Di berbagai pesantren di Indonesia, Hizib Hirzul Jausyan telah menjadi salah satu amaliah yang diwariskan secara turun-temurun melalui jalur ijazah. Di sebagian pesantren, hizib ini dibaca sebagai wirid harian, sementara di tempat lain diamalkan pada waktu-waktu tertentu sesuai bimbingan para masyayikh. Bagi para santri, hizib ini bukan sekadar rangkaian doa, tetapi juga bagian dari tradisi spiritual yang menghubungkan murid dengan para gurunya.
Di lingkungan Nahdlatul Ulama, penyebaran Hizib Hirzul Jausyan di Nusantara erat kaitannya dengan Syekh Musthofa Lasem atau Mbah Topo Lasem. Beliau mengijazahkan hizib tersebut kepada KH. Mahrus Ali Lirboyo, yang kemudian mengajarkannya kepada para santri. Melalui jaringan alumni Pesantren Lirboyo, Hizib Hirzul Jausyan akhirnya menyebar luas dan menjadi salah satu amaliah yang hidup di banyak pesantren. Dalam mukadimah Hizbu Hirzil Jausyan, KH. Mahrus Ali juga menjelaskan bahwa beliau menerima ijazah tersebut langsung dari Mbah Topo Lasem, yang berpesan agar hizib ini diamalkan bukan hanya sebagai doa perlindungan, tetapi juga sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan memohon penjagaan-Nya.
Meski telah dikenal luas, asal-usul Hizib Hirzul Jausyan masih sering menjadi perbincangan. Sebagian masyarakat menganggapnya berasal dari tradisi Syiah Imamiyah karena teks Jawsyan al-Kabir banyak ditemukan dalam literatur mereka. Sebagian lain memandangnya sebagai warisan para ulama tasawuf yang berkembang di kalangan Ahlussunnah, sementara ada pula yang mengira hizib ini sejak awal merupakan bagian dari tradisi pesantren Nusantara.
Lantas, bagaimana sebenarnya sejarah Hizib Hirzul Jausyan? Benarkah ia berasal dari tradisi Syiah, ataukah memiliki jejak sejarah yang lebih panjang?
Tulisan ini mengajak pembaca menelusuri asal-usul Hizib Hirzul Jausyan melalui berbagai sumber klasik, baik dari literatur Sunni maupun Syiah. Tujuannya bukan untuk mempertentangkan mazhab, melainkan memahami perjalanan sejarah sebuah doa—mulai dari kemunculan, proses transmisi, hingga diterima sebagai bagian dari khazanah amaliah di pesantren Nusantara.
Mengenal Makna dan Istilah
Secara bahasa, kata ḥirz (حرز) berarti benteng, perlindungan, atau penjagaan. Adapun jawsyan (جوشن) berarti baju zirah atau baju perang yang dikenakan untuk melindungi tubuh dari serangan musuh. Dari dua kata inilah istilah Hirzul Jawsyan dipahami sebagai “doa perlindungan yang laksana baju zirah”—sebuah munajat yang dipanjatkan kepada Allah untuk memohon penjagaan dari berbagai marabahaya.
Karena doa ini memuat sangat banyak Asmaul Husna dan sifat-sifat mulia Allah, ia juga dikenal dengan sebutan Doa Seribu Satu Nama (Du’a al-Alf Ism wa Ism). Dalam tradisi Syiah Imamiyah, doa ini lebih populer dengan nama Jawsyan al-Kabir (الجوشن الكبير).
Menurut riwayat yang berkembang di kalangan Syiah, doa ini dibawa oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad ﷺ saat beliau mengenakan baju zirah dalam sebuah peperangan. Jibril kemudian memerintahkan Nabi melepas zirah tersebut dan menggantinya dengan doa berisi pujian kepada Allah, sebagai perlindungan yang lebih hakiki. Dari kisah inilah nama Jawsyan dinisbatkan kepada doa ini.
Jejak Awal dalam Literatur Islam
Penelusuran terhadap kitab-kitab klasik menunjukkan fakta yang menarik: istilah “Doa Seribu Satu Nama” telah dikenal jauh sebelum kemunculan Jawsyan al-Kabir dalam literatur Syiah Imamiyah.
