Oleh: Harsa Permata
Islam adalah agama yang dianut oleh miliaran orang di muka bumi ini. Populasi pemeluk agama Islam terus berkembang sepanjang sejarahnya. Di Nusantara, agama Islam sudah mulai dipeluk oleh sebagian masyarakat Nusantara sejak sekitar abad ke-7/8 masehi.
Sejak itu angka pemeluk agama Islam terus meningkat pesat, hingga menjadi agama yang dipeluk oleh mayoritas rakyat Nusantara, atau Indonesia sekarang ini.
Besarnya jumlah pemeluk agama Islam di Nusantara, terutama disebabkan oleh ajaran agama Islam yang mengutamakan nilai-nilai kesetaraan (egalitarian). Dalam Islam, semua manusia derajatnya sama di hadapan Allah SWT, yang membedakan manusia satu dan lainnya adalah amal ibadah.
Nilai-nilai kesetaraan dalam ajaran Islam ini pada dasarnya bertentangan dengan penindasan manusia atas manusia (exploitation de’l homme par de’l homme), yang menjadi ciri utama dari sistem kapitalisme, atau imperialisme sebagai tingkatan tertinggi dari kapitalisme.
Dalam sistem kapitalisme, manusia satu dan lainnya tidaklah sama. Manusia dibedakan atas jumlah modal (kapital) yang dimilikinya. Pada tingkat imperialisme, penindasan manusia atas manusia menjadi lebih parah, penaklukkan suatu masyarakat oleh masyarakat lainnya lewat operasi militer, adalah hal yang umum dalam sistem imperialisme.
Bangsa-bangsa Eropa sudah mulai berusaha menjajah wilayah Nusantara, sejak dulu kala. Reaksi dari penjajahan tersebut adalah perlawanan dari bangsa terjajah. Dasar dari perlawanan awal terhadap penjajahan tersebut, sebelum ideologi Marxisme masuk ke Nusantara, adalah sebuah agama yang bernama Islam. Memang ada banyak gerakan perlawanan yang berasas Islam di berbagai wilayah Nusantara, tulisan ini tidak akan membahas semuanya, tetapi hanya berfokus pada gerakan-gerakan perlawanan yang berskala besar, baik dari segi keterlibatan rakyat secara luas, dampaknya terhadap imperialisme Eropa, maupun lamanya perlawanan.
Pada pertengahan abad ke-16 , bangsa Portugis berusaha menaklukkan rakyat Maluku dengan berbagai cara. Setelah operasi militer Portugis gagal menaklukkan rakyat Maluku, maka muslihat dan tipu daya digunakan.
Awalnya bangsa Portugis, seperti halnya bangsa-bangsa Eropa lainnya yang singgah di Nusantara, masuk lewat perdagangan. Perdagangan ini kemudian berkembang menjadi monopoli dagang. Hal ini kemudian menimbulkan benturan antara Portugis dan Kerajaan Ternate, yang dipimpin oleh Sultan Khairun.
Benturan ini lalu berkembang menjadi perang antara Ternate dan Portugis. Kualitas kemiliteran, yang ditentukan oleh jumlah pasukan, kemampuan dan semangat tempur, serta teknologi persenjataan, adalah penentu dalam peperangan.
Dalam masyarakat Islam, semangat tempur sampai titik darah penghabisan, terutama didorong oleh keyakinan yang diajarkan dalam ajaran Islam, bahwa berperang di Jalan Allah (Jihad fi Sabilillah), akan dianugerahi surga oleh Allah SWT. Orang-orang yang gugur ketika berjihad, langsung masuk surga, dan dikuburkan dengan pakaian tempurnya yang berlumur darah, begitu menurut ajaran Islam.
Kerajaan Ternate, kemudian memenangkan peperangan. Ambon yang sebelumnya dikuasai Portugis, berhasil direbut oleh Kerajaan Ternate. Takluknya Portugis, berimbas pada penghapusan monopoli perdagangan rempah oleh Portugis. Walaupun demikian, bangsa Portugis masih diperbolehkan bersaing di bidang perdagangan dengan bangsa-bangsa lain di tanah Maluku. Begitu sikap kesatria kerajaan Ternate, sikap yang serupa juga diperlihatkan oleh kerajaan-kerajaan lain di Nusantara.
Akan tetapi, sikap kesatria ini kemudian ditelikung oleh Portugis. Jebakan untuk Sultan Khairun, kemudian dipersiapkan. Pada tanggal 25 Februari 1570, ia (Sultan Khairun) kemudian diundang oleh Gubernur Portugis di Maluku, Lopez De Mesquita, ke benteng Sao Paulo, untuk menghadiri perjamuan makan dalam rangka merayakan hubungan Ternate dan Portugis yang mulai membaik.
Karena sikap husnuzan (berprasangka baik), Sultan Khairun datang sendiri ke perjamuan makan itu, tanpa disertai pengawal. Sultan Khairun kemudian dibunuh atas perintah Lopez De Mesquita.
