Ada semacam sinisme yang wajar muncul ketika mendengar frasa “kajian historis-kritis Al-Qur’an.” Bayangan yang muncul biasanya adalah orientalis yang meragukan keotentikan Al-Qur’an, membongkarnya seolah teks manusia biasa, atau mencari celah untuk menggugat kesuciannya. Kecurigaan semacam ini tidak sepenuhnya salah alamat; sebagian karya semacam itu memang lahir dari niat seperti itu. Bahkan seabreg.
Tapi ada juga yang lain. Walau qolilan. Dan justru dari yang lain inilah, kadang, kita bisa menemukan sesuatu yang membuat kita makin kagum pada Al-Qur’an, bukan malah makin ragu.
Syarat yang Diminta, dan Kegelisahan yang Wajar
Nicolai Sinai, seorang pengkaji Al-Qur’an dari dunia akademik Barat, mengajukan syarat tertentu sebelum seseorang bisa menerapkan pendekatan historis-kritis: menangguhkan sejenak praduga-praduga yang sudah diwarisi dari tradisi, supaya pembacaan bisa dilakukan lebih dekat dan terbuka.
Syarat semacam ini pantas membuat kita berhenti sejenak. Bagi siapa saja yang dibesarkan dalam tradisi keilmuan Islam, “menangguhkan praduga tradisi” bukan perkara enteng. Ada risiko epistemologis di situ, bahkan mungkin risiko teologis. Kalau tradisi ditangguhkan, apa yang menjamin pembacaan tidak melenceng ke arah yang justru merusak?
Ini kegelisahan yang jujur, dan tidak perlu buru-buru dijawab dengan pembelaan yang menutup pintu diskusi. Justru dengan menahan kegelisahan itu, tanpa menelan mentah-mentah tapi juga tanpa menolak sebelum mendengar, kita bisa sampai pada sesuatu yang menarik: ternyata sebagian dari apa yang ditemukan Sinai, ketika ia benar-benar duduk membaca teks kata demi kata, adalah kekaguman pada betapa rapinya susunan Al-Qur’an, bukan sebaliknya.
Satu Surah, Diamati Kata demi Kata
Contoh paling jelas ada pada caranya membaca Surah As-Saffat, surah ke-37. Sinai tidak berangkat dari asumsi bahwa surah ini pasti koheren. Ia justru mula-mula memperlakukannya seperti kumpulan bagian yang mungkin saja lepas satu sama lain, kemudian menelusuri satu per satu, apakah ada benang yang mengikatnya.
Dan ia menemukan benang itu, di tempat yang tidak disangka-sangka.
وَالصّٰۤفّٰتِ صَفًّاۙ فَالزّٰجِرٰتِ زَجْرًاۙ فَالتّٰلِيٰتِ ذِكْرًاۙ
1. Demi (rombongan malaikat) yang berbaris bersaf-saf, (untuk beribadah kepada Allah),
2. demi (rombongan malaikat) yang mencegah (segala sesuatu) dengan sungguh-sungguh,
3. demi (rombongan malaikat) yang membacakan peringatan,
Q.S. As}-S{affat [37]: 1-3. Terjemahan Kemenag 2019
Surah ini dibuka dengan sumpah yang terkesan misterius pada ayat 1 sampai 3: sumpah yang merujuk pada sesuatu yang “berdiri dalam barisan”, tanpa penjelasan langsung siapa yang dimaksud. Kalau dibaca sepintas di awal surah, sumpah ini terasa seperti pembuka yang berdiri sendiri. Tapi ternyata jawabannya justru ada jauh di ujung surah, pada ayat 165 dan 166, yang mengidentifikasi bahwa yang dimaksud “berdiri dalam barisan” itu adalah para malaikat. Pembuka dan penutup surah ini, yang jaraknya ratusan ayat, ternyata saling menjawab.
وَّاِنَّا لَنَحْنُ الصَّۤافُّوْنَۖ وَاِنَّا لَنَحْنُ الْمُسَبِّحُوْنَ
165. Sesungguhnya kamilah yang selalu teratur dalam barisan (dalam melaksanakan perintah Allah).
166. Sesungguhnya kamilah yang benar-benar terus bertasbih (kepada Allah).”
Q.S. As}-S{affat [37]: 165-166. Terjemahan Kemenag 2019
Bukan hanya itu. Kata al-jahīm, yang berarti neraka yang menyala-nyala, disebut berulang kali di sepanjang surah: pada ayat 23 sebagai gambaran hukuman hari kiamat, lalu muncul lagi pada ayat 55, 64, dan 68 dalam dialog antara penghuni surga dan penghuni neraka, dan muncul lagi pada ayat 97 dalam kisah Nabi Ibrahim. Pengulangan ini bukan kebetulan atau pengisi kalimat. Setiap kemunculannya menambah lapisan makna, sehingga kata yang sama itu menjadi semacam benang merah yang mengikat bagian-bagian surah yang jaraknya berjauhan.
