Kurban dan Keberanian Melepas yang Dicintai: Dari Cinta Materi Menuju Cinta Alloh

Khutbah Idul Adha di Pesanten Bumi Cendekia Yogyakarta 2026.

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد

الله أكبر كبيرا، والحمد لله كثيرا، وسبحان الله بكرة وأصيلا. لا إله إلا الله وحده، صدق وعده، ونصر عبده، وأعز جنده، وهزم الأحزاب وحده

الله أكبر، سبحان الله الأحد الواحد الفرد الصمد الذي لم يلد ولم يولد، ولم يكن له كفوا أحد، والذي لم يتخذ ولدا. ولم يكن له شريك في الملك، ولم يكن له ولي من الذل، وكبره تكبيرا

الله أكبر، سبحان الذي تصاغرت لكبريائه الكباراء، وتواضعت له العلماء. ونطقت بربوبيته الانبياء، وشهدت بوحدانيته الأولياء، وفاهت بازليته الفهاماء، واعترفت بعبوديته من في الأرض والسماء

وقال ربكم ادعوني أستجب لكم، إن الذين يستكبرون عن عبادتي سيدخلون جهنم داخرين

الله أكبر، سبحان الذي تسبح له الملائكة بأصنافها، والسموات بأكنافها، والأرضون بأطرافها، والجبال بأعرافها، والطير في مصافها سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام علي المرسلين والحمد لله رب ا

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وأصحابه، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

أما بعد، فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فقد فاز المتقون. قال الله تعالى في كتابه الكريم:

يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Pagi ini kita berdiri di bawah langit Idul Adha. Langit yang sama menaungi rumah orang kaya dan gubuk orang miskin. Langit yang sama menyaksikan takbir dari masjid, mushala, gang kampung, pesantren, dan halaman-halaman kecil tempat orang menata harapan.

Kita mengucap takbir. Allohu Akbar. Alloh Maha Besar.

Kalimat ini pendek. Tapi mengguncang banyak hal. Mengguncang kesombongan. Mengguncang kerakusan. Mengguncang kesempitan berfikir. Mengguncang anggapan bahwa manusia menjadi mulia karena harta, jabatan, kendaraan, saldo rekening, pangkat, atau tepuk tangan publik.

Allohu Akbar berarti Alloh lebih besar dari semua yang kita kejar. Alloh swt lebih besar dari gengsi sosial. Alloh swt lebih besar dari pasar. Alloh swt lebih besar dari godaan hidup yang hari ini makin keras menarik manusia ke arah benda.

Inilah pokok Idul Adha. Bukan daging. Bukan darah. Bukan foto hewan kurban yang dipamerkan. Bukan angka besar yang diumumkan. Kurban adalah latihan batin. Latihan melepaskan. Latihan menundukkan nafsu memiliki.

Alloh swt  berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 37:

لن ينال الله لحومها ولا دماؤها ولكن يناله التقوى منكم كذلك سخرها لكم لتكبروا الله على ما هدىكم وبشر المحسنين

Ayat ini tajam. Menolak agama yang berhenti pada seremoni. Menolak ibadah yang berubah menjadi panggung. Alloh swt  tidak membutuhkan daging. Alloh swt  tidak menunggu darah. Alloh swt  melihat takwa.

Maka pertanyaannya bukan berapa besar hewan yang kita sembelih. Pertanyaannya, apa yang ikut kita sembelih dalam diri kita?

Apakah keserakahan ikut tersembelih?
Apakah iri hati ikut tumbang?
Apakah nafsu pamer ikut dikuliti?
Apakah ego yang keras ikut rebah di hadapan Alloh swt ?

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Kita hidup di zaman materialisme. Zaman ketika manusia mudah diukur dari apa yang punya. Rumahnya di mana. Motornya apa. Gajinya berapa. Bajunya merek apa. Anak sekolah di mana. Lingkarannya siapa.

Media sosial mempercepat penyakit itu. Semua ditampilkan. Semua dibandingkan. Semua dihitung. Bahkan kesalehan kadang ikut dipoles menjadi konten. Sedekah dipotret. Ibadah dijadikan citra. Kebaikan masuk etalase.

Padahal kurban mengajarkan arah sebaliknya. Yang berharga bukan yang kita simpan. Yang menyelamatkan justru yang kita lepaskan. Yang meninggikan manusia bukan kepemilikan, tetapi pengorbanan.

