Memaknai Tongkat dan Tasbih

(Dialektika Syariat, Hakikat, dan Kedaulatan Bangsa)

Pembuka:
Isyarat Langit di Tanah Bangkalan

Di bawah langit
Nusantara yang bergetar oleh rintihan penjajahan, sebuah fragmen sejarah spiritual lahir bukan dari meja diplomasi, melainkan dari kedalaman uzlah seorang kekasih Tuhan. Syahdan, pada tahun 1924, Syaikhona Cholil” Bangkalan mengutus santrinya, *As’ad Syamsul Arifin, untuk mengantarkan sepotong kayu tongkat dan seuntai tasbih kepada muridnya yang lain di Jombang: Hadratusyaih Hasyim Asy’ari.

Tongkat itu bukan sekadar penyangga raga, dan tasbih itu bukan hanya alat penghitung zikir. Keduanya adalah isyaratun samawiyyah atau “isyarat langit”, sebuah transmisi ruhani yang menandai lahirnya Jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Di titik inilah, kita harus menyelami samudera makna: Mengapa tongkat? Mengapa tasbih? Dalam esai ini, kita akan membedah dialektika antara otoritas kepemimpinan (Tongkat) dan kedalaman spiritualitas (Tasbih) sebagai fondasi Fikih Siyasah dan Tasawuf dalam mengawal peradaban manusia.

I. Filosofi Tongkat: Otoritas, Perlindungan, dan Mandat Kepemimpinan

Dalam khazanah spiritualitas Islam, tongkat adalah simbol yang sangat arkais. Ia adalah mukjizat Nabi Musa AS yang membelah samudera ketidakadilan, sekaligus simbol penggembalaan Nabi Muhammad SAW. Secara filosofis, tongkat melambangkan qiwamah atau kepemimpinan dan istigomah atau keteguhan.

Hadratusyaih Hasyim As’ari memaknai tongkat pemberian Syaikhona Cholil sebagai ayat dari Al-Qur’an: “Ma tilka bi yaminika ya Musa? Qala hiya ‘ashaya atawakka’u ‘alaiha…” –Apa yang ada di tangan kananmu, wahai Musa? Dia menjawab: Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya… [1]. Dalam konteks perjuangan bangsa, tongkat melambangkan mandat untuk menegakkan marwah bangsa yang sedang luluh lantak.

Secara Fikih Siyasah (Politik Islam), tongkat adalah simbol kedaulatan. Seorang pemimpin harus memiliki “tongkat” berupa keberanian untuk menentukan arah umat di tengah badai disrupsi dan kolonialisme. Namun, tongkat di tangan seorang ulama bukanlah alat untuk memukul, melainkan alat untuk menuntun atau irsyad. Syaikhona Cholil melalui tongkat itu berpesan bahwa perjuangan lahiriah memerlukan ketegasan hukum dan organisasi yang kokoh.

II. Filosofi Tasbih: Kedalaman Batin dan Jaringan Nurani

Jika tongkat adalah simbol lahiriyah atau eksoteris, maka tasbih adalah simbol bathiniyah atau esoteris. Tasbih yang dikirimkan Syaikhona kepada Hadratusyaih disertai dengan wirid “Ya Jabbar, Ya Qahhar”—sebuah asma Allah yang melambangkan kemahaperkasaan yang menghancurkan tirani.

Dalam kajian Tasawuf, tasbih melambangkan itishal atau sambungan ruhani yang tak terputus antara hamba dengan Sang Khaliq. Butiran tasbih yang melingkar menunjukkan bahwa kehidupan ini adalah sebuah thawaf intelektual dan spiritual yang berpusat pada satu titik: Tauhid. Tasbih mengajarkan bahwa gerakan politik dan sosial sebesar apa pun jika tidak dilandasi oleh zikir yang jernih, hanya akan menjadi debu yang terbang ditiup angin ego.

Hadratusyaih Hasyim As’ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim menekankan bahwa ilmu tanpa zikir adalah kesia-siaan [2]. Tasbih adalah pengingat bahwa di balik hingar-bingar perebutan kekuasaan, ada takdir Ilahi yang harus selalu diingat. Tasbih adalah rem bagi tongkat agar tidak liar; ia memastikan bahwa kekuatan politik tetap berada dalam kendali kesucian batin.

III. Sinergi Muassis: Dialektika Bangkalan-Jombang

Anekdot pencerahan yang sering kita dengar adalah ketika Kyai As’ad mengantarkan tasbih tersebut dalam keadaan tergantung di leher, tanpa berani menyentuhnya dengan tangan karena takzimnya kepada sang guru. Ini adalah pelajaran antropologis tentang Adab yang mendahului Ilmu.

