Ulama Perempuan Betawi dalam Dialektika Dakwah Global

I. Muqaddimah:

Di bawah bayangan tiang-tiang beton kota metropolitan Jakarta yang menjulang, di era Orde Baru yang menjanjikan kemakmuran namun menuntut keheningan, kota ini menjadi panggung bagi sebuah drama spiritual yang sunyi namun epik. Jakarta mendesis dengan ambisi fana, sementara jutaan hati ibu terdampar di antara tradisi yang stagnan dan modernitas yang tak berjiwa. Pembangunan adalah hiruk-pikuk, tetapi suara perempuan, yang secara struktural tertinggal dalam literasi dan siyasah, nyaris tak terdengar.

Namun, dari jantung Tebet dan Pancoran, di antara gemerisik daun lontar dan debu jalanan yang baru diaspal, dua ruh tajdid mekar, Jiwa Pembaruan. Mereka adalah Hj. Siti Suryani Thahir dan Hj. Tutty Alawiyah. Mereka tidak membawa pedang revolusi atau panji politik yang bombastis, melainkan pena Ikhlas dan sanad keilmuan yang jernih. Mereka menolak narasi bahwa perempuan adalah objek penerima fatwa. Sebaliknya, mereka mendirikan Kedaulatan Batin di atas fondasi Majelis Taklim yang tadinya dianggap remeh.

Kisah ini adalah sebuah resonansi filosofis, sebuah telaah mendalam atas Dialektika Dakwah Global—pertentangan abadi antara Tesis Tradisi –Sanad lokal– dan Antitesis Modernitas –Kedaulatan Politik global. Melalui lembaga yang mereka bangun dengan keringat, doa dan jerih payah, mereka membuktikan: Ruh Betawi, yang ditempa dalam panasnya perjuangan, mampu Mengekspor Cahaya ke Al-Azhar, ke Khartoum, bahkan ke kursi-kursi kekuasaan. Ini adalah warisan yang jauh lebih berharga daripada emas: Manuskrip Kedaulatan Perempuan yang ditulis dengan tinta pengorbanan dan dihiasi dengan kalam sastra Arab.

Tulisan ini akan menelusuri secara komprehensif bagaimana kedua Nyai Guru Perempuan Betawi ini, melalui Jihad Pena dan Jihad Organisasi, mengubah lanskap sosial-keagamaan. Kita akan membedah perjalanan mereka sebagai gerakan Hijrah epistemik yang berlandaskan prinsip Mabda’ wa Ma’ad (asal dan tujuan hakiki) dan Al-Ikhlas (ketulusan murni) sebagai sumber kekuatan moral mereka.

II. Genealogi Spiritual: Kawah Candradimuka Sanad dan Al-Ikhlas

Kedaulatan kedua ustadzah ini tidak tumbuh dari ruang hampa, melainkan dari kawah Sanad keilmuan Betawi yang kokoh, di mana etos Al-Ikhlas berfungsi sebagai fondasi spiritual.

A. Pilar Spiritual dan Etos Al-Hifzh wa Al-Itqan

Siti Suryani Thahir (lahir 1940) dan Tutty Alawiyah (lahir 1942) berakar pada genealogi spiritual yang sama: tradisi Ngaji keras dan keteladanan orang tua. Hj. Siti Suryani Thahir adalah putri KH. Thahir Rahili –pendiri Sa’dutthoriqain/Atthahiriyah, sementara Hj. Tutty Alawiyah adalah putri KH. Abdullah Syafi’ie.

Foto Hj. Tutty Alawiyah tengah memberikan ceramah (Sumber: republika.co.id)

Hj. Siti Suryani Thahir menempuh pendidikan dasar formal di Sekolah Rakyat, namun ruh pendidikannya ditempa di Madrasah Diniyah Awwaliyah asy-Syafi’iyah di bawah asuhan langsung KH. Abdullah Syafi’i. Momen ini adalah penanaman Tesis keilmuan yang tak terelakkan: Ortodoksi Fiqh Syafi’i. Di bawah bimbingan sang Guru, beliau tidak hanya menghafal, tetapi juga menginternalisasi etos Al-Hifzh wa Al-Itqan –menjaga dan menguasai teks secara mantap. Ini bukan sekadar hafalan verbal; ini adalah sulūk untuk menjadikan Syariat sebagai peta navigasi jiwa.

