Pelatihan ini berbicara tentang satu keterampilan yang sering disalahpahami. Namanya Computational Thinking (CT). Pelatihan ini bukan semacam kursus untuk menjadi programmer. Bukan pula ajakan menjadi “robot”. Materinya justru menegaskan bahwa CT adalah cara berpikir untuk memecahkan masalah rumit secara metodis, efisien, dan logis. Model berfikir ini mirip cara ilmuwan komputer menyusun program, tetapi berguna untuk semua orang.
Pemateri dalam pelatihan ini adalah Danang Teguh Qoyyimi, ASAI, Ph.D, dari Lab of Statistics, Departemen Matematika FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM). Pemateri memperkenalkan CT sebagai bekal guru agar lebih “smart” dalam mengajar.
Materi pelatihan menempatkan CT sebagai “jembatan” untuk mencetak kreator masa depan. Di situ CT diposisikan bukan sekadar teori. Ada pilar, ada latihan, ada simulasi. Ada contoh penerapan lintas-mapel.
Pelatihan ini diselenggarakan atas kolaborasi antara Kagama Departemen Kerjasama Pesantren dengan Pesantren Sholeh Al-Mubarok Tungkal Ulu Tanjabar, Pesantren Nurul Iman Sebapo, Muaro Jambi, Pesantren Nurul Iman Kampar, Riau, Yayasan Nur Iman Mlangi, dan Pesantren Aswaja Nusantara Mlangi Sleman Yogyakarta.
Koordinator Kagama Kerjasama Departemen Pesantren mengatakan bahwa pelatihan tersebut telah dilaksanakan secara online, pada Senin, 2 Maret 2026, mulai dari 13.40 sd 15.wib wib. Pelatihan ini diikuti lebih dari 70 guru, dan sampai sesi selesai masih diikuti lebih dari 65 guru. Hal ini menunjukkan, peserta cukup antusias, sehingga mengikuti sampai akhir.
Berkenalan dengan CT
Berikut ini adalah ringkasan materi yang dibawakan oleh narasumber, Bpk Danang Teguh Qoyyimi, Ph.D, yang juga pegiat Santri-STEM. Bagian awal materi langsung menyasar sasaran peserta. Mengapa guru SMP/MtS dan SMA/MA? Alasannya disebut tegas. Usia tersebut adalah masa transisi yang disebut “masa keemasan” untuk mengasah kemampuan berpikir abstrak dan logika formal. Di titik itulah CT dianggap paling efektif ditanamkan lewat cara mengajar guru.
Materi juga mengikat CT dengan kebutuhan kurikulum dan asesmen. CT disebut mendukung literasi dan numerasi yang relevan dengan AKM. CT juga dikaitkan dengan keberhasilan mengerjakan soal HOTS. Bahkan lebih jauh, CT diproyeksikan membantu membangun kemandirian belajar, siswa paham “bagaimana cara belajar”.
Di bagian “Jembatan Menuju Masa Depan”, CT dipaketkan sebagai bekal menghadapi ketidakpastian. Ada dua rumpun kompetensi yang ditekankan. Pertama, soft skills: kolaborasi, ketelitian, dan daya juang atau resiliensi. Kedua, hard skills: logika sistematis dan analisis data. CT, kata materi itu, memberi “peta dan kompas” bagi siswa.
CT bukan tentang meniru komputer. CT justru melatih manusia agar mampu menangani masalah kompleks secara cerdas dan terstruktur. Kalimat penutup dokumen menancapkan definisi itu seperti slogan.
Empat Pilar CT

Inti pelatihan dirangkum dalam empat pilar Computational Thinking. Empat pilar ini diperkenalkan sebagai perangkat kerja, bukan hafalan konsep. Setiap pilar diberi definisi dan contoh keseharian.
Pilar pertama, dekomposisi. Ini proses membagi masalah besar menjadi komponen yang lebih kecil dan mudah dikelola. Tujuannya sederhana, yaitu masalah tidak terlihat menakutkan, lalu bisa diselesaikan satu per satu. Contoh yang dipakai sangat domestic, misalnya, membuat nasi goreng. Daftarnya rinci di antaranya menyiapkan bahan, mengiris bumbu, menggoreng telur, menumis bumbu, lalu mencampur dan memasak semuanya.
Pilar kedua, pengenalan pola. Definisinya mengarah pada kemampuan menemukan pola, tren, atau paralel di antara masalah-masalah kecil. Dengan pola, solusi menjadi lebih efisien. Contoh masih dari dapur. Langkah “menumis bumbu” punya pola yang sama, yakni panaskan minyak, masukkan bumbu, aduk sampai harum. Pola itu bisa dipakai untuk menu lain, dari mi goreng sampai capcay.
