Apakah Islam dan Sosialisme Kompatibel?

(Belajar dari Pergulatan Gagasan H.O.S. Tjokroaminoto dan Haji Misbach)

Pidato kemenangan Zohran Mamdani dalam pemilihan Wali Kota New York, yang menyatakan bahwa ia adalah seorang Muslim sekaligus sosialis, membuat saya tergelitik untuk bertanya: apakah Islam dan sosialisme itu kompatibel?

Berikut selengkapnya kata-kata Mamdani terkait hal itu:

“I am young, despite my best efforts to grow older. I am Muslim. I am a democratic socialist. And most damning of all, I refuse to apologize for any of this.”
(The Guardian, diakses 17/11/2025)

Artinya kurang lebih adalah bahwa Zohran Mamdani mengakui dua pandangan hidup dan keyakinan yang melatarbelakanginya, yaitu Islam dan sosialisme. Walaupun di Amerika Serikat kedua pandangan hidup dan keyakinan tersebut kerap dianggap terkutuk, ia menolak untuk mengikuti pandangan umum itu.

Hal ini sebenarnya bukanlah hal baru di Indonesia: seorang Muslim sekaligus sosialis, dan dengan usia yang sangat muda. Sejak awal abad ke-20, ketika Hindia Belanda ramai oleh gerakan kebangsaan dan serikat buruh, banyak tokoh Muslim bergulat dengan gagasan “keadilan sosial” yang kerap diidentikkan dengan sosialisme. Dua tokoh yang paling menonjol dalam perdebatan ini adalah H.O.S. (Haji Oemar Said) Tjokroaminoto dan Haji Misbach dari Surakarta. Keduanya sama-sama berasal dari Sarekat Islam (SI), sama-sama Muslim yang taat, dan sama-sama kritis terhadap kolonialisme serta kapitalisme. Namun, sikap keduanya dalam mempraktikkan gagasan sosialisme Islam berkembang ke arah yang sangat berbeda.

Mengapa demikian?

Pilihan politik yang kemudian memisahkan keduanya. Tjokroaminoto tetap berada di Sarekat Islam Putih dan memimpinnya hingga akhir hayatnya. Sementara itu, Haji Misbach memilih bergabung dengan PKI (Partai Komunis Indonesia) setelah sebelumnya terlibat dalam SI Merah yang dipimpin Semaoen dan kawan-kawan. Semaoen sendiri adalah ketua umum pertama PKI, meski tidak terlibat dalam pemberontakan 1926.

Pertanyaan berikutnya adalah: apakah Islam dan sosialisme dapat berdampingan? Mari kita telusuri pemikiran dua tokoh yang sering dibandingkan ini.

Tjokroaminoto: Sosialisme sebagai Etika Islam

Dalam buku “Islam dan Sosialisme“, Tjokro menegaskan bahwa umat Islam secara kodrati selaras dengan asas-asas sosialisme sejati. Ia menulis:

“Ummat Islam adalah tiada sekali-kali akan melanggar kehendak Socialisme jang adil dan sedjati itoe.”
(hal. 18–19)

Tentang kapitalisme

Bagi Tjokro, kapitalisme adalah sistem penghisapan yang secara esensial bertentangan dengan ajaran Islam:

“Igama Islam memerangi Kapitalisme sampai pada ‘akarnja’, membunuh Kapitalisme mulai dari pada ‘benihnja’…”
(hal. 116)

Kapitalisme, dalam pandangannya, bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi persoalan moral—bahkan persoalan keimanan—karena ia merusak keadilan dan menindas kaum lemah.

Tentang sosialisme sebagai alat perjuangan Islam

Tjokro menegaskan bahwa sosialisme hanya sah dipakai sebagai alat perjuangan bila ia berakar pada nilai-nilai Islam:

“Bagi kita, orang Islam, ta’ ada Socialisme… jang lebih mulia, melainkan Socialisme jang berdasar Islam itulah sadja.”
(hal. 24)

Tentang sosialisme ateis (Marxisme)

Tjokro dengan tegas membedakan sosialisme Islam dari Marxisme Barat yang ateistik. Ia menulis:

“Maksud saia… menundiukkan duduk dan sikapnja Wetenschappeliik Socialisme… terhadap kepertjajaän Igama… agar supaya saudara-saudara kaum Muslimin djangan sampai tersesat.”
(hal. 23–24)

Dengan demikian, sosialisme dalam pemikiran Tjokro bukanlah ideologi ateistik, melainkan etika sosial untuk menegakkan keadilan Islam.

Haji Misbach: Islam sebagai Gerakan Pembebasan

Berbeda dengan Tjokro, pandangan Haji Misbach jauh lebih radikal. Bagi Misbach, sosialisme—bahkan komunisme—sejalan dengan misi kenabian: membebaskan kaum tertindas. Ia dikenal sebagai “Si Merah dari Surakarta.”

Menolak kapitalisme, menurut Misbach, adalah bagian dari menjalankan ajaran Islam. Ia pernah menyatakan secara gamblang: “Islam anti-kapitalisme.”

Lebih jauh, Misbach menegaskan posisi ideologinya:

“Orang yang mengaku Islam tetapi tidak setuju adanya komunisme … saya berani mengatakan bahwa ia bukan Islam yang sejati … begitu juga sekalian kawan kita yang mengaku komunis tetapi misi mereka untuk ‘menghapus’ agama Islam … saya berani mengatakan bahwa mereka bukan komunis yang sejati.”
(Muhammad Subarkah, analisis.republika.id, diakses 17/11/2025)

Pandangan ini tampak dalam tulisannya “Islamisme dan Komunisme”, ketika ia menggambarkan bagaimana kapitalisme menghancurkan kehidupan beragama masyarakat:

“Kelas kapitalis menekan kelas pekerjanya … Mereka dipaksa meninggalkan rukun Islam, salat dan puasa, karena waktu salat mereka habis dieksploitasi oleh tuannya … Kelas pekerja … kemudian mengorbankan agama mereka hingga dihancurkan oleh kapitalisme.”
(Marxist.org, diakses 17/11/2025)

Bagi Misbach, Islam bukan hanya etika atau panduan moral, melainkan gerakan perlawanan struktural terhadap penindasan.