Salah satu ulama yang menyinggungnya adalah Imam al-Khaththabi (wafat 388 H) dalam kitab Sya’n al-Du’a (hal 16):
وقد أُولعَ كثيرٌ من العامَّةِ بأدْعِيَةٍ مُنْكَرةٍ اختَرَعُوها، وأسماءٍ سَمَّوْها، ما أنزلَ الله بِها من سُلطانٍ وقد يوجَدُ في أيديهمْ دستورٌ من الأسماء، والأدعيةِ يُسَمَّوْنَه: “الألفَ الاسم”. صَنَعَهَا لهُمْ بعضُ المُتكَلِّفِين مِن أهل الجَهْلِ، والجُرأةِ على الله، عزَّ، وجل، أكثرُها زورٌ، وافتراء على اللهِ، عز، وجل، فَلْيَجتنبْهَا الدَّاعي إلا ما وافقَ منها الصوابَ. إنْ شاء الله، تعالى.
Beliau mengkritik beredarnya doa-doa yang disusun masyarakat tanpa dasar riwayat yang jelas, yang kemudian diberi nama “al-Alf al-Ism” (Seribu Nama).
Kritik serupa disampaikan kembali oleh Imam al-Shaghani (wafat 650 H) dalam al-Mawḍu’at (hal 75):
وكذا الاعتناء بألف اسم واسم، يدعو بعض العوام بها، ولم يرد فيها خبر ولا أثر عن السّلف الصالحين وأئمة الهدى، بل بعضها كفر، إذ أسماء الله تعالى توقيفية لا يجوز لنا أن ندعُو إلا بما ورد في الكتاب والسّنة، فنقُول: يا كريم ولا نقُول: يا سخيّ، ونقول: يا قديم، ولا نقُول: يا عتيق، ونقول: يا عالم ولا نقول: يا عاقل، فافهم ترشد
Keterangan yang hampir identik juga ditemukan dalam Kasyf al-Khafa’ karya al-‘Ajluni (juz 2/417):
وكذا الاعتناء بألف اسم واسم واحد يدعون بعض العوام بها ولم يرد فيها خبر ولا أثر عن السّلف الصالح وأئمة الهدى، بل بعضها كفر لأن أسماء الله تعالى توقيفية لا يجوز لنا أن ندعو إلا بما ورد في الكتاب والسنة، فنقول: يا كريم ولا نقول: يا سخيّ، ونقول: يا عالم ولا نقول: يا عاقل
Ketiga catatan ulama hadis di atas menegaskan satu hal penting: konsep “Doa Seribu Satu Nama” telah beredar di tengah masyarakat Muslim sejak masa yang cukup awal. Yang menjadi perhatian para ulama bukanlah semata isi atau kandungan doanya, melainkan pentingnya memastikan sumber dan sanad sebelum menisbatkan sebuah doa kepada Nabi ﷺ atau ulama terdahulu.
Kemunculan Jawsyan al-Kabir dalam Literatur Syiah
Adapun teks lengkap yang dikenal sebagai Jawsyan al-Kabir dalam bentuknya yang kita kenal sekarang, baru ditemukan secara jelas pada awal abad ke-10 Hijriah, melalui karya Syekh Ibrahim al-Kaf’ami (wafat 905 H): al-Balad al-Amin (hlm. 544) dan al-Misbah (hlm. 287). Dari kedua kitab inilah doa tersebut kemudian dikenal luas dalam tradisi Imamiyah. Menariknya, al-Kaf’ami sendiri tidak menjelaskan dari mana ia memperoleh doa tersebut, dan tidak menyebutkan sanad periwayatannya sama sekali.
Muncul pertanyaan: apakah sebelum al-Kaf’ami doa ini sudah dikenal? Sebagian penulis mengaitkannya dengan kitab Muhaj al-Da’awat karya Sayyid Ibnu Thawus (wafat 664 H). Namun penelitian naskah menunjukkan bahwa doa dalam kitab tersebut berbeda susunan dan redaksinya dengan Jawsyan al-Kabir yang dikenal sekarang. Doa yang terdapat dalam Muhaj al-Da’awat itu justru lebih dikenal dalam tradisi Syiah sebagai Jawsyan al-Shaghir.
