Pengantar Redaksi
Sejak 2017 sampai sekarang (sudah cetakan ke-7), alhamdulillah, setiap tahun saya diberi kehormatan kepercayaan dan, tentu saja, kecipaatan rezeki, memegang percetakan buku penting Pesantren Bahrul-Ulum. Setiap cetak berkisar 3000-5000 eksemplar. Kebetulan, saya juga ikut memberi kontribusi berupa esai pendek dalam buku kumpulan tulisan ratusan masyayikh, kyai, dzuriyyah, saksi sejarah, akademisi, dan peneliti. Buku itu diberi judul Tambakberas: Menelisik Sejarah Memetik Uswah, Pustaka Bahrul Ulum, oleh Tim Sejarah Tambakberas, dengan ketebalan lebih 600 halaman. Yang istimewa dari buku itu adalah, sebagian besar isinya berdasarkan sumber primer, dari para kyai, kolega, hingga murid-murid Mbah Wahhab, yang masih sugeng. Datanya melimpah ruah. Esai pendek tentang sosok Mbah Wahhab ini disarikan dari buku tersebut.
Di Tambakberas, sejarah berasal dari kisah kehidupan sehari-hari keluarga. Ada ndalem, masjid, makam, sungai, sawah, lumbung, santri, juga nama-nama yang berproses dari ruang keluarga sampai ranah nasional dan global. Dari atmosfer social semacam itu, lahir KH Abdul Wahab Chasbullah. Kyai yang menjadikan pesantren tidak hanya tempat mengaji, tetapi juga menjadi laboratorium sosial, jaringan ekonomi, politik kebangsaan, pusat pendidikan, dan simpul perlawanan terhadap penjajahan. Mbah Wahab adalah tokoh yang tidak mudah ditempatkan dalam satu kotak identitas. Beliau adalah kiai, debater, organisator, konsolidator, saudagar, pejuang, humoris, ahli mantik, fikih, ushul fiqh, hingga penggerak massa. Pada diri beliau, kitab kuning menjadi ruh dan menjelma nilai sebagai dasar kebijakan, strategi, dan perjuangan kolektif.
Buku Sejarah Tambakberas menampilkan Mbah Wahab dengan warna yang kaya. Ada ketekunan santri, kecerdikan politik, silsilah, sanad, ijazah, aurod, kelenturan diplomasi, dan keberanian menembus batas antar-kelompok. Riwayat beliau bukan cerita seorang tokoh yang terbang sendirian seperti elang. Beliau bergerak dalam jaringan. Dari Tambakberas ke Langitan, dari Mojosari ke Bangkalan, dari Tebuireng ke Makkah, dari Surabaya ke Jakarta, dari forum ulama ke sidang parlemen, dari rakyat ke kaum cendekiawan. Dalam tiap persinggahan, beliau menyerap ilmu dan menghimpun kawan. Dalam tiap pergulatan, beliau mengubah perdebatan menjadi akumulasi institusi. Itulah watak penting Mbah Wahab. Beliau bukan cuma menjawab zaman, beliau membuat wadah atau organisasi agar tantangan zaman dapat dijawab secara kolektif.
Di hadapan tantangan NU hari ini, figur Mbah Wahab terasa seperti cermin bening. NU kini berhadapan dengan politik elektoral yang kasar, kapital besar yang lihai, industry ekstraktif, rakus, fragmentasi digital, krisis pendidikan, ketimpangan ekonomi, keretakan geopolitik, multipolarity, hingga genosida Palestina. Secara internal, NU dihadapkan oleh konflik internal yang nyaris tak berujung, kemandirian organisasi, tata Kelola digital, relasi dengan pemerintah, hingga isu zionisme. Alhasil, warisan Mbah Wahab bukan artefak mati. Namun terus berdialektika. Warisan itu ibarat api di dapur pesantren, menyala, menghangatkan rumah, dan diam-diam memasak masa depan. Dari beliau, NU menemukan kebenaran, keberanian berfikir, memilih dan bersikap, berjuang, berjejaring, berdiplomasi, memperjuangkan keadilan, dan menundukkan nafsu kuasa di bawah hikmah keulamaan. Persis formulasi ummahatul-akhlaq ala Imam Ghozali r.a.
Dari Tambakberas menuju panggung bangsa
KH Abdul Wahab Chasbullah lahir di Tambakberas, Jombang. Buku Tambakberas menelusuri ragam pendapat tentang tahun kelahiran beliau, dan sampai pada kesimpulan bahwa beliau lahir pada Senin Pon, 29 Muharram 1305 H, bertepatan dengan 17 Oktober 1887 M. Ayah beliau adalah KH Chasbullah Said, kiai saudagar yang dermawan, pengasuh pesantren, pemilik lumbung beras yang menjadi sandaran keluarga, tamu, santri, dan masyarakat sekitar. Nama Tambakberas sendiri dikaitkan dengan limpahan beras dari sawah dan lumbung KH Chasbullah Said yang disediakan bagi banyak orang. Di sini, ekonomi bukan akumulasi pribadi. Ekonomi menjadi medan perjuangan yang menjadi kekuatan untuk ilmu, santri, dan masyarakat.
