Dialektika Sarung, Popperian, dan Bayang-bayang Hegemoni
Di Bawah Langit Kebenaran yang Tak Pernah Final
Dalam rimbunnya pohon “Sawo Kecik” yang teduh di hamparan sejarah Nusantara, Nahdlatul Ulama (NU) berdiri bukan sekadar sebagai organisasi massa, melainkan sebuah “ekosistem epistemologis” yang bergerak di antara tegangan tradisi yang beku dan modernitas yang cair. Menatap NU melalui lensa The Open Society and Its Enemies karya Karl Popper adalah sebuah petualangan intelektual yang ganjil namun mendesak. Di sini, kita melihat sebuah paradoks yang indah: sebuah institusi yang memegang teguh sanad (otoritas tradisional) namun secara sosiologis mempraktikkan eksperimentasi sosial yang inklusif.
Esai ini bermaksud menelusuri bagaimana “sarung” yang kita kenal sebagai simbol tradisionalisme sebenarnya menyimpan mekanisme trial and error ala Popperian, sekaligus membedah bagaimana strategi filantropi global George Soros mencoba masuk ke dalam pori-pori masyarakat terbuka tersebut melalui narasi hegemoni sipil.
Dialog Kiai Kampung di Serambi Pesantren
Alkisah, seorang sarjana lulusan London datang ke sebuah pesantren di pelosok Jombang. Dengan tas ransel penuh buku Popper dan Soros, ia bertanya kepada seorang Kiai sepuh yang sedang asyik melinting tembakau.
“Kiai, apakah NU siap menjadi ‘Masyarakat Terbuka’ yang menolak kebenaran absolut?” tanya si Sarjana dengan nada progresif.
Kiai itu tersenyum, asap tembakau mengepul seperti awan ketidakpastian. “Nak, di NU itu pintunya selalu terbuka. Saking terbukanya, jin, setan, sampai intelektual liberal pun bisa masuk dan ngopi bareng. Tapi ingat, kalau kamu buka jendela lebar-lebar untuk cari angin segar, jangan marah kalau lalat dan debu ikut masuk. Masalahnya sekarang, kamu bawa angin atau cuma bawa lalat?”
Si Sarjana terdiam. Ia baru menyadari bahwa falsifiabilitas Popper sudah lama dipraktikkan dalam forum Bahtsul Masail, di mana kebenaran hukum agama diperdebatkan hingga babak belur sebelum akhirnya diputuskan dengan “Wallahu A’lam”—sebuah pengakuan tulus bahwa hanya Tuhan yang memegang otoritas absolut, sementara manusia hanyalah pemburu probabilitas.
Dialektika Popperian: NU sebagai Eksperimen Terbuka
Karl Popper memimpikan sebuah masyarakat yang mampu mengoreksi dirinya sendiri tanpa pertumpahan darah. Bagi Popper, musuh terbesar masyarakat terbuka adalah “Historisisme”—keyakinan bahwa sejarah memiliki hukum pasti yang bisa diramal (seperti dalam Marxisme atau Fasisme).
NU, secara antropologis, adalah antitesis dari historisisme yang kaku. Melalui kaidah fikhiah al-muhafazatu ‘ala al-qadimi al-salih wa al-akhdu bi al-jadidi al-aslah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi baru yang lebih baik), NU menciptakan ruang dialektika yang elastis.
Berikut deskripsi di lapangan:
1. Falsifikasi dalam Bahtsul Masail: Secara sosiologis, forum ini adalah laboratorium Popperian. Tidak ada tafsir yang dianggap “final” selama realitas sosial (konteks) berubah. Di sini, klaim kebenaran diuji, dibenturkan, dan jika terbukti tidak relevan (falsified), maka produk hukum baru akan lahir.
2. Gradualisme (Piecemeal Social Engineering): NU tidak menyukai revolusi total yang berdarah-darah. Mereka lebih memilih perubahan sosial setapak demi setapak—persis seperti saran Popper untuk menghindari utopia yang berujung pada tirani.
Bayang-bayang Soros: Hegemoni dan Strategi “Open Society Foundations”
Jika Popper adalah arsitek teoritisnya, maka George Soros adalah kontraktor lapangannya. Melalui Open Society Foundations (OSF), Soros mengonversi gagasan Popper menjadi strategi hegemoni budaya. Dalam perspektif sosiologis, keterlibatan jejaring filantropi global dalam tubuh NU (baik secara langsung maupun melalui organ taktis) menciptakan sebuah “Dialektika Hegemoni”.
George Soros memahami bahwa untuk menciptakan masyarakat terbuka di negara berkembang, ia harus masuk melalui pintu kebudayaan. Di sinilah letak ketegangannya:
1. Sorosian Hegemony: Menginginkan masyarakat yang sekular-liberal, di mana individu adalah unit tertinggi.
2. NU Inclusivity: Menginginkan masyarakat terbuka yang tetap berpijak pada nilai komunalistik-spiritual.
Analisis antropologis menunjukkan bahwa NU seringkali melakukan “subversi kreatif” terhadap bantuan atau narasi asing. Dana atau wacana dari lembaga donor internasional seringkali “dinasionalisasi” menjadi bahasa pesantren yang justru memperkuat basis tradisional mereka sendiri. Ini adalah bentuk perlawanan diam-diam (hidden transcript) terhadap hegemoni global.
Antara Otoritas dan Kebebasan
Masyarakat NU adalah masyarakat yang “terbuka secara terbatas” (limited open society). Secara antropologis, mereka sangat terbuka terhadap kemajuan teknologi dan demokrasi, namun tetap mempertahankan “poros suci” berupa penghormatan kepada Kiai.