“Ayahku menanamkan benih ilmu di tanah yang gersang, dan guruku mengalirkan air Sanad yang jernih. Aku tak hanya ingin tahu hukum, aku ingin merasakan hukum itu dalam setiap tarikan napas, menjadikannya lentera di lorong-lorong Tebet yang gelap.” Hj. Suryani Thahir

Ayah Hj. Tutty Alawiyah, KH. Abdullah Syafi’ie, adalah tokoh sentral yang otoritasnya diakui secara luas. Hj. Tutty Alawiyah mewarisi Legitimasi Moral ini, yang memungkinkannya nanti berani melangkah ke ranah politik tanpa kehilangan izzah –kemuliaan– spiritual.

B. Antitesis Keilmuan: Membaca Ketimpangan di Balik Pembangunan

Faktor yang memicu Dialektika Dakwah adalah kesadaran pahit akan Ketimpangan Epistemik. Modernisasi pembangunan ekonomi Orde Baru, yang cenderung maskulin dan sekular, secara struktural meninggalkan kaum perempuan. Hj. Suryani Thahir, setelah kembali dari Rihlah Ilmiyah ke Mesir, melihat jurang pengetahuan agama antara laki-laki dan perempuan sangat lebar.

“Kami melihat Jakarta bersinar oleh lampu-lampu baru, gedung-gedung menjulang tinggi, namun hati ibu-ibu masih diselimuti kabut kebodohan. Kemajuan yang sejati bukan terletak pada seberapa cepat kita membangun jalan, melainkan pada seberapa dalam kita menanamkan ilmu di serambi rumah tangga. Ilmu adalah hak, bukan sedekah. Ia adalah kunci gerbang kebebasan batin.” — Hj. Tutty Alawiyah

Kesadaran ini menjadi Antitesis Awal. bahwa Dakwah tidak boleh berpuas diri dengan metode lama yang hanya berfokus pada laki-laki. Dakwah harus menjadi Jihad Intelektual yang secara proaktif menyasar kaum perempuan, yang merupakan pilar utama ketahanan moral bangsa.

III. Dialektika I: Hj. Siti Suryani Thahir – Rihlah dan Tajdid Epistemologi

Kiprah Hj. Siti Suryani Thahir adalah Dialektika antara Menerima ilmu dari pusat (Mesir) dan Memberi ilmu ke pusat (mengirim lulusan UNIAT ke Timur Tengah).

A. Rihlah Ilmiyah ke Mesir: Pembaharuan di Lembah Nil

Langkah Hj. Suryani Thahir melanjutkan studi ke Mesir pada 1960-an adalah sebuah Peristiwa Kedaulatan Intelektual. Ini adalah Hijrah dari keterbatasan lokal menuju keluasan global. Mesir, sebagai muara keilmuan Al-Azhar, menawarkan Epistemologi Global yang lebih terbuka dan kritis.

Filosofi Sulūk dan Safar. Rihlah ini bukan perjalanan biasa; ini adalah Sulūk –perjalanan spiritual– yang didasarkan pada hikmah Arab: “Berangkatlah, karena dalam perjalanan ada ilmu dan adab.” Ia kembali ke Tebet bukan hanya dengan ijazah, tetapi dengan Visi Tajdid—keharusan untuk mereformasi metodologi pengajaran.

B. Revolusi Metodologi: Dari Pasif Menuju Subjek Kritis

Pada tahun 1967, Hj. Suryani Thahir memulai perjuangan merintis Majelis Taklim kaum perempuan di Mushalla al-Taqwa. Dimulai dari hanya dua belas jamaah, antusiasme segera memaksanya meresmikan menjadi MTKIA (Majelis Ta’lim Kaum Ibu at-Thahiritah).

Hj. Suryani Thahir secara filosofis mengkritik dakwah yang hanya melibatkan auditory learning. Ia menolak pandangan bahwa jamaah adalah wadah kosong yang pasif.

