Di sela-sela kesibukan KH. Abdul Hamid Abdul Qodir Munawwir, salah satu ulama Al-Qur’an dan Qira’at Nusantara sekaligus tokoh JQH NU Pusat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Munawwir Krayak sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Maunah Sari Kediri ini, dalam rangkaian perhelatan lima tahunan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Ikatan Alumni Sanad Krapyak berkesempatan mengadakan pertemuan ilmiah bersama sang kiai ahli Qira’at Sab‘ah tersebut.
Pertemuan itu bukan sekadar ajang silaturahmi antara guru, santri, dan alumni. Di tengah suasana Muktamar yang mempertemukan para kiai, santri, alumni, dan muktamirin dari berbagai daerah, KH. Abdul Hamid Abdul Qodir Munawwir penulis Kitab Tafsir Al Maunah ini menyampaikan lima nasihat penting tentang ilmu, perjuangan, jaringan, kaderisasi, dan kekuatan ruhani.
Nasihat-nasihat itu sederhana. Tidak disampaikan dengan teori yang rumit. Namun apabila direnungkan lebih dalam, di dalamnya terdapat satu bangunan besar mengenai bagaimana seorang santri, guru, alumni pesantren, dan pencinta ilmu seharusnya menjalani kehidupan: terus belajar, berani mengajarkan, memperluas jaringan perjuangan, menyiapkan generasi penerus, dan tidak pernah melepaskan hubungan batinnya dengan Allah SWT.
NASIHAT PERTAMA: JANGAN PERNAH BERHENTI BELAJAR
Beliau dawuh di hadapan para santri dan alumni:
“At-Taubah ayat 122. Tafaqquh fiddin menggunakan fi‘il mudhari‘ bermakna dinamis, harus terus belajar.”
Allah SWT berfirman:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
(QS. At-Taubah: 122)
Nasihat pertama ini menegaskan bahwa proses menuntut ilmu harus berlangsung secara berkelanjutan. Penggunaan kata لِيَتَفَقَّهُوا dalam bentuk fi‘il mudhāri‘, sebagaimana ditekankan KH. Abdul Hamid, memberikan pemahaman tentang proses tafaqquh fiddin yang dinamis dan terus berkembang. Dengan demikian, belajar tidak berhenti setelah seseorang menyelesaikan pendidikan pesantren, mengkhatamkan kitab, memperoleh gelar akademik, ataupun menjadi seorang pengajar. Semakin tinggi kapasitas keilmuan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk terus membaca, mengkaji, dan mengembangkan pengetahuan. Oleh karena itu, tradisi pesantren semestinya melahirkan semangat belajar sepanjang hayat (lifelong learning), yakni tetap memiliki jiwa seorang pembelajar meskipun telah menjadi guru, kiai, akademisi, maupun penulis.
NASIHAT KEDUA: ILMU HARUS MENGALIR MENJADI KHIDMAH
Beliau mengatakan: “Apa yang kita punya, apa yang dari pondok harus disampaikan, diajarkan kepada sekitar. Menjadi ruh kehidupan kita. Sak isone berperan, dimulai dari lingkungan kecil seperti keluarga, bertahap sampai lingkungan yang lebih luas. Semangat belajar dan mengajar.”
Nasihat kedua membawa seorang santri dari dunia belajar menuju dunia pengabdian. Ilmu yang diperoleh dari pondok tidak boleh berhenti pada diri sendiri. Ilmu harus mengalir.
Beliau menyampaikan ungkapan sederhana tetapi sangat dalam: “Sak isone berperan.”
Inti nasihat ini menegaskan bahwa setiap individu memiliki ruang pengabdian sesuai kapasitas dan kompetensinya. Kontribusi tidak harus diwujudkan dalam bentuk peran besar, tetapi dapat dimulai dari lingkungan terdekat dan dikembangkan sesuai kemampuan, baik melalui pendidikan, tulisan, teknologi, dukungan ekonomi, maupun jejaring sosial. Dengan demikian, nilai utama yang ditekankan adalah partisipasi aktif dan kebermanfaatan, bukan besarnya posisi atau popularitas seseorang.
Beliau menegaskan: “Yang penting adalah jangan diam.” Inilah filosofi khidmah yang sangat kuat. Islam tidak selalu meminta kita memulai dengan sesuatu yang besar. Perubahan besar sering kali justru dimulai dari lingkaran yang sangat kecil.
Beliau kemudian mengingatkan: “Keluarga adalah madrasah pertama. Tetangga adalah ruang khidmah berikutnya.”