Ibu beliau, Nyai Lathifah, berasal dari Tawangsari, Sepanjang, Sidoarjo. Buku Taras menggambarkan Nyai Lathifah sebagai perempuan pesantren yang menekuni ta’lim, tarbiyah, riyadlah, puasa, dan sering khataman Al-Quran. Sewaktu mengandung Mbah Wahab, beliau dikisahkan bermimpi meminum air laut. Dalam tradisi pesantren, mimpi itu dipahami sebagai isyarat tentang keluasan, kekuatan, dan rasa asin kehidupan yang kelak sanggup ditanggung oleh bayi yang dikandungnya. Penafsiran lain mengaitkan mimpi itu dengan nama Bahrul Ulum, lautan ilmu, yang kelak menjadi identitas Tambakberas. Di luar tafsir mimpi, ada satu yang lebih nyata. Mbah Wahab lahir dari rahim riyadhoh batin dan tirakat yang kuat. Beliau dibentuk oleh ayah yang menambatkan harta untuk kemaslahatan dan ibu yang hidupnya lekat dengan riyadlah.
Mbah Wahab tumbuh dengan fisik relatif sedang, kulit hitam manis, dahi luas, dan energi yang nyaris tidak pernah habis. Buku Tambakberas menggambarkan beliau sebagai pribadi yang rajin bekerja, tajam dalam menangkap persoalan, pandai menulis, lebih cemerlang dalam berbicara, gemar mendatangi orang alim, menyukai tempat suci, mendengar lagu Arab, melantunkan qasidah, mengaji Al-Quran, dan silat. Dari tubuh kecil itu bergerak energi besar. Beliau kadang terlihat acuh ketika menerima tamu, namun cepat menangkap inti pembicaraan. Barangkali di situlah tanda seorang pemimpin yang pemikirannya bergerak di beberapa dataran. Sambil mendengar kalimat, beliau menangkap arah yang dituju. Sambil menerima tamu, beliau mempertimbangkan berbagai peta.
Beliau wafat pada Rabu, 12 Dzulqa’dah 1391 H, bertepatan dengan 29 Desember 1971 M, dan dimakamkan di kompleks keluarga Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Di antara tahun lahir dan wafat itu, terbentang riwayat yang begitu berkelok. Ada madrasah yang didirikan, media massa yang dipimpin, koperasi yang digagas, pemuda yang dirangkul, ulama yang dikonsolidasikan, penjajah yang dilawan, negara yang dinasihati, dan NU yang diasuh dalam badai.
Sanad keilmuan dan tradisi intelektual
Mbah Wahab menerima dasar-dasar Islam dari ayahnya sendiri sampai usia 13 tahun. Pelajaran Al-Qur’an, tauhid, fiqh, dan nahwu shorf menjadi pelajaran awal. Setelah itu beliau mengembara dari satu pesantren ke pesantren lain. Di Langitan, Tuban, beliau berguru kepada Kiai Soleh. Di Mojosari dan Cepoko, Nganjuk, beliau mengaji kepada Kiai Zainuddin dan memperoleh pendalaman fiqh, antara lain Fathul Muin. Di Tawangsari, Sepanjang, beliau belajar kepada Kiai Mas Ali dan Kiai Mas Abdullah.
Perjalanan berikutnya membawa beliau ke Bangkalan, Madura, kepada Syaikhona Muhammad Kholil. Di sana, Mbah Wahab memperdalam nahwu, terutama Alfiyah dan syarahnya. Bangkalan bukan cuma tempat belajar. Kelak, Bangkalan menjadi salah satu simpul spiritual yang memberi legitimasi kelahiran NU melalui restu Syaikhona Kholil kepada Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari. Setelah dari Madura, Mbah Wahab menuju Branggahan, Kediri, kepada Kiai Fakihuddin. Di sana beliau mengaji tafsir, tauhid, tasawuf, sejarah Islam, dan fiqh. Kegemaran beliau pada sastra Arab juga menguat. Burdah dan Banat Suad dikaji, dihafal, dan dihayati. Seorang negarawan pesantren yang kelak berkemampuan menggerakkan massa itu ternyata juga ditempa oleh syair. Karena itu, bahasa beliau tidak kering. Dalam banyak kisah, argumen beliau begitu lincah, kadang lucu, tajam, dan terkadang seperti sindiran yang membuat lawan tersenyum sambil mengakui kekalahan.
Puncak pengembaraan beliau sebelum ke Makkah adalah Tebuireng. Di sana beliau memperdalam Fathul Wahab, Mahalli, Baidhawi, dan ilmu isti’arah. Di Tebuireng, Mbah Wahab juga mulai mengajar fiqh, akhlak, sharaf, nahwu, dan beberapa bidang lain. Beliau menjadi lurah Pondok Tebuireng. Posisi ini merupakan hal penting. Seorang santri yang menjadi pengurus pondok belajar dua hal sekaligus. Pertama, kedalaman ilmu. Kedua, manajemen sumber daya manusia. Kelak kedua kompetensi itu menjadi salah satu ciri Mbah Wahab. Beliau bukan hanya mampu mengurai masalah dari kitab. Beliau juga mampu memahami tabiat orang, memetakan sumber daya, mengatur momentum, menyambungkan generasi, dan menata organisasi.
Sekitar tahun 1909, Mbah Wahab berangkat ke Makkah dan mukim kira-kira lima tahun sampai 1914. Pada masa itu Makkah menjadi kota kosmopolis keilmuan Islam. Di Masjidil Haram, mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali hidup dalam berbagai halaqah. Mbah Wahab belajar kepada KH Mahfudz Termas, Kiai Mukhtaram Banyumas, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Kiai Baqir Yogyakarta, Kiai Asy’ari Pasuruan, Syaikh Said al Yamani, Syaikh Said Ahmad bin Bakri Syatha, Syaikh Abdul Karim ad Daghestani, Syaikh Abdul Hamid Kudus, dan Syaikh Umar Bajened. Dari KH Mahfudz Termas dan Syaikh Yamani, beliau memperoleh ijazah istimewa.
