Kita sering mengira sains adalah ujung semua kebenaran. Apa pun yang belum dibuktikan sains, belum dianggap benar. Dan kalau belum ada di laboratorium, berarti belum nyata, bahkan belum tentu ada. Tapi benarkah demikian?
Saya memulai tulisan ini dari satu pertanyaan sederhana. Benarkah manusia raksasa ada dan pernah hidup berdampingan dengan manusia seperti kita?
Pertanyaan ini tampak konyol bagi sebagian ilmuwan. Mereka akan buru-buru membantah tidak ada bukti fosil, tidak ada bukti DNA, tidak ada tengkorak dua meter. Tapi sebelum buru-buru menolak, mari sejenak kita buka mata dan hati.
Hampir semua kebudayaan tua punya cerita tentang manusia besar—raksasa, buto, titán, asura. Mereka hadir dalam relief kuil, lukisan gua, kisah turun-temurun. Bahkan dalam kitab suci. Al-Qur’an misalnya, QS. Al-Fajr: 6–8 menggambarkan kaum ‘Ād dengan bangunan menjulang dan postur luar biasa, “yang belum pernah diciptakan semisal mereka di negeri-negeri”. QS. Al-Baqarah: 249–251 tentang Jalut yang ditakuti karena tubuh dan kekuatannya, hingga Daud mengalahkannya. Lalu dalam QS. Al-A’raf: 73–74, kaum Thamud digambarkan memahat gunung dan membangun istana, dengan kekuatan fisik dan teknik yang melampaui kebiasaan. Dan dalam QS. Al-Ma’idah: 22–23) Bani Israil enggan memasuki negeri yang dihuni orang-orang jabbārīn—sangat kuat dan bertubuh besar. Keempat ayat Al-Qur’an ini memberi gambaran manusia besar, bagian dari sejarah peradaban yang mungkin telah dikaburkan waktu.
Jejak-jejak itu hidup dalam dongeng, tertinggal di batu, di tanah, di gerbang dan relief yang sampai hari ini masih bisa kita lihat.
Di Mesir, di kompleks Abu Simbel, berdiri patung raksasa Ramses II dan para dewa setinggi hampir 20 meter. Di Yordania, pintu-pintu Petra menjulang seperti menyambut makhluk berkepala langit. Di Afrika Selatan, sebuah jejak kaki sepanjang lebih dari satu meter tercetak dalam batu granit, disebut “The Footprint of God”, dan tak pernah benar-benar dibantah atau dijelaskan oleh geolog.
Di India, rakshasa seperti Mahishasura dan Kumbhakarna diabadikan dalam relief kuil Ellora dan Mahabalipuram, badannya besar dan senjatanya besar. Di Mesopotamia, Gilgamesh digambarkan memeluk singa seperti memeluk kucing. Di Pulau Paskah, patung Moai membisikkan legenda “Hanau Epe” makhluk raksasa yang mendirikannya.
Di negeri kita sendiri, di Borobudur dan Prambanan, Buto-kala menjaga gerbang dengan mata melotot dan rahang besar. Tidak selalu menyeramkan. Kadang justru seolah menjaga.
Apakah semua itu hanya simbol? Mungkin. Tapi mengapa simbol-simbol itu hadir di berbagai belahan dunia yang tidak pernah saling bertemu? Apakah kita sedang menyaksikan sisa ingatan bersama tentang ras besar yang pernah hadir dan perlahan hilang? Ataukah semua ini hanya fiksi yang kebetulan seragam?
Saya cenderung tidak buru-buru menyimpulkan. Karena ini bukan semata soal benar-salah. Ini soal cara melihat dunia. Dan saya curiga barangkali justru kacamata kita yang terlalu sempit, bukan karena dunia ini sempit, tapi karena kita terlalu lama dibentuk oleh logika satu arah. Logika laboratorium.
Tapi manusia terus belajar. Dan ilmu pengetahuan, sepanjang sejarahnya, sering datang terlambat membuktikan sesuatu yang sebenarnya sudah lebih dulu diyakini oleh wahyu, tradisi, dan hati manusia.
Ketika Al-Qur’an menyebut “langit itu Kami luaskan” (QS. Adz-Dzariyat: 47), siapa sangka ribuan tahun kemudian, Hubble baru membuktikan galaksi-galaksi bergerak menjauh satu sama lain sebagai tanda bahwa alam semesta memang mengembang.
Ketika wahyu berkata “Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup” (QS. Al-Anbiya: 30), manusia belum mengenal mikroskop. Tapi kini kita tahu air menjadi syarat mutlak kehidupan. Sel, jaringan, bahkan molekul DNA pun bekerja dalam medium air.
Ketika Qur’an menjelaskan tahapan embrio dari nutfah ke ‘alaqah, lalu mudghah, hanya terdengar puitis bagi orang Arab Badui abad ke-7. Tapi kini, embriologi modern mencatat tahapan itu dengan presisi grafik, mikroskop, dan istilah Latin.
Kita harus jujur wahyu tidak sedang menunggu sains agar menjadi sahih. Justru sainslah yang lambat mengejar jejak wahyu. Wahyu telah menyatakan kebenarannya dengan cara yang tak terikat laboratorium dengan bahasa yang melampaui grafik dan tabel, tapi tidak kehilangan presisi maknanya. Bukan kebetulan jika ayat-ayat tentang air sebagai asal kehidupan, tentang langit yang mengembang, tentang janin yang tumbuh dalam rahim, semuanya muncul dalam Al-Qur’an berabad-abad sebelum teleskop dan mikroskop diciptakan. Sains tidak sedang menyempurnakan wahyu. Ia hanya sedang menemukan ulang apa yang sudah lama dikabarkan. Dan dalam proses itu, sains terkadang membawa serta keangkuhan zamannya.Ia mengira penemu padahal baru tiba di pintu yang sudah lama. Ketika sains akhirnya tiba, wahyu tidak menyambut dengan tepuk tangan, tapi senyum tenang “Selamat datang, kamu datang terlambat, tapi tak apa.”
Karena itu, mungkin kita memang tak perlu tergesa menyulap Al-Qur’an menjadi kitab Biologi atau Astrofisika. Ia bukan laboratorium, dan tak sedang menjelaskan dunia dengan grafik atau tabel. Tapi justru ia menyimpan tanda-tanda, petunjuk, dan isyarat mengendap dalam bahasa yang bisa disentuh semua zaman, bukan untuk dikejar tapi untuk direnungkan.
Dan kalau sains datang terlambat, bukan karena bodoh tapi justru karena ia jujur pada jalannya: merangkak, tertatih, skeptis, falsifikasi dan koreksi. Sains yang benar tak pernah sombong. Ia belajar sabar. Dan justru dalam sabar itulah sains mulai menyentuh hikmah yang ada dalam kitab suci.
Tugas tafsir bukanlah menundukkan wahyu pada teori, atau sebaliknya. Tapi membuka ruang percakapan. Bukan agar semuanya masuk akal, tapi agar akal tak sendirian memaknai yang tak terjangkau.
Maka ketika saya ditanya “Benarkah manusia raksasa pernah ada?” Saya tidak menjawab ya atau tidak. Saya hanya bilang barangkali belum ada fosilnya. Tapi bukan berarti tak ada jejaknya. Barangkali bukan raksasa tubuh tapi raksasa jiwa. Atau barangkali memang ada tapi kita belum layak dipercaya untuk menemukan buktinya.
Karena kebenaran, seperti halnya cinta dan iman, kadang tak datang serentak. Tapi saat waktunya tepat.