Pilar ketiga, abstraksi. Pemateri menyebutnya prosedur menghilangkan data yang tidak relevan atau berlebihan, lalu fokus pada fakta yang paling krusial. Tujuannya agar tidak bingung oleh informasi yang terlalu banyak. Contohnya beralih ke aktivitas fisik, yaitu mengendarai sepeda. Yang penting adalah mengayuh, menjaga keseimbangan, mengerem. Detail tentang gir atau bahan ban tidak perlu dipikirkan saat itu. Detailnya “diabstraksikan”.
Pilar keempat, algoritma. Pilar ini merupakan serangkaian langkah atau aturan yang jelas dan berurutan untuk menyelesaikan masalah. Algoritma disebut sebagai hasil akhir dari tiga pilar sebelumnya. Contohnya resep masakan, petunjuk merakit mainan, atau tutorial melakukan sesuatu. Ciri algoritma yang baik juga dipasang tata kelolanya yang mencakup urutan jelas, tidak ambigu, dan pasti berhenti setelah masalah selesai.
Simulasi Pemainan
Materi tidak berhenti pada definisi. Ada latihan yang dibuat seperti permainan, tapi menuntut presisi. Salah satunya bertajuk Simulasi Robot Chef. Visualnya menggambarkan skema tiga tahap pokok, yaitu instruksi dari “programmer”, gerakan “robot”, lalu hasil berupa “pesawat kertas”. Simulasinya menguji ketepatan bahasa instruksi dan urutan langkah.
Di bagian berikutnya, materinya menandai empat kata kunci sebagai “insight” dari Latihan, presisi, efisiensi, dan debugging, plus satu kata pembuka “insight” itu sendiri sebagai penanda refleksi. CT bukan hanya mencari jawaban. CT mengajarkan cara memperbaiki proses ketika langkah-langkah keliru.
Cara kerja pelatihan, sebagaimana diberikan arahan oleh pemateri, adalah memandu guru memahami pilar CT, lalu mengubahnya menjadi strategi kelas. Ada contoh penerapan konkret pada soal cerita matematika dan tugas bahasa. Guru diajak memindahkan CT dari slide ke rancangan pembelajaran. Dari konsep ke praktik. Dari definisi ke keputusan instruksional.
CT, dalam narasi materi, menjadi semacam bahasa bersama. Bahasa untuk merapikan masalah. Bahasa untuk memilah informasi. Bahasa untuk menyusun langkah. Bahasa untuk memeriksa ulang. Dan ketika perlu, bahasa untuk mengoreksi.
Bagian aplikasi paling terang muncul ketika materi PPT menampilkan contoh lintas-mapel. Pertama, contoh matematika, soal cerita persamaan linear tentang pengusaha mainan yang akan membeli boneka Batman dan Superman, dengan batas jumlah, modal, harga, dan laba. Soal itu lalu dipetakan ke empat pilar CT.
Pada pemetaan tersebut, dekomposisi diterjemahkan sebagai memisahkan informasi yang diketahui, apa yang ditanya, dan batasan-batasan soal. Pengenalan pola diarahkan pada identifikasi kata kunci, misalnya “selisih”, “kali lipat”, “total,” yang merujuk pada operasi tertentu. Abstraksi dimaknai sebagai mengabaikan nama tokoh atau konteks cerita dan fokus pada variabel. Lalu algoritma menjadi urutan pengerjaan, bagaimana membuat model matematika, memakai metode (misalnya eliminasi), dan mengecek ulang hasil.
Contoh kedua datang dari pelajaran bahasa. Menulis teks prosedur atau analisis struktur teks. Pilar CT dipakai untuk membedah artikel opini menjadi bagian kecil yang terdiri dari analisis apa dan mana tesisnya, argumen, dan penegasan ulang. Pengenalan pola muncul saat peserta memeriksa kata transisi yang berulang. Abstraksi bekerja ketika peserta menentukan ide pokok dan menyingkirkan ilustrasi. Algoritma diwujudkan dalam penyusunan outline sebelum menulis agar alur logis dan runtut.
Di bagian “head to head”, materi menyandingkan dua contoh itu (matematika dan Bahasa) seolah menegaskan bahwa CT bisa dipakai lintas pelajaran. CT bukan milik informatika saja. CT merupakan cara berpikir yang bisa “merakyat”, mandiri, dan berkelanjutan, seperti semboyan yang ikut menyertai halaman-halaman dokumen.

