“Ruhnya Nahdlatul Ulama adalah akhlak. Ketika akhlak itu ditarik dari tubuhnya, maka jam’iyah ini hanya akan menjadi seonggok daging birokrasi politik yang kehilangan sasmita gaibnya.”
Dalam bentang sejarah spiritual Nusantara, Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar sebuah organisasi kemasyarakatan dengan jutaan anggota. Ia adalah sebuah tatanan epistemik dan laku sufistik yang mewujud dalam realitas sosial. Ketika dunia modern hari ini terjebak dalam pendangkalan moral—di mana agama kerap kali diperalat menjadi komoditas politik dan instrumen kekuasaan—kita mendadak mengalami kelangkaan keteladanan.
Pada titik genting menjelang Muktamar inilah, kita harus kembali membuka kitab kehidupan para leluhur, memutar kompas spiritual kita, dan pulang untuk berguru akhlak pada empat poros pemikiran dan laku hidup Kiai Khos NU: KHR. As’ad Syamsul Arifin, KH. Achmad Siddiq, KH. Mahrus Ali, dan KH. Ali Maksum.
Melalui fragmen kehidupan keempat pilar ini, kita akan membedah bagaimana akhlak bukan sekadar etika normatif yang tertulis di atas kitab kuning, melainkan sebuah manifestasi teologis yang hidup, bergerak, dan mentransformasi zaman.
Kiai As’ad Syamsul Arifin: Akhlak Ketegasan dan Penjaga Amanat Tauhid
Jika akhlak sering kali disalahartikan sebagai sikap tunduk tanpa posisi, maka dari KHR. As’ad Syamsul Arifin (Situbondo) kita belajar bahwa puncak tertinggi dari akhlak adalah kesetiaan pada amanat tauhid dan ketegasan dalam menegakkan kebenaran.
KHR. As’ad Syamsul Arifin adalah pelaku sejarah yang berjalan kaki membawa tongkat dan tasbih amanat dari Syaikhona Kholil Bangkalan untuk Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari sebagai isyarah berdirinya NU. Kedalaman akhlak KHR. As’ad Syamsul Arifin mewujud dalam bentuk khidmah (pengabdian) tanpa batas kepada guru. Baginya, perintah guru adalah titah langit yang tak boleh meleset satu jengkal pun.
Namun, akhlak KHR. As’ad Syamsul Arifin juga adalah akhlak perlawanan yang berbasis pada tanggung jawab umat. Ketika Pancasila diwacanakan sebagai asas tunggal, KHR. As’ad Syamsul Arifin tidak serta-merta tunduk karena pragmatisme politik, melainkan melakukan ijtihad batin yang mendalam. Ketegasannya legendaris:
“Pancasila itu adalah sila-sila yang islami, menerima Pancasila bukan berarti mengganti syariat.”
Dari KHR. As’ad Syamsul Arifin, kaum nahdliyin belajar arti Akhlakul Karimah dalam Politik: Tegas bagai karang ketika prinsip tauhid dan maslahat umat diganggu, namun runtuh dan tunduk dalam ketakziman total di hadapan para kekasih Allah. Ia mengajarkan bahwa pemimpin yang berakhlak tidak akan pernah menjual martabat umat demi sejumput kekuasaan fana.
Kiai Achmad Siddiq: Akhlak Konseptual dan Kedamaian Ukhuwah