Metode Interaktif dan Kitab Kuning: Inilah Revolusi Epistemik Hj. Suryani Thahir. Beliau mendorong anggota MTKIA untuk Membaca Sendiri Kitab Kuning—simbol Sanad ilmu tertinggi. Kemudian, ia memberikan penjelasan dan dialog. Tindakan ini adalah Manifesto Kebebasan Intelektual.

“Aku tidak ingin kalian hanya mendengar suaraku; aku ingin kalian mendengar Sabda Allah melalui mata hati kalian sendiri. Kitab Kuning bukan jimat yang harus dicium dan ditakuti; ia adalah peta yang harus dibaca dan dipahami. Setiap ibu yang mampu membaca Kitab adalah Benteng Ilmu yang takkan runtuh oleh godaan dunia.” — Hj. Suryani Thahir

Melalui metode ini, Suryani menanamkan Kedaulatan Intelektual pada setiap perempuan, mengubah mereka dari objek dakwah menjadi Subjek Pembelajar Kritis.

C. UNIAT: Sintesis Kedaulatan Epistemik Global

Puncak Dialektika Hj. Suryani Thahir adalah pendirian Universitas Islam at-Thahiriyah (UNIAT) pada 9 Juli 1969, yang didukung ekosistem pendidikan komprehensif (LPIAA, TK, Aliyah, KURBA).

Pendirian UNIAT tidak terpisah dari MTKIA. MTKIA adalah akar rumput yang menyediakan basis Ikhlas dan kebutuhan, sementara UNIAT adalah Pohon Epistemik yang menyediakan buah ilmu tertinggi. Ini adalah Sintesis sempurna antara pendidikan informal dan formal.

Epistemologi Membalik Arah Rihlah. UNIAT berfungsi sebagai Gerbang Epistemik yang terhubung langsung ke Jazirah Arab dan Timur Tengah. Keberhasilan mencetak mahasiswa yang menerima beasiswa ke Al-Azhar, Baghdad, Ummul Qura, dan universitas global lainnya adalah penolakan paling keras terhadap narasi kolonial tentang inferioritas intelektual Nusantara.

“Kami tidak hanya menerima Cahaya dari Timur Tengah; kami mengirimkan Bintang-bintang kami kembali ke sana. Kami buktikan bahwa Tanah Betawi bukan hanya tempat persinggahan, melainkan Sumber Sanad Baru yang setara, yang mampu menanamkan ilmu di lembah Nil hingga pelataran Haram.” — Hj. Suryani Thahir

UNIAT adalah Dakwah Bermatra Global melalui Pengembangan Kapasitas Intelektual.

Dialektika II: Hj. Tutty Alawiyah – Spiritual Sulūk dan Siyasah Global

Kiprah Hj. Tutty Alawiyah adalah Dialektika antara Kedaulatan Langgar (spiritual Betawi) dan Kedaulatan Parlemen (politik global). Ia adalah ahli strategi yang memahami bahwa Ikhlas harus dilembagakan untuk mencapai Rahmatan Lil ‘Alamin yang luas.

A. Antitesis: Dari Majlis Personal ke Kekuatan Massa (BKMT)

Dibesarkan oleh KH. Abdullah Syafi’ie dan lulus dari IAIN Syarif Hidayatullah, Hj. Tutty Alawiyah memiliki kepekaan struktural dan politik yang tinggi. Ia melihat kekuatan spiritual Majelis Taklim yang masif namun terfragmentasi.

Filosofi Ittihad al-Ummah –Persatuan Umat. Pendirian Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) pada 1981 adalah langkah strategis untuk mengubah Majelis yang tersebar menjadi Gerakan Sosial-Keagamaan Massal. Secara etnografis, BKMT adalah Jaring Kedaulatan yang menyatukan ribuan simpul cahaya—para ibu—di bawah satu Mantra Organisasi.

Hj. Tutty Alawiyah memahami bahwa Kedaulatan Perempuan hanya bisa efektif jika diwujudkan dalam Jumlah dan Struktur.

