Catatan Forum Silaturahim Nahdhiyyin Gadjah Mada, Ikhtiar Merajut Kolaborasi PM Lintas Kampus di DIY

Gus Muhammad Mustafid,  yang akrab dipanggil Gus Tafid, membuka forum dengan tidak berbicara tentang agenda-agenda mercusuar. Gus Tafid tidak langsung bicara program. Yang ditekankan justru sesuatu yang kerap dianggap remeh, yaitu silaturahim atau merawat jejaring. Silaturahim, katanya, adalah salah satu laku yang hidup dalam ingatan kolektif Nahdliyin, dipercaya melapangkan rezeki, dan memanjangkan umur. Di ruangan itu, kalimat itu terdengar seperti pengingat dari pengalaman panjang. Secara sosial, jejaring ini menjadi modal yang nyata,  ruang bertemu gagasan, tempat akademisi menurunkan ilmunya ke bumi, ke masyarakat yang menunggu sentuhan pemikiran dan keberpihakan.

Para peserta Forum Silaturrahim Nahdliyin sedang mendengarkan lantunan ayat suci Al Qur’an, sebelum memulai diskusi (Sumber: Dokumen Redaksi)

Dilanjutkan, bahwa forum ini bermula dari perjumpaan-perjumpaan kecil Nahdliyin Gadjah Mada, yang berulang dan bertahan hingga pertemuan ke-9. Duduk melingkar, berbagi kabar, berbagi cerita, menimbang keadaan, doa, dan makan-makan. Dari situ Gus Tafid mengusulkan perluasan, mengundang dosen-dosen dari kampus lain agar kolaborasi tak berhenti di satu pagar institusi. Ajakan itu bergaung. Dosen-dosen Nahdliyin dari berbagai kampus di Yogyakarta hadir, sebagian saling mengenal, sebagian baru berjumpa. Mereka datang membawa latar, disiplin, dan harapannya masing-masing.

Gus Tafid lalu membuka peta yang jarang dibicarakan. Ia menyebut kenyataan di lapangan, di balik pesantren-pesantren besar yang sering jadi rujukan, ada ribuan pesantren kecil (dengan santri tak sampai seratus) yang tersebar di banyak daerah. Di situlah kebutuhan paling terasa. Di situlah peran dosen lintas disiplin menemukan maknanya. Untuk mendampingi, menguatkan, dan memberdayakan. “Fokusnya kolaborasi untuk pengabdian masyarakat. Apakah bisa nyambung? Kita mengalir saja, semoga bisa,” ujarnya, seperti sedang mengajak mencoba. Forum ini, ia tekankan, bukan ruang seremonial semata, tetapi ikhtiar menjawab kebutuhan yang mendesak. Pesantren dengan segala keragamannya, universitas di lingkungan NU, masyarakat sekitar, hingga para pemangku kepentingan yang selama ini sering berjalan sendiri-sendiri.

Forum Silaturahim Nahdliyin Gadjah Mada ke-9 menjadi ruang merawat jejaring dan menyatukan niat. Duduk melingkar, para akademisi lintas kampus di DIY menegaskan bahwa silaturahim bukan sekadar temu fisik, melainkan modal sosial untuk mengalirkan ilmu, menyambungkan pengabdian, dan merajut kolaborasi yang membumi bagi pesantren dan masyarakat (Sumber: Dokumen Redaksi)

Gagasan Segar dari Para Akademisi

Memasuki acara inti yakni ramah Tamah bertajuk “Kalimatus Sawa’: Ikhtiar Kolaborasi Pengabdian Masyarakat di Tengah Kesibukan Akademik”, suasana ruang perlahan berubah. Diskusi menghangat dan mengental. Dipandu Pak Ahmad Munjid dari FIB UGM, forum bergerak dari obrolan personal menuju pembacaan yang lebih sistemik. Pak Munjid menegaskan bahwa silaturrahim mempertemukan orang-orang baik dan menyatukan kerja. Dalam konteks akademik, kebersamaan menjadi cara untuk menghemat energi, agar pengabdian tidak berjalan sendiri-sendiri, terputus, dan cepat lelah.

