Dalam diskursus pemikiran Islam Nusantara, kaidah “Al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah”—memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi baru yang lebih baik—bukanlah sekadar rangkaian kata tanpa makna. Jika dibedah melalui kacamata linguistik Arab, rahasia elastisitas kaidah ini terletak pada huruf Waw (و) yang berdiri kukuh di tengahnya.
Sebagai huruf ataf yang bermakna muthlaq al-jam’ (penggabungan mutlak), huruf Waw berfungsi menyetarakan dua subjek, mengawinkan dimensi waktu, serta menolak sekat-sekat kaku yang memisahkan masa lalu dan masa depan. Ketika kaidah ini ditarik ke dalam bentangan sejarah Nahdlatul Ulama (NU) sejak didirikan pada tahun 1926 hingga menapak abad keduanya di tahun 2026, kita akan melihat bagaimana huruf Waw tersebut bekerja sebagai jangkar sekaligus layar bagi bahtera organisasi ulama terbesar di dunia ini.
Ketika KH. Hasyim Asy’ari dan para kiai mendirikan NU pada tahun 1926, fungsi penyetaraan (Al-Hukm wa Al-I’rab) dari huruf Waw langsung mewujud dalam karakter dasar organisasi. NU lahir sebagai respons atas gejolak puritanisme global di Timur Tengah sekaligus cengkeraman kolonialisme di tanah air. Di satu sisi, NU bertindak sebagai benteng pertahanan bagi al-qadim, yaitu khazanah Islam tradisional yang berakar pada kitab kuning (turaits), sistem pesantren, dan metode bermazhab.
Namun, di sisi yang sama pentingnya, para kiai tidak ragu mengadopsi al-jadid, yakni sistem jam’iyah (organisasi modern formal) lengkap dengan AD/ART untuk mengelola gerakan mereka. Watak huruf Waw mengunci kesadaran para pendiri NU bahwa merawat spiritualitas masa lalu dan mengadopsi instrumen modernitas memiliki kedudukan hukum yang setara. Struktur modern diadopsi bukan untuk membunuh tradisi, melainkan untuk melindunginya.
Memasuki fase kemerdekaan hingga pergolakan Orde Baru, fungsi huruf Waw sebagai perekat kebersamaan waktu (Al-Musahabah / Al-Ma’iyyah) kian tampak nyata. NU membuktikan bahwa komitmen beragama dan komitmen bernegara dapat berjalan simultan tanpa harus mengorbankan salah satunya. Resolusi Jihad 1945, keterlibatan dalam Pemilu 1955, hingga keputusan besar menerima Pancasila sebagai asas tunggal pada Muktamar Situbondo 1984 adalah bukti nyata kebersamaan tersebut.
Ketika NU memutuskan “Kembali ke Khittah 1926” pada tahun 1984, langkah itu bukanlah bentuk pelarian yang kolot ke masa lalu. Di bawah nakhoda pemikiran KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), NU justru merawat tradisi pesantren bersamaan dengan melahirkan gerakan pemikiran baru tentang pluralisme, pribumisasi Islam, dan penguatan hak sipil. Tradisi lama dipeluk erat, sementara inovasi sosial digenggam kuat dalam satu embusan napas.
Kehebatan fungsional huruf Waw juga terletak pada ketiadaan sifat tartib (urutan kronologis yang kaku). NU tidak pernah terjebak dalam jebakan berpikir bahwa mereka harus menyelesaikan seluruh urusan tradisi sebelum berani menyentuh modernitas. Melalui forum Bahtsul Masail, fikih NU kerap melompat melampaui zamannya, mendiskusikan keabsahan bank modern, teknologi, hingga hak-hak perempuan jauh sebelum isu tersebut menjadi arus utama. Watak ini juga yang menafikan urutan terbalik (‘aks al-tartib), menghalangi NU dari sikap ekstrem yang mengejar modernitas secara membabi buta hingga mencabut akar sejarahnya sendiri.
Kini, saat menembus gerbang abad kedua di tahun 2026, prinsip yang diikat oleh huruf Waw ini mengalami metamorfosis yang kian relevan melalui gagasan transformasi berkelanjutan (al-ishlah ila ma huwal ashlah). Wajah NU di tahun 2026 adalah perpaduan harmonis yang utuh. Di satu sudut, aroma kemenyan, gema tahlilan, ziarah kubur, dan sakralitas sanad keilmuan pesantren tetap terjaga murni sebagai identitas kultural yang tak tergantikan. Namun di sudut lain, NU hari ini adalah ekosistem yang mengelola ratusan universitas modern, mengadopsi kecerdasan buatan (AI) untuk literasi dakwah, dan memimpin diplomasi perdamaian global melalui panggung dunia seperti forum R20.
Satu abad perjalanan dari 1926 hingga 2026 menegaskan sebuah kebenaran historis: Nahdlatul Ulama berhasil bertahan dan terus membesar bukan karena mereka statis ataupun hanyut oleh arus zaman. NU terus relevan karena mereka setia pada jembatan bernama huruf Waw—sebuah titik temu yang memastikan bahwa menjadi religius tidak berarti harus tertinggal, dan menjadi modern tidak berarti harus kehilangan jati diri.