Untuk memperkaya wawasan Islam, beliau mendalami hadis Bukhari-Muslim. Di Makkah pula, kegemaran berdebat mendapat saluran melalui Kiai Muchith asal Panji, Sidoarjo, guru mujadalah yang menguasai seni perdebatan.
Sanad fiqh beliau dalam buku Tambakberas dilacak melalui dua jalur utama. Pertama, jalur Syaikhona Kholil Bangkalan yang bersambung kepada Imam al-Syafi’i. Kedua, jalur Syaikh Mahfudz at-Termasi yang juga bersambung hingga Imam Syafi’i, bahkan terus sampai kepada Rasulullah saw melalui Imam Malik, Imam Nafi’, dan Sahabat Abdullah ibn Umar. Sanad keilmuan semacam itu menunjukkan bahwa keberanian Mbah Wahab bukan keberanian tanpa dasar. Beliau menjadi progresif karena keilmuannya bersambung. Beliau dapat lentur karena mempunyai pijakan argumen. Beliau mampu berdebat dengan kaum modernis justru karena menguasai tradisi. Dalam diri beliau, tradisi bukan tembok tua, tetapi jembatan kokoh untuk menyeberang ke berbagai persoalan baru.
Jejaring kiai dan kemampuan konsolidasi
Mbah Wahab adalah manusia jaringan. Jejaring beliau bukan jaringan kosong yang hanya untuk wuruk-salam, tetapi jaringan ilmu, keluarga, ekonomi, dakwah, dan perjuangan. Dengan KH Hasyim Asy’ari, beliau memiliki hubungan guru murid, mitra organisasi, dan hubungan strategis dalam pendirian NU. Dengan KH Bisri Syansuri, beliau bertemu sejak masa belajar kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, bersahabat seumur hidup, berangkat bersama ke Makkah, dan kemudian terikat hubungan keluarga melalui pernikahan KH Bisri dengan Nyai Khodijah, adik Mbah Wahab. Buku itu menyebut perjodohan itu sebagai perjodohan ilmu. Mbah Wahab melihat KH Bisri sebagai pribadi alim dan bisa menjadi bagian jaringan perjuangan.
Jejaring itu juga meluas ke Surabaya. Surabaya adalah kota dapur gerakan. Di sana, Mbah Wahab merintis lingkar diskusi, pendidikan, media, dan organisasi. Surabaya memberi beliau ruang untuk melihat masyarakat muslim perkotaan, arus modernisme, ketimpangan pendidikan, gerak pedagang, serta kebutuhan membangun lembaga baru. Dari Tambakberas, beliau membawa ilmu dan ruh pesantren. Di Surabaya, epistemology pesantren itu bertemu mesin cetak, rapat, sekolah, koperasi, dan politik perkotaan. Pertemuan dua tradisi epistemic ini menghasilkan transformasi baru. Keduanya dipertemukan dalam institusi, dalam tayswirul-afkar.
Jejaring Mbah Wahab juga tampak dalam hubungan dengan Kiai Asnawi Kudus, KH Ridwan Abdullah, KH Abdul Halim, KH Masykur, KH Wahid Hasyim, KH Mahfudz Shiddiq, dan banyak tokoh lain. Dalam Kongres umat Islam, beliau tampil bersama Kiai Asnawi untuk membela amaliah pesantren dari tuduhan bid’ah, syirik, dan khurafat. Dalam pembentukan lambang NU, beliau berada dalam jaringan dengan KH Ridwan Abdullah. Pada masa Jepang, beliau bekerja bersama KH Wahid Hasyim untuk membebaskan Hadratus-Syaikh dan tokoh NU lain yang ditawan penjajah. Dalam pengembangan NU ke Malang, persahabatan beliau dengan KH Kholil Asy’ari membuka pintu strategis. Dalam tiap simpul, tampak pola yang sama. Mbah Wahab tidak menjadikan hubungan pribadi sebagai jaringan pribadi dan kemewahan sosial. Hubungan pribadi diterjemahkan menjadi kekuatan institusional.
Ada seni dalam cara beliau menyambungkan orang. Beliau tahu siapa yang pantas memimpin, siapa yang cocok menjadi pendebat, siapa yang dapat menjadi penggerak pemuda, siapa yang kuat di ekonomi, siapa yang memegang pendidikan. Beliau tidak menaruh semua beban pada diri sendiri. Bukan tipe single-fighter. Inilah kecerdasan kolektif organisasi yang sering hilang ketika jam’iyah terjebak pada pesona figur tunggal. Mbah Wahab justru menunjukkan kebalikannya. Pemimpin besar bukan orang yang memusatkan semua cahaya dan akses pada wajahnya sendiri. Pemimpin besar menyalakan banyak lampu di berbagai sudut.
Tasywirul Afkar dan hall of thought
Sepulang dari Makkah pada tahun 1914, Mbah Wahab menginisiasi lingkar studi yang dikenal sebagai Tasywirul Afkar. Nama itu sendiri membawa isyarat penting. Afkar berarti pemikiran, gagasan, ide-ide. Tasywir dapat dipahami sebagai ikhtiar menggambarkan, menjelaskan, menggerakkan, memperbincangkan, dan menyalakan pemikiran. Di masa ketika banyak ulama pesantren dituduh kolot, beliau memilih arena pemikiran sebagai jalan perjuangan. Dari rahim Tasywirul Afkar, tumbuh sejumlah embrio gerakan yang kemudian menentukan wajah Islam-tradisi di Indonesia.
