‎Mendzikirkan Hiburan: Strategi Kebudayaan Wali Songo

Foto Prof. Dr. Ir. Khusnul Yakin, M.Sc. (Sumber: unhas.tv)

Oleh: Prof. Dr. Ir. Khusnul Yakin, M.Sc.

Nang ning nang gung bukan sekadar bunyi gamelan, melainkan struktur dzikir yang dirancang para Wali Songo untuk menuntun kesadaran manusia. Hiburan diolah menjadi suluk, agar manusia tidak larut dalam hura-hura, tetapi kembali hening dan ingat kepada Dia Yang Agung. Dari dzikir yang berulang, lahirlah kesadaran diri sebagai ketiadaan dan kesadaran Tuhan sebagai Yang Maha Ada. Kesadaran ini menumbuhkan etika hidup yang lembut, termasuk kepedulian ekologis dan penghancuran sifat angkara murka. Dengan hiburan yang berubah menjadi dzikir, manusia diarahkan menuju kehidupan yang bermakna dan akhir yang baik, yang selaras dan harmoni dengan alam semesta.
‎
‎Nang ning nang gung sering dipahami sekadar sebagai bunyi gamelan, sebagai repetisi musikal yang mengiringi suasana hajatan, pertunjukan, atau ritus kebudayaan Jawa. Namun di tangan para Wali Songo, bunyi itu tidak pernah netral. Ia adalah strategi kebudayaan yang sangat halus, sekaligus sangat dalam, untuk menggeser kesadaran masyarakat Nusantara dari hiruk-pikuk dunia menuju dzikir, dari hiburan profan menuju suluk, dari keramaian lahir menuju ketenangan batin. Inilah kejeniusan para wali: tidak mematikan budaya, tetapi men-transendensikannya.
‎
‎Bunyi nang adalah panggilan pertama. Ia mengajak manusia yang terjebak dalam kegaduhan sosial untuk berhenti sejenak. Dalam nang terdapat hentakan awal, sebuah kesadaran bahwa hidup tidak bisa terus-menerus berlari tanpa arah. Nang adalah kesadaran awal, semacam isyarat ilahi yang mengetuk qalbu manusia: berhentilah, dengarlah, sadarlah. Di tahap ini, manusia masih membawa dirinya, masih membawa ego, masih membawa kepentingan, tetapi ia mulai membuka ruang untuk mendengar sesuatu yang lebih dalam daripada suara dunia.
‎
‎Lalu datang bunyi ning. Ning adalah hening. Ia bukan sekadar sunyi akustik, melainkan sunyi eksistensial. Ning adalah keadaan batin ketika manusia mulai menyadari bahwa dirinya bukan pusat semesta. Di sini ego mulai luruh, identitas sosial mulai menipis, dan kesadaran akan kefanaan diri mulai hadir. Ning adalah maqam ketiadaan, fana kecil sebelum fana besar. Dalam ning, manusia tidak lagi sibuk membela dirinya, tidak lagi ribut mempertahankan kepentingannya, karena ia mulai memahami bahwa dirinya, pada hakikatnya, adalah ketiadaan yang bergantung sepenuhnya pada Yang Ada.
‎
‎Setelah ning, bunyi nang kembali hadir. Namun nang yang kedua bukanlah pengulangan mekanis. Ia adalah kebangkitan kesadaran yang lebih matang. Jika nang pertama adalah panggilan untuk berhenti, maka nang kedua adalah panggilan untuk bangkit dengan kesadaran baru. Manusia kembali ke dunia, kembali ke sosial, kembali ke kehidupan, tetapi dengan jiwa yang telah disucikan oleh ning. Ia hadir di dunia tanpa diperbudak dunia, ia beraktivitas tanpa kehilangan orientasi batin.
‎
‎Puncaknya adalah gung. Gung adalah agung. Bunyi gung menandai keluasan, kedalaman, dan keagungan. Di sinilah kesadaran manusia bertemu dengan Dia Yang Agung. Bukan dalam bentuk klaim teologis yang bising, tetapi dalam kehadiran batin yang tenang dan penuh makna. Gung adalah maqam kedekatan, ketika manusia tidak lagi mencari Tuhan sebagai objek di luar dirinya, tetapi mengalami kehadiran-Nya sebagai realitas yang memancar dalam seluruh kehidupan. Pada titik ini, dzikir bukan lagi aktivitas lisan, melainkan keadaan eksistensial.
‎
‎Repetisi nang ning nang gung bukan sekadar struktur musikal, tetapi struktur suluk. Pengulangan ini dimaksudkan agar pelaku dzikir, baik sadar maupun tidak, mengalami pendakian kualitas batin secara perlahan namun konsisten. Para wali memahami betul bahwa kesadaran spiritual tidak bisa dipaksakan dengan doktrin keras. Ia harus ditanam melalui kebiasaan, rasa, dan pengalaman estetik yang berulang. Gamelan menjadi madrasah sunyi, tempat masyarakat belajar mendekat kepada Yang Agung tanpa merasa digurui.