Syaikhona Cholil Bangkalan adalah “Akar” yang tersembunyi di dalam tanah spiritualitas, sementara Hadratusyaih Hasyim As’ari adalah “Batang” yang menjulang ke langit peradaban. Tanpa akar (Bangkalan), batang tidak akan kokoh. Tanpa batang (Jombang), akar tidak akan menghasilkan buah (NU). Tongkat dan Tasbih adalah tali pengikat antara khariqul ‘adah atau karamah Syaikhona dengan manhaj organisasi Hadratusyaih.

Pemikiran para Muassis NU ini selaras dengan konsep Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin mengenai keseimbangan antara dunya dan din [3]. Tongkat menjaga urusan dunia (politik, ekonomi, sosial), sementara Tasbih menjaga urusan agama (akidah, syariat, akhlak).

IV. Fikih Siyasah dan Tasawuf: Mengawal Anomali Peradaban

Di era disrupsi hari ini, di mana “Tongkat” kepemimpinan sering kali disalahgunakan untuk menindas dan “Tasbih” sering kali dijadikan komoditas pencitraan, kita butuh kembali pada khittah Bangkalan-Jombang. Fikih Siyasah NU yang berlandaskan Mabadi’ Khaira Ummah (prinsip-prinsip umat terbaik) menuntut adanya keadilan (‘adalah), keseimbangan (tawazun), dan moderasi (tawasuth) [4].

Keadilan adalah “Tongkat” yang harus tegak berdiri. Moderasi adalah “Tasbih” yang menenangkan gejolak ekstremisme. Hadratusyaih mengajarkan dalam Muqaddimah Qanun Asasi bahwa persatuan adalah kunci kemenangan. Tongkat Musa tidak akan membelah laut jika Musa tidak memiliki keyakinan zikir dalam hatinya. Begitu pula bangsa ini tidak akan keluar dari krisis jika pemimpinnya hanya memegang tongkat kekuasaan tanpa pernah memutar tasbih pengabdian.

V. Menjadi Pewaris Isyarat

Memaknai Tongkat dan Tasbih berarti memahami bahwa kita adalah makhluk dwi-dimensi. Kita butuh “Tongkat” AI dan teknologi untuk merajai dunia, namun kita butuh “Tasbih” etika dan tradisi agar tidak kehilangan ruh kemanusiaan. Sebagai pewaris nilai-nilai Hadratusyaih dan Syaikhona, kita dipanggil untuk tidak menjadi ekstrem: tidak menjadi “Zahid” yang lari dari kenyataan sosial, dan tidak menjadi “Politisi” yang kehilangan kompas spiritual.

Merawat Tongkat berarti menjaga kedaulatan NKRI. Meruwat Tasbih berarti menjaga kejernihan akidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Inilah sintesis luhur yang dititipkan oleh para Muassis kepada kita semua. Di tengah badai zaman edan, tongkat kita adalah ilmu pengetahuan, dan tasbih kita adalah keikhlasan dalam berkhidmat.

“Agama dan negara adalah dua saudara kembar. Agama adalah fondasi, dan kekuasaan adalah penjaganya. Sesuatu yang tidak memiliki fondasi akan runtuh, dan sesuatu yang tidak memiliki penjaga akan hilang.” (Imam Al-Ghazali)

VI. Anekdot Karamah dan Strategi Politik: Rahasia di Balik Isyarat Bangkalan

Dalam tradisi pesantren, karamah bukan sekadar atraksi supranatural, melainkan ma’unah (pertolongan Allah) yang turun pada momentum sejarah yang tepat. Syaikhona Cholil Bangkalan dikenal sebagai Waliyyun Mursyid yang sering kali memberikan perintah yang tampak ganjil namun berujung pada pencerahan strategis.

Dikisahkan, sebelum mengutus Kyai As’ad mengantar tongkat, Syaikhona Cholil sering kali menyuruh santri-santrinya melakukan tugas yang remeh, seperti menyapu halaman yang sudah bersih atau memindahkan batu dari satu titik ke titik lain. Secara antropologis-pedagogis, ini adalah latihan tathirul qalb atau “pembersihan hati” dari penyakit kesombongan intelektual.

Strategi politik NU yang lahir dari rahim pesantren tidak didasarkan pada hitung-hitungan materialistik belaka, melainkan pada ketajaman bashirah (mata batin). Ketika tongkat dikirimkan dengan kutipan ayat Musa, Syaikhona sedang memberikan “Legitimasi Teologis” bagi Hadratusyaih untuk memimpin perlawanan terhadap kolonialisme. Politik NU adalah politik “Tongkat Musa”: ia diam saat tidak dibutuhkan, namun ia berubah menjadi kekuatan dahsyat saat berhadapan dengan sihir-sihir tirani dan ketidakadilan.

VII. Fikih Siyasah: Mengelola Kekuasaan dengan Nafas Tasawuf

Hadratusyaih Hasyim As’ari dalam kitabnya Mu’allafat menegaskan bahwa politik (siyasah) adalah bagian dari fardhu kifayah selama tujuannya adalah ishlahul ummah (perbaikan umat). Namun, beliau memberikan peringatan keras melalui simbol “Tasbih”. Kekuasaan tanpa tasbih adalah istidraj—kenikmatan yang menjebak menuju kehancuran.