Inilah yang luput dari pengamatan Popper maupun Soros. Mereka membayangkan individu yang sepenuhnya otonom. Namun dalam sosiologi NU, individu baru menjadi “manusia seutuhnya” jika ia terhubung dengan kolektivitasnya. Kebebasan bukan berarti lepas dari ikatan, melainkan kebebasan untuk memilih ikatan yang menyelamatkan (sanad).
NU adalah sebuah sajak yang ditulis di atas daun lontar dengan tinta digital. Ia adalah masyarakat terbuka yang tidak kehilangan kiblat. Ia menerima Popper sebagai teman diskusi tentang ketidakpastian, dan menyambut Soros sebagai tantangan dalam dialektika material, namun hatinya tetap tertambat pada sujud yang sunyi.
Pada akhirnya, masyarakat terbuka di tangan NU bukanlah rimba raya kebebasan tanpa batas, melainkan sebuah taman di mana setiap bunga boleh mekar, selama akarnya tetap menghujam ke dalam tanah tradisi yang subur.
Mencari Wajah Tuhan dalam Retakan Falsifikasi
Di ujung diskursus yang riuh oleh benturan teori, kita kembali ke sebuah titik di mana kata-kata kehilangan beratnya. Jika Karl Popper memandang kebenaran sebagai cakrawala yang selamanya menjauh—sebuah titik yang hanya bisa kita dekati namun tak pernah kita genggam sepenuhnya—maka bagi kaum sarungan, ketidakpastian itulah yang disebut sebagai Faqr (kefakiran intelektual) di hadapan Sang Absolut.
Masyarakat Terbuka dalam jiwa NU bukanlah sebuah pasar gelap ideologi di mana kebenaran dijual kepada penawar tertinggi. Ia adalah sebuah Sajadah Semesta. Di atasnya, dialektika antara akal yang meragukan (Popperian) dan syahwat kekuasaan yang menghegemoni (Sorosian) hanyalah riak kecil di permukaan samudera tauhid. NU membuktikan bahwa menjadi terbuka tidak berarti menjadi hampa; menjadi moderat tidak berarti menjadi cair tanpa warna.
Secara filosofis, NU adalah personifikasi dari “Ketidakpastian yang Beradab.” Ia menerima bahwa setiap kebijakan manusia adalah spekulasi yang mungkin salah (khata’), namun ia menggantungkan spekulasi itu pada tiang-tiang tradisi yang telah diuji oleh waktu ribuan tahun. Di sinilah sains bertemu dengan sujud. Ketika Soros bicara tentang rekonstruksi dunia melalui filantropi politik, NU menjawabnya dengan Zakat dan Khidmat—sebuah kedermawanan yang tidak mencari kepatuhan, melainkan mencari keridaan.
Kini, di bawah langit modernitas yang seringkali pucat dan dingin, NU berdiri sebagai penyair yang menjahit kembali robekan-robekan zaman. Antara seruan azan yang tetap ortodoks dan diskursus demokrasi yang paradoks, terdapat sebuah ruang sunyi: ruang di mana “Masyarakat Terbuka” bukan lagi sekadar proyek sosiologis, melainkan sebuah perjalanan ruhani untuk menemukan sesama manusia dalam cermin keragaman.
“Kebenaran adalah kekasih yang tak ingin dipenjara dalam satu definisi; ia serupa cahaya yang masuk melalui retakan-retakan keraguan, namun hanya mereka yang berakar pada bumi tradisilah yang tidak akan limbung saat angin keterbukaan meniupkan badainya.”
“Di atas altar sejarah, biarlah teori-teori gugur sebagai syuhada pemikiran, namun biarlah zikir tetap mengalir sebagai urat nadi kehidupan. Karena pada akhirnya, kita bukan sedang membangun menara Babel pengetahuan, melainkan sedang menenun sarung kesabaran untuk menutupi aurat zaman yang kian telanjang.”
Wallahu A’lam bisshowab.
Hanya Allah yang lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.
Catatan Kaki
- [^1]: Popper, Karl R. (1945). The Open Society and Its Enemies. London: Routledge. (Membahas tentang penolakan terhadap otoritarianisme dan pentingnya falsifiabilitas).
- [^2]: Soros, George. (1998). The Crisis of Global Capitalism: Open Society Endangered. New York: PublicAffairs. (Analisis mengenai bagaimana kapitalisme finansial dan masyarakat terbuka saling berkelindan).
- [^3]: Madjid, Nurcholish. (1997). Tradisi Islam: Peran dan Fungsinya dalam Pembangunan di Indonesia. Jakarta: Paramadina. (Penting untuk memahami bagaimana tradisi NU mampu beradaptasi dengan modernitas).
- [^4]: Gramsci, Antonio. (1971). Selections from the Prison Notebooks. New York: International Publishers. (Teori Hegemoni yang digunakan untuk membedah strategi penetrasi budaya).
- [^5]: Azra, Azyumardi. (1999). Renaisans Islam Asia Tenggara. Jakarta: Remaja Rosdakarya. (Menjelaskan tentang jaringan ulama dan fleksibilitas pemikiran NU).
- [^6]: Bourdieu, Pierre. (1977). Outline of a Theory of Practice. Cambridge University Press. (Digunakan untuk menganalisis “Habitus” warga NU dalam menghadapi perubahan zaman).
Rujukan Utama:
- Popper, K. (2002). Conjectures and Refutations: The Growth of Scientific Knowledge. Routledge.
- Soros, G. (2000). Open Society: Reforming Global Capitalism. PublicAffairs.
- Giddens, A. (1991). Modernity and Self-Identity. Stanford University Press.
- Dhofier, Z. (1982). Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. LP3ES.