‎
‎Menariknya, gamelan bukanlah budaya baru yang diimpor, melainkan alat hiburan yang sudah hidup di tengah masyarakat Nusantara. Para wali tidak memusnahkan hiburan, tidak mengharamkan kegembiraan, tetapi menggeser orientasinya. Dari hura-hura menjadi dzikir, dari pelarian menjadi perenungan, dari pelampiasan menjadi suluk. Inilah strategi kebudayaan yang sangat cerdas: menjadikan yang dicintai masyarakat sebagai jembatan menuju kesadaran ilahi.
‎
‎Strategi ini sekaligus menunjukkan bahwa para wali adalah arsitek konsep Insan Kamil dalam konteks Nusantara. Mereka memahami bahwa manusia paripurna bukanlah manusia yang anti-dunia, tetapi manusia yang menempatkan dunia pada proporsinya. Hiburan tidak dihapus, tetapi dimurnikan. Tradisi tidak dihancurkan, tetapi disinari. Kebudayaan tidak ditolak, tetapi diolah menjadi jalan menuju Dia Yang Agung.
‎
‎Kesadaran yang dibangun melalui nang ning nang gung tidak berhenti pada relasi vertikal antara manusia dan Tuhan. Ia berbuah secara horizontal dalam relasi manusia dengan alam dan sesama. Seseorang yang telah mengalami ning tidak akan mudah merusak, karena ia telah merasakan ketiadaan dirinya. Seseorang yang telah mencapai gung tidak akan serakah, karena ia telah bersentuhan dengan Yang Maha Agung. Dari sinilah prinsip ekologi transenden menemukan akarnya.
‎
‎Tanpa perjalanan spiritual sangat sulit bisa mewujudkan tata lingkungan yang harmonis sebagaimana pesan memayu hayuning bawana (mempercantik dunia yang sudah indah).
‎
‎Memayu hayuning bawana, memperindah dan merawat keharmonisan dunia, bukan sekadar etika lingkungan, melainkan konsekuensi spiritual. Orang yang telah menempuh suluk kesadaran melalui gamelan nang ning nang gung akan memahami bahwa alam bukan objek eksploitasi, melainkan sesama makhluk yang sama-sama bergantung pada Dia. Merusak alam berarti merusak rumah bersama, dan pada level yang lebih dalam, merusak hubungan batin dengan Yang Agung.
‎
‎Sebaliknya, ambrasto dur hangkoro, menghancurkan sifat angkara murka, menjadi mungkin karena ego telah diluluhkan sejak tahap ning. Keserakahan, kerakusan, dan kekerasan lahir dari ego yang merasa dirinya pusat segalanya. Ketika ego runtuh, angkara kehilangan fondasinya. Inilah mengapa kesadaran ekologis sejati tidak bisa dibangun hanya dengan regulasi dan slogan, tetapi harus berakar pada kesadaran spiritual yang dalam.
‎
‎Para Wali Songo tampaknya telah membaca masa depan jauh sebelum kita membicarakan krisis ekologis, krisis intensional, dan krisis kemanusiaan.
‎
‎Mereka menanamkan kesadaran melalui bunyi, rasa, dan ritme, bukan melalui ceramah yang menggurui. Mereka membentuk masyarakat yang berzikir sambil hidup, hidup sambil berzikir. Sebuah masyarakat yang hiburannya justru mengantarkan pada ketenangan, bukan pada pelarian semu, bukan juga hiburan kekanak-kanakan,
‎
‎Dalam konteks hari ini, strategi budaya para wali menjadi sangat relevan. Ketika hiburan modern sering menjauhkan manusia dari dirinya sendiri, gamelan nang ning nang gung mengingatkan bahwa hiburan sejati adalah perjumpaan dengan Dia Yang Agung. Ketika dunia dilanda krisis ekologis akibat keserakahan yang dilegalkan, kesadaran suluk menawarkan jalan pulang: menata ulang hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan alam.
‎
‎Nang ning nang gung bukan nostalgia masa lalu, melainkan peta jalan kesadaran. Ia mengajarkan bahwa ketenangan bukan hasil pelarian, tetapi hasil pendalaman. Bahwa kebudayaan bukan lawan spiritualitas, melainkan kendaraan menuju spiritualitas. Dan bahwa Insan Kamil bukanlah sosok abstrak, melainkan manusia yang hidup selaras dengan Dia Yang Agung dan dengan semesta ciptaan-Nya. Dari bunyi gamelan itulah, para wali merajut peradaban yang lembut, dalam, dan berkelanjutan.

Penulis adalah Guru Besar dalam bidang ekotoksikologi perairan Universitas Hasanuddin dan pendiri Institute for Transcendental Ecology.

Related Articles

Artikel baru