Tasywirul Afkar bukan forum obrolan yang selesai setelah orang pulang dari majelis setelah ngopi-ngopi. Forum itu membentangkan cakrawala baru bagi pesantren untuk berhadapan dengan zaman. Masalah khilafiyah, pendidikan, kolonialisme, hubungan agama dan negara, serta tantangan modernitas ditempatkan di meja diskusi. Buku Taras menggambarkan bahwa bila Mbah Wahab menghendaki ijtihad dalam hukum karena tidak sesuai dengan praktik harian, beliau tidak langsung mengajukan pendapat pribadi. Beliau membawa masalah itu ke forum ulama hingga duduk perkaranya dipahami bersama. Inilah demokrasi keilmuan pesantren. Bukan suara paling nyaring yang menang, tetapi hujjah-rojihah yang jernih dan kemaslahatan yang lebih nyata.
Dari perhatian pada pendidikan, Mbah Wahab mendirikan Madrasah Mubdil-Fan di Tambakberas pada sekitar 1912 atau 1915, menurut beberapa pendapat. Setelah itu, beliau merintis Madrasah Tasywirul-Afkar dan Nahdlatul-Wathan di Surabaya. Buku itu mencatat bahwa pada 1929, Nahdlatul-Wathan dan Tasywirul-Afkar sudah memakai sistem klasikal dengan enam jenjang kelas. Ada sifir awal, sifir tsani, lalu kelas satu sampai empat. Pelajaran meliputi menulis Arab, insya’, Qur’an, tajwid, tuntunan agama dalam bahasa Jawa, nahwu sharaf, tauhid, hisab, juga ilmu bumi. Pada sore hari, madrasah dibuka untuk anak miskin dan yatim. Ini lompatan yang sering kurang diungkap. Mbah Wahab menggabungkan tradisi kitab dengan manajemen kelas, ilmu keislaman dengan literasi politik, pesantren dengan akses sosial.
Dalam bidang pendidikan perempuan, keberanian beliau lebih tampak. Ketika sebagian umat masih memandang nyinyir perempuan yang ikut belajar, Mbah Wahab membuat terobosan dengan menimbang illat hukum. Kekhawatiran kerusakan dianggap bersifat dugaan, sedangkan kemaslahatan pendidikan bersifat nyata. Karena itu, mengajar perempuan tidak makruh, apalagi haram, selama tujuannya benar dan tidak menyalahi syariah. Di Madrasah Tambakberas, kelas putri pun dibuka. Nyai Mas Wardiyah, istri KH Abdurrahim Chasbullah dan keponakan KH Ahmad Dahlan, menjadi salah satu guru. Dengan ushul fiqh, Mbah Wahab membuka pintu bagi pendidikan berkeadilan.
Nahdlatut Tujjar dan kemandirian ekonomi
Jika Tasywirul Afkar adalah dapur pemikiran, Nahdlatut-Tujjar adalah dapur ekonomi. Buku Tambakberas menjelaskan bahwa Mbah Wahab menyadari pentingnya sektor ekonomi. Kesadaran ini menggerakannya untuk menghubungi kawan-kawan di Kediri, Jombang, dan Surabaya, terutama mereka yang bergerak dalam perdagangan hasil pertanian, perkebunan, dan industri. Dari komunikasi itu terkumpul 45 orang. Pada 1918, mereka membentuk koperasi pedagang bernama Nahdlatut-Tujjar. Di antara anggotanya terdapat KH Hasyim Asy’ari dari Tebuireng, KH Abdul Wahab Chasbullah dari Tambakberas, KH Bisri Syansuri dari Denanyar, serta sejumlah tokoh Tambakberas dan Jombang.
Organisasi ini menarik karena memperlihatkan cara pikir Mbah Wahab yang lengkap. Perjuangan agama tidak dapat ditopang oleh semangat hora-hore saja. Perjuangan membutuhkan pangan, modal, jejaring dagang, dan manajemen finansial. Modal Nahdlatut-Tujjar diperoleh dari investasi anggota. Sebagian besar menyetor 25 gulden. Dari 45 orang terkumpul 1.175 gulden. Keuntungan dibagi dengan pola yang menunjukkan logika koperasi. Sebagian dibagikan menurut modal, sebagian diputar kembali untuk memperbesar modal. KH Hasyim Asy’ari menjadi pemimpin, kepala perusahaan, sekaligus mufti. KH Abdul Wahab menjadi direktur, pemegang kebijakan operasional, pengatur, sekaligus penasihat hukum. KH Bisri Syansuri menjadi katib, penasihat hukum, dan pengarah. Struktur itu memperlihatkan ekonomi yang dikawal oleh otoritas ilmu, dioperasikan dengan manajemen, dan dijustifikasi oleh fatwa. Perdagangan dituntun oleh fiqh, amanah, dan musyawarah.
Nahdlatut-Tujjar bertahan sekitar delapan tahun, menurut sumber yang dikutip buku Tambakberas. Namun dampaknya lebih panjang daripada umur lembaganya. Semangat koperasi dan usaha umat terus muncul, termasuk Coperatie Kaoem Moeslimin di Surabaya dan Syirkah Muawanah pada masa berikutnya. Yang diwariskan Mbah Wahab bukan hanya badan usaha, tetapi imajinasi ekonomi. Kaum pesantren tidak boleh puas menjadi penonton atau konsumen pasar. Nahdliyyin harus menjadi produsen, pedagang, pemilik jaringan distribusi, dan pemegang modal sosial yang dapat digerakkan bagi jam’iyyah. Dalam bahasa hari ini, Mbah Wahab sudah memahami bahwa kemandirian organisasi mustahil tumbuh tanpa kemandirian ekonomi.
