Catatan dari Sunyi Tebuireng hingga Bisik Tambakberas
Ada malam-malam di mana tanah Jawa terasa bermimpi, namun nadinya berdenyut begitu kencang. Di bawah naungan pepohonan tua Pesantren Tebuireng yang menyimpan getar karamah para muassis, atau dalam hening sudut Pesantren Tambakberas ketika gerimis melumat debu-debu zaman, kita sering kali mendengarkan detak sejarah yang tak pernah tenang.
Ada kecemasan yang merayap pelan: bahasa-bahasa manusia kian melipat diri menjadi deretan angka, intuisi meluruh digantikan dinginnya mesin, dan ingatan kolektif kita tentang kebudayaan perlahan terkikis oleh godaan pragmatisme kekuasaan.
Di tengah pertaruhan sejarah inilah, Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama berdiri bukan sekadar sebagai kalender rutin musyawarah jam’iyyah. Ia mengetuk pintu zaman sebagai sebuah peristiwa kebudayaan yang dramatis dan eksistensial.
Ia bukan lagi panggung perebutan tajuk kepemimpinan semata, melainkan ritus penyucian batin kolektif. Membaca Muktamar Ke-35 NU dari jubah filsafat kebudayaan menuntut kita menanggalkan cara pandang teknokratis yang kaku, lalu menyelam ke dalam dua samudra metafisik-epistemologis tradisi Islam Nusantara: Bashirah atau “penyingkapan batin” dan Bisyaroh atau “warta gembira yang menggetarkan jiwa”.
Epistemologi Bashirah: Menerobos Kebisingan Zaman dan Menyingkap Takdir Peradaban
Epistemologi bashirah bekerja melalui lintasan pemikiran yang melampaui jebakan fisikwi-ragawi. Ketika zaman dipenuhi oleh kebisingan algoritma, disrupsi digital, dan profanitas kekuasaan, kebudayaan manusia kerap tertahan oleh tabir (hijab) kultural. Pancaindra manusia terpesona oleh kemegahan yang semu, sementara akal rasional terjebak dalam kalkulasi angka yang dingin. Di sinilah bashirah hadir sebagai daya pandang transendental—sebuah kasyf kultural yang menembus benteng-benteng ilusi tersebut untuk menyibak penyingkapan sejati atas krisis kemanusiaan dan panggilan pertobatan ekologis.
Secara ontologis dan epistemologis, bashirah bukanlah sekadar kejelian rasional atau ketajaman intuisi profan. Dalam tradisi tasawuf Nusantara, bashirah adalah mata batin yang dibersihkan dari hijab duniawi—sebuah penglihatan rohani yang memungkinkan seorang hamba membaca tulisan tersirat di balik lembaran sejarah. Ketika dunia modern terseret dalam banalitas informasi dan kebisingan wacana, kebudayaan yang kehilangan bashirah akan berjalan pincang, tumpul, dan dengan mudah menjadi budak dari kecenderungan zamannya.
Muktamar Ke-35 NU dipanggil untuk menyalakan bashirah kebudayaannya guna membongkar dua krisis eksistensial yang mengintai peradaban manusia:
1. Kiamat Bahasa dan Involusi Intuisi Kemanusiaan
Di era disrupsi digital dan dominasi kecerdasan buatan (AI), manusia modern sedang mengalami pendangkalan rasa secara terstruktur. Bahasa tidak lagi menjadi wadah sasmita gaib—isyarat halus jiwa—melainkan sekadar komoditas komunikasi yang mekanis dan dingin. Intuisi spiritual manusia perlahan mati karena digantikan oleh prediksi kalkulatif algoritma. Di sinilah bashirah Muktamar NU ditantang: apakah tradisi pesantren yang berabad-abad merawat sanad, keheningan tirakat, serta keharuman makna kitab kuning mampu menjadi benteng terakhir yang menjaga keluhuran bahasa dan kebenaran intuisi manusia?
