Saat Waktu Kehilangan Makna Sakralnya
Di zaman modern yang serba cepat ini, waktu sering kali hanya dihitung sebagai deretan angka di jam dinding atau kalender kerja. Kita terjebak dalam rutinitas memburu materi dan kesuksesan duniawi, sampai sering kali lupa memberi ruang bagi jiwa untuk beristirahat dan merenung. Pergantian tahun pun sering dirayakan sebatas pesta kembang api yang ramai namun hampa di dalam batin.
Di tengah situasi seperti inilah, ucapan “Marhaban Muharram” perlu kita maknai kembali secara mendalam. Kalimat ini bukan sekadar ucapan selamat tahun baru Islam yang rutin di media sosial, bukan pula jargon manis para pejabat.
Marhaban Muharram adalah sebuah ajakan untuk berhenti sejenak, menengok ke dalam diri, dan membersihkan hati dari kepalsuan zaman. Ini adalah momentum untuk memahami kembali arti perjuangan, moral, dan spiritualitas yang sesungguhnya.
Mitologi Satu Suro: Ketika Islam dan Jawa Menyatu dalam Jiwa
Bagi masyarakat Jawa, Muharram memiliki resonansi spiritual yang sangat khusus karena bertepatan dengan momen Satu Suro. Di sinilah kita melihat keindahan integrasi budaya. Pertemuan antara penanggalan Hijriah Islam dan penanggalan Saka Jawa yang digagas oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Kesultanan Mataram pada abad ke-17 bukanlah peristiwa politik biasa. Langkah besar ini adalah sebuah ijtihad kultural yang menyatukan umat dalam satu napas spiritual.
Dalam dimensi Jawa, Satu Suro menjelma menjadi waktu yang disucikan (keramat). Ruang publik yang biasanya bising seketika berubah menjadi hening. Keheningan ini memuncak dalam ritual Mubeng Beteng di Keraton Yogyakarta, sebuah laku prihatin berjalan kaki mengitari benteng pertahanan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, yang dikenal dengan tradisi Puasa Bisu.
Secara filosofis, Mubeng Beteng dan Puasa Bisu bukanlah ritual fisik tanpa arti. Ritual ini adalah simbolisasi nyata dari pengendalian diri total. Ketika mulut dikunci, ego manusia diredam, dan indra lahiriah diistirahatkan, maka telinga batin mulai bekerja mendengarkan suara Tuhan. Tradisi ini mengajarkan bahwa benteng sejati yang harus dijaga dari serangan keburukan zaman bukanlah benteng batu, melainkan benteng pertahanan moral di dalam hati kita sendiri.
Hijrah dalam Dimensi Jawa: Telaah Manuskrip dan Pemikiran Ulama Kuno
Bagaimana dimensi Jawa memandang esensi Hijrah? Jika kita membuka lembaran-lembaran berharga dalam manuskrip kuno seperti Serat Centhini atau Serat Wedhatama karya Mangkunegara IV, kita akan menemukan bahwa konsep hijrah (pindah dari satu tempat ke tempat lain) mengalami internalisasi spiritual yang sangat dalam. Hijrah dalam kosmologi Jawa dipahami sebagai perpindahan batin dari kesadaran yang rendah menuju kesadaran spiritual yang luhur.
Para filosof papan atas Jawa dan Ulama Besar sekelas Ronggowarsito dan Kyai Sholeh Darat (guru dari KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari) melihat hijrah sebagai laku membersihkan diri dari kegelapan moral. Dalam naskah Serat Kalatidha, Ronggowarsito menulis tentang pentingnya menjaga kesadaran di tengah zaman yang kacau (Zaman Edan):
“Amenangi zaman edan, ewuh aya ing pambudi… Sak beja-bejane wong kang lali, luwih begja kang eling lan waspada.”
(Menghadapi zaman edan, memang membingungkan pikiran… Namun sebahagia-bahagianya orang yang lupa, masih lebih beruntung orang yang tetap ingat dan waspada).
Eling lan waspada (ingat kepada Tuhan dan waspada terhadap godaan dunia) adalah esensi dari hijrah itu sendiri. Seseorang yang berhijrah secara lahiriah tidak akan ada artinya jika batinnya tidak berpindah dari kelalaian menuju kewaspadaan moral.
Kyai Sholeh Darat dalam kitab tafsirnya, “Faidhir Rahman”, juga sering menekankan bahwa perjalanan hijrah rohani adalah usaha manusia untuk melepaskan keterikatan pada makhluk menuju tauhid yang murni. Dalam dimensi Jawa, hal ini sejalan dengan konsep klasik Manunggaling Kawula Gusti dalam pemikiran Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar—bukan dalam arti menyatunya zat makhluk dengan Tuhan, melainkan keselarasan mutlak antara kehendak manusia (sebagai hamba) dengan hukum-hukum moral yang dikehendaki oleh Tuhan (sebagai Pencipta).
Gugatan terhadap Kepalsuan Moral Penguasa
Muharram dan Satu Suro yang penuh dengan atmosfer kesunyian ini datang membawa kritik tajam bagi kehidupan sosial-politik kita hari ini. Di panggung kekuasaan, kita menyaksikan ironi yang menyedihkan: para elit sering menggunakan simbol-simbol adat atau agama hanya sebagai topeng luar (kosmetik) demi mendapat simpati publik, namun kebijakan yang mereka lahirkan sering kali tidak berpihak pada rakyat kecil.
Kebijakan yang tidak transparan dan pengrusakan alam atas nama pembangunan adalah bukti nyata dari hilangnya rasa malu (al-haya’ atau dalam istilah Jawa: ilang isine). Ketika para pemimpin kehilangan kompas moral budi pekertinya, hukum hanya menjadi alat pembenaran formal bagi tindakan yang keliru.
Melalui semangat Puasa Bisu, Muharram menggugat mentalitas seperti ini. Jika para pembuat kebijakan tidak mampu merasakan kegelisahan batin (existential discomfort) saat melihat penderitaan rakyat, maka ritual atau perayaan tahun baru apa pun yang digelar di ruang publik hanyalah kepalsuan belaka. Hijrah kepemimpinan harus segera dilakukan—yaitu perpindahan dari mentalitas pemburu keuntungan materi menuju mentalitas pelayan rakyat yang takut kepada hukum Tuhan.
Menyongsong Fajar Baru Nusantara
Marhaban Muharram dan Selamat Datang Satu Suro adalah pengingat bahwa waktu terus berjalan ke depan. Kita tidak boleh membiarkan diri kita hanyut dalam arus disrupsi modern yang mengikis kemanusiaan dan merusak alam.
Mari kita sambut momentum suci ini dengan menghidupkan kembali tradisi berpikir kritis yang berakar pada kearifan lokal. Di ruang-ruang diskusi, di ruang keluarga, dan di komunitas-komunitas literasi, mari kita nyalakan kembali kompas moral Budi Madani—sebuah sikap hidup yang santun namun tegas dalam membela kebenaran.
Dengan semangat kesunyian Mubeng Beteng dan ketajaman spiritual Hijrah, kita bersihkan diri dari karat-karat keserakahan. Kita tatap masa depan Nusantara dengan hati yang bersih, pikiran yang merdeka, dan tindakan yang nyata untuk menegakkan keadilan di atas bumi leluhur.
Sugeng Rawuh Satu Suro!

