Dirosah An-Nahdliyyah: Mengapa NU Bisa Menjadi Kekuatan Geopolitik Melampaui Iran ?

Mengapa negara seperti Iran, dengan jumlah penduduk Syiah yang relatif kecil di dunia Islam, mampu menjadi aktor penting dalam percaturan global, sementara Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di dunia dengan jaringan puluhan juta pengikut, justru lebih banyak menghabiskan energinya untuk mengurus birokrasi internal dan kegiatan seremonial?

Pertanyaan ini bukan untuk membandingkan mazhab, apalagi mengagungkan sistem politik tertentu. Ini adalah pertanyaan tentang bagaimana sebuah gagasan diorganisasikan menjadi kekuatan geostrategi.

Iran membangun dirinya dari sebuah fondasi yang sederhana, keyakinan, pengetahuan, ideologi, lalu gerakan. Dari situ lahir kesadaran kolektif yang akhirnya membentuk kekuatan negara.

Kalau rumus itu dipakai untuk membaca NU, sesungguhnya NU memiliki modal yang jauh lebih besar.

NU memiliki sistem keyakinan yang kokoh. Tradisi Ahlussunnah wal Jamaah bukan sekadar doktrin akidah dan ritual, tetapi sebuah cara memandang kehidupan. Di dalamnya ada fikih, tasawuf, akhlak, penghormatan terhadap ilmu, politik kebangsaan dan tata dunia global (Islam rahmatan lil alamin).

Dari sistem keyakinan itu lahirlah tradisi pengetahuan. Pesantren, bahtsul masail, kitab kuning, sanad keilmuan, dan budaya mengaji telah melahirkan apa yang dalam ilmu sosial disebut sebagai “school of thought”. NU bukan hanya mengajarkan apa yang benar, tetapi juga bagaimana cara berpikir.

Lalu pengetahuan itu bergerak menjadi ideologi sosial. Resolusi Jihad 1945 adalah buktinya. Fatwa ulama berubah menjadi energi perlawanan yang menggerakkan rakyat mempertahankan Indonesia.

Kemudian ideologi itu menjelma menjadi budaya. Tahlilan, istigasah, selametan, gotong royong, hormat kepada guru, hingga tradisi moderasi adalah bentuk dari kesadaran kolektif yang diwariskan lintas generasi.

Artinya, NU sesungguhnya bukan organisasi biasa. NU adalah mesin peradaban. Masalahnya, mesin besar ini seperti sengaja diparkir.

Hari ini NU terlalu sering dipahami hanya sebagai organisasi sosial-keagamaan. Padahal, para pendirinya membangun NU sebagai benteng akidah, penjaga bangsa, sekaligus pembela rakyat.

Ada tiga identitas yang menjadi fondasi NU. Pertama, religius. Seluruh gerakannya berpijak pada nilai-nilai agama.

Kedua, nasionalis. Para kiai pendiri NU menerima Indonesia sebagai rumah bersama yang wajib dipertahankan.

Ketiga, populis. Basis NU adalah rakyat kecil, petani, nelayan, buruh, pedagang pasar, dan kaum pinggiran.

Di sinilah NU sebenarnya berhadapan dengan arus besar kapitalisme global. Kapitalisme modern tidak terlalu peduli pada agama. Ia mengubah manusia menjadi konsumen.

Kapitalisme juga tidak terlalu menyukai nasionalisme. Ia lebih nyaman dengan dunia tanpa batas, di mana modal bisa bergerak bebas tanpa terikat identitas bangsa.

Dan kapitalisme jelas tidak pernah benar-benar berpihak kepada rakyat kecil. Ia menciptakan pertumbuhan, tetapi sering kali memperlebar jurang ketimpangan. Karena itu, NU pada hakikatnya membawa narasi tandingan terhadap sistem dunia yang hari ini terasa semakin tidak adil.

Sayangnya, energi besar itu justru banyak dihabiskan untuk perebutan jabatan, konflik internal, dan politik jangka pendek. Padahal, kalau seluruh infrastruktur NU dikonsolidasikan, hasilnya akan sangat dahsyat.

Bayangkan jika ribuan pesantren menjadi pusat produksi ilmu pengetahuan, jutaan santri menjadi kader intelektual, jaringan masjid dan majelis taklim menjadi ruang konsolidasi sosial, lembaga ekonomi NU menjadi basis kemandirian umat dan universitas-universitas NU menjadi pusat riset dan inovasi.

Lalu semuanya digerakkan oleh satu visi besar, membangun peradaban yang berlandaskan agama, kebangsaan, dan keberpihakan kepada rakyat. Kekuatan seperti ini bahkan belum tentu dimiliki oleh banyak negara.

Selama ini, kita terlalu sering membanggakan bahwa NU adalah organisasi Islam terbesar di dunia. Tetapi kebesaran jumlah tidak otomatis menjadi kebesaran pengaruh. Singa yang tertidur tetap kalah oleh serigala yang berburu.

Mungkin inilah saatnya NU berhenti merasa cukup menjadi penjaga tradisi. Tradisi memang harus dirawat, tetapi tradisi juga harus menjadi energi transformasi.

Kita tidak sedang merindukan NU yang sekadar ramai di panggung-panggung peringatan haul dan majelis taklim. Kita merindukan NU yang suaranya didengar ketika dunia berbicara tentang perdamaian, ekonomi, teknologi, lingkungan, dan keadilan global. Kita merindukan NU yang bergerak dari teologi menuju geostrategi.

Sebab, jika warisan intelektual dan spiritual satu abad NU benar-benar dihidupkan kembali, maka yang lahir bukan hanya organisasi yang besar. Yang lahir adalah sebuah kekuatan peradaban.

Dan bukan tidak mungkin, pengaruhnya akan jauh melampaui apa yang hari ini berhasil dibangun oleh Iran. Bukan karena kekuatan senjata, tetapi karena kekuatan gagasan, jaringan sosial, dan legitimasi moral yang berakar di hati rakyat.

[] @Dirosah An-Nahdliyyah.

Khariri Makmun
Khariri Makmun
Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat & Pengasuh Pesantren Algebra, Ciawi-Bogor

Related Articles

Artikel baru