Pak Munjid menggarisbawahi pentingnya bergerak dari sekedar sillaturrahim fisik kea rah lebih maju, yaitu kolaborasi lintas disiplin untuk  pengabdian. Ketika jejaring dirawat, program tidak lagi berdiri sebagai proyek individual, namun sebagai ekosistem bersama. Dampaknya pun meluas. Pesantren binaan, komunitas dampingan, penguatan ekonomi, hingga masyarakat akar rumput. Silaturrahim, dalam kerangka ini, merupakan strategi kolektif agar pengetahuan akademik menemukan relevansinya, dan kerja-kerja pengabdian bergerak lebih terarah, berkelanjutan, dan saling menguatkan.

Pancingan Pak Munjid berhasil. Berbagai perspektif muncul dari lintas disiplin ilmu yang hadir. Suara-suara itu datang dari latar yang berbeda, kampus beda, disiplin juga berbeda, namun bertemu pada kegelisahan yang sama. Ada yang membaca persoalan pesantren dari sudut kebudayaan dan tradisi hidup sehari-hari. Ada yang menimbangnya lewat kacamata ekonomi kerakyatan, tata kelola kelembagaan, hingga teknologi yang perlahan merangsek ke ruang-ruang kecil. Diskusi bergerak seperti anyaman,  tiap disiplin membawa benang sendiri, saling silang, membentuk gambaran yang lebih utuh tentang kebutuhan realitas.

Dari obrolan santai, doa, hingga makan bersama, diskusi mengalir menjadi anyaman gagasan lintas disiplin. Forum ini menandai ikhtiar kolektif para dosen Nahdliyin untuk bergerak bersama—menjadikan pengabdian masyarakat lebih sistemik, berkelanjutan, dan berakar pada kebutuhan riil pesantren serta komunitas dampingan (Sumber: Dokumen Redaksi)

Dalam pertemuan itu, pengetahuan seolah dinegosiasikan, dikontekstualisasi, lalu diuji pada realitas. Para akademisi menyadari bahwa pengabdian tak bisa dibangun dengan satu resep tunggal. Yang dibutuhkan adalah kerja bersama, lintas ilmu, lintas kampus, lintas perspektif, agar intervensi tidak parsial. Kerja pengabdian bersama yang sistemik dan berkelanjutan, menyentuh pesantren dan masyarakat sebagaimana adanya, bukan sebagaimana dibayangkan.

Prof. Arif dari UNY menyampaikan optimismenya. Prof Arif Rohman melihat forum ini sebagai ruang tumbuh bagi masa depan pengembangan NU, asal tidak berhenti pada pertukaran gagasan. Beliau mengusulkan agar segera dirintis satu proyek bersama, meski kecil dan sederhana. Bukan soal besarannya, tetapi soal memulai, agar kolaborasi menemukan bentuk, punya jejak, bisa dipelajari bersama, dan tumbuh berkembang.

Baginya, kerja kolektif perlu diuji di lapangan sejak awal. Proyek kecil itu dimaksudkan sebagai titik tolak, tempat menyatukan ritme, membagi peran, dan membaca keterbatasan masing-masing. Dari situ, kepercayaan bisa dibangun, jejaring dipertebal, dan forum ini bergerak dari wacana menuju praktik yang berkelanjutan.

Dr. Abdul Ghofar dari UNUYO mengarahkan perhatian ke ruang-ruang yang kerap luput dari peta besar pembangunan. Dr. Abdul menyebut pesantren dan desa salah satu sebagai laboratorium sosial, tempat kehidupan berlangsung apa adanya, dan pengetahuan diuji oleh kenyataan. Dari lapaorannya,  di lapangan, UNUYO setidaknya memiliki 23 titik Labsos yang memiliki potensi kuat untuk menjadi ajang kolaborasi nyata antara pakar kampus dan jaringan pesantren.  Baginya, laboratorium sosial menuntut kesabaran dan keberlanjutan. Labsos merupakan proses yang hidup dari relasi, ekosistem untuk berpikir dan bertindak. Dari titik-titik itulah, kolaborasi diharapkan tumbuh, pelan, kontekstual, dan berakar pada kebutuhan riil masyarakat.