Bahkan Al-‘Allamah al-Majlisi (wafat 1111 H) sendiri—ulama besar Syiah—menilai bahwa penisbatan Jawsyan al-Kabir kepada Ibnu Thawus tidak dapat dipastikan, karena bagian tersebut diduga merupakan tambahan penyalin naskah pada masa berikutnya. Temuan manuskrip-manuskrip tua turut mendukung kesimpulan ini, sebab bagian tersebut tidak ditemukan dalam naskah-naskah yang lebih awal. Al-Majlisi sendiri mencatat dalam Bihar al-Anwar (juz 94, hal 382):
ومن الأدعية المعروفة دعاء الجوشن الكبير وهو مرويّ عن النبيّ رواه جماعة من متأخّري أصحابنا
Ungkapan “diriwayatkan oleh sekelompok ulama kami yang datang belakangan” (muta’akhkhirīn) ini justru menunjukkan bahwa doa tersebut tidak dikenal sama sekali di kalangan Muslim pada abad-abad awal.
Sebuah kajian yang lebih rinci yang dilakukan Haydar Hubbullah menjelaskan runutan historisnya sebagai berikut:
وقد ألمح إلى دعاء الجوشن عموماً السيدُ ابن طاووس (664هـ) في كتابه (مهج الدعوات: 217 ـ 232)، من دون أن يكون هناك وضوح إطلاقاً في كونه يقصد دعاء الجوشن الكبير. وعليه فالمعروف بين العلماء والباحثين ـ وهو الصحيح ـ أنّ المصدر الأساس والأقدم لهذا الدعاء الموجود بين أيدينا اليوم يرجع للقرن العاشر الهجري، وهو الشيخ الكفعمي (905هـ)… وهذا يعني أنّ هذا الدعاء لا أثر له قبل القرن العاشر الهجري، والكفعمي وغيره لم ينقلوا له أيّ مصدر فضلاً عن أيّ سند على الإطلاق! ومن الواضح أنّ هذا الدعاء لا عينَ له ولا أثر في كتب الحديث أو الآداب عند عموم المسلمين من سائر المذاهب
Terkait pengkhususan doa ini untuk malam-malam Lailatul Qadar, Syekh Abbas al-Qummi (wafat 1359 H) juga mengakui tidak adanya hadis yang secara khusus mengaitkannya dengan malam-malam tersebut. Menurutnya, doa ini lebih bersifat umum untuk seluruh malam bulan Ramadhan (Mafatih al-Jinan, hlm. 125), meski beberapa catatan al-Majlisi dalam Zad al-Ma’ad (hlm. 127) sempat mengindikasikan sebaliknya.
Bahkan ulama kontemporer sekelas Ayatullah Ali al-Sistani turut memberikan penjelasan kritis serupa saat ditanya tentang riwayat Jawsyan al-Kabir:
السؤال: ما مدى صحّة الرواية على أنّ دعاء الجوشن قد هبط به جبرائيل على النبيّ؟ وهل ذكر الدعاء به في خصوص ليالي القدر؟ الجواب: لم ترد بهذا المضمون رواية صحيحة، ولكن المناط في جواز قراءة الأدعية ليس صحّة استنادها إلى المعصوم، بل صحّة مضامينها، فإن صحّت المضامين جازت قراءتها حتى لو لم يعلم استنادها إلى المعصوم
Jawaban ini menegaskan bahwa meskipun riwayat sahih tentang asal-usul doa ini tidak ditemukan, kebolehan membacanya tetap dapat dipertahankan sepanjang kandungan maknanya sesuai dengan ajaran Islam—terlepas dari kuat-lemahnya sanad.
Fakta-fakta di atas memperlihatkan sesuatu yang penting: kajian kritis terhadap sejarah Jawsyan al-Kabir bukan monopoli para peneliti Sunni. Para ulama Syiah sendiri turut mengkajinya secara serius dan objektif, tanpa rasa sungkan untuk mempertanyakan sanad dan sumbernya.
Dari Timur Tengah ke Pesantren Nusantara
Bagaimana doa yang lahir dan berkembang di Timur Tengah ini akhirnya sampai dan mengakar di pesantren-pesantren Indonesia? Jawabannya terletak pada jalur transmisi keilmuan klasik: sanad, ijazah, dan pengajaran langsung dari guru kepada murid.
KH. Mahrus Ali Lirboyo menjadi salah satu simpul penting yang menghubungkan tradisi ini dengan Nusantara. Melalui beliau, Hizib Hirzul Jausyan diijazahkan kepada para santri, kemudian diteruskan oleh para alumni hingga menyebar luas dan diamalkan di berbagai pesantren, majelis taklim, hingga di tengah masyarakat umum.