Di sini pula tampak perbedaan antara kemandirian dan keterasingan. Mbah Wahab terbuka menerima bantuan warga non-muslim yang berniat baik untuk pembangunan pondok, sebagaimana kisah tentang sumbangan material dari warga Tionghoa. Bagi beliau, urusan iman orang berada pada otoritas prerogative Alloh, sedangkan hubungan sosial harus dijaga dengan saling menghormati dan menghargai. Namun, dahsyatnya, sikap itu berbeda ketika bertemu dengan konteks bantuan penjajah. Dalam riwayat lain, subsidi atau bantuan pemerintah kolonial ditolak karena penjajah adalah struktur penindasan. Prinsip Mbah Wahab bukan eksklusivisme, juga bukan ketergantungan. Prinsipnya adalah martabat. Terbuka kepada tetangga sebangsa, tegas kepada struktur kuasa yang menjajah.
NU sebagai buah konsolidasi
Pendirian NU pada 1926 sering disebut dengan nama besar Hadratus-Syaikh KH Hasyim Asy’ari. Itu benar. Namun buku Tambakberas berkali-kali memperlihatkan bahwa Mbah Wahab adalah motor konsolidasi dan membuka jalan awal layaknya pasukan infantri. Sejak merintis Nahdlatul-Wathan, Tasywirul-Afkar, dan Nahdlatut Tujjar, beliau sudah membangun basis sosial, menata pendidikan, ekonomi, dan jaringan intelektual yang kelak menjadi fondasi NU. Beliau sadar bahwa organisasi sebesar NU tidak dapat berdiri hanya dengan keberanian deklarasi. Organisasi besar membutuhkan pemimpin besar, restu besar, jaringan besar, dan alasan sejarah yang besar. Karena itu, beliau menempatkan KH Hasyim Asy’ari sebagai Rois Akbar.
Sikap ini memperlihatkan kualitas batin dan kecerdasan politik. Mbah Wahab melakukan banyak persiapan, namun menyerahkan kepemimpinan tertinggi kepada sosok yang dianggap paling mampu menyatukan ulama. Beliau sendiri bersedia menjadi Katib-Am. Dalam banyak organisasi, orang yang menyiapkan panggung sering ingin berdiri paling depan. Namun, Mbah Wahab memilih jalan lain. Beliau tahu kapan harus mendorong, kapan harus menahan diri, kapan harus menempatkan orang lain di titik yang lebih tepat. Sebuah kebesaran hati yang bekerja secara politik.
Kelahiran NU juga berkaitan dengan pergeseran politik global di Hijaz. Menguatnya koalisi Ibn Saud dan Wahhabi mengancam corak keislaman ahlussunnah wal-jamaah, tradisi mazhab, ziarah, dan praktik keagamaan yang hidup di dunia pesantren. Mbah Wahab menangkap bahaya itu bukan sebagai keluhan lokal, tetapi sebagai masalah global yang membutuhkan jawaban organisasi. Komite Hijaz NU lahir dalam konteks semacam itu. Dengan NU, masyarakat pesantren memiliki alat perjuangan. Tradisi yang lama hidup di langgar, pesantren, makam, dan majelis kini memiliki payung jam’iyah dan alat perjuangan.
Di masa awal, kemampuan konsolidasi itu segera terlihat. Buku Taras mengutip data bahwa pada 1939, sekitar 14 tahun setelah NU dikonsolidasikan, organisasi ini memiliki 99 cabang dengan lebih dari 67.000 anggota di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera. Angka itu bukan bimsalabim. Angka itu lahir dari jaringan makna yang sudah berabad-abad hidup di masyarakat, kemudian terlembagakan dalam bentuk jam’iyyah. Mbah Wahab memahami bahwa masyarakat nahdliyyin sudah ada sebelum NU, tetapi tanpa organisasi. Kekuatan itu tersebar seperti biji padi di banyak lumbung. NU menjadi lesung besar yang menumbuknya menjadi ruh sejarah.
Pergulatan dengan kolonialisme Belanda, Jepang, dan negara baru
Pergulatan Mbah Wahab bergerak dari masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, revolusi kemerdekaan, Orde Lama, sampai awal Orde Baru. Pada masa Belanda, NU di bawah kepemimpinan ulama menolak subsidi kolonial, menentang kerja rodi, menolak rencana ordonansi perkawinan tercatat, menolak pemindahan hak membagi waris, serta bersikap kritis terhadap kebijakan milisi. Sikap ini menunjukkan bahwa pesantren tidak apolitis. Pesantren memahami bahwa hukum keluarga, kerja paksa, pendidikan, dan ekonomi adalah medan kuasa. Bila negara kolonial masuk terlalu jauh, ulama harus bersuara.
Pada masa Jepang, ujian datang dengan bentuk yang lebih kasar. KH Hasyim Asy’ari dan KH Mahfudz Shiddiq ditangkap karena menolak saikerei. Buku itu menyebut masa itu sebagai tahun derita yang amat berat bagi NU, semacam ngamul-khuzni. Dalam keadaan tokoh puncak NU ditahan, Mbah Wahab yang saat itu menjadi Katib Syuriyah HBNO mengambil alih tanggung jawab memimpin NU. Beliau tampil sebagai Ketua Besar PBNU, didukung tokoh Syuriyah dan Tanfidziyah. Beliau tidak hanya mengatur di balik layar, tetapi turun ke pengadilan membela kiai yang ditangkap. Bersama KH Wahid Hasyim, beliau mengurus pembebasan Hadratus Syaikh dan KH Mahfudz Shiddiq. Keberanian tidak berupa teriakan. Keberanian berupa mondar mandir, negosiasi, pembelaan hukum, dan stamina batin.