Pak Syuhada dari UNUYO menghadirkan sudut pandang yang jarang disentuh dalam forum-forum sejenis. Mengutip disertasinya, Pak Suhada berbicara tentang kesehatan mental, terutama pada para remote worker, kelompok yang tampak bebas, namun sering bekerja berbasis hasil.

Pak Suhada menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi, menjadikan isu kesehatan mental sebagai bagian dari kerja pengabdian yang lebih luas. Bukan sekadar layanan, namun upaya membangun ekosistem dukungan yang peka, kontekstual, dan relevan dengan perubahan pola kerja hari ini. Di titik ini, kolaborasi lintas disiplin menemukan wajahnya yang lain yakni merawat manusia, sebelum berbicara tentang produktivitas.

Pak Wahyudin dari bidang Teknologi Industri Pertanian UGM mengarahkan diskusi pada soal dasar yang kerap terlewat. Membaca kondisi sebelum bertindak. Pak Wahyudin mengusulkan perlunya profiling pesantren, pemetaan yang cermat tentang kapasitas, kebutuhan, dan potensi masing-masing. Tanpa itu, intervensi mudah meleset, baik terlalu besar maupun terlalu jauh dari persoalan yang paling mendesak di lapangan.

Baginya, profiling adalah fondasi sistemik agar kolaborasi berjalan presisi. Dari peta yang jelas, intervensi bisa disusun bertahap, terukur, relevan dan menyentuh kebutuhan paling urgen pesantren, sekaligus membuka ruang pengembangan yang ekonomi berkelanjutan.

Prof. Sholihun dari MIPA UGM berbagi cerita yang bergerak lintas batas. Profesor fisika tersebut menyinggung jejaring beasiswa yang pernah ia jalani, terhubung dengan almamaternya saat menempuh studi di Jepang. Jejaring itu, katanya, bisa menjadi simpul yang bisa disambungkan kembali, untuk membuka peluang bagi generasi berikutnya.

Beliau juga menekankan kemungkinan kolaborasi akademik yang dapat dibangun di UGM, dari riset hingga pengembangan kapasitas dosen dan mahasiswa. Menurutnya, selama ini di fakultasnya banyak diakses UIN Suka. Universitas-universitas di lingkungan NU, menurutnya,  tidak semestinya berjalan sendiri-sendiri. Harus disengkuyung bareng. Sebab dalam kerja kolektif itulah, kualitas, keberlanjutan, dan kebermanfaatan ilmu bisa diperluas.

Dr. Farida dari UII menegaskan betapa strategisnya forum silaturrahim ini. Ia melihat pertemuan seperti di ruang ini perlu dijaga keberlanjutannya. Harapannya jelas,  forum ini terus berproses dan melahirkan kolaborasi yang nyata, yang bisa dirasakan manfaatnya.

Menurutnya, jika kolaborasi itu berjalan, identitas ke-NU-an justru akan tumbuh sebagai kebanggaan, bukan label yang disembunyikan. Dr Farida mencatat kenyataan hari ini di mana akademisi NU jumlahnya banyak, kapasitasnya kuat, tetapi sebagian memilih tiarap. Forum semacam inilah, katanya, yang bisa menjadi ruang nyaman untuk bangkit, saling menguatkan, dan bergerak bersama.

Prof Madarina dan para peserta Forum Silaturrahim Nahdliyin terlihat duduk lesehan sambil berdiskusi (Sumber: Dokumen Redaksi)

Prof. Madarina dari Fakultas Kedokteran UGM mengusulkan pola kerja yang lebih terstruktur. Spesialis kedokteran anak-anak itu menawarkan pembentukan cluster-cluster berdasarkan disiplin keilmuan, agar kolaborasi tidak berjalan serba umum dan kehilangan fokus. Dengan pengelompokan itu, setiap bidang dapat bergerak dari kekuatannya sendiri.

Menurutnya, setiap cluster bisa memberi kontribusi sesuai kompetensi masing-masing. Kesehatan, pendidikan, ekonomi, teknologi, maupun sosial. Dari situ, kerja pengabdian menjadi lebih terarah, saling melengkapi, dan mudah disinergikan. Kerja orkestrasi keilmuan yang bergerak bersama.