Gus Muhammad Mustafid menyampaikan khutbah Idul Adha tentang makna kurban dan keikhlasan. (Sumber Foto: Dokumen Redaksi)

Alloh swt menegaskan ukuran kebajikan itu dalam Surah Ali ‘Imran ayat 92:

لن تنالوا البر حتى تنفقوا مما تحبون، وما تنفقوا من شيء فإن الله به عليم

Ayat ini seperti pisau kecil yang membelah kepura-puraan. Kebajikan tidak cukup dibangun dari sisa. Tidak cukup dari barang yang tidak lagi kita perlukan. Tidak cukup dari pemberian yang tidak membuat hati bergerak. Alloh swt meminta manusia berlatih memberi dari sesuatu yang dicintai. Sebab di situlah letak ujian. Memberi dari yang berlebih itu baik. Tetapi memberi dari yang dicintai, itulah tanda jiwa mulai merdeka dari kuasa benda.

Kurban berada di jalan ayat ini. Hewan yang dipilih untuk kurban harus layak, sehat, pantas, dan baik. Bukan simbol pembuangan. Simbol persembahan. Dengan kurban, seorang muslim belajar bahwa cinta kepada Alloh swt  harus lebih tinggi daripada cinta kepada milik. Di tengah arus materialisme hari ini, ayat ini menegur kita dengan halus sekaligus keras. Jangan sampai manusia makin pandai mengumpulkan, tetapi makin sulit memberi. Jangan sampai rumah makin penuh, tetapi hati makin sempit.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjadi besar bukan karena memiliki banyak hal. Beliau menjadi besar karena sanggup meletakkan cintanya di bawah perintah Alloh swt . Nabi Ismail ‘alaihissalam menjadi mulia bukan karena menolak takdir, tetapi karena menerima perintah Alloh swt  dengan hati yang bening.

Alloh swt  mengabadikan dialog agung itu dalam Surah Ash-Shaffat ayat 102:

فلما بلغ معه السعي قال يا بني إني أرى في المنام أني أذبحك فانظر ماذا ترى، قال يا أبت افعل ما تؤمر، ستجدني إن شاء الله من الصابرين.

Ini bukan kisah kekerasan. Ini kisah ketaatan. Ini bukan kisah hilangnya kasih sayang. Ini kisah tentang cinta yang ditata oleh iman. Ibrahim mencintai Ismail. Justru karena cinta itu besar, ujian menjadi berat. Dan di situlah iman diuji.

Hari ini ujian kita mungkin bukan menyembelih anak. Ujian kita adalah menyembelih berhala-berhala kecil yang kita pelihara sendiri. Berhala uang. Berhala citra. Berhala jabatan. Berhala pengaruh. Berhala kenyamanan. Berhala “aku”.

Dalam dunia yang makin materialistis, manusia sering merasa cukup bila sudah punya banyak. Padahal banyak belum tentu berkah. Ramai belum tentu benar. Mewah belum tentu tenteram. Terkenal belum tentu mulia.

Kurban mengembalikan manusia pada ukuran yang lebih jelas dan objektif, tetapi lebih jujur. Ukuran itu bernama takwa.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Rasulullah ﷺ mencontohkan kurban dengan penuh kesungguhan. Dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik r.a disebutkan:

عن أنس رضي الله عنه قال: ضحى النبي صلى الله عليه وسلم بكبشين أملحين أقرنين، ذبحهما بيده، وسمى وكبر

Hadis ini mengajarkan kesungguhan. Kurban bukan urusan formalitas. Ibadah yang dijalani dengan niat, tata krama, dan kesadaran.

Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah, kurban juga mengandung dimensi sosial. Daging dibagikan. Tetangga diperhatikan. Fakir miskin tidak dilupakan. Hubungan kampung dihangatkan. Masjid menjadi pusat solidaritas. Pesantren menjadi ruang pelayanan. Agama turun ke dapur rakyat.

Kurban bukan semata hubungan vertikal antara hamba dan Alloh swt . Juga jembatan horizontal antara manusia dan sesamanya.

Karena itu, buruk sekali bila Idul Adha berlalu, tetapi tetangga tetap lapar. Buruk sekali bila daging menumpuk di rumah tertentu, sementara rumah lain hanya mencium aromanya. Buruk sekali bila panitia sibuk dengan nama penyumbang, tetapi lupa wajah penerima.

Kurban harus menjadi koreksi sosial. Menampar ketimpangan. Mengingatkan bahwa rezeki tidak boleh berhenti di meja sendiri. Dalam harta orang mampu ada hak orang lemah. Dalam kenyang orang kaya ada tanggung jawab terhadap lapar orang miskin.

