Humor Muktamar dan Kecerdasan Emosional Warga NU

Dalam lanskap pemikiran modern, politik dan dinamika keorganisasian kerap diperlakukan sebagai ranah rasionalitas dingin yang syarat akan kalkulasi kekuasaan. Namun, di dalam kebudayaan Nahdlatul Ulama (NU), pertarungan gagasan dan kontestasi kepemimpinan—bahkan pada level tertinggi seperti Muktamar—hampir tak pernah lepas dari ledakan tawa. Humor bukan sekadar selingan atau pelipur lara di jeda persidangan, melainkan sebuah epistemologi sosial yang mencerminkan kedalaman kecerdasan emosional kolektif warga Nahdliyin.

Humor NU dapat dipahami melalui kacamata teori dekonstruksi sekaligus desakralisasi. Ketika ketegangan politik Muktamar memuncak, guyonan para kiai bertindak sebagai safety valve atau katup penyelamat. Humor membumikan hal-hal yang berpotensi menjadi konflik ideologis dogmatis menjadi ruang dialog yang lentur. Dalam tradisi pesantren, humor adalah bentuk “asketisme emosional”: sebuah kesadaran bahwa kekuasaan duniawi dan dinamika organisasi bersifat profan serta sementara. Mengertawakan situasi—bahkan mengertawakan diri sendiri (self-deprecating humor)—adalah puncak kecerdasan emosional di mana ego individu ditundukkan di bawah nilai silaturahmi.

Struktur humor Nahdliyin berakar kuat pada tradisi lisan pesantren dan nilai-nilai tasawuf. Para sarungisme tidak melihat jarak antara yang sakral dan yang jenaka. Humor Muktamar tidak lahir dari cynisme yang merusak, melainkan dari kematangan psikologis berbasis spiritualitas tawasuth (moderasi) dan tasamuh (toleransi). Ketika terjadi perbedaan pendapat yang tajam antar-kontestan atau faksi, sebuah anekdot khas kiai mampu meluluhkan resistensi emosional tanpa ada pihak yang merasa dipermalukan. Di sinilah humor berfungsi sebagai instrumen resolusi konflik yang sangat intuitif dan beradab.

Humor Muktamar menegaskan bahwa kebudayaan NU tidak dibangun di atas fondasi formalisme yang kaku, melainkan pada kehangatan kemanusiaan. Kecerdasan emosional warga NU yang tercermin dalam humor adalah manifestasi dari kearifan lokal yang berhasil menaklukkan modernitas tanpa kehilangan kegembiraan. Humor membuktikan bahwa bagi warga Nahdliyin, menjaga ukhuwah jauh lebih mendasar daripada memenangkan kontestasi formal. Tawa di arena Muktamar adalah perayaan atas ketahanan budaya, di mana perbedaan tidak pernah mampu meretakkan persaudaraan.

Estetika Majanun: Paradoks Humor Mahbub Djunaidi

Salah satu artikulator paling estetis dari humor kultural ini adalah Mahbub Djunaidi, sang Pendekar Pena. Di tangan Mahbub, kelucuan tidak menjelma menjadi celaan yang dangkal, melainkan metafora berarsitektur tinggi. Karya dan orasinya pada arena Muktamar dan panggung politik kebudayaan memancarkan satir yang subtle (halus), sebuah ironi yang dibungkus oleh kehangatan bahasa lisan Betawi-pesantren.

Mahbub pernah menulis dengan diksi yang menari di antara kenyataan pahit dan jenaka:

“Politik itu kerap kali seperti mengolah adonan roti; kadang terlalu banyak ragi hingga menggelembung kosong, atau kekurangan garam hingga tawar tak berasa. Hanya kiai dan orang gila yang sanggup tersenyum melihat roti itu hangus di dalam oven.“

Melalui retorika semacam ini, Mahbub menunjukkan betapa warga Nahdliyin memandang hiruk-pikuk pertarungan Muktamar dengan jarak kritis yang estetis. Mahbub menggunakan kecerdasan berbahasa untuk meruntuhkan tembok kesombongan elite politik. Kelucuan Mahbub adalah bentuk perlawanan terhadap formalisme yang kering. Ketika para politisi dan utusan daerah bersitegang memperebutkan kursi Rais Aam atau Ketua Umum, narasi ironik Mahbub justru membelokkan pusat perhatian dari syahwat kekuasaan menuju kesadaran diri yang telanjang. Humor di sini tidak membunuh karakter, melainkan menelanjangi kepalsuan dengan jemari puisi yang lembut.