Fenomena ini memperlihatkan pola yang lazim dalam sejarah keilmuan Islam: sebuah teks yang lahir di satu wilayah dapat diterima, diajarkan, dan akhirnya menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi keagamaan di wilayah lain—semuanya berlangsung melalui proses transmisi, ijazah, dan pengajaran para ulama yang panjang dan berkesinambungan.
Penutup: Menghormati Tradisi, Merawat Ilmu
Menelusuri sejarah Hizib Hirzul Jausyan bukanlah upaya untuk memperdebatkan mazhab, apalagi menilai benar atau salahnya suatu amalan. Kajian sejarah semacam ini justru bertujuan untuk memahami bagaimana sebuah teks lahir, berkembang, berpindah antarkomunitas, hingga akhirnya memperoleh tempat dalam kehidupan keagamaan umat Islam—termasuk di lingkungan pesantren kita.
Sebagaimana kaidah yang sering dikutip para ulama:
الحكم على الشيء فرعٌ عن تصوره
“Memberikan penilaian terhadap sesuatu harus didahului dengan pemahaman yang utuh tentangnya.”
Tradisi pesantren sejak dahulu mengajarkan agar setiap amalan dipelajari dengan adab dan ilmu yang memadai. Menghormati para ulama—termasuk jasa besar Mbah Topo Lasem dan KH. Mahrus Ali Lirboyo dalam menghidupkan amaliah ini—tidak berarti menutup pintu penelitian sejarah, sebagaimana melakukan kajian sejarah juga bukan berarti merendahkan amaliah yang telah diwariskan secara turun-temurun. Keduanya justru saling melengkapi, agar khazanah keilmuan Islam yang kita jaga di pesantren dapat terus hidup, dipahami secara mendalam, dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Rujukan
- Al-‘Ajluni, Isma’il ibn Muhammad. Kashf al-Khafa’ wa Muzil al-Ilbas ‘Amma Isytahara min al-Ahadits ‘ala Alsinah al-Nas. Kairo: Maktabah al-Qudsi, 1351 H.
- Al-Kaf’ami, Taqi al-Din Ibrahim ibn ‘Ali. Al-Balad al-Amin wa al-Dir’ al-Hasin. Beirut: Mu’assasah al-A’la li al-Matbu’at, 1997.
- ———. Al-Misbah (Junnah al-Aman al-Waqiyah wa Junnah al-Iman al-Baqiyah). Beirut: Mu’assasah al-Nu’man li al-Tiba’ah, 1992.
- Al-Khaththabi, Abu Sulaiman Hamd ibn Muhammad. Sya’n al-Du’a. Editor Ahmad Yusuf al-Daqqaq. Cet. III. Beirut: Dar al-Thaqafah al-‘Arabiyyah, 1992.
- Al-Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar al-Jami’ah li Durar Akhbar al-A’immah al-Athar. Beirut: Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi.
- Al-Shaghani, Radi al-Din al-Hasan ibn Muhammad. Al-Mawdu’at. Ed. Najm ‘Abd al-Rahman Khalaf. Cet. II. Beirut: Dar al-Ma’mun li al-Turath, 1405 H.
- Ali, Mahrus. Hizbu Hirzil Jausyan. Kediri: Pondok Pesantren Lirboyo, 2015.
- NU Online. “Syekh Musthofa atau Mbah Topo Lasem, Pembawa Wirid Hirzul Jausyan ke Nusantara.” Diakses dari: https://www.nu.or.id/daerah/syekh-musthofa-atau-mbah-topo-lasem-pembawa-wirid-hirzul-jausyan-ke-nusantara-1j6Os
- Hobbollah Center. “Al-Mawqif min Du’a’ al-Jawsyan al-Kabir.” Diakses dari: https://hobbollah.com/p/43991/%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%88%D9%82%D9%81-%D9%85%D9%86-%D8%AF%D8%B9%D8%A7%D8%A1-%D8%A7%D9%84%D8%AC%D9%88%D8%B4%D9%86-%D8%A7%D9%84%D9%83%D8%A8%D9%8A%D8%B1
- Hirzul Jausyan Lirboyo, KH Mahrus Ali