Alloh swt berfirman dalam Surah Al-Kautsar:

إنا أعطيناك الكوثر  فصل لربك وانحر  إن شانئك هو الأبتر

Nikmat yang banyak menuntut ibadah yang tulus. Salat mengikat hati kepada Alloh swt . Kurban mengikat tangan kepada sesama. Orang yang hanya pandai menerima nikmat, tetapi enggan berbagi, sedang memutus dirinya sendiri dari keberkahan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Maka Idul Adha hari ini harus kita baca dengan mata yang lebih jernih. Di tengah budaya konsumsi, kurban mengajarkan pembatasan diri. Di tengah perlombaan pamer, kurban mengajarkan keikhlasan. Di tengah pasar yang memuja laba, kurban mengajarkan pemberian. Di tengah dunia yang makin individualistis, kurban mengajarkan persaudaraan.

Kita tidak anti-harta. Islam tidak memusuhi kekayaan. Banyak sahabat Nabi adalah orang kaya. Tetapi Islam menolak saat harta menjadi tuhan kecil. Islam menolak saat manusia tunduk kepada benda. Islam menolak saat nilai seseorang ditakar dari yang genggam, bukan dari yang berikan.

Harta yang baik adalah harta yang mengalir. Ilmu yang baik adalah ilmu yang menerangi. Kuasa yang baik adalah kuasa yang melindungi. Hidup yang baik adalah hidup yang memberi manfaat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى

Maka luruskan niat kurban. Bukan agar disebut dermawan. Bukan agar nama kita dipuji. Bukan agar status sosial naik. Kurban adalah ibadah. Kurban adalah kepasrahan. Kurban adalah cara kita berkata kepada Alloh swt , “Ya Alloh swt , semua yang aku miliki berasal dari-Mu, dan akan kembali kepada-Mu.”

Semoga Alloh swt menerima kurban kita. Semoga Alloh swt melembutkan hati kita. Semoga Idul Adha ini menyembelih kerakusan dalam diri kita, lalu menumbuhkan kasih sayang kepada sesama.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم. أقول قولي هذا، وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات، فاستغفروه، إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد

الحمد لله حمدا كثيرا كما أمر. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد، فيا عباد الله، اتقوا الله، واعلموا أن الله مع المتقين

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Pada khutbah kedua ini, marilah kita ringkas pesan Idul Adha menjadi tiga perkara.

Pertama, jangan biarkan hidup dikendalikan oleh materi. Harta perlu dicari, tetapi jangan disembah. Rezeki perlu diperjuangkan, tetapi jangan membuat hati membatu. Dunia perlu diurus, tetapi akhirat jangan dikorbankan.

Kedua, jadikan kurban sebagai pendidikan sosial. Daging kurban harus sampai kepada mereka yang berhak. Fakir miskin, tetangga, kerabat, dan masyarakat sekitar harus merasakan kegembiraan Idul Adha. Jangan sampai ibadah besar ini dikotori oleh kelalaian kecil, ketidakadilan pembagian, atau sikap merasa paling berhak.

Ketiga, rawat keikhlasan. Inilah barang langka di zaman yang individualisme materialisme. Banyak orang ingin terlihat. Sedikit yang sanggup bekerja tanpa validasi manusia. Banyak orang ingin dipuji. Sedikit yang cukup diketahui Alloh swt .

Kebajikan yang matang lahir dari keberanian melepas. Dari sanalah kurban menemukan maknanya. Mendidik manusia agar tidak diperbudak oleh yang cintai. Mengajari kita bahwa jalan menuju Alloh swt sering dimulai dari kesediaan memberi, bukan menimbun.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Mari kita berdoa. Semoga Alloh swt menjadikan Idul Adha ini sebagai jalan pulang. Pulang dari keserakahan menuju kepedulian. Pulang dari pamer menuju ikhlas. Pulang dari cinta benda menuju cinta Alloh swt .

اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات، والمسلمين والمسلمات، الأحياء منهم والأموات

اللهم تقبل منا صلاتنا وقرباننا وصيامنا وقيامنا ودعاءنا، يا أرحم الراحمين

اللهم اجعلنا من المخلصين، واجعلنا من المتقين، واجعلنا من عبادك الصالحين

اللهم طهر قلوبنا من الرياء والكبر والحسد والشح والطمع

اللهم أصلح أحوالنا، وأحوال أهلنا، وأحوال بلادنا إندونيسيا. اللهم اجعل هذا البلد بلدا آمنا مطمئنا، سخاء رخاء، وسائر بلاد المسلمين

ربنا آتنا في الدنيا حسنة، وفي الآخرة حسنة، وقنا عذاب النار

عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى، وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي، يعظكم لعلكم تذكرون

فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر

Muhammad Mustafid
Muhammad Mustafid
Pimred kanal www.aswajanusantara.com dan Dewan Pengasuh Pesantren Pelajar-Mahasiswa (PPM) Aswaja Nusantara Mlangi

Related Articles

Artikel baru