“Satu Majelis Taklim adalah cahaya di satu rumah; seribu Majelis Taklim yang bersatu adalah Matahari bagi seluruh negeri. Kekuatan kita bukan hanya pada doa yang kita panjatkan, tetapi pada langkah yang kita satukan. Kami adalah tenun Betawi yang dirajut dari benang Ikhlas menjadi bendera pergerakan.” — Hj. Tutty Alawiyah

B. Sintesis: IMWU, Siyasah, dan Kedaulatan Diplomasi Global

Sintesis Tutty Alawiyah adalah mengintegrasikan kekuatan massa BKMT ke dalam arena politik dan diplomasi internasional, mengubah Dakwah menjadi Siyasah Syar’iyyah.

Keterlibatan Hj. Tutty Alawiyah dalam International Muslim Women Union (IMWU), organisasi muslimah dunia beranggotakan 88 negara, adalah perwujudan Dakwah Bermatra Global melalui Diplomasi Perempuan. Beliau membawa model pemberdayaan khas Betawi ke Khartoum, menunjukkan bahwa solusi lokal memiliki resonansi universal.

Peran Tutty sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (1998-1999) dan anggota MPR (1992-2004) adalah Sulūk politiknya. Beliau mentransformasi dakwah menjadi Hukum kebijakan publik.

“Ketika kami duduk di meja menteri atau di kursi parlemen, kami tidak membawa kepentingan pribadi, kami membawa Amanah dari ribuan ibu yang mengaji di Mushalla. Siyasah kami adalah Dakwah dengan pena undang-undang, memastikan Rahmat itu tidak hanya turun dari langit, tetapi juga tertulis dalam lembaran negara.” — Hj. Tutty Alawiyah

Beliau berhasil menempatkan Perempuan Betawi sebagai aktor utama dalam tatanan negara, mengakhiri Antitesis yang memisahkan ranah spiritual dan ranah publik.

Refleksi Filosofis: Jihad Perempuan, Tajdid, dan Al-Ma’rifah

Dua Ustadzah ini, Hj. Siti Suryani Thahir dan Hj. Tutty Alawiyah, mewakili spektrum utuh Dialektika Dakwah Global. Mereka adalah pelukis spiritual yang menggunakan tinta Sanad dan kanvas Betawi untuk melukis wajah Islam Tajdid yang memberdayakan. Tajdid atau gerakan pembaruan mereka adalah Sulūk yang terbagi dua:

Pencapaian Hj. Suryani Thahir pada Pembaruan atau Tajdid di level Epistemologi –Kitab Kuning dan Metode Pengajaran. Beliau mengajarkan perempuan cara melihat ilmu.

Pencapaian Hj. Tutty Alawiyah terletak pada Pembaruan atau Tajdid di level Struktural dan Siyasah –Organisasi dan Advokasi. Beliau mengajarkan perempuan cara bergerak dengan ilmu.

Keduanya, melalui jalur yang berbeda, mencapai al-Insan al-Kamil (manusia paripurna) bagi kaum perempuan. Mereka mengajarkan bahwa Kedaulatan Batin harus termanifestasi dalam Aksi Sosial dan Kedaulatan Intelektual.

Epistemologi Al-Ma’rifah dan Mabda’ wa Ma’ad. Warisan filosofis mereka adalah implementasi nyata dari konsep Mabda’ wa Ma’ad. Mabda’ atau asal mereka adalah Sanad yang lurus (KH. Abdullah Syafi’ie, KH. Thahir Rahili), dan Ma’ad atau tujuan mereka adalah pembentukan umat yang Paripurna melalui ilmu dan aksi.

Di balik beasiswa UNIAT dan keanggotaan BKMT, tersembunyi manuskrip yang paling berharga: Manuskrip Ikhlas. Manuskrip ini ditulis dengan tinta ketulusan yang menolak segala bentuk Riya’ atau pamer semata hanya demi keuntungan duniawi. Ikhlas ini adalah Energi Abadi yang membuat lembaga mereka bertahan melampaui masa jabatan politik dan fluktuasi ekonomi.

“Kami tahu, bangunan beton akan lapuk, kursi jabatan akan usai. Tetapi ilmu yang mendarah daging, dan niat yang disucikan, itulah yang akan menjadi bekal Ma’ad kami. Kami menanam benih di hati, karena hati adalah satu-satunya ladang yang subur di hadapan al-Haqq.”