Dua Jalan Politik yang Berbeda

Keradikalan Haji Misbach membuat langkah politiknya semakin berani dalam melawan pemerintah kolonial Belanda. Ia beberapa kali dipenjara—salah satunya selama dua tahun tiga bulan (Muhammad Subarkah, analisis.republika.id, diakses 17/11/2025). Pada tahun 1923 ia akhirnya dibuang ke Manokwari, tempat ia wafat pada 24 Mei 1926 (Hasan Kurniawan, sindonews.com, diakses 17/11/2025).

Nasibnya berbeda dengan Tjokroaminoto. Setelah perpecahan dalam Sarekat Islam, Tjokro mengambil jalur politik yang lebih kooperatif. Pada 1927 ia bergabung dengan Volksraad, parlemen kolonial Hindia Belanda, sebagai wakil Sarekat Islam Putih. Di forum inilah ia memperjuangkan aspirasi bumiputra melalui jalur parlementer dan reformis (Ricklefs, A History of Modern Indonesia, hlm. 221–223).

Kesimpulan dan Penutup

Dari dua tokoh besar Sarekat Islam ini, yang sama-sama mengusung sosialisme Islam, terlihat bahwa hubungan antara Islam dan sosialisme bukanlah semata persoalan hitam-putih.

Baik H.O.S. Tjokroaminoto maupun Haji Misbach sama-sama bertolak dari keyakinan keislaman yang kuat dan kepedulian terhadap nasib kaum tertindas. Akan tetapi, keduanya memilih jalan perjuangan yang berbeda.

Tjokro menekankan sosialisme sebagai gagasan moral atau etika keadilan yang tidak terlepas dari kerangka tauhid. Ia juga memilih jalan politik kooperatif dengan pemerintah kolonial Belanda. Berkebalikan dengan Tjokro, Misbach—yang melihat ideologi sosialisme, bahkan komunisme, sebagai alat pembebasan yang sejalan dengan misi kenabian—memilih jalur non-kooperatif, yaitu perlawanan radikal terhadap pemerintah kolonial.

Walaupun demikian, perbedaan sikap dan jalan politik kedua tokoh itu tidak meniadakan irisan penting, yaitu bahwa ajaran Islam menolak penindasan dan ketidakadilan. Baik melalui jalur kooperatif parlementarian sebagaimana ditempuh Tjokro, maupun melalui jalur non-kooperatif dan aksi perlawanan radikal seperti dilakukan Misbach, keduanya menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam tidak terlepas dari ide keadilan sosial yang merupakan esensi dari ideologi sosialisme.

Karena itu, pertanyaan “apakah Islam dan sosialisme kompatibel?” hanya dapat dijawab secara kontekstual. Dalam ranah nilai—keadilan, persamaan, dan pembelaan terhadap kaum tertindas—keduanya memiliki irisan yang kuat. Hal yang utama adalah bagaimana kesesuaian antara Islam dan sosialisme ini dapat dijadikan pegangan dalam perjuangan pembebasan rakyat dari ketertindasan di bawah sistem kapitalisme yang kini telah bermetamorfosis menjadi imperialisme.

Untuk masa kini, kita bisa melihat bagaimana rencana kebijakan Zohran Mamdani, yang mengklaim berasal dari dua latar belakang tadi—Islam dan sosialisme—diterapkan dalam pidato kemenangannya:

“Together, New York, we’re going to freeze the rent. Together, New York, we’re going to make buses fast and free. Together, New York, we’re going to deliver universal childcare.”
(The Guardian, diakses 17/11/2025)

Artinya kurang lebih bahwa Zohran menyatakan mandat untuk perubahan sosial-ekonomi: ia berjanji membekukan sewa bagi jutaan penyewa, membuat transportasi (bus) cepat dan gratis, dan menyediakan penitipan anak universal.

Jika ini benar terlaksana, maka hal tersebut akan menjadi sebuah revolusi kecil terhadap sistem kapitalisme–imperialisme, yang lahir dari perpaduan dua pandangan hidup dan keyakinan: Islam dan sosialisme.

Daftar Pustaka

Buku & Karya Primer

Tjokroaminoto, H.O.S. 1954. Islam dan Sosialisme. Jakarta: Bulan Bintang.

Ricklefs, M.C. 2008. A History of Modern Indonesia Since c. 1200. 4th Edition. London: Palgrave Macmillan.

Sumber Daring & Artikel

Kurniawan, Hasan. 2023. “Riwayat Haji Misbach, Pergulatan Seorang Islam Komunis (II)”. Sindonews.com. Diakses 17 November 2025.

Subarkah, Muhammad. 2023. “H Misbach Propagandis PKI: Islam dan Politik tak Bisa Dipisah.” Analisis.Republika.id. Diakses 17 November 2025.

“Islamisme dan Komunisme,” tulisan Haji Misbach dalam arsip Marxists.org. Diakses 17 November 2025. (https://www.marxists.org/archive/misbach/)

The Guardian. 2025. “Zohran Mamdani’s Victory Speech – Full Transcript.” Diakses 17 November 2025.

Harsa Permata
Harsa Permata
Alumni Filsafat UGM, Dosen di berbagai universitas di Yogyakarta.

Related Articles

Artikel baru