Melacak Keretakan Semiotika “Tali Jagat” dan Dekonstruksi Nalar Struktural Abad Kedua
Ketika Lambang Kehilangan Jiwa Kosmisnya
Di sudut atas lambang Nahdlatul Ulama, melingkar seutas tali yang mengikat bola dunia. Tali itu bukan sekadar elemen dekoratif estetis, melainkan sebuah arsitektur semiotika yang dirancang dengan ketajaman spiritualitas tingkat tinggi oleh KH. Ridwan Abdullah atas restu Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Dalam jagat epistemologi pesantren, untaian maknanya sangat jernih: ia melambangkan tali Allah atau hablullah yang membuahkan persaudaraan universal, mengikat jagat raya beserta seluruh isinya dalam rajutan kasih sayang (rahmah) dan harmoni kosmis. Ia adalah lambang dari Urwatul Wutsqa—pegangan yang kokoh, elastis namun tak pernah putus, yang menopang bumi dan isinya dari kehancuran etis.
Namun, memasuki fajar abad kedua kelahirannya, sebuah pemandangan getir menyeruak ke permukaan: tali jagat itu kini tampak sudah kendor. Ketika elite organisasi terjebak dalam pusaran konflik internal, perebutan pengaruh birokrasi, dan pragmatisme politik praktis, simpul-simpul pengikat itu perlahan-lahan merenggang. Kendornya tali jagat bukan sekadar masalah keretakan manajemen struktural, melainkan sebuah krisis ontologis yang sangat akut. Lambang yang mulia itu kini tengah mengalami desakralisasi makna, di mana untaiannya tidak lagi mengikat bumi untuk diselamatkan, melainkan terseret ke bumi dan kotor oleh syahwat keduniawian yang profan.
Esai filsafat kebudayaan ini akan menguliti secara radikal-objektif mengapa dan bagaimana tali jagat itu bisa mengendor. Ini adalah upaya dekonstruksi linguistik dan sosiologis untuk melacak transformasi NU dari sebuah gerakan spiritualitas kosmis (jam’iyah diniyah) menjadi sekadar korporasi kekuasaan formal yang kaku, serta menakar jalan sunyi untuk mengencangkan kembali simpul-simpul makrifat yang hampir lepas.
Dekonstruksi Semiotika “Kendor”: Pergeseran dari Kultural ke Formalistik
Dalam filsafat bahasa Ferdinand de Saussure, tanda akan kehilangan dayanya ketika penanda (signifier) kehilangan hubungannya dengan petanda (signified) yang hakiki. Tali jagat pada lambang NU adalah penanda dari petanda berupa: ketulusan khidmat, persatuan umat, kearifan kiai kampung, dan independensi moral. Ketika tali itu disebut “kendor”, secara linguistik telah terjadi pembusukan semantik (semantic decay). Kata “khidmat” tidak lagi berarti pelayanan tanpa pamrih kepada umat di pelosok desa, melainkan bergeser makna menjadi alat legitimasi untuk mengamankan posisi struktural.
Kendornya tali jagat ini ditandai oleh menguatnya nalar positivisme-birokratis yang sangat dingin. Organisasi kini digerakkan oleh logika instruksi yang satu arah, pemecatan yang instan, dan skorsing legalistik. Hubungan antara pimpinan struktural (tanfidziyah) dengan jajaran kultural tidak lagi diikat oleh tali asih spiritual (hablul qulub), melainkan oleh tali komando yang transaksional.
Ketika struktur formal terlalu kaku dan memaksakan “hegemoni” seperti konsep kuasa-pengetahuan Michel Foucault, tali itu kehilangan elastisitasnya. Sifat tali yang seharusnya luwes menampung dinamika pluralisme berpikir di internal Nahdliyin kini ditarik secara paksa untuk kepentingan pragmatis-seragam. Akibatnya sangat fatal: tali itu tidak putus, tetapi ia kendor—kehilangan daya cengkeramnya untuk menyatukan perbedaan, kehilangan wibawanya untuk mendamaikan faksi-faksi yang bertikai, dan kehilangan daya magisnya untuk menggetarkan hati jamaah di akar rumput.
“Hablullah” yang Terkontaminasi “Hablum-Minas-Siyasah” Pragmatis
Secara teologis, pangkal dari kendornya tali jagat adalah terjadinya distorsi orientasi transendental. Tali jagat dirumuskan sebagai pengejawantahan dari kalimat “Wata’shimu bihablillahi jami’an wala taffaraqu” (Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai). Tali Allah adalah poros spiritualitas murni yang sunyi dari kepentingan personal.
Namun, turbulensi politik lokal dan geopolitik global pasca-satu abad NU memperlihatkan bahwa tali tersebut sering kali terkontaminasi oleh tali politik transaksional atau hablum-minas-siyasah yang korup. Ketika wajah jam’iyah lebih sering menghiasi panggung-panggung negosiasi kekuasaan material ketimbang mimbar-mimbar advokasi kemanusiaan, maka spiritualitas organisasi mengalami pendangkalan (spiritual shallowing).