Strategi Mbah Wahab di bawah Jepang tidak dapat disederhanakan sebagai kooperatif atau nonkooperatif. Beliau memakai seni perjuangan yang dikenal dalam kisah hu. Kepada generasi muda yang gelisah, beliau menjelaskan pentingnya memakai ilmunya ikan di laut. Selama ikan masih hidup, dagingnya tetap tawar meski berada di air asin. Begitu mati, sebentar saja air garam membuatnya asin. Dalam tekanan Jepang, umat harus tetap memiliki roh Islam agar tidak larut menjadi alat Nippon. Badan yang disediakan penjajah dapat dipakai untuk menghidupkan semangat perjuangan, namun bagian buruk harus dilepaskan. Di situ ada kelenturan tanpa kehilangan nyawa. Ada diplomasi tanpa menjadi tawanan.
Pada masa revolusi kemerdekaan, Mbah Wahab tidak pasif. Buku Taras menggambarkan beliau sebagai pejuang di medan perang yang memimpin Barisan Ulama Mujahidin, didampingi KH Masykur sebagai ketua markas tertinggi Sabilillah. Beliau ikut memimpin pasukan menghadapi serangan musuh. Sumbangan terbesar beliau bukan hanya dalam mobilisasi fisik, tetapi juga pembinaan mental bangsa. Iman, Islam, dan ihsan dijadikan fondasi karakter agar rakyat bersedia berkorban bagi kepentingan umum. Dalam pengertian ini, jihad bukan ledakan sesaat. Jihad adalah pendidikan batin panjang agar bangsa sanggup membayar harga kemerdekaan.
Setelah Indonesia berdiri, dalam Konstituante 1957, Mbah Wahab tampil sebagai kiai yang membawa kitab-kitab fiqh ke ruang debat kenegaraan. Pemilu 1955 menempatkan NU sebagai kekuatan politik besar, dan beliau menjadi salah satu wakil NU dari Jawa Timur. Di forum yang ditugasi menyusun UUD baru, beliau memperjuangkan aspirasi Islam melalui jalur demokratis, bukan melalui jalan paksaan. Posisi beliau mengenai Piagam Jakarta harus diletakkan di sana. NU memakai hak konstitusional yang diberikan negara, menyampaikan pendirian secara terbuka, lalu menerima kenyataan politik ketika negara memilih jalan Dekrit 5 Juli 1959.
Peran Mbah Wahab dalam Konstituante memperlihatkan etika politik pesantren. Ketegasan tidak membuat beliau memutus ikatan kebangsaan, dan loyalitas kepada negara tidak membuat beliau menanggalkan suara umat. Ketika KH Saifuddin Zuhri mengenang ucapan beliau di sidang terakhir Konstituante, tampak garis etis yang jernih. Golongan Islam telah menggunakan haknya secara demokratis. Pemerintah menempuh langkah penyelamatan negara. Di situ, Mbah Wahab berdiri sebagai ulama-negarawan. Beliau menunjukkan bahwa perjuangan Islam dalam negara bangsa modern membutuhkan keberanian, kesabaran prosedural, dan kelapangan menerima hasil.
Peran saat menjadi Rais Am
Setelah wafatnya KH Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab memikul beban puncak dalam NU. Beliau menjadi figur spiritual, organisator, dan penentu arah politik NU. Pada masa inilah NU menghadapi pilihan sulit, termasuk hubungan dengan Masyumi, cabinet berkaki empat, Nasakom, dan negara yang terus berubah. Buku Tambakberas menilai konsistensi Mbah Wahab berada pada tingkat nilai, meskipun dalam praktik sosial kadang tampak paradoksal. Beliau dapat masuk kabinet Hatta yang menjalankan persetujuan Renville, padahal NU pernah menolak perjanjian itu. Argumen beliau adalah izalatul munkarat, mengurangi atau menghilangkan keburukan dari dalam. Ini contoh nalar fiqh politik yang tidak hitam putih. Dalam politik, kadang pintu yang tampak buruk harus dimasuki untuk mencegah keburukan yang lebih luas.
Keputusan NU keluar dari Masyumi juga memperlihatkan keberanian memahami struktur. Menurut uraian dalam buku Tambakberas, ada beberapa argument mengapa NU keluar dari Masyumi. Masyumi secara struktural dipandang meminggirkan NU secara sistematik. Upaya memperbaiki struktur sudah berlangsung lama, tetapi tidak mendapat respons memadai. Selain itu, sebagai alat perjuangan, Masyumi tidak lagi cukup dapat diandalkan. Setelah menjadi partai sendiri, kekuatan NU yang sebenarnya justru terlihat dalam perolehan kursi yang lebih besar. Di sini Mbah Wahab tidak hanya berbicara tentang harga diri. Beliau menerjemahkan basis sosial NU menjadi kekuatan struktural negara. Bagi warga nahdliyyin, ini pelajaran penting. Basis besar tanpa struktur adalah kerumunan. Struktur tanpa basis adalah reklame papan nama. Keduanya harus bertemu dan sinergis.
