Tujuh karya dari pesantren di Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, dan daerah lain meraih penghargaan pada festival yang digelar RMI PBNU dalam rangka Muktamar Ke-35 NU.
JOMBANG – Film dokumenter berjudul “Ketika Kita Memilih untuk Baik” karya santr-santri dari PPM Aswaja Nusantara, Mlangi, Sleman, DI Yogyakarta, meraih juara pertama kategori film dokumenter dalam Festival Film Santri Nasional 2026. Karya tersebut memperoleh nilai 371, unggul tipis satu poin dari peringkat kedua.
Hasil itu tercantum dalam rekap nilai penilaian Festival Film Hari Santri yang dicatat pada Kamis, 27 Agustus 2026, malam, di Pondok Pesantren Annajiyah 1, Tambakberas, Jombang. Festival diselenggarakan Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) sebagai bagian dari rangkaian Muktamar Ke-35 NU.
Film pemenang membawa tema keamanan pesantren melalui pilihan-pilihan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Pesantren yang aman digambarkan bukan hanya lahir dari aturan, tetapi juga dari keberanian seluruh warga pesantren untuk saling menjaga, mendengar, dan memilih tindakan yang baik.
Persaingan Ketat di Kategori Dokumenter

Selisih nilai pada kategori dokumenter menunjukkan kompetisi berlangsung ketat. Posisi kedua diraih Pondok Pesantren Jlamprang Putri, Bawang, Batang, Jawa Tengah. Film berjudul “Catatan Hati Seorang Santri” itu mengumpulkan nilai 370, hanya terpaut satu angka dari juara pertama.
Peringkat ketiga ditempati Pondok Pesantren Manba’ul Ulum, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Karyanya, “Sajadah di Antara Barisan Kode, Menuju Indonesia Emas 2045”, meraih nilai 366. Judul tersebut mempertemukan identitas kesantrian, perkembangan teknologi, dan imajinasi tentang masa depan Indonesia.
Ketiga film dokumenter itu memperlihatkan keragaman sudut pandang santri. Ada cerita tentang pembentukan lingkungan pesantren yang aman, pengalaman batin seorang santri, hingga hubungan nilai keagamaan dengan teknologi. Ragam tema tersebut memperluas gambaran pesantren di layer, tidak berhenti pada tradisi, tetapi juga menyentuh persoalan sosial dan masa depan.
Karya Fiksi dari Banyumas, Pontianak, dan Grobogan
Pada kategori film fiksi, Pondok Pesantren Abdul Djamil Tebuireng 17, Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah, menjadi juara pertama. Film Sisa Untukmu memperoleh nilai 330. Karya itu dibuat dengan bertolak dari kehidupan, budaya, dan dinamika keseharian santri.
Dalam pernyataan yang dipublikasikan setelah pengumuman pemenang, Faiz, perwakilan PP Abdul Djamil, mengajak santri untuk terus berkarya dan menjelajahi dunia digital serta perfilman. Ia juga mendorong para santri menjadikan kehidupan pesantren sebagai sumber inspirasi.
Juara kedua kategori fiksi diraih Pondok Pesantren Darunna’im, Pontianak, Kalimantan Barat. Film berjudul “Rindu” tersebut mengumpulkan nilai 325. Sementara itu, Pondok Pesantren Al-Kuttab Fadllul Wahid, Grobogan, Jawa Tengah, menempati posisi ketiga melalui “Santri Cilik Short Movie” dengan nilai 320.
Penghargaan film terfavorit diberikan kepada “Rumah Kedua” karya dari Pondok Pesantren Al Yasini, Pasuruan, Jawa Timur. Berdasarkan rekap penyelenggara, film tersebut memperoleh 669 tanda suka dan komentar. Angka itu diambil pada 27 Agustus 2026 pukul 20.50 WIB.
Ruang Ekspresi Santri Menjelang Muktamar NU
Festival Film Santri Nasional 2026 mengusung tema Semangat Pesantrenku Aman. Penanggung jawab festival, Abdullah Hamid, sebelumnya menjelaskan bahwa kegiatan tersebut disiapkan sebagai ruang ekspresi bagi santri sekaligus untuk menyambut Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas, Jombang.
Kompetisi terbuka bagi santri aktif dari pondok pesantren di seluruh Indonesia tanpa biaya pendaftaran. Panitia membuka dua kategori utama, yakni film pendek fiksi dengan durasi maksimal tujuh menit dan film dokumenter dengan durasi maksimal lima menit. Pengumpulan karya ditutup pada 25 Agustus 2026 pukul 23.59 WIB.
Format durasi pendek menuntut peserta bekerja padat. Cerita harus memiliki fokus, gambar perlu mendukung pesan, dan karakter harus cepat dikenali. Dalam konteks pesantren, tantangan itu sekaligus membuka peluang bagi santri untuk merekam pengalaman yang dekat dengan kehidupan mereka sendiri.
Melalui medium film, cerita pesantren dapat menjangkau penonton yang lebih luas. Kehidupan di asrama, relasi santri dan pengasuh, praktik belajar, penggunaan teknologi, hingga pengalaman merantau dapat diolah menjadi pengetahuan publik tanpa kehilangan kedekatan emosionalnya.
Empat Juri dari Lintas Bidang
Penilaian festival melibatkan empat juri dari latar belakang media, perfilman, dan jurnalistik. Mereka adalah Hakim Jayli, Direktur TV9 Nusantara; Grantika Pujianto, sutradara film; Rudi Danial, sutradara; serta Susi Ivvaty, jurnalis.
Hakim Jayli memiliki pengalaman di media penyiaran berbasis komunitas pesantren dan pernah terlibat dalam penjurian kompetisi film dokumenter Hari Santri. Grantika Pujianto dikenal melalui film-film yang mengangkat sejarah, kebudayaan lokal, dan kehidupan santri, antara lain Kawentar serta Sarung: Santri untuk Negeri.
Susi Ivvaty, aktivis yang masih energetic ini, merupakan pendiri Alif.id dan pernah menjadi wartawan Harian Bernas serta Harian Kompas. Latar akademiknya berada pada kajian tradisi lisan. Pengalaman jurnalistik dan kebudayaan tersebut memberi perspektif penting dalam melihat kekuatan cerita, konteks, dan ketepatan representasi dalam sebuah film.
Kombinasi keahlian para juri membuat karya tidak hanya dilihat dari aspek teknis. Film juga dinilai sebagai cara menyampaikan pengalaman santri, membangun narasi, dan menghadirkan nilai pesantren secara meyakinkan kepada penonton.

Pesantren sebagai Sumber Cerita
Daftar pemenang tahun ini menunjukkan produksi film santri tidak terkonsentrasi di satu wilayah. Karya terbaik datang dari Sleman, Batang, Malang, Banyumas, Pontianak, Grobogan, dan Pasuruan. Sebaran tersebut memperlihatkan tumbuhnya minat produksi audiovisual di berbagai pesantren.
Festival ini juga menandai pergeseran cara pesantren mendokumentasikan dirinya. Santri tidak lagi hanya menjadi objek liputan atau latar cerita. Mereka mulai hadir sebagai penulis, sutradara, pemain, penata gambar, penyunting, sekaligus pihak yang menentukan sudut pandang.
Kemenangan para santri diharapkan tidak berhenti pada malam penghargaan. Karya-karya tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi penguatan literasi audiovisual, pembentukan komunitas film di pesantren, dan lahirnya cerita yang semakin beragam dari lingkungan pendidikan Islam.

