Ahlussunnah wal Jamaah atau Aswaja merupakan fondasi teologis, fikih, dan tasawuf yang sejak awal menjadi nafas utama pesantren di Nusantara. Sebagai manhaj yang berlandaskan ajaran Rasulullah, para sahabat, tabi’in, dan ulama salafus shalih, Aswaja hadir dengan karakter moderat, seimbang, dan inklusif. Karakter inilah yang kemudian diinternalisasikan secara mendalam dalam kehidupan pesantren, tidak hanya dalam ritual dan tradisi, tetapi juga melalui sistem kurikulum. Kurikulum pesantren dengan demikian bukan sekadar perangkat teknis dalam proses pembelajaran, melainkan instrumen ideologis yang berfungsi menjaga kemurnian ajaran Aswaja sekaligus menjawab tantangan zaman. Integrasi Aswaja dalam kurikulum pesantren adalah proses panjang yang memperlihatkan kemampuan pesantren beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan jati diri.
Sejak masa awal pertumbuhan pesantren di Nusantara, kurikulum pendidikan dirancang berdasarkan kebutuhan untuk mentransmisikan ilmu-ilmu agama yang bersumber dari tradisi Aswaja. Kitab-kitab turats karya ulama Ahlussunnah menjadi bahan ajar utama yang dipelajari dengan metode khas pesantren seperti sorogan, bandongan, hingga wetonan. Dalam bidang akidah, pesantren mengajarkan karya-karya Imam al-Asy’ari dan Imam al-Maturidi yang menekankan keseimbangan antara akal dan wahyu. Dalam bidang fikih, pesantren hampir secara konsisten mengikuti mazhab Syafi’i yang dikenal moderat dan relevan dengan kultur Nusantara. Sedangkan dalam bidang tasawuf, ajaran Imam al-Ghazali dan para sufi sunni lainnya menjadi pedoman bagi pembinaan akhlak dan spiritualitas santri. Dari sini terlihat bahwa sejak awal, kurikulum pesantren sudah mengintegrasikan Aswaja secara inheren dalam setiap struktur pembelajarannya.
Namun, perjalanan kurikulum pesantren tidak berhenti pada pengajaran ilmu-ilmu klasik semata. Seiring dengan perkembangan zaman, pesantren menghadapi kebutuhan untuk memperluas cakrawala keilmuan tanpa meninggalkan akar tradisinya. Integrasi Aswaja dalam kurikulum kemudian tidak hanya berfungsi menjaga kemurnian manhaj, tetapi juga menjadi filter sekaligus fondasi bagi proses pembaruan. Ketika sistem pendidikan modern mulai masuk ke Nusantara pada awal abad ke-20, pesantren tidak serta-merta menolak. Banyak pesantren yang mulai mengadopsi mata pelajaran umum seperti matematika, ilmu sosial, dan bahasa asing, tetapi tetap menekankan bahwa nilai-nilai Aswaja harus menjadi ruh yang mengarahkan cara pandang santri terhadap ilmu tersebut. Dengan demikian, sains dan ilmu modern dipelajari bukan dalam kerangka sekuler, melainkan sebagai sarana ibadah dan pengabdian kepada Allah, sebagaimana tafsir Aswaja terhadap hubungan antara ilmu dan agama.
Peran Nahdlatul Ulama (NU) sejak didirikan pada tahun 1926 semakin mempertegas integrasi Aswaja dalam kurikulum pesantren. NU mendorong agar pesantren tetap menjaga tradisi pengajaran kitab kuning, namun pada saat yang sama juga beradaptasi dengan sistem pendidikan formal. Lahirnya madrasah-madrasah berbasis pesantren merupakan bukti nyata dari integrasi tersebut. Dalam madrasah, kurikulum nasional yang memuat ilmu-ilmu umum dijalankan berdampingan dengan kurikulum khas pesantren yang berlandaskan Aswaja. Hal ini menciptakan sintesis yang unik, di mana santri mendapatkan kompetensi akademik modern sekaligus tetap teguh dalam tradisi Aswaja. Integrasi semacam ini membuktikan bahwa Aswaja bukanlah sistem yang kaku, melainkan fleksibel dan mampu berdialektika dengan perkembangan zaman.