Tiga Klaster Utama dan Pilot Project

Diskusi lalu bergerak lebih konkret, ke persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat. Yang dibicarakan bukan lagi gagasan besar, justru soal-soal riil seperti bagaimana usaha pesantren dikelola agar lebih rasional, tidak sekadar bertahan, dan punya daya lanjut. Pak Ahmad Wardhana memberi contoh yang konkret. Untuk urusan sampah, katanya, pesantren tak perlu merasa mulai dari nol. Ada praktik baik di Krapyak, di mana pengelolaan dilakukan bertahap, melibatkan santri, dan dipahami sebagai kebiasaan, bukan proyek. Dia juga menyinggung pentingnya penyuluhan kesehatan masyarakat, agar santri lebih sadar pada pola hidup sehat. Kesehatan, dalam konteks ini, adalah bagian dari ekosistem pesantren yang sering diabaikan.

Dari  perbincangan itu, Nampak pengabdian merupakan transfer pengetahuan sekaligus proses belajar sosial bersama. Sebagaimana dikatakan para teoritikus pembangunan berkelanjutan, perubahan bertahan jika tumbuh dari praktik sehari-hari. Pada titik pengembangan kapasitas individu, menurut Mas Munjid, FIB UGM bisa membantu meningkatkan literasi dan kemampuan menulis santri. Bukan semata keterampilan teknis, tetapi cara memberi suara pada pengalaman mereka sendiri. Menulis, di sini, menjadi alat refleksi, agar santri  yang menjalani kehidupan pesantren mampu menafsirkan, merawat, dan menceritakannya kembali kepada dunia.

Untuk mempermudah tindak lanjut, forum kemudian mengerucut ke sebuah penyederhanaan kerja. Keahlian yang beragam itu diklasifikasikan ke dalam tiga klaster utama kolaborasi PM,  yakni Kesehatan Masyarakat, Bisnis dan UMKM, serta Pengelolaan Sampah. Pembagian ini tidak dimaksudkan untuk membatasi, untuk menata Langkah, agar kolaborasi tidak tercerai oleh niat baik yang terlalu banyak arah. Dengan klaster, kerja menjadi lebih terbaca, peran lebih jelas, dan tanggung jawab bisa saling ditautkan.

Sebagai penutup, forum memilih jalan yang pelan namun pasti. Secara gagasan disepakati, untuk memulai dari satu pesantren sebagai percontohan, pilot project. Satu titik, satu napas. Fokus itu diharapkan membuat kerja kolaborasi berlangsung lebih intens dan istiqomah. Dari situ, model pemberdayaan bisa dirumuskan dengan jernih, diuji manfaatnya, lalu, bila telah matang, digandakan ke tempat lain tanpa kehilangan konteks.

GUYUB DAN LESEHAN: Suasana hangat para dosen Nahdliyin saat berdiskusi santai di atas karpet dalam Forum Silaturrahim Nahdliyin (FSN) Gadjah Mada ke-9 di Aula PPM Aswaja Nusantara, Mlangi, Sleman. Format melingkar ini mencerminkan semangat kesetaraan dan kebersamaan dalam merumuskan kolaborasi pengabdian masyarakat berbasis pesantren (Sumber: Dokumen Redaksi)

Pertemuan yang dihadiri hampir lima puluh perwakilan dari berbagai kampus, UGM, UII, UNY, UIN Suka, UNUYO, Sadhar, hingga Alma Ata, ditutup sekitar jam 16.20 wib, dengan lantunan doa. Doa dipanjatkan oleh Dr. Abdul Ghofar, singkat, khusyuk, dan membumi. Seolah menandai jeda, sebelum kerja benar-benar dimulai.

Para dosen pulang dengan membawa oleh-oleh buku kecil karya Prof. Risanuri dari Teknik UGM, dan bersemangat menjadikan ilmu pengetahuan sebagai alat perjuangan yang nyata di tengah masyarakat. Ilmu yang tidak berjarak, yang hadir dan bekerja. Sebuah ikhtiar yang selaras dengan laku Nahdliyin, tawasuth, tawazun, i’tidal, dan tasamuh, nilai yang menjaga agar perjuangan tetap berpijak, seimbang, dan transformative.

Related Articles

Artikel baru