Gelar Dauroh Ilmu Aqidah Aswaja, Ponpes Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta Hadirkan Ulama Universitas Al Wasathiyah Yaman

Surakarta, Rabu (24/12/2025) — Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah, Surakarta, menggelar Dauroh Ilmu Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) dengan menghadirkan dua masyayikh dan akademisi terkemuka asal Yaman, Dr. Mazen Musawa dan Syekh Abdurraqeb Al Attas, pimpinan Universitas Al Wasathiyah. Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar pesantren dalam merawat dan menghidupkan tradisi Aswaja an-Nahdliyah di tengah tantangan zaman.

Dauroh yang diikuti para santri dan asatidz tersebut berlangsung khidmat dan penuh antusiasme. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperkokoh aqidah sekaligus menanamkan akhlak karimah sebagai fondasi utama pembentukan pribadi santri, agar kelak mampu menjadi kader ulama dan da’i yang istiqamah di jalan Ahlussunnah wal Jama’ah.

Ketua Pondok, Ustadz Hadziq Maftuh, dalam sambutannya menegaskan bahwa aqidah Aswaja merupakan manhaj wasathiyah yang menempatkan umat pada jalan tengah—tidak ekstrem ke kanan maupun ke kiri—dengan memadukan kekuatan dalil naqli dan nalar ‘aqli, serta menjaga kesinambungan sanad keilmuan para ulama. Menurutnya, manhaj inilah yang sejak lama dirawat di pesantren-pesantren sebagai benteng akidah umat.

Sementara itu, Ketua Yayasan, Ustadz Wassim Ahmad Fahruddin, menegaskan komitmen yayasan untuk terus mengembangkan pesantren sebagai pusat tafaqquh fi al-din sekaligus tempat pembinaan akhlak santri. Ia menyebut pesantren harus tetap menjadi benteng umat dari penyimpangan aqidah dan kerusakan moral, dengan tetap berpijak pada tradisi ulama salaf yang mu‘tabar.

Pengasuh Pondok Pesantren, KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha, dalam sambutannya menegaskan bahwa dauroh ini merupakan bagian dari ikhtiar kaderisasi ulama Aswaja an-Nahdliyah yang bersambung sanadnya kepada para masyayikh ahlussunnah. Beliau merujuk pada khazanah turats seperti Jawharat al-Tawḥīd karya Imam al-Laqqānī, Umm al-Barāhīn karya Imam al-Sanūsī, serta Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn karya Imam al-Ghazālī sebagai rujukan utama integrasi tauhid dan akhlak dalam tradisi pesantren. Menurutnya, aqidah harus berjalan seiring dengan tazkiyatun nafs dan pembentukan akhlak Qur’ani, agar ilmu benar-benar membuahkan amal dan adab.

Foto Pengasuh Pondok Pesantren, KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha (Sumber: Dokumen Redaksi)

Dalam sesi utama, Dr. Mazen Musawa dan Syekh Abdurraqeb Al Attas menjelaskan urgensi aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai fondasi umat yang menjaga keseimbangan antara nash syar‘i, akal sehat, dan realitas sosial. Keduanya menegaskan bahwa manhaj Imam Abu al-Hasan al-Asy‘ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi adalah jalan lurus yang telah terbukti menjaga kemurnian tauhid sekaligus membentengi umat dari paham-paham menyimpang, baik yang bersifat liberal maupun ekstrem.

Para pemateri juga menguraikan rujukan klasik seperti Sharḥ al-‘Aqā’id al-Nasafiyyah, Umm al-Barāhīn, dan Jawharat al-Tawḥīd sebagai kitab-kitab mu‘tabarah yang selama berabad-abad diajarkan di pesantren-pesantren Ahlussunnah wal Jama’ah. Kitab-kitab tersebut, menurut mereka, membentuk tradisi keilmuan yang kokoh, sistematis, dan berlandaskan sanad yang sahih.

Keduanya mengajak para santri untuk menjadikan ilmu aqidah sebagai dasar pembentukan cara pandang hidup Islami, agar santri memiliki keimanan yang mantap, nalar yang jernih, serta akhlak yang santun. Aqidah yang benar, menurut mereka, akan menjadi benteng dari pengaruh paham-paham kontemporer yang dapat menggerus iman dan jati diri keislaman.

Dalam kesempatan itu, para masyayikh juga menyampaikan kekaguman terhadap Indonesia sebagai negeri dengan tradisi pesantren yang hidup dan masyarakat Muslim yang ramah, toleran, serta menjunjung tinggi persatuan. Mereka menilai Indonesia merupakan contoh bagaimana nilai-nilai Aswaja dapat hidup berdampingan dengan semangat kebangsaan dan kemajemukan.

Di akhir sesi, Dr. Mazen Musawa dan Syekh Abdurraqeb Al Attas berharap agar para santri Ponpes Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah kelak menjadi ulama pewaris nabi yang mampu menjaga aqidah umat, menghidupkan dakwah yang sejuk, serta membawa Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Rangkaian dauroh ini ditutup dengan penandatanganan MoU kerja sama internasional antara Ponpes Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah dan Universitas Al Wasathiyah Yaman, meliputi pertukaran keilmuan, pengiriman dosen dan santri, serta penguatan kurikulum aqidah dan studi keislaman. Kerja sama ini diharapkan menjadi wasilah bagi pesantren untuk terus tersambung dengan jejaring ulama internasional, sekaligus menguatkan posisi pesantren Indonesia dalam khazanah keilmuan Islam dunia.

Related Articles

Artikel baru