utama, dengan segala lapisan maknanya, menjadi ruang refleksi yang mengingatkan kita pada hakikat dakwah Aswaja—menyapa, bukan meniadakan; menghidupkan, bukan menghapuskan.
Pameran ini memiliki arti penting tidak hanya karena nilai seni dan estetika yang ditawarkannya, tetapi juga karena pesan yang ingin disampaikan: bahwa Islam rahmatan lil alamin selalu menemukan keindahannya saat terjalin dengan budaya yang menjunjung kehidupan. Foto-foto Edy Utama, dengan seluruh lapisan maknanya, menjadi sarana refleksi yang mengingatkan kita pada hakikat dakwah yang sejati, yaitu menyapa, bukan menghilangkan; menghidupkan, bukan menghapuskan.
Sumber:
Cagak.id, “Pameran Etnofotografi Edy Utama: Ragam Tafsir Islam (di) Minangkabau,” 2025.
https://www.cagak.id/liputan/pameran-etnofografi-edy-utama-ragam-tafsir-islam-di-minangkabau/