2. Pertobatan Ekologis atau Fiqh al-Bi’ah sebagai Laku Ruhaniah
Kerusakan bumi hari ini bukanlah sekadar isu teknis kegagalan tata kelola lingkungan, melainkan cermin kusam dari kebangkrutan moral dan spiritual manusia. Ketika hutan-hutan Nusantara dibabat demi keserakahan, tanah dialienasi dari rakyatnya, dan sungai-sungai tercemar oleh nafsu kapitalisme, bashirah menuntut NU untuk tidak lagi bergeming. Kebudayaan NU harus melihat luka bumi sebagai luka tubuhnya sendiri. Bashirah mengubah fikih lingkungan dari sekadar wacana kertas menjadi gerakan pertobatan nasional—sebuah laku spiritual untuk memulihkan hubungan hamba dengan Sang Pencipta melalui penghormatan terhadap alam semesta.
“Bila mata lahiriah mudah terpukau oleh kemilau panggung politik dan hitung-hitungan angka struktural, maka bashirah menembus hingga ke ceruk terdalam: apakah peradaban ini sedang berlayar menuju samudera keselamatan, atau justru meluncur menuju jurang kehampaan jiwa?”
Ontologi Bisyaroh: Kebudayaan Harapan di Tengah Kegelapan Peradaban
Secara ontologis, bisyaroh memancar sebagai kabar gembira peradaban yang berdiri di atas tiga pilar utama. Pilar pertama adalah Wasathiyah Peradaban, yakni keberanian untuk menjadi penengah yang menyelamatkan dunia dari cengkeraman polarisasi ideologis dan ekstremisme. Pilar kedua adalah Kerakyatan Ekonomi, yaitu komitmen ontologis untuk memerdekakan jamaah dari keterasingan dan kemelaratan struktur sosial. Pilar ketiga adalah Tawazun Kultural, sebuah harmoni sejati yang menjaga kesinambungan antara akar tradisi leluhur dan tuntutan kemajuan modernitas.
Jika bashirah adalah tajuk penyingkapan krisis, maka bisyaroh adalah hakikat keberadaan (ontos) dari kebudayaan itu sendiri. Bisyaroh bukanlah sekadar kabar gembira yang meluncur dari retorika manis di atas mimbar, melainkan hembusan Rahmatan lil ‘Alamin yang menetes ke atas tanah-tanah yang tandus. Dalam kosmologi Nusantara, bisyaroh adalah spirit memayu hayuning bawana—sebuah janji pemulihan peradaban yang dipancarkan melalui Tiga Pilar Harapan tersebut:
1. Islam Wasathiyah sebagai Bisyaroh Peradaban Global
Dunia hari ini sedang menggemertakkan gigi karena kelelahan oleh ekstremisme, konflik sektarian, dan polarisasi ideologis yang tak kunjung usai. Karakter wasathiyah (moderasi) yang dirawat oleh NU bukan lagi sekadar doktrin internal, melainkan sebuah bisyaroh—kabar gembira bagi dunia yang merindukan oase kedamaian. Dari rahim kebudayaan pesantren, NU menawarkan napas keagamaan yang teduh, menghargai martabat manusia, serta memeluk perbedaan sebagai takdir keindahan ciptaan.
2. Kemandirian dan Pemerdekaan Rakyat atau Bisyaroh Kerakyatan
Kabar gembira akan menjadi igauan hampa apabila ia terbang melayang di awan-awan teologi tanpa membumi pada penderitaan rakyat. Bisyaroh yang nyata bagi nahdliyin di akar rumput adalah hadirnya kebudayaan organisasi yang berpihak pada kaum mustadh’afin (mereka yang tertindas dan tergiris). Muktamar harus melahirkan struktur ekonomi dan sosial yang memerdekakan petani dari kemelaratan, melindungi nelayan dari peramposan ruang hidup, dan mengangkat martabat rakyat kecil agar tak lagi sekadar dijadikan angka penambal legitimasi kekuasaan.