Ekstase Sufi dan Paradoks Gus Dur: Tawa sebagai Dekonstruksi Hierarki

Jika Mahbub Djunaidi adalah penyair dari humor politik NU, maka KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah personifikasi dari humor sebagai filsafat hidup itu sendiri. Bagi Gus Dur, humor Muktamar bukan sekadar cara menenangkan suasana, melainkan strategi epistemologis untuk membongkar keangkuhan hirarki, dogmatisme, dan klaim kebenaran tunggal.

Anekdot Gus Dur tentang tipe-tipe warga NU saat menyambangi kediamannya di Jombang atau Ciganjur menjadi cermin sempurna bagaimana humor NU memandang realitas keorganisasian:

“Kalau ada warga NU datang jam 7 malam sampai jam 9 malam menceritakan NU, itu biasa—dia warga yang taat. Kalau datang jam 9 malam sampai jam 1 pagi masih bicara NU, itu artinya orang gila NU. Tapi kalau ada yang mengetuk pintu jam 2 pagi sampai subuh hanya untuk urusan NU, itu sudah pasti orang NU yang gila!”

Di balik tawa yang pecah mendengar anekdot tersebut, ada dekonstruksi mendalam terhadap fanatisme. Gus Dur mengajarkan bahwa mencintai organisasi atau paham keagamaan tidak boleh membuat seseorang kehilangan akal sehat dan ruang bagi kemanusiaan. Humor Gus Dur membebaskan manusia dari sublimasi ketakutan. Pada arena Muktamar yang riuh oleh kalkulasi suara, kehadiran dialog-dialog jenaka Gus Dur selalu berhasil menarik para peserta dari kelesuan spiritual kembali ke kedalaman intuisi yang jernih. Humor Gus Dur menegaskan sebuah prinsip: Siapa yang tidak mampu menertawakan dirinya sendiri, sesungguhnya ia sedang menganggap dirinya sebagai tuhan kecil.

Kebisaan yang Sunyi: Humor Kyai Habib Tremas dan Wali Kampung

Di samping para figur publik berkaliber nasional, kekuatan paling murni dari humor Nahdliyin berada di akar rumput: pada nalar jenaka para kiai pesantren dan kiai kampung. Merekalah penjaga nyala kehangatan spiritual di tengah dinamika lokal.

Sebut saja kepribadian khas KH. Habib Dimyathi (Kiai Habib Tremas) atau para sesepuh pesantren salaf lainnya. Dalam kesederhanaan hidup dan keheningan uzlah spiritualnya, para kiai ini memiliki cara unik merespons ketegangan sosial maupun konflik internal Muktamar. Humor mereka tidak berlandaskan pada teori-teori retorika modern, melainkan pada kejujuran batin dan kepasrahan total (tawakkal).

Suatu ketika dalam hiruk-pikuk persiapan sebuah arena musyawarah yang dihadiri para pejabat dan penguasa, seorang kiai kampung ditanya oleh santrinya yang cemas melihat ketegangan politik dan kepungangan massa:

“Kiai, bagaimana jika keputusan Muktamar kali ini salah dan membuat organisasi kita hancur?”

Sang Kiai hanya tersenyum sambil menyruput kopi hitamnya yang pekat, lalu menjawab lirih:

“Gusti Allah itu tidak tidur, Kang. Jangankan urusan Muktamar yang diurus oleh ribuan kiai, urusan cacing di dalam tanah yang gelap saja tidak pernah tertukar rezekinya. Kenapa kamu yang baru belajar membaca Al-Fatihah justru berlagak mau menggantikan peran Tuhan?”