Sebagai Rais Am, beliau juga menjadi penghubung antar-generasi. Pada 1930an, ketika organisasi pemuda NU menghadapi resistensi sebagian ulama, Mbah Wahab membela lahirnya Anshor Nahdlatoel Oelama. Beliau menjelaskan bahwa NU harus ditopang kaum muda yang cerdas dan tangkas. Saat sebagian kiai khawatir terhadap ANO dan BANU, beliau memberi perumpamaan tentang kuda pasukan sahabat yang takut kepada gajah pasukan Persia karena belum saling mengenal. Setelah dikenalkan, ketakutan hilang. Dengan perumpamaan itu, beliau meredakan ketegangan kaum tua dan kaum muda. Seni memimpin beliau bukan memukul salah satu pihak. Beliau memperkenalkan pihak yang saling takut sampai rasa asingnya runtuh. Dalam bahasa Habermas, itulah masyarakat komunikatif.
Pada Muktamar NU di Bandung 1967, kisah ketawadhuan beliau menjadi ibrah lain. Mbah Bisri Syansuri terpilih sebagai Rais Am, sementara Mbah Wahab sebagai Wakil Rais Am. Namun Mbah Bisri menolak selama Mbah Wahab masih ada. Buku itu mengutip penjelasan bahwa Mbah Wahab sedang sakit dan penglihatan beliau menurun, sehingga tugas harian sering dilakukan Mbah Bisri. Namun bagi Mbah Bisri, posisi Rais Am bukan jabatan administratif biasa. Rais Am adalah tunggul yang madep pandita, figur spiritual yang tetap menjadi titik rujuk selama hidup. Ketegangan politik Orde Baru dan isu yang menyerang Mbah Wahab juga menjadi latar. Dengan menyerahkan kedudukan itu kembali kepada Mbah Wahab, Mbah Bisri menjaga NU dari perpecahan akibat manuver kuasa. Di situ terlihat dua kebesaran sekaligus. Kebesaran Mbah Wahab sebagai pusat spiritual dan kebesaran Mbah Bisri sebagai penjaga operasional nilai.
Hubungan Mbah Wahab dengan Bung Karno juga memperlihatkan corak Rais Am yang berdiri di antara pesantren dan negara. Beliau menjadi penasihat, pemberi dalil, dan pengingat. Dalam isu Irian Barat, Bung Karno meminta nasihat beliau. Mbah Wahab merumuskan diplomasi cancut taliwondo, kesungguhan total yang menggabungkan pembenahan dalam negeri, keadilan ekonomi, perlindungan industri rakyat, penghematan di semua lapisan, pelonggaran hak demokrasi, penghentian kecurigaan terhadap umat Islam, dan penguatan militer. Ini bukan nasihat kiai yang biasanya hanya diminta doa. Ini rancangan politik kebangsaan yang mengerti ekonomi, militer, demokrasi, dan psikologi umat. Rais Am dalam diri beliau bukan simbol pasif. Rais Am adalah akal-moral yang menasihati negara.
Nilai dan legacy untuk NU hari ini
Pertama, Mbah Wahab mengajarkan NU agar kembali menghargai ilmu sebagai dasar gerakan perjuangan. Beliau berani karena alim. Beliau lentur karena menguasai ushul fiqh. Beliau dapat menerima pendidikan perempuan karena mampu menimbang illat dan kemaslahatan. Di era digital, ketika pendapat mudah meledak sebelum matang, NU membutuhkan tradisi keilmuan di atas. Setiap keputusan besar harus lahir dari data, fakta, ilmu, riset, musyawarah, dan kajian sosial yang tajam. Tanpa itu semua, organisasi mudah digerakkan oleh isu, tagar, viralitas, dan desakan orang yang gaduh.
Kedua, Mbah Wahab mengajarkan pentingnya konsolidasi. Beliau tidak puas dengan wacana. Lingkar studi diubah menjadi madrasah, madrasah menjadi kader guru, jaringan dagang menjadi koperasi, forum ulama menjadi NU, pemuda yang berserak menjadi ANO. Tantangan NU hari ini tidak cukup dijawab dengan seminar dan pernyataan. NU harus membangun institusi. Kemandirian ekonomi harus diberi badan usaha yang amanah. Pendidikan kader harus memiliki ekosistem yang utuh. Dakwah digital harus mempunyai dapur produksi. Advokasi warga harus berbasis data. Mbah Wahab akan terasa asing bila melihat gagasan besar berhenti sebagai poster.
Ketiga, beliau mengajarkan seni menempatkan orang. NU masa kini sering terseret oleh pertanyaan siapa yang paling berhak duduk di depan. Bahkan, rebutan di barisan depan, seperti orang mau berfoto. Mbah Wahab memberi pelajaran berbeda. Beliau menyiapkan banyak hal, lalu mempersilakan KH Hasyim Asy’ari menjadi Rois Akbar. Beliau memahami bahwa organisasi besar harus diletakkan di bawah otoritas paling menyatukan. Ini warisan penting bagi NU yang kadang tergoda oleh nafsu jabatan. Ukuran kepemimpinan bukan siapa yang paling ingin tampil, tetapi siapa yang paling membawa kekemaslahatanan bagi jamaah.
