Tabayyun Politik: Membedah Fakta di Balik Narasi “Kolaps” Amerika Serikat

Beberapa hari yang lalu, seorang senior yang jauh di atas saya, membagikan link YouTube pembacaan headline news di kanal YouTube George Speaks. Isinya kurang lebih bahwa Donald Trump menolak perintah Mahkamah Agung AS terkait penyelidikan tentang indikasi kecurangan Pilpres Amerika Serikat (AS). Hal tersebut menimbulkan reaksi mundurnya sejumlah pejabat di lingkaran Donald Trump, karena tidak mau terlibat dalam pelanggaran hukum. Diberitakan juga suasana politik kacau luar biasa dan bisa kolaps karena demonstrasi besar-besaran rakyat AS.

Saya kemudian memutuskan untuk melakukan penyelidikan secara online terkait situasi politik terkini AS. Hasilnya adalah, situasi pemerintah AS yang akan kolaps seperti headline news George Speaks, dalam kenyataannya tidak ada. Yang ada adalah tekanan politik yang cukup besar diberikan kekuatan oposisi di Kongres, yaitu para anggota Kongres dari Partai Demokrat.

Para anggota Kongres, seperti Pramila Jayapal dan Ted Lieu mencecar Jaksa Agung Pam Bondi, karena telah merilis jutaan file terkait Epstein Files, secara tidak berimbang. Artinya tidak semuanya dibuka ke publik, hanya nama para elite lawan politik Trump dan Republik yang dibuka secara masif.

Donald Trump dalam sebuah wawancara memang pernah menyatakan bahwa bukti keterlibatannya dalam kasus Epstein tidak ada. Akan tetapi, pernyataan bahwa “tidak ada bukti keterlibatan” harus kita sikapi dengan sangat kritis: apakah memang benar-benar tidak ada bukti, ataukah buktinya sengaja belum diizinkan keluar oleh pemegang otoritas, atau Jaksa Agung, Pam Bondi, yang kita tahu merupakan loyalis Trump? Di sinilah pentingnya kita melihat apa yang tidak tampak di permukaan.

Di sisi lain, kevokalan anggota Kongres ini—Pramila Jayapal dan Ted Lieu—tidaklah berdiri di ruang hampa, atau dengan kata lain bukan tanpa tendensi apa-apa. Di baliknya, terdapat kepentingan politik elektoral yang sangat kuat menjelang Pemilu Sela 2026. Selain itu, strategi menyerang Pam Bondi, dalam pandangan saya ini merupakan taktik untuk mengalihkan sorotan publik dari nama-nama elit Demokrat sendiri—seperti Bill Clinton—yang namanya juga banyak disebut dalam dokumen Epstein tersebut. Ini sebenarnya merupakan taktik klasik dalam politik Washington: menyerang lawan secara agresif adalah cara paling efektif untuk melindungi diri sendiri dari skandal yang sama. Kalau dalam bahasa strategi sepakbola, menyerang adalah pertahanan yang paling baik.

Ada hal yang menarik sebenarnya, dalam perpolitikan Amerika Serikat, yang notabene didominasi oleh lobi pemodal besar—yang di Amerika Serikat sebagian besar berlatar belakang Yahudi dan menyetir politik arus utama—muncul sosok seperti Zohran Mamdani. Ia menjadi bukti nyata bahwa masih ada politisi yang berani, konsisten, dan berintegritas, walaupun harus berhadapan dengan sistem yang sangat mapan dan penuh dengan kepentingan modal.

Mekanisme penggalangan dananya sangat berbeda dengan pola penggalangan politisi Amerika Serikat pada umumnya. Jika politisi lain sangat bergantung pada kucuran dana dari lobi-lobi raksasa pro-Israel seperti AIPAC (American Israel Public Affairs Committee), sebaliknya, Mamdani justru mengambil langkah berani dengan menolak dana korporasi.

AIPAC sendiri dikenal sebagai kekuatan di balik layar yang mampu menentukan naik turunnya karier seorang politisi di AS melalui aliran dana kampanye yang masif, atau sebaliknya. Mamdani memilih jalan yang berbeda dengan hanya mengandalkan sumbangan kecil (small-dollar donations) dari rakyat biasa. Dengan jalan ini, ia hanya berutang budi kepada konstituennya (rakyat kecil/biasa), bukan kepada para pemodal besar yang mendominasi Wall Street maupun lobi-lobi geopolitik.

Dari penelusuran ini, saya kemudian menyimpulkan bahwa kita harus sangat berhati-hati dalam menerima berita yang terlalu emosional dan bombastis. Apa yang digambarkan sebagai situasi “anarki” seringkali hanyalah “teater politik” tingkat tinggi yang penuh dengan kepentingan tersembunyi dan pengendalian informasi secara ketat. Mari kita senantiasa mengedepankan tabayyun (verifikasi) sebelum mempercayai apalagi menyebarkan informasi.

Akan tetapi, kita juga tidak boleh terlalu naif dalam melihat situasi politik di berbagai belahan dunia. Hal tersebut dikarenakan apa yang tampak di permukaan biasanya bukanlah kebenaran yang seutuhnya/sejati. Sejarah sering kali ditulis oleh mereka yang berkuasa, dan kebenaran sering kali sengaja dikubur atau disembunyikan di bawah tumpukan dokumen yang disensor atas nama “keamanan nasional” atau “kepentingan negara”.

Kita harus tetap berusaha sekritis mungkin, dan senantiasa mencari apa kebenaran di balik apa yang kelihatan/fakta. Seperti kata Sherlock Holmes: “When you have eliminated the impossible, whatever remains, however improbable, must be the truth.” (Ketika Anda telah menyingkirkan hal yang tidak mungkin, maka apa pun yang tersisa, betapa pun mustahilnya, pastilah sebuah kebenaran).

Harsa Permata
Harsa Permata
Alumni Filsafat UGM, Dosen di berbagai universitas di Yogyakarta.

Related Articles

Artikel baru