Jika KHR. As’ad Syamsul Arifin adalah benteng ketegasan, maka KH. Achmad Siddiq (Jember) adalah arsitek konseptual yang menerjemahkan spiritualitas NU ke dalam nalar kebangsaan yang teduh. Dari beliau, kita belajar tentang akhlak intelektual yang mendamaikan.
KH. Achmad Siddiq adalah sosok yang merumuskan trilogi ukhuwah: Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathaniyah, dan Ukhuwah Basyariyah. Ini bukan sekadar diksi politis, melainkan sebuah penjelajahan teologis yang melampaui sekat-sekat dogmatis yang kaku.
Ketika Nahdlatul Ulama berhasil kembali ke Khittah 1926 pada Muktamar Situbondo 1984, KH. Achmad Siddiq menunjukkan akhlak kepemimpinan yang luar biasa. Beliau menolak cara-cara konfrontatif. Beliau merangkul semua faksi, berdialog dengan negara tanpa kehilangan independensi ulama, dan menjinakkan ketegangan sosial melalui kelembutan bahasa.
KH. Achmad Siddiq membuktikan bahwa merangkul perbedaan bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda kematangan spiritual. Akhlak beliau adalah antitesis dari radikalisme verbal yang hari ini marak di media sosial.
Kiai Mahrus Ali: Akhlak Kedisplinan, Keberanian, dan Pengayoman Keduniaan

Dari bumi Lirboyo, Kediri, KH. Mahrus Ali tegak berdiri sebagai simbol dari akhlak kedisplinan ilmu (riyadah) dan pengayoman terhadap realitas keduniaan tanpa kehilangan basis ukhrawi.
KH. Mahrus Ali dikenal sebagai kiai yang disiplin, singa podium yang berwibawa, namun sekaligus figur ayah yang sangat mencintai santri-santrinya. Akhlak beliau berakar pada laku hidup yang istikamah dalam mengajar. Baginya, mendidik adalah jihad yang paling utama.
Di sisi lain, KH. Mahrus Ali mengajarkan akhlak keberanian sosial. Beliau terlibat aktif dalam mengawal komando pertahanan negara (resolusi jihad) dan menghadapi pergolakan politik lokal dengan kepala tegak.
Kiai Ali Maksum: Akhlak Keterbukaan, Kesederhanaan, dan Dialog Humoris

Matahari dari Krapyak, Yogyakarta, KH. Ali Maksum melengkapi kuartet akhlak ini dengan warna keterbukaan (inclusivity), kesederhanaan hidup, dan pendekatan dialogis yang cair.
KH. Ali Maksum adalah maestro dalam mencairkan kebekuan. Di tangan beliau, syariat yang sering dikesankan kaku dan menakutkan berubah menjadi penuntun hidup yang ramah dan penuh humor.
“Jangan merasa paling benar sendiri. Kebenaran ilmu itu luas, tampung dulu, baru kita diskusikan dengan kepala dingin.”
Jalinan Epistemologi Akhlak Empat Poros Penjaga Zaman
Jika kita menguliti lapisan-lapisan historis secara deskriptif, kita akan menemukan sebuah konvergensi epistemologis yang memukau dari keempat Kiai Khos ini. Akhlak dalam tradisi besar Nahdlatul Ulama bukanlah etika yang berdiri di ruang hampa, melainkan sebuah ekosistem pemikiran dan laku hidup yang saling menggenapi secara dialektis.
KHR. As’ad Syamsul Arifin meletakkan fondasi akhlak pada prinsip ketegasan moral dan penjagaan amanat. KH. Achmad Siddiq melalui epistemologi ukhuwah dan perdamaian konseptual. KH. Mahrus Ali membawa kedisplinan batin (riyadah) dan pengayoman sosial yang berani. KH. Ali Maksum menyempurnakan melalui keterbukaan yang ramah dan dialog humonistis.
Pulang ke Akar Spiritual
Berguru akhlak pada keempat Kiai Khos ini membawa kita pada satu kesimpulan filsafat yang mendalam: Akhlak NU bukanlah konsep pasif yang menjauh dari dunia, melainkan sebuah keterlibatan aktif di dalam sejarah dengan hati yang terus terpaut pada Gusti Allah.
Kiai As’ad memberikan kita pedang ketegasan; Kiai Achmad Siddiq memberikan kita kompas kedamaian; Kiai Mahrus Ali memberikan kita perisai kedisplinan; dan Kiai Ali Maksum memberikan kita jubah keterbukan.
Perjalanan pulang menuju akhlak mereka adalah satu-satunya jalan keselamatan bagi masa depan jam’iyah dan bangsa ini.