Dalam kajian Fikih Siyasah Nusantara, kekuasaan harus memiliki dimensi Zuhud. Bukan berarti pemimpin harus miskin, melainkan hatinya tidak boleh terikat oleh singgasana. Tasbih di leher Kyai As’ad saat membawa pesan adalah simbol bahwa amanah kepemimpinan adalah beban suci yang harus dijunjung di atas ego pribadi.

Syaikhona Cholil mengajarkan bahwa pemimpin harus seperti “Butiran Tasbih”: ia menyatu dalam untaian jamaah, tidak menonjolkan diri sendirian, namun konsisten berputar dalam garis edar kebenaran. Inilah yang oleh para Muassis disebut sebagai politik kerakyatan yang berakar pada nilai-nilai ketuhanan.

VIII. Mengawal Modernitas: Tongkat Teknologi dan Tasbih Etika

Jika kita tarik ke era disrupsi digital dan kecerdasan buatan (AI) saat ini, “Tongkat” adalah simbol penguasaan sains dan teknologi. Umat Islam tidak boleh gagap teknologi; kita harus memegang tongkat kemajuan agar tidak tergilas oleh zaman. Namun, kemajuan tanpa “Tasbih” etika akan melahirkan “Dajjalistik” teknologi—sebuah sistem yang pintar secara algoritma namun buta secara moral.

Hadratusyaih pernah berpesan, “Amma ba’du, sesungguhnya persatuan, ikatan batin, bantu-membantu dan kesatuan arah adalah merupakan faktor utama kebahagiaan” [5]. Di era AI, persatuan ini harus diwujudkan dalam bentuk “Kedaulatan Data” (Tongkat) yang dibarengi dengan “Integritas Moral” (Tasbih). Kita menggunakan AI untuk kemaslahatan, namun kita tidak membiarkan AI mendikte nilai-nilai kemanusiaan kita.

IX. Epilog: Menjaga Warisan Sang Guru

Memaknai Tongkat dan Tasbih adalah menjaga keseimbangan antara “Bumi” dan “Langit”. Kita berdiri tegak di atas bumi dengan tongkat kemandirian ekonomi dan politik, namun kepala dan hati kita senantiasa menunduk dalam zikir tasbih pengabdian kepada Sang Khaliq.

Syaikhona Cholil telah memberikan akarnya, Hadratusyaih telah membangun batangnya. Tugas kita adalah memastikan bahwa pohon Nahdlatul Ulama ini terus berbuah bagi kemanusiaan. Jangan sampai kita memegang tongkat hanya untuk memukul sesama, dan jangan sampai kita memegang tasbih hanya untuk memamerkan kesalihan.

Jadilah manusia yang tangannya kokoh memegang tongkat peradaban, namun jemarinya tak pernah berhenti memutar tasbih cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Catatan Kaki dan Rujukan Ilmiah

  • [1] Al-Qur’an, Surah Thaha: 17-18. (Simbolisme tongkat sebagai sandaran dan alat perjuangan).
  • [2] Asy’ari, Hasyim. Adabul ‘Alim wal Muta’allim. Jombang: Maktabah Turats al-Islami. (Membahas pentingnya integrasi antara etika, ilmu, dan spiritualitas).
  • [3] Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ Ulumiddin. Beirut: Dar al-Ma’rifah. (Konsep keseimbangan lahir-batin dalam beragama).
  • [4] PBNU. Hasil-hasil Muktamar NU ke-27 Situbondo. (Tentang Khittah dan Mabadi’ Khaira Ummah sebagai landasan politik dan sosial).
  • [5] Asy’ari, Hasyim. Muqaddimah Qanun Asasi Nahdlatul Ulama. (Menegaskan pentingnya persatuan sebagai landasan organisasi dan perjuangan).

Rujukan Tambahan:

  • Zuhri, Saifuddin. (1987). Berangkat dari Pesantren. Jakarta: Gunung Agung. (Sejarah perjuangan Muassis NU).
  • Misrawi, Zuhairi. (2010). Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari: Moderasi, Keumatan, dan Kebangsaan. Jakarta: Kompas.
  • Serat Kalatidha, R.Ng. Ranggawarsita. (Tentang kesadaran batin di zaman penuh kekacauan).
  • Anam, Choirul. (1985). Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama. Solo: Jatayu.
  • Baso, Ahmad. (2015). Pesantren Studies: Rekonstruksi Sejarah Pesantren. Jakarta: Pustaka Afid.
  • Syeikh Nawawi al-Bantani. Nashaihul Ibad. (Kajian tentang adab dan spiritualitas yang menjadi rujukan utama para Muassis NU).
  • Kuntowijoyo. (1991). Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Mizan. (Relevansi nilai-nilai Islam dalam konteks perubahan sosial).

Related Articles

Artikel baru