Wafatnya Sultan Khairun, membuat rakyat Ternate marah. Sebagai pengganti Sultan Khairun, diangkatlah pangeran Baab (anak Sultan Khairun), menjadi Raja Ternate oleh Dewan Kerajaan yang didukung rakyat Ternate. Sultan Baabullah kemudian mendeklarasikan perang Jihad fi Sabilillah melawan Portugis.
Sultan Baabullah lalu membangun kekuatan perang yang besar. Seluruh kerajaan di Maluku, Sulawesi, dan Papua, bersatu dengan Ternate untuk memerangi Portugis. Dengan kekuatan ratusan ribu pasukan, aliansi Maluku, Sulawesi, dan Papua, di bawah kepemimpinan Sultan Baabullah berhasil membabat habis seluruh kekuasaan Portugis di Maluku, pada tahun 1575. Terusirnya Portugis, adalah wujud keberhasilan Nusantara mengusir imperialisme.
Salah satu kekuatan Imperialis Eropa, yaitu Kerajaan Belanda kemudian berhasil masuk ke wilayah Nusantara. Dengan memanfaatkan konflik antara rakyat Maluku dan Portugis. Belanda masuk ke Nusantara melalui serikat dagang yang bernama VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) pada tahun 1602.
Ini menjadi titik awal kolonialisme Belanda di Indonesia. Ketidakadilan yang ditimbulkan oleh sistem kolonial Belanda, memicu perlawanan dari berbagai kerajaan di wilayah Nusantara. Akan tetapi perlawanan terbesar, adalah perlawanan yang dikobarkan oleh Pangeran Diponegoro.

Perlawanan rakyat seluruh Jawa di bawah kepemimpinan Pangeran Diponegoro, ini terkenal dengan nama perang Diponegoro. Seperti halnya perlawanan rakyat Maluku, Sulawesi, dan Papua, ajaran agama Islam juga melandasi perlawanan rakyat Jawa. Hal ini terlihat dari deklarasi perang oleh Pangeran Diponegoro, yang menyatakan bahwa perlawanan rakyat Jawa adalah perang sabil melawan kaum kafir (Jihad fi Sabilillah).
Perang Diponegoro yang berlangsung selama 5 tahun ini (1825-1830), berhasil menguras habis kas kolonial Belanda, inilah yang kemudian melatari penerapan kebijakan tanam paksa oleh kolonial Belanda terhadap rakyat Nusantara (rakyat Hindia Belanda saat itu). Tanam paksa/cultuur stelsel, bertujuan untuk mengisi kas kolonial Belanda, dengan cara memaksa rakyat pribumi Hindia Belanda menanam tanaman-tanaman yang laku di pasar Eropa, seperti kopi, teh, dan lain-lain. Hasil kerja rakyat ini kemudian dirampas oleh kolonial Belanda, dan selanjutnya diperjualbelikan dengan harga tinggi di pasar Eropa. Kekejaman sistem tanam paksa ini didokumentasikan oleh pegawai kolonial Belanda yang bernama Douwes Dekker (Multatuli), melalui buku Max Havelaar.
Berikutnya, perlawanan terhadap kolonial Belanda, kembali berkobar di Aceh. Perang antara Kesultanan Aceh dan Belanda ini, terkenal dengan nama perang Aceh. Perang Aceh berlangsung selama lebih dari 30 tahun (1873-1904). Bahkan setelah Kesultanan Aceh menyerah pada tahun 1904, perlawanan gerilya terhadap Belanda, tetap dikobarkan oleh rakyat Aceh. Seperti haknya perlawanan rakyat Ternate dan Jawa, perlawanan rakyat Aceh terhadap Belanda ini juga berdasarkan atas semangat jihad fii sabilillah. Semangat ke-Islaman dan anti kafir, dalam perlawanan rakyat Aceh terhadap Belanda ini tergambar jelas dalam film Tjoet Nja’ Dhien. Selain itu, salah satu penyebab utama yang menyebabkan rakyat Aceh mengobarkan perang melawan Belanda, adalah pembakaran Mesjid Raya Banda Aceh, yang merupakan tempat peribadatan umat Islam, oleh Belanda pada tahun 1873.

Pada abad ke-20 awal, Tirto Adhi Soerjo, pendiri Sarekat Dagang Islam, yang kemudian bermetamorfosa menjadi Sarekat Islam (SI), menjadikan Islam sebagai asas organisasi modern yang didirikannya. Tirto Adhi Soerjo, sadar akan semangat internasionalisme (bangsa ganda) dari agama Islam, karena itu ia menjadikan Islam sebagai dasar organisasi Sarekat Dagang Islam (SDI). Novel “Jejak Langkah” karangan Pramoedya Ananta Toer, menggambarkan pergulatan Tirto dalam perjuangannya mendirikan organisasi modern pribumi tersebut.