Ada juga pola tanya jawab yang bergema secara simetris. Pertanyaan skeptis tentang kebangkitan di ayat 16, semacam keraguan “apa mungkin kami dibangkitkan lagi setelah mati”, ternyata muncul kembali dalam percakapan penghuni surga di ayat 53, seolah menjawab keraguan yang sama dari sisi yang berlawanan.
Bukan Kumpulan Topik, tapi Satu Bangunan
Dari pengamatan semacam ini, Sinai sampai pada kesimpulan bahwa Surah As}-S{affat [37] sebenarnya tersusun dalam tiga bagian besar yang saling berkaitan secara sengaja, bukan sekadar berurutan.
Bagian awal menegaskan dasar-dasar akidah: keesaan Allah, kekuasaan-Nya atas alam semesta, dan kepastian hari kebangkitan, sekaligus memberi gambaran nasib mereka yang mengingkarinya. Bagian tengah berisi kisah-kisah para nabi, yang memuncak pada kisah Nabi Yunus, satu-satunya kisah dalam surah ini yang menampilkan keberhasilan dakwah secara menyeluruh, sesuatu yang secara halus menjadi sindiran bagi kaum yang menolak dakwah Nabi Muhammad. Bagian akhir kembali ke persoalan akidah, mengkritik penyembahan selain Allah, lalu ditutup dengan kembali menyebut para malaikat yang “berdiri dalam barisan”, persis menjawab sumpah misterius di pembukaan surah tadi.
Dengan susunan seperti ini, keseluruhan surah membentuk semacam lingkaran, di mana ujung dan pangkalnya bertemu, dan yang mengikat semuanya adalah satu prinsip: tauhid.
Bukan Menemukan yang Baru, namun Mengamini yang Lama
Sesungguhnya, apa yang “ditemukan” Sinai ini bukan hal asing bagi tradisi keilmuan Islam. Munasabah, yakni ilmu tentang keterkaitan antarayat dan antarsurah, sudah lama menjadi bagian dari khazanah ulumul Qur’an. Bahwa Al-Qur’an memiliki keterpaduan internal, bahwa satu ayat menjelaskan ayat lain, bahwa struktur surah tidak asal-asalan, semua ini sudah menjadi keyakinan yang diwariskan turun-temurun jauh sebelum nama Sinai dikenal.
Yang menarik justru inilah: seorang pengkaji dari luar tradisi, yang memulai dengan sikap menangguhkan keyakinan tradisi, justru berujung pada penemuan yang menguatkan apa yang selama ini diyakini tradisi tersebut. Ia tidak bermaksud membuktikan kebenaran teologis Al-Qur’an, karena itu bukan tujuannya. Tapi ketelitiannya membaca teks, mengikuti jejak kata demi kata, justru membawanya pada kesimpulan bahwa keberagaman topik dalam satu surah bukan tanda ketidakteraturan, melainkan justru bukti adanya rancangan yang matang.
Barangkali ini yang bisa diambil sebagai pelajaran: bahwa kita tidak perlu menelan bulat-bulat setiap metode yang datang dari luar tradisi kita, dan wajar bila ada kegelisahan tentang risiko yang menyertainya. Namun kita juga tidak perlu menutup diri sepenuhnya. Kadang, justru dari mata yang berbeda, dari seseorang yang tidak berangkat dari keyakinan yang sama dengan kita, kita diingatkan kembali betapa dalamnya keindahan yang selama ini sudah kita yakini, hanya saja mungkin belum sepenuhnya kita sadari kedalamannya.
Ada dua lapis hikmah di situ, pertama, kemukjizatan Al-Qur’an memang dapat ditemukan oleh siapa pun, sejalan dengan keyakinan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin; kedua, perspektif alternatif yang datang dari luar itu, alih-alih melemahkan, perspektif outsider justru memperkuat kandungan Al-Qur’an itu sendiri. Wallohu a’lam bis-showwab.
Referensi:
Q.S. As}-S{affat [37].
Nicolai Sinai, The Qur’an A Historical Critical Introduction (UK: Edinburgh University Press, 2017). Hal. 2, 84-85, 87-92.