3. Harmoni Tradisi dan Modernitas atau Tawazun Kultural
Dalam kaidah klasik al-muhafadhatu ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah, tersimpan kebijaksanaan ontologis yang sangat dalam. NU membuktikan bahwa menjadi modern tidak berarti harus menjadi asing dari leluhur sendiri. Keberhasilan merajut selawat dengan kemajuan teknologi, serta mentransformasi kearifan lokal menjadi daya tahan zaman, adalah bisyaroh bahwa akar kebudayaan Nusantara tidak akan pernah lapuk dihantam badai zaman.
Dialektika Kebudayaan: Dari Pertapaan Spiritual menuju Aksi Sejarah
Dialektika kebudayaan ini bergerak dari bashirah sebagai fondasi penyingkapan krisis batin, menuju ke satu titik temu dialektis di mana Muktamar Ke-35 NU menjelma sebagai kawah candradimuka peradaban. Dari proses penggodokan batin dan pemikiran di titik temu inilah, pergerakan budaya memancar menjadi bisyaroh—sebuah aksi pembebasan peradaban yang konkret, hidup, dan mentransformasi realitas sejarah secara nyata.
Filsafat kebudayaan mengajarkan bahwa bashirah tanpa bisyaroh akan terjerembus menjadi romantisme spiritual yang melancholis—sebuah kebijaksanaan yang ratapan jiwanya indah namun membiarkan dunia hancur dalam ketidakberdayaan. Sebaliknya, bisyaroh tanpa bashirah hanyalah demagogi dangkal, pameran janji palsu yang terseret oleh arus pragmatisme kekuasaan yang profan.
Muktamar Ke-35 NU harus menjelma menjadi kawah candradimuka di mana dialektika ini terjadi secara utuh dan menggetarkan:
1. Pembersihan Tahta Organisasi (Khaddimul Ummah)
Bashirah menuntut pemeriksaan batin yang jujur di dalam tubuh jam’iyyah. Kepemimpinan NU tidak boleh ditukarkan dengan potongan-potongan kekuasaan jangka pendek yang murah. Dialektika ini melahirkan bisyaroh berupa hadirnya pemimpin yang ridho menjadi khadimul ummah (pelayan umat)—pemimpin yang hatinya bergetar setiap kali mendengar rintihan rakyatnya dan matanya tak tertidur demi menjaga keselamatan warganya.
2. Resonansi Jiwa Generasi Zaman Baru
Anak-anak muda hari ini (Generasi Z dan Alpha) mengarungi samudra zaman yang sepi, kehilangan pegangan makna di tengah kepungan kecanggihan teknologi. Mereka tidak membutuhkan dogma yang menghukum, melainkan membutuhkan bashirah kultural yang memahami kecemasan jiwa mereka. Dari dialektika ini, lahir bisyaroh berupa ruang kebebasan berkarya, di mana tradisi spiritual Islam Nusantara menjadi kompas hidup yang menyelamatkan mereka dari bahaya nihilisme modern.
Menjadi Mercusuar Jiwa Nusantara
Muktamar Ke-35 NU pada akhirnya bukanlah tentang siapa yang duduk di pucuk pimpinan jam’iyyah, bukan pula tentang dokumen-dokumen formalitas yang ditandatangani di atas meja kayu yang megah.
Muktamar ini adalah ujian kesadaran kebudayaan. Apakah rumah besar Nahdlatul Ulama masih sanggup mendengar detak jantung rakyatnya yang sunyi, ataukah ia telah terpesona oleh gemerlap silau kekuasaan profan?
Dengan ketajaman Bashirah, Muktamar Ke-35 NU akan mampu menembus kejahatan zaman, membaca bahaya yang tersembunyi, serta menyingkap krisis nilai yang sedang merusak jiwa bangsa. Dan dengan keagungan Bisyaroh, NU akan mengepakkan sayap kebudayaannya—terbang menyebarkan aroma harapan, menegakkan keadilan sosial, serta membawa manusia Nusantara kembali pada fitrahnya sebagai hamba yang beradab, berilmu, dan penuh belas kasih di hadapan Sang Maha Pencipta.
Wallahu A’lam