Para elite tidak lagi sibuk merajut tali jagat untuk merangkul kaum mustadh’afin (mereka yang tertindas di pelosok desa), melainkan sibuk merajut tali aliansi dengan para penguasa modal dan pemilik takhta formal. Akibatnya, energi spiritualitas yang mengalir dari pusat organisasi ke daerah-daerah mengalami penyumbatan epistemik. Jamaah di bawah dibiarkan mengonsumsi riuh polemik elite di media massa tanpa diberi keteladanan moral. Ketika poros langit digantikan oleh poros bumi yang penuh intrik, maka kelenturan dan kekuatan tali jagat itu dengan sendirinya akan melorot dan mengendor.
Membaca Dampak Kultural: Otonomi Akar Rumput di Tengah Kendornya Struktur
Menariknya, dalam ekosistem antropologis Nahdliyin, kendornya tali jagat di tingkat struktural (menara gading PBNU) tidak serta-merta meruntuhkan sendi-sendi kehidupan warga di bawah. Di sinilah keunikan NU sebagai sebuah kenyataan sosiologis. Ketika tali struktural mengalami pelonggaran moral, masyarakat akar rumput di pelosok desa justru menciptakan “tali-tali lokal” mereka sendiri.
Kiai-kiai kampung, pengasuh pesantren kecil di pedalaman, dan para penggerak kultural di tingkat ranting tetap setia membaca Qonun Asasi, merawat makam para wali, dan mengajar kitab kuning tanpa peduli pada bisingnya konflik elite di Ibu Kota. Mereka mempraktikkan apa yang dalam filsafat sosiologi disebut sebagai otonomi kultural yang profetik. Bagi mereka, NU bukanlah papan nama kantor yang megah, melainkan sebuah laku hidup (lebensform).
Ketegangan dialektis abad kedua ini memperlihatkan adanya jurang pemisah yang semakin lebar antara dua kutub utama. Di satu sisi, kutub struktural menara gading terjebak dalam nalar birokrasi formal yang kaku, di mana tali jagat mengendor akibat benturan kepentingan pragmatisme kekuasaan. Di sisi lain, kutub kultural akar rumput justru bergerak mandiri dengan nalar spiritual kiai kampung yang kokoh, di mana tali pengikat di antara sesama warga justru mengencang secara alami melalui khidmat autentik terhadap umat. Jika gerak kutub struktural dibiarkan semakin terasing dan menjauh dari otentisitas gerakan kultural ini, organisasi berisiko mengalami alienasi total dari basis massa yang mendirikannya. Keselarasan baru hanya bisa dicapai jika struktur kepemimpinan bersedia menundukkan ego formalnya di bawah payung kesadaran kultural pesantren.
Jalan Sunyi Mengencangkan Kembali Tali Jagat: Kembali ke Khittah Makrifat
Bagaimana cara mengencangkan kembali tali jagat yang sudah kendor ini? Jalan satu-satunya bukanlah melalui amandemen aturan organisasi (AD/ART) yang legalistik-formalistik, melainkan melalui jalan dekonstruksi spiritual: Kembali ke Khittah Makrifat.
Para elite struktural harus mengalami pertobatan epistemologis (epistemological repentance). Mereka harus berani memotong tali-tali kepentingan politik jangka pendek yang mengikat kaki dan tangan mereka, lalu menyambungkannya kembali dengan simpul-simpul Qonun Asasi yang ditulis oleh Hadratusyaikh. Mengencangkan tali jagat berarti mengembalikan fungsi tali itu untuk mengikat ego, menjinakkan nafsu berkuasa (syahwat al-hukm), dan menegakkan kembali supremasi moral ulama di atas kepentingan pragmatisme birokrasi.
Struktur organisasi harus rela menundukkan kepalanya ke bawah, belajar kembali pada keikhlasan kiai-kiai kampung dan ketulusan warga pelosok desa yang berhati bersih. Tali jagat hanya bisa kembali kencang, kuat, dan berwibawa jika ia dibasahi oleh air mata keikhlasan, dirajut dengan benang-benang keadilan hukum, dan ditarik dengan kekuatan iman yang transendental.
Marwah Seabad yang Dipertaruhkan
Tali jagat yang kendor adalah alarm kebudayaan yang teramat nyaring bagi masa depan Nahdlatul Ulama di abad kedua ini. NU tidak akan runtuh karena intervensi ideologi luar, tetapi ia bisa kehilangan tuah spiritualnya jika elitenya terus-menerus mempertontonkan drama perebutan “tulang kekuasaan” di tengah longgarnya ikatan moral organisasi.
Mengencangkan kembali tali jagat yang kendor adalah sebuah keharusan sejarah yang tak bisa ditawar. Tali itu harus kembali berfungsi sebagai pengikat bumi—penjaga kedamaian, benteng pluralisme, dan pelindung kemanusiaan universal. Hanya dengan kembalinya kesucian makna tali jagat inilah, Nahdlatul Ulama akan tetap tegak berdiri sebagai jam’iyah yang diberkahi, di mana strukturnya bergerak seirama dengan detak suci hati yang bersih dari jutaan warganya di seluruh pelosok Nusantara. Tali jagat harus kembali kencang, demi menjaga bumi tetap aman dalam pelukan kasih sayang para kekasih Tuhan.

