(Refleksi Filosofis dan Teologis Satu Abad Nahdlatul Ulama)
Satu abad bukanlah sekadar lintasan waktu yang meninggalkan jejak usang dalam lembaran sejarah. Bagi Nahdlatul Ulama, seratus tahun adalah sebuah bangunan kesadaran teologis-kebangsaan yang kokoh. Jika kita menelusuri lorong waktu ke belakang, kelahiran NU bukanlah sebuah letupan spontan, melainkan sebuah desain langit yang terwujud melalui ijtihad para kekasih Allah untuk menjawab kegelisahan zaman. NU lahir dari rahim pesantren, disusui oleh tradisi, dan dibesarkan oleh semangat cinta tanah air yang tak kunjung padam.
1. Epistemologi Pergerakan: Membaca Hikmah di Balik Politik Etis
Politik Etis yang diberlakukan pemerintah kolonial sejak 17 September 1901 secara filosofis adalah bentuk “pengakuan bersalah” yang setengah hati. Belanda mencoba membayar utang budi dengan pendidikan, irigasi, dan migrasi, namun kenyataannya tetaplah sebuah skema untuk melanggengkan kekuasaan. Secara deskriptif, pendidikan kolonial saat itu didesain untuk menciptakan kelas pekerja terdidik yang patuh, menempatkan pribumi sebagai baut-baut kecil dalam mesin besar birokrasi Hindia Belanda.
Namun, di tangan para tokoh bangsa, kebijakan ini menjadi bumerang bagi kolonial. Terjadi pergeseran epistemologis: dari perlawanan fisik yang sporadis menuju perlawanan intelektual yang sistematis. Munculnya berbagai organisasi seperti Budi Utomo hingga Muhammadiyah adalah tanda bahwa bangsa ini mulai menemukan “kesadaran diri”. Dalam narasi kebangsaan, fase ini adalah masa di mana Indonesia mulai membayangkan dirinya sebagai satu kesatuan. Sarikat Islam (SI) di bawah HOS Cokroaminoto tampil sebagai lokomotif pertama yang mampu menyatukan identitas Islam dengan aspirasi kemerdekaan secara masif, membuktikan bahwa agama adalah bahan bakar paling efektif untuk menggerakkan mesin perlawanan terhadap ketidakadilan feodal maupun kolonial.
2. Dialektika Ulama dan Organisasi: Antara Pemurnian dan Penjagaan Tradisi
Hubungan antara Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dengan Sarikat Islam mencerminkan sebuah dialektika yang kaya akan nilai kejujuran intelektual. Ketika SI mulai membawa arus “modernisasi Islam” yang cenderung menyederhanakan pemahaman agama dan mengabaikan khazanah bermadzhab, Hadratussyaikh bersikap waspada. Secara filosofis, beliau menyadari bahwa perubahan yang tercerabut dari akar tradisi (sanad) akan menghasilkan kekosongan jiwa. Beliau menulis Kaff al Awwam sebagai bentuk tanggung jawab moral seorang ulama untuk melindungi umat dari kebingungan ideologis.
Namun, narasi kebangsaan NU bukanlah narasi isolasi. Melalui korespondensi dengan Syech Ahmad Khotib Minangkabawi, Hadratussyaikh menunjukkan fleksibilitas dalam berijtihad. Beliau merangkul Cokroaminoto, berdiskusi, dan mencari titik temu. Ini adalah pelajaran filosofis tentang pentingnya dialog nasional. Meskipun terjadi perpecahan antara SI Merah dan SI Putih akibat infiltrasi ideologi asing (komunisme), para ulama tetap teguh pada prinsip bahwa Islam harus menjadi perekat sosial, bukan pemecah belah. Ketika SI bertransformasi menjadi partai politik yang meninggalkan aspirasi tradisionalis, para ulama pesantren tidak lantas mundur dari panggung kebangsaan, melainkan mulai merumuskan wadah yang lebih organik dan berakar pada tanah air.
3. Komite Hijaz dan Geopolitik Spiritual: Titik Balik Perlawanan Global
Secara filosofis, berdirinya NU pada 31 Januari 1926 adalah sebuah pernyataan kedaulatan spiritual. Ketika dunia Islam diguncang oleh jatuhnya Khilafah Utsmaniyah dan naiknya faham Wahabi di Hijaz yang mengancam pluralitas madzhab serta kelestarian situs sejarah, para ulama Nusantara tidak tinggal diam. Komite Hijaz adalah instrumen diplomasi internasional pertama yang lahir dari tangan para kiai.
Lahirnya NU bukan sekadar “reaksi” terhadap situasi di Mekah, melainkan manifestasi dari visi kebangsaan yang melampaui batas negara. Para ulama berkeyakinan bahwa menjaga makam Rasulullah dan tradisi bermadzhab adalah bagian dari menjaga marwah Islam itu sendiri. Di sini, narasi deskriptif kebangsaan NU mencapai puncaknya: NU memposisikan diri sebagai penjaga moderasi (wasathiyah). Keputusan mendirikan organisasi di bawah kepemimpinan KH. Hasyim Asy’ari, dengan dorongan kuat dari KH. Wahab Chasbullah, adalah momen di mana “Islam Tradisional” bertransformasi menjadi “Islam Organisasional” yang modern tanpa kehilangan jati dirinya.
4. Khidmat Satu Abad: Merawat Jagat, Membangun Peradaban Bangsa
Memasuki abad kedua, esensi filosofis NU tetap tidak berubah: Al-Muhafadzatu ‘ala qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (Menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi baru yang lebih baik). NU telah membuktikan bahwa mencintai tanah air adalah bagian integral dari keimanan. Dalam setiap butir pemikiran NU, NKRI bukanlah harga mati yang tanpa dasar, melainkan sebuah “Darussalam” (negeri kedamaian) yang harus dijaga dari segala bentuk ekstremisme.
Narasi deskriptif perjuangan NU selama satu abad adalah narasi tentang konsistensi. NU hadir dalam setiap krisis bangsa, mulai dari Resolusi Jihad yang membakar semangat 10 November, hingga menjadi benteng dalam menjaga Pancasila sebagai ideologi negara. Esai filosofis ini menegaskan bahwa NU akan terus istiqomah sebagai “penengah” (ummatan wasathan) di tengah tarikan ideologi global yang kian kencang. Kita tidak hanya mewarisi struktur organisasi, tetapi kita mewarisi ruh dan sirr (rahasia) perjuangan para kiai yang selalu mendahulukan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi atau golongan.
Semoga di abad kedua ini, Tebuireng dan seluruh pesantren di Nusantara terus menjadi kawah candradimuka yang melahirkan generasi-generasi penjaga sanad, pembangun peradaban, dan pelindung abadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita berdiri di pundak para raksasa sejarah, dan adalah tugas kita untuk memastikan cahaya yang mereka nyalakan tetap bersinar seribu tahun lagi.
Penulis adalah Pengasuh PP. Tebuireng, Jombang