Setelah kemerdekaan, semangat ke-Islaman dalam perlawanan terhadap imperialisme, terlihat jelas dalam perlawanan rakyat Surabaya terhadap imperialisme Inggris, yang memborbardir kota Surabaya pada tanggal 10 November 1945. Para Kiyai (ulama) berperan aktif dalam perang Surabaya ini, melalui pengerahan santri-santri merka, untuk terlibat aktif dalam perang ini. Selain itu, Bung Tomo, sebagai salah seorang tokoh revolusioner di Surabaya, mengumandangkan takbir (Allahuakbar), untuk membangkitkan semangat perlawanan rakyat Surabaya terhadap imperialisme Inggris.
Sejarah panjang perlawanan rakyat yang berasaskan Islam terhadap kolonialisme dan imperialisme tadi, adalah bukti nyata bahwa ajaran Islam pada dasarnya anti penindasan manusia atas manusia (exploitation de’l homme par de’l homme). Gerakan perlawanan berbasis Islam, adalah gerakan perlawanan yang utama dalam sejarah perlawanan rakyat Nusantara terhadap kolonialisme dan imperialisme. Bahkan kemerdekaan Indonesia, tidak akan terwujud jika tidak didukung oleh gerakan Islam, laskar Hizbullah (milisi rakyat yang berasas Islam) adalah salah satu elemen rakyat yang mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Sayangnya pada perkembangan selanjutnya, pasca kemerdekaan, elemen Islam, hanya dijadikan sebagai pelengkap dalam Republik Indonesia. Perundingan Linggar jati dan Renville, yang dilaksanakan tanpa persetujuan elemen Islam, menimbulkan pemberontakan DI TII (Darul Islam Tentara Islam Indonesia). Setelah DI TII dipadamkan oleh tentara pemerintah RI, elemen Islam hanya menjadi pelengkap pemerintahan pada era Soekarno dan orde baru Soeharto.
Bertolak belakang dengan sejarah, sebelum kemerdekaan Indonesia, pasca kemerdekaan, elemen Islam tidak lagi menjadi pemimpin perlawanan rakyat, tetapi hanya mengikuti kekuatan politik yang dominan. Pada masa pemerintahan Soekarno, elemen Islam diwakili oleh NU (Nahdlatul Ulama), setelah Masyumi dibubarkan. Sementara pada era orde baru Soeharto, elemen Islam diwakili oleh PPP (Partai Persatuan Pembangunan), yang merupakan fusi (penggabungan) beberapa partai berasas Islam.
Pada awal era reformasi, elemen Islam yang tergabung dalam poros tengah, berhasil menaikkan wakilnya, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi presiden RI, setelah Gus Dur diturunkan pada tahun 2001, praktis elemen Islam, kembali menyerahkan tongkat kekuasaan pada elemen nasionalis militer, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dengan Partai Demokrat-nya. Pada era SBY, elemen Islam hanya menjadi ban serep, yang dibutuhkan untuk melengkapi kekuasaan, bukan sebagai kekuatan politik yang dominan dalam kekuasaan.

Hal yang sama juga terjadi pada era Jokowi (2014-2024), elemen Islam, tidak mampu untuk menyatukan kekuatan, dengan dalih “tidak ada figur pemersatu”, akhirnya elemen Islam kembali hanya menjadi pelengkap dengan mendukung salah satu capres.
Ironisnya, pada Pilpres 2024, suara partai yang berasaskan Islam juga terpecah pada tiga pasangan calon presiden dan wakil presiden. Hal ini mungkin dikarenakan, para pimpinan partai Islam hanya mau jadi pengikut, ketimbang jadi pelopor perubahan. Mental priyayi yang membuat organisasi mandeg, yang dikritik oleh Tirto Adhi Soerjo, dalam novel “Jejak Langkah”, sepertinya telah merasuk pada para petinggi dan aktivis partai Islam.
Sejarah panjang perlawanan rakyat Nusantara telah memperlihatkan bahwa Islam bukan hanya sekadar sistem kepercayaan, melainkan juga sebagai kekuatan moral dan sosial yang menentang setiap bentuk ketidakadilan. Nilai-nilai kesetaraan, keadilan, dan pembebasan yang terkandung dalam ajaran Islam telah menjadi sumber inspirasi terhadap berbagai gerakan perlawanan antikolonialisme dan imperialisme.
Dalam konteks Indonesia kekinian, nilai-nilai tersebut seharusnya tetap menjadi landasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Seluruh elemen Islam, baik dalam bentuk organisasi maupun gerakan sosial, harus mempertegas perannya kembali, sebagai kekuatan etik yang berpihak pada kemaslahatan umat manusia. Dengan demikian, Islam akan terus hadir sebagai kekuatan pembebas, yang menolak segala bentuk penindasan manusia atas manusia, dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