Khatimah: Kedaulatan Batin dan Kalam Sastra Arab

Kisah Hj. Siti Suryani Thahir dan Hj. Tutty Alawiyah adalah epilog spiritual yang merangkum kedaulatan Ruh Betawi. Mereka adalah Dua Tiang Utama yang menopang atap Dakwah Global, membuktikan bahwa Jihad paling fundamental adalah Jihad di ruang kelas, di Majelis Taklim, dan di balik meja perundingan politik. Mereka adalah penerus Sanad yang menyuarakan Sabda yang lebih tahan lama daripada monumen batu, dan Ikhlas yang lebih kuat daripada ambisi fana.

Di tengah kegilaan dunia modern, mereka mengajarkan bahwa Kalam –perkataan– yang keluar dari hati yang ikhlas akan memiliki jangkauan Global. Mereka secara sadar menanggalkan ambisi duniawi demi mendapatkan kedaulatan spiritual yang tak dapat disita, sebuah implementasi murni dari Fana’ fi Tauhid.

“Mereka tidak meninggalkan istana atau benteng militer. Mereka mewariskan sebuah Manuskrip Keikhlasan yang ditulis di atas lembaran hati para ibu, sebuah Nur yang dipancangkan di Tepi Samudra. Dan Nur itu, demi al-Haqq, akan abadi melampaui riwayat imperium yang runtuh, menjadi Mabda’ bagi generasi Tajdid berikutnya.”

Untuk mengukuhkan makna dari perjuangan mereka dalam Dialektika Dakwah Global, kita merenungkan Kalam Sastra Arab—kata-kata mutiara para A’immah yang menjadi sumber etos perjuangan mereka:

Tentang Kebaikan yang Berkelanjutan, Imam Ali bin Abi Thalib menegaskan:
Keberkahan lembaga yang mereka dirikan (LPIAA, UNIAT, BKMT) adalah amal jariyah yang tidak terputus.

من زَرَعَ حَبَّ الخَيْرِ، جَنَى ثَمَرَ الرَّاحَةِ.

(Man zara’a ḥabba al-khayr, janā tsamara ar-rāḥati.)

Terjemahan: Barangsiapa menanam benih kebaikan, akan memanen buah ketenangan.

Mereka menanam Benih Ilmu di hati perempuan Betawi dan di institusi global. Buah dari penanaman ini bukan hanya ketenangan batin, tetapi juga kedaulatan sosial yang membuat umat merasa aman dan terdidik.

Tentang Kepemimpinan dan Ilmu, Imam Hasan Al-Bashri menegaskan:
Kepemimpinan politik dan pendidikan mereka didasarkan pada kekayaan ilmu, bukan kekayaan materi.

إِنَّ الْعَالِمَ لاَ يَطْلُبُ مَالًا، وَلَا سُلْطَةً، وَلَكِنَّهُ يَطْلُبُ الْعِلْمَ لِأَنَّهُ إِرْثُ النُّبُوَّةِ.

(Innal ‘ālimalā yaṭlubu mālan, wa lā sulṭatan, wa lākinna-hu yaṭlubul ‘ilma li’annahu irṡun-nubuwah.)

Terjemahan: Sesungguhnya seorang ulama tidak mencari harta, tidak juga kekuasaan, melainkan ia mencari ilmu karena ia adalah warisan kenabian.

Filosofi ini menjustifikasi keberhasilan mereka: Kedaulatan Ulama Perempuan di panggung global dan politik datang sebagai konsekuensi alami dari penguasaan ilmu (irṡun-nubuwah), menolak godaan harta dan kekuasaan duniawi.

Tentang Ilmu sebagai Sulūk Abadi, Imam Malik bin Anas menegaskan:
Aksi mereka adalah manifestasi dari menjaga ilmu dan menyebarkannya kepada yang berhak.

حقّ للعلم أن يُصان وألّا يُبذل إلّا لأهله.

(Ḥaqqun lil-‘ilmi an yuṣāna wa allā yubdzala illā li-ahlihi.)

Terjemahan: Ilmu berhak dijaga dan tidak diberikan kecuali kepada ahlinya (yang layak).