Keempat, beliau mengajarkan kemandirian ekonomi yang tidak sempit. Nahdlatut Tujjar menunjukkan bahwa ekonomi umat harus diorganisir. Sikap terhadap bantuan non muslim menunjukkan bahwa kerukunan sosial harus dirawat. Penolakan terhadap subsidi kolonial menunjukkan bahwa martabat tidak boleh dijual kepada kuasa yang menindas. Di era tambang, korporasi besar, filantropi politik, dan bantuan yang membawa agenda, NU dapat memakai ukuran Mbah Wahab. Dari mana sumbernya, untuk siapa manfaatnya, siapa yang mengendalikan keputusan, dan apakah martabat jam’iyyah tetap tegak. Tanpa pertanyaan itu, kemandirian dapat berubah menjadi pintu masuk ketergantungan baru.
Kelima, Mbah Wahab mengajarkan menjadi penghubung antar-generasi. Beliau tidak membiarkan kaum muda ditakuti oleh kaum tua. Beliau juga tidak membiarkan kaum muda bergerak tanpa hormat kepada kaum tua. ANO lahir karena beliau sanggup menerjemahkan energi pemuda ke dalam bahasa yang diterima ulama. NU hari ini membutuhkan seni serupa. Gen Z nahdliyyin hidup dalam ekologi digital, bahasa visual, ekonomi kreatif, dan jaringan global. Kaum sepuh membawa sanad, hikmah, dan memori perjuangan. Keduanya harus diperkenalkan, bukan dipertentangkan. Kuda dan gajah itu kini bernama pesantren dan algoritma. Keduanya akan saling takut selama belum saling mengenal.
Keenam, beliau mengajarkan keberanian berdiplomasi tanpa kehilangan roh. Ilmu ikan di laut sangat relevan bagi NU yang hidup di tengah negara, pasar, partai politik, media sosial, dan geopolitik agama. NU tidak mungkin hidup steril dari semua kuasa. Namun NU juga tidak boleh mati nyawanya. Selama roh Ahlussunnah wal Jamaah, khidmah umat, dan maqashid keadilan tetap hidup, NU dapat memasuki ruang apa pun tanpa menjadi asin oleh air garam kekuasaan. Yang berbahaya bukan berada di laut. Yang berbahaya adalah kehilangan nyawa.
Ketujuh, Mbah Wahab mengajarkan bahwa politik harus dituntun oleh fiqh kemaslahatan. Hubungan Islam dan Pancasila, keputusan keluar dari Masyumi, strategi menghadapi Jepang, nasihat kepada Bung Karno, dan pembelaan terhadap Hadratus Syaikh memperlihatkan satu benang merah. Politik bukan tempat sikap kaku. Politik juga bukan alasan untuk mencair tanpa bentuk. Politik adalah medan-ijtihad yang harus menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, harta, martabat, dan bangsa. Bila NU hari ini ingin tetap menjadi kekuatan moral, NU harus berani berada dalam politik sebagai penuntun nilai, bukan sebagai penumpang kepentingan.
Kedelapan, beliau mengajarkan pentingnya media. Buku Tambakberas mencatat bahwa Mbah Wahab membeli percetakan dan gedung di Surabaya, memimpin Soeara Nahdlatul Oelama sebagai pemimpin umum dan pemimpin redaksi selama tujuh tahun. Bagi beliau, dakwah tidak cukup bergerak lewat mimbar. Dakwah juga harus masuk ke mesin cetak, kabar, opini, dan percakapan publik. Di zaman kini, medan itu bernama media sosial, kanal video, podcast, data visual, dan kecerdasan buatan. NU dapat belajar dari beliau bahwa kebenaran yang tidak diorganisir dalam media akan kalah cepat oleh fitnah yang diberi eco-chamber. Media bukan alat tambahan. Media adalah medan pendidikan umat.
Kesembilan, beliau mengajarkan bahwa riset sosial adalah bagian dari kerja keulamaan. Sebelum mendirikan madrasah, Mbah Wahab meneliti kemerosotan jumlah santri di Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang. Dari data itu, beliau menilai bahwa pendidikan pesantren harus diberi bentuk baru agar umat tidak tertinggal. Ini pelajaran tajam bagi NU hari ini. Program tidak boleh lahir hanya dari perasaan tokoh, orasi forum, atau selera panitia. Program harus lahir dari data warga. Berapa madrasah yang lemah, berapa ranting yang hidup, berapa koin warga yang bergerak, berapa petani kehilangan tanah, berapa santri putus kuliah, berapa guru honorer hidup dengan gaji tipis. Dari data semacam itu, khidmah akan menemukan daya transformasinya.
Pada akhirnya, Mbah Wahab meninggalkan warisan yang lebih penting daripada kenangan. Beliau memberi contoh bagaimana seni menggerakan tradisi. Tradisi tidak dimuseumkan atau diakuariumkan atau hanya dielus-elus. Tradisi dipakai sebagai pijakan untuk mendirikan madrasah, koperasi, media, organisasi pemuda, partai, pasukan, pembuatan kebijakan public, dan diplomasi global. Di tangan beliau, kitab kuning turun ke sawah, pasar, sekolah, siding parlemen, medan perang, dan kancah dunia. Tambakberas menjadi titik berangkat, bukan batas. Dari santri kecil yang diasuh riyadlah orang tua, lahir seorang penggerak yang paham bahwa sejarah tidak dimenangkan oleh orang yang bersuara lantang, tetapi oleh mereka yang sanggup menyambungkan ilmu, basis, jaringan, keberanian, strategi, dan pengorbanan. Untuk NU hari ini, itulah legacy Mbah Wahab. Menjadi besar, menjulang ke langit, tanpa kehilangan akar. Bergerak jauh tanpa lupa basis. Menjawab zaman dengan ilmu yang trasnformatif, akal yang kritis, dada yang lapang, dan hati yang tidak mudah dibeli. Selamat berjuang.

