Rabu malam, 15 April 2026, Pondok Pesantren Wahid Hasyim, Sleman, Yogyakarta, menjadi ruang temu sosial bagi para gus dan jejaring pesantren dari berbagai daerah. Lebih dari 1000 peserta hadir yang berasal dari Jawa, Sumatera, Madura, hingga Kalimantan. Mereka datang untuk menghadiri acara Silaturahmi Nasional dan Halal Bihalal ASPARAGUS Nasional XVI, sebuah forum yang pada tahun ini mengusung tema “Merawat Sanad, Mengikat Tekad, Pesantren Kuat.”
Di tengah suasana Syawal yang masih hangat, pertemuan itu terasa lebih dari sekadar halal bihalal. Silatnas menjadi ruang untuk memperbarui ikatan. Bukan hanya ikatan personal di antara sesama penerus pesantren, juga ikatan nilai yang selama ini menjadi kekuatan utama dunia pesantren. Sanad keilmuan, silaturahim, dan kesadaran untuk menjaga kesinambungan antargenerasi. Tema yang diangkat panitia seperti ingin menegaskan hal itu sejak awal. Bahwa pesantren hanya dapat tetap kuat jika hubungan-hubungan dasarnya tetap dirawat.
Forum nasional ini benar-benar dihadiri jaringan ASPARAGUS dari berbagai kota. Dari Gresik, misalnya, puluhan peserta berangkat dari kantor PCNU Gresik dengan tiga kendaraan. Dari Solo Raya, rombongan peserta juga lebih dahulu berkumpul di Surakarta sebelum bergerak menuju Yogyakarta. Dari Demak, juga hadir dengan rombongan 2 bus. Begitu juga dari Kalimantan. Hal ini menunjukkan bahwa acara tersebut memang ditopang partisipasi cabang-cabang daerah, bukan hanya lingkungan lokal tuan rumah.
Pondok Pesantren Wahid Hasyim di kawasan Gaten, Condongcatur, Depok, Sleman, selama ini dikenal sebagai salah satu lingkungan pendidikan pesantren yang cukup kuat di Yogyakarta. Letaknya yang dekat dengan kawasan pendidikan perkotaan membuatnya mudah dijangkau, tetapi atmosfer kepesantrenannya tetap terasa sangat kuat. Karena itu, pemilihan tempat ini sebagai tuan rumah pertemuan nasional terasa bermakna. Lokasi ini mempertemukan aksesibilitas dengan simbol keberlanjutan tradisi.
Kegiatan tersebut merupakan momentum strategis untuk mempererat hubungan antaranggota, memperkuat solidaritas, dan membangun sinergi organisasi di tengah dinamika kehidupan kebangsaan. Artinya, halal bihalal di lingkungan ASPARAGUS tidak berhenti sebagai ekspresi kegembiraan pasca-Idulfitri. Hal ini juga berfungsi sebagai mekanisme konsolidasi. Dalam dunia yang berubah cepat, pesantren memerlukan ruang semacam ini agar para penerusnya tetap saling terhubung, tetap berbagi arah, dan tetap memiliki bahasa bersama tentang masa depan lembaga yang mereka warisi.
Di titik inilah tema acara menjadi terasa relevan. “Merawat sanad” berarti menjaga mata rantai pengetahuan dan keteladanan agar tidak putus. “Mengikat tekad” berarti menegaskan kembali komitmen untuk bergerak bersama, bukan sendiri-sendiri. Sedangkan frasa “pesantren kuat” mengarah pada tujuan yang lebih luas, bahwa pesantren akan tetap kokoh bukan hanya karena jumlah santri atau luas bangunan, tetapi karena jejaring moral dan sosialnya tetap hidup.
Malam itu di PP Wahid Hasyim itu, dengan demikian, dapat dibaca sebagai cermin kecil dari wajah pesantren Indonesia hari ini. Kegiatan ini tetap bertumpu pada tradisi lama, bertemu langsung, menyambung silaturahmi, menjaga garis hubungan antarguru dan antarpenerus. Namun pada saat yang sama, Silatnas juga memperlihatkan watak baru, yakni bagaimana bergerak dalam jaringan nasional, menguatkan solidaritas antardaerah, dan menata langkah bersama di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung. Dari pertemuan semalam, pesan yang tampak mengemuka ialah bahwa pesantren tidak hanya hidup dari pelajaran di ruang kelas, madrasah, atau pengajian di serambi masjid, tetapi juga dari kesediaan para pewarisnya untuk terus saling menjaga hubungan.
Pada akhirnya, yang tinggal dari peristiwa itu mungkin bukan sekadar jumlah peserta, bukan pula daftar daerah yang mengirim rombongan. Yang lebih penting ialah isyarat yang dikirimkannya, bahwa di tengah zaman yang serba cepat dan mudah tercerai oleh kesibukan, dunia pesantren masih memelihara satu cara lama yang tetap relevan, yakni duduk bersama, saling menyapa, lalu meneguhkan kembali ikatan. Dari Pondok Pesantren Wahid Hasyim, ASPARAGUS Nasional XVI seperti hendak mengingatkan bahwa kekuatan pesantren selalu bermula dari simpul yang dirawat bersama.

Silatnas tersebut juga dihadiri banyak tokoh nasional dari berbagai kalangan, mulai dari Zulhas, Budiman Soejatmiko, Ketum PBNU, Ketum Anshor, Gus Yusuf Khudhori, Gus Muwafiq, dan para penggerak ASPARAGUS nasional seperti Gus Makshum, Gus Hans, Gus Fahmi, Gus Munif, Gus Luqman, Gus Hery, Gus Gudfan, dan lain sebagainya. Dari perwakilan pemerintah, menjelaskan dan mengoinfokan berbagai agenda-agenda strategis nasional, sedangkan dari Asparagus menegaskan komitmen independensi Asparagus dari tarikan politik praktis apapun, namun bergerak dalam nilai-nilai luhur keaswajaan dan kebangsaan. Meskipun masih Gus, yang dalam bahasa nahwu disejejarkan dengan isim nakiroh, mengutip Gus Yusuf, jika bermanfaat untuk kemaslahatan public, maka tetap harus mengayunkan kaki perjuangan. PR-nya adalah, bagaimana Asparagus menerjemahkan potensi kemanfaatan tersebut dalam medan perjuangan yang konkret, terukur, dan terarah.