Kelucuan kiai kampung adalah kepasrahan yang sublim. Ia mengandung ridha (kerelaan) dan kesadaran kosmologis bahwa di atas segala kalkulasi politik manusia, ada takdir Ilahi yang mengalir lembut. Kelakar mereka bukan bentuk ketidakpedulian, melainkan puncak pembebasan emosional dari rasa cemas berlebihan (hyper-anxiety). Dalam tradisi NU, kiai kampung adalah penyangga moral yang merawat kestabilan mental umat dengan humor-humor yang menyejukkan bagai embun pagi.

Anekdot Lucu ala NU: Kecerdasan Emosional di Arena Muktamar

Ketegangan di Muktamar sering kali berada pada titik nadir ketika pemilihan kepemimpinan atau perdebatan bahtsul masail (pembahasan masalah keagamaan) memanas. Di titik kritis inilah, anekdot khas NU bekerja bak sihir kebudayaan.

Alkisah pada sebuah Muktamar, dua faksi persidangan terlibat perdebatan sengit mengenai hukum penggunaan teknologi modern dalam ibadah. Suasana sidang Pleno memanas, interupsi bertubi-tubi dilayangkan dengan urat leher yang tegang. Tiba-tiba seorang kiai sepuh berdiri menuju mikrofon. Dengan sarung yang sedikit terangkat dan peci miring khas santri, beliau berkata:

“Para kyai yang saya hormati, kalau kita bertengkar terlalu keras soal hukum mikrofon ini haram atau halal untuk adzan, saya takut mikrofonnya sendiri yang memilih murtad dan mogok menyala. Kasihan pengeras suaranya, dia tidak punya dosa tapi harus mendengarkan kita yang merasa paling tahu isi surga.”

Ruang sidang yang tadinya mencekam seketika meledak dalam gelak tawa. Ketegangan mencair dalam hitungan detik. Kiai tersebut tidak menyelesaikan masalah hukum dengan dalil yang rumit, melainkan dengan memulihkan kecerdasan emosional forum. Ia mengingatkan para peserta bahwa di atas kerumitan metodologi hukum (istinbath al-hukm), ada etika persaudaraan (ukhuwah) yang jauh lebih tinggi nilainya.

Humor dalam Muktamar NU dengan demikian bertindak sebagai epistemik humor: sebuah mekanisme kognitif untuk memetakan kembali mana yang merupakan tujuan utama dan mana yang sekadar sarana.

Kegembiraan sebagai Warisan Strategis

Humor Muktamar Nahdlatul Ulama adalah sebuah kesaksian filsafat kebudayaan yang agung. Ia membuktikan bahwa kecerdasan emosional warga NU tidak lahir dari teori-teori psikologi Barat kontemporer, melainkan dari kedalaman tradisi spiritual Islam Nusantara yang dihidupi selama berabad-abad.

Di dalam tawa para kiai, terkandung sintesis antara rasa humor yang tinggi dan kematangan emosi yang paripurna. Humor mengajarkan kita untuk tidak jatuh dalam perangkap kesombongan intelektual dan politik. Ia menjaga agar tradisi tetap bernapas, agar keagamaan tidak berubah menjadi beban ketakutan yang menekan, dan agar organisasi tetap menjelma menjadi rumah bersama yang hangat.

Selama Muktamar NU masih digetarkan oleh gelak tawa—baik dari kutipan tajam ala Mahbub Djunaidi, anekdot dekonstruktif Gus Dur, maupun kearifan lirih kiai kampung—maka selama itu pula kebudayaan Nahdliyin akan tetap kokoh. Tawa itu adalah kompas moral, sebuah perayaan atas ketahanan batin, di mana dalam setiap hembusan napas keagamaan warga NU, kekuasaan boleh datang dan pergi, namun persaudaraan dan kegembiraan spiritual akan abadi selamanya.

Related Articles

Artikel baru