KH Muhibbul Aman Aly: Ilmu yang Manfaat Menjadi Fondasi Pesantren dan Keselamatan Bangsa

Sleman, Aswaja Nusantara — Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Muhibbul Aman Aly, mengisi pengajian dalam rangka Haflah Tasyakkur ke-7 Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) Aswaja Nusantara, yang diselenggarakan di Dusun Mlangi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjelang datangnya bulan suci Ramadan. Acara ini menjadi momentum refleksi keilmuan, spiritual, sekaligus penguatan tradisi pesantren sebagai penjaga Islam rahmatan lil ‘alamin.

Dalam mau‘idhah hasanahnya, KH Muhibbul Aman Aly menjelaskan bahwa tradisi haflah dan tasyakkur yang digelar pesantren-pesantren menjelang Ramadan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an dan tafsir para sahabat Nabi. Ia merujuk pada firman Allah SWT dalam Surah Yunus ayat 58, “Qul bifadlillahi wabirahmatihi fabidzalika falyafrahu”, yang menurut tafsir Sayyidina Abdullah bin Abbas dimaknai sebagai perintah untuk mengekspresikan kegembiraan dan rasa syukur atas dua karunia terbesar Allah, yakni ilmu yang bermanfaat dan diutusnya Nabi Muhammad SAW.

“Dari sinilah para kiai sepuh mengambil dasar tradisi haflah pesantren dan peringatan Maulid Nabi. Keduanya merupakan ekspresi syukur kepada Allah yang diwujudkan dengan selawat, pengajian, dan amal kebaikan, bukan dengan foya-foya atau praktik yang bertentangan dengan syariat,” tutur KH Muhibbul Aman Aly di hadapan para santri dan tamu undangan.

Para kiai, santri, dan jamaah mengikuti pengajian Haflah Tasyakkur ke-7 PPM Aswaja Nusantara di Mlangi, Sleman (Sumber: Dokumen Redaksi)

Ia juga mengungkapkan kekagumannya terhadap Dusun Mlangi yang dikenal sebagai kampung pesantren, dengan banyak pondok pesantren yang hidup berdampingan dan saling berlomba dalam kebaikan. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan buah keberkahan dan riyadhah para ulama pendahulu, khususnya Mbah Nur Iman, yang sanad keilmuannya telah melahirkan banyak kiai dan pesantren hingga hari ini.

Konsep Ilmu Bermanfaat

Dalam pengajiannya, KH Muhibbul Aman Aly menekankan bahwa inti dari pendidikan pesantren adalah melahirkan ilmu yang manfaat, yakni ilmu yang tidak berhenti pada pemahaman kognitif semata, tetapi benar-benar membentuk akhlak, kepribadian, dan arah hidup seseorang.

Ilmu yang manfaat, menurutnya, akan mendekatkan pemiliknya kepada Allah SWT, menumbuhkan rasa takut (khasyah), serta melahirkan kebijaksanaan dalam bersikap. Ilmu semacam ini menjadi bekal utama untuk menghadapi tantangan zaman yang penuh fitnah, provokasi, dan kebingungan moral.

“Ilmu yang manfaat itu bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi membuat orang semakin tertata hidupnya dan semakin baik perilakunya,” tegasnya.

Empat Ciri Ilmu Bermanfaat

KH Muhibbul Aman Aly kemudian menguraikan bahwa para ulama telah merumuskan empat ciri utama ilmu yang benar-benar bermanfaat.

Pertama, al-ḥilm, yaitu kemampuan mengendalikan emosi dan tidak mudah terpancing amarah. Orang yang memiliki ilmu manfaat akan bersikap tenang, tidak mudah terprovokasi, dan mampu menghadapi persoalan dengan kepala dingin.

Kedua, ar-rifq, yakni sikap lembut dan bijaksana dalam menempatkan sesuatu pada tempatnya. Rifq menjadikan seseorang tidak tergesa-gesa dalam mengambil sikap serta mampu membedakan mana yang perlu ditegaskan dan mana yang harus disikapi dengan kelapangan dada.

Ketiga, at-tawāḍu‘, atau kerendahan hati. Ilmu yang manfaat melahirkan sikap saling menghormati, baik kepada guru, sesama santri, maupun masyarakat luas. Semakin berilmu, seharusnya seseorang semakin rendah hati, bukan semakin merasa paling benar.

Keempat, ḥusnul khuluq, yakni akhlak yang baik. Ilmu yang bermanfaat akan tercermin dalam perilaku sehari-hari yang santun, jujur, dan membawa kemaslahatan bagi lingkungan sekitarnya.

“Istimewanya ilmu yang manfaat itu, orang yang memilikinya tidak mudah terprovokasi, tidak gampang terseret emosi, dan mampu bersikap tegas namun tetap terukur,” ujarnya.

Syarat Ilmu Bermanfaat

Lebih lanjut, KH Muhibbul Aman Aly menjelaskan bahwa agar ilmu benar-benar menjadi ilmu yang manfaat, terdapat dua syarat utama yang harus dipenuhi.

Pertama, ilmu harus diperoleh dari sumber yang jelas dan sanad keilmuan yang bersambung. Ilmu agama, menurutnya, tidak cukup hanya dipelajari dari bacaan atau media daring, tetapi harus melalui guru yang memiliki sanad keilmuan yang tersambung hingga Rasulullah SAW. Pesantren memiliki keunggulan dalam menjaga mata rantai sanad ini agar kemurnian ilmu tetap terjaga.

Kedua, ilmu harus ditanamkan dalam hati yang bersih melalui proses tazkiyatun nafs. Ilmu, kata KH Muhibbul Aman Aly, diibaratkan seperti air yang jernih. Sanad adalah salurannya, sedangkan hati adalah wadahnya. Jika wadahnya kotor, maka air yang jernih sekalipun akan tercemar. Karena itu, pesantren mendidik santri bukan hanya dengan pengajaran, tetapi juga dengan disiplin, adab, wirid, dan pembiasaan akhlak.

Suasana jamaah perempuan dan santri dalam pengajian Haflah Tasyakkur ke-7 PPM Aswaja Nusantara di Mlangi (Sumber: Dokumen Redaksi)

Dalam konteks ini, ia menegaskan bahwa pesantren tidak hanya mengajarkan taklim (transfer ilmu) dan dirosah (pendidikan sistematis), tetapi juga tarbiyah, yakni pendidikan karakter dan pembinaan jiwa secara berkelanjutan.

Menutup pengajian, KH Muhibbul Aman Aly mengajak para santri, pengasuh pesantren, serta masyarakat untuk terus menjaga tradisi keilmuan pesantren dan menguatkan khidmah kepada Nahdlatul Ulama. Ia berharap pesantren tetap menjadi benteng moral umat, pusat lahirnya ulama, dan pilar peradaban Islam Nusantara.

Santri dan keluarga besar PPM Aswaja Nusantara berfoto bersama usai Haflah Tasyakkur ke-7 di Mlangi, Sleman (Sumber: Dokumen Redaksi)

“Selama pesantren masih tegak berdiri di Indonesia, insyaAllah Islam dan negeri ini akan tetap terjaga,” pungkasnya.

Related Articles

Artikel baru