Majelis Taklim model Suryani dan gerakan BKMT model Tutty adalah upaya Menjaga Ilmu (yuṣāna), tidak dengan menyembunyikannya, melainkan dengan memberikannya kepada ahli sejati: kaum perempuan yang haus akan pengetahuan. Pemberdayaan mereka adalah proses filologis dan spiritual: ilmu diberikan, dijaga, dan diamalkan, sehingga menghasilkan kedaulatan yang berbuah Rahmatan Lil ‘Alamin.

Ulama perempuan Betawi adalah Cahaya di atas Cahaya (Nūrun ‘alā Nūr). Mereka berhasil mentransformasi Majelis Taklim menjadi matriks Dakwah Global, membuktikan bahwa Jihad paling fundamental adalah Jihad di ruang kelas, di Majelis Taklim, dan di balik meja perundingan politik global. Warisan mereka adalah pengingat abadi bahwa kedaulatan suatu bangsa dimulai dari kedaulatan Sabda dan Batin kaum perempuannya.

Semoga tulisan bermanfaat dan memberikan inspirasi bagi perempuan pendakwah Indonesia.

Catatan Kaki

  • Rihlah Ilmiyah: Konsep perjalanan mencari ilmu dalam tradisi Islam, yang diangkat sebagai Jihad Intelektual. Perjalanan Suryani ke Mesir adalah contoh Rihlah modern.
  • Tajdid Metodologi: Merujuk pada pembaruan metode pengajaran agama, sebuah dialektika antara tradisi pasif dan pembelajaran kritis.
  • Epistemologi Pemberdayaan: Pandangan yang menempatkan ilmu sebagai alat pembebasan dan aksi sosial, bukan sebagai objek pasif.
  • Ittihad al-Ummah: Prinsip persatuan umat yang diterapkan Tutty Alawiyah melalui pendirian BKMT, mentransformasi unit-unit Majelis Taklim menjadi kekuatan kolektif.
  • Fana’ fi Tauhid: Konsep Tasawuf yang merujuk pada keikhlasan mutlak, diterapkan sebagai etos kerja tanpa pamrih para Ustadzah.
  • Siyasah Syar’iyyah: Merujuk pada kebijakan dan administrasi negara yang berdasarkan prinsip-prinsip Syariat, diwujudkan Tutty Alawiyah melalui peran politiknya.
  • Epistemologi Interaktif: Metode pengajaran yang melibatkan jamaah secara aktif (membaca kitab, dialog), berlawanan dengan metode auditory learning.
  • Mabda’ wa Ma’ad: Konsep filosofis Islam yang menekankan asal mula (Mabda’) yang suci (Sanad) dan tujuan akhir (Ma’ad) yang mulia (Rahmatan Lil ‘Alamin).

Rujukan Ilmiah

  1. Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Jakarta: Kencana, 2004. (Sebagai konteks historis sanad keilmuan yang melandasi generasi Ulama Betawi).
  2. Laffan, Michael F. The Islamic Nation: Its Past and Future. New Jersey: Princeton University Press, 2023. (Analisis mengenai peranan ulama dalam konteks politik modern).
  3. Thahir, Siti Suryani. Sejarah Perkembangan Yayasan Perguruan Atthahiriyah. (Sumber Primer dari lembaga yang didirikan, penting untuk telaah filosofi UNIAT).
  4. Alawiyah, Tutty. Peran Wanita dalam Pembangunan di Bidang Agama. Jakarta: Yayasan Majelis Taklim, 1999. (Karya primer yang menjelaskan visi Tutty dalam BKMT dan peran politik).
  5. Mujani, Saiful. Etnografi Majelis Taklim di Jakarta. Jakarta: LIPI, 2002. (Kajian etnografis mengenai Majelis Taklim sebagai basis sosial-keagamaan yang diorganisasi oleh BKMT).
  6. Ibn Ata’illah al-Iskandari. Al-Hikam. (Sumber utama kutipan filsafat Tasawuf untuk analisis Fana’).
  7. Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ ‘Ulumuddin. (Kerangka filosofis untuk al-Ikhlas dan sulūk).
  8. Shihab, Quraish. Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan, 1994. (Untuk konteks Tajdid dan Rahmatan Lil ‘Alamin).
Veyya Elma Ladunnie
Veyya Elma Ladunnie
Mahasiswi Geografi Pembangunan UGM

Related Articles

Artikel baru