Maka belajar dan mengajar harus menjadi ruh kehidupan seorang santri. Kita menerima ilmu dari guru, kemudian mengalirkannya kepada orang lain. Kita pernah duduk di hadapan guru sebagai murid, kemudian suatu hari mungkin orang lain duduk di hadapan kita sebagai murid.
NASIHAT KETIGA: PERLUAS JARINGAN KEILMUAN DAN PERJUANGAN
KH. Abdul Hamid kemudian dawuh: “Jaringan keilmuan jauh lebih luas dan berharga daripada sekadar jaringan keluarga. Berjuang itu semua kawan, tidak ada lawan, terlebih dalam jaringan. Harus terus berjejaring dalam berjuang, baik satu jalur maupun lintas alumni.”
Nasihat ini sangat penting bagi santri dan alumni pesantren pada zaman sekarang. Sebab perjuangan tidak cukup hanya dengan kemampuan individual. Ilmu membutuhkan sanad, perjuangan membutuhkan kawan, dan khidmah membutuhkan jaringan.
Karena itu, kalimat beliau: “Berjuang itu semua kawan, tidak ada lawan.”
Bukan berarti kita tidak boleh berbeda pendapat. Perbedaan tetap ada. Alumni pesantren yang sama pun dapat mempunyai profesi, organisasi, pilihan metode, dan medan perjuangan yang berbeda. Namun perbedaan tidak harus berubah menjadi permusuhan. Alumni satu pesantren jangan hanya berkumpul dengan kelompoknya sendiri. Jaringan perlu diperluas lintas alumni, lintas pesantren, lintas profesi, bahkan lintas generasi. Sanad menghubungkan ilmu. Jaringan menghubungkan perjuangan. Dan ketika keduanya bertemu, ilmu tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi berubah menjadi kekuatan sosial yang memberi manfaat.
NASIHAT KEEMPAT: DIDIK ANAK BIOLOGIS DAN IDEOLOGIS TANPA OTORITER
Nasihat berikutnya menyentuh persoalan regenerasi. Beliau dawuh: “Harus terus mengarahkan anak biologis dan ideologis dengan tanpa terus memarahi dan tanpa terus otoriter.”
Anak biologis dan anak ideologis sama-sama harus dibimbing sebagai generasi penerus. Namun proses pendidikan tidak seharusnya dilakukan dengan cara terus memarahi atau bersikap otoriter. Ketegasan tetap diperlukan, tetapi harus disertai keteladanan, komunikasi, dan ruang bagi mereka untuk tumbuh mandiri. Keberhasilan pendidikan bukan hanya melahirkan generasi yang patuh, tetapi generasi yang mampu meneruskan ilmu, nilai, dan perjuangan secara sadar.
NASIHAT KELIMA: JANGAN TINGGALKAN DOA DAN WIRID
Terakhir, beliau memberikan pesan yang menjadi fondasi ruhani dari seluruh perjuangan: “Jangan tinggalkan doa dan wirid. Minimal yang prinsipil yaitu sholawat dan istighfar tiap sholat. Selama kita istiqomah, insya Allah azab atau kemalangan tidak akan menghampiri kita. Setidaknya hati tidak sampai runtuh ketika mendapati ujian.”
Kemudian beliau mengingatkan firman Allah SWT:
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan Allah tidak akan mengazab mereka selama engkau (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka. Dan Allah tidak akan mengazab mereka selama mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33)
Nasihat terakhir ini dapat dipahami sebagai fondasi spiritual yang menopang seluruh proses keilmuan dan pengabdian. Aktivitas belajar memerlukan kekuatan batin, mengajar membutuhkan keikhlasan, membangun jejaring menuntut kebersihan hati, sedangkan mendidik generasi membutuhkan kesabaran dan keteguhan. Karena itu, doa dan wirid memiliki fungsi penting dalam menjaga orientasi spiritual seorang santri agar seluruh aktivitas intelektual dan sosial tetap terhubung dengan nilai-nilai ketuhanan.
Shalawat dapat dipahami sebagai bentuk pemeliharaan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, sedangkan istighfar merupakan ekspresi kesadaran seorang hamba atas keterbatasan dan kekurangannya di hadapan Allah SWT. Istiqamah dalam doa dan wirid tidak berarti meniadakan kemungkinan hadirnya ujian, tetapi berperan dalam membentuk ketahanan spiritual agar seseorang tidak mudah kehilangan arah, harapan, dan keteguhan ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Dengan demikian, kekuatan ruhani menjadi unsur penting dalam menjaga kesinambungan ilmu, pengabdian, dan perjuangan.
Ditulis oleh Dr. H. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha ( Akivis NU Jawa Tengah yang pernah bertabaruk Al Qur’an kepada KH. Abdul Hamid Abdul Qodir Munawir )