Aswaja sendiri memiliki empat nilai pokok, yakni tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil). Nilai-nilai ini bukan hanya jargon teologis, melainkan juga menjadi dasar filosofis dalam penyusunan kurikulum pesantren. Misalnya, sikap tawassuth tercermin dalam pemilihan kitab-kitab yang menghindari ekstremitas, baik dalam hal akidah, hukum, maupun tasawuf. Sikap tawazun terlihat dalam keseimbangan antara ilmu agama dan ilmu umum, antara teks dan konteks, serta antara tradisi dan inovasi. Tasamuh diwujudkan dalam keterbukaan pesantren menerima perbedaan pandangan dan menghormati tradisi lokal masyarakat. Sementara i’tidal tercermin dalam sistem pendidikan yang berusaha mendidik santri menjadi pribadi yang adil, jujur, dan berakhlak. Dengan demikian, integrasi Aswaja dalam kurikulum bukan sekadar soal memasukkan mata pelajaran tertentu, tetapi lebih kepada menanamkan worldview atau cara pandang hidup yang menjadi pedoman santri.
Memasuki era kemerdekaan, kurikulum pesantren semakin berkembang. Pemerintah Indonesia mulai merumuskan sistem pendidikan nasional, dan pesantren pun dituntut untuk menyesuaikan diri. Meski demikian, pesantren tidak pernah melepaskan diri dari identitas Aswaja. Bahkan, banyak kiai yang dengan tegas menyatakan bahwa apapun bentuk pengembangan kurikulum, nilai Aswaja harus tetap menjadi intinya. Oleh sebab itu, meskipun banyak pesantren yang kini memiliki lembaga pendidikan formal dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, pengajaran kitab kuning, halaqah, dan bahtsul masail tetap dipertahankan. Melalui forum bahtsul masail, misalnya, integrasi Aswaja terlihat jelas. Para santri dilatih untuk membahas persoalan kontemporer dengan menggunakan metodologi istinbat hukum Aswaja yang berlandaskan kaidah usul fikih dan maqashid syariah. Dengan cara ini, santri tidak hanya belajar teks klasik, tetapi juga terampil dalam mengaplikasikan prinsip Aswaja untuk menjawab problem masyarakat modern.
Perkembangan teknologi informasi pada abad ke-21 menghadirkan tantangan baru bagi pesantren. Arus globalisasi dan banjir informasi membuat santri berhadapan dengan berbagai ideologi keagamaan, termasuk yang bertentangan dengan Aswaja. Di sinilah integrasi Aswaja dalam kurikulum pesantren menemukan relevansi baru. Pesantren kini mulai mengajarkan literasi digital, komunikasi massa, hingga dakwah berbasis media sosial. Akan tetapi, semua itu tetap dipandu oleh nilai-nilai Aswaja agar santri tidak terjerumus pada sikap ekstrem, intoleran, atau bahkan liberal tanpa kendali. Kurikulum pesantren yang berlandaskan Aswaja dengan demikian berfungsi sebagai benteng sekaligus kompas bagi santri dalam menghadapi kompleksitas dunia modern.
Integrasi Aswaja dalam kurikulum pesantren juga terlihat pada aspek kehidupan sehari-hari santri. Proses pendidikan di pesantren tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga di asrama, mushala, hingga dalam interaksi sosial sehari-hari. Disiplin, kepatuhan kepada kiai, penghormatan kepada guru, serta hidup sederhana merupakan bagian integral dari pendidikan Aswaja. Semua nilai ini terinternalisasi dalam pola hidup santri melalui hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi. Artinya, Aswaja tidak hanya diajarkan melalui teks kitab, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Dengan cara ini, integrasi Aswaja dalam kurikulum menjadi menyeluruh, mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Melihat perjalanan panjang ini, jelas bahwa integrasi Aswaja dalam kurikulum pesantren bukanlah sesuatu yang statis. Ia selalu bergerak sesuai dengan konteks zaman, tetapi tetap berpegang pada prinsip dasar. Dari era Walisongo hingga masa kini, pesantren berhasil menjaga keseimbangan antara mempertahankan tradisi dan melakukan inovasi. Aswaja berfungsi sebagai fondasi epistemologis sekaligus ideologis yang membuat pesantren mampu bertahan lebih dari lima abad. Di tengah dinamika global yang penuh tantangan, integrasi Aswaja dalam kurikulum pesantren akan terus menjadi kekuatan utama yang memastikan lahirnya generasi muslim yang berilmu, berakhlak, dan berkontribusi nyata bagi peradaban bangsa.
Dengan demikian, integrasi Aswaja dalam kurikulum pesantren tidak hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial. Santri yang dididik dengan kerangka Aswaja bukan hanya siap menjadi ulama, melainkan juga siap menjadi pemimpin, akademisi, profesional, bahkan aktivis yang mampu membawa nilai-nilai moderasi ke tengah masyarakat. Di tengah tantangan zaman yang terus berubah, pesantren dengan kurikulumnya yang berbasis Aswaja akan tetap menjadi benteng peradaban Islam di Nusantara, menjaga kesinambungan tradisi, dan sekaligus menawarkan jawaban atas problem kemanusiaan global.