Donald Trump Melakukan Pembersihan di Pentagon, CIA, Kementrian Luar Negeri & Kementrian Keuangan
(Analisa Prof John Mearsheimer Pakar Hubungan Internasional – Mazhab Realisme Chicago University)
Jajaran birokrasi sipil dan militer AS diguncang gempa politik. Pasalnya, Jenderal bintang empat Michael Rodrigues dipecat karena kerap menyatakan pandangannya yang berseberangan dengan Trump. Ia menjadi korban pertama gelombang pembersihan. Sumber-sumber di Pentagon dan Gedung Putih memberitakan dimulainya pembersihan sistematis yang akan meruntuhkan establishment keamanan nasional, serta lahirnya era baru kekuasaan politik AS. Kini sedang berlangsung transformasi dari Republik ke imperium pribadi.
Berita resmi mengenai pengunduran diri Jenderal Michael Rodrigues menyebutkan bahwa hal itu dilakukan secara sukarela demi keluarga atau alasan kesehatan. Hal yang biasa terjadi ini disebarkan oleh birokrasi sampah di Washington. Jenderal Rodrigues dieliminasi karena tiga hari sebelum operasi Venezuela, ia menulis memo kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth tentang risiko terjadinya destabilisasi kawasan, perlawanan bersenjata, serta konfrontasi dengan China dan Rusia. AS selanjutnya akan mengalami isolasi internasional. Krisis internal konstitusi ini akan mempercepat polarisasi pimpinan AS.
Trump membangun sistem spionase lengkap yang dipasang di semua lembaga pemerintah. Personel yang mengontrol sistem ini melaporkan langsung ke Gedung Putih mengenai hal-hal yang mengungkapkan keraguan terhadap politik Trump. Pengawasan sistematis ini tidak hanya ditujukan ke lapisan atas, tetapi juga menengah di Pentagon, CIA, Kementerian Luar Negeri, dan Kementerian Keuangan.
AS sudah berkembang menjadi seperti STASI / Staatssicherheit di Jerman Timur dulu; membentuk sistem kontrol internal seperti yang terjadi di sistem otoritarian. Trump tidak menghadapi langsung Rodrigues, melainkan melakukan penghancuran canggih yang bertujuan mendiskreditkan dan mengisolasi sang Jenderal dari semua informasi sensitif.
Isu tentang minimnya loyalitas Rodrigues disebar di media massa konservatif. Selanjutnya, dilakukan penyelidikan terhadap keuangannya. Meski tidak ditemukan kejanggalan, hal itu berdampak negatif terhadap reputasi sang Jenderal. Akhirnya, terjadi pertemuan empat mata antara Trump dan Rodrigues di Gedung Putih.
Trump melakukan intimidasi pada periode kedua kekuasaannya. Pertemuan tersebut tidak dimulai dengan diskusi politik dan strategi militer, tetapi lebih pada serangan pribadi terhadap patriotisme Rodrigues. “Anda telah melangkahi saya dan mengkhianati negeri Anda.”
Jenderal Rodrigues, yang merupakan veteran dari tiga perang dengan pengalaman tiga puluh lima tahun, mencoba menjelaskan posisinya. Namun, Trump memberi waktu satu jam kepada Rodrigues untuk menyatakan pengunduran dirinya atau dituntut ke pengadilan perang. Walaupun secara hukum mungkin tidak berdampak, namun secara psikologis tekanan tersebut luar biasa terhadap Rodrigues.
Hal tersebut menunjukkan bahwa Trump akan menggunakan pengadilan militer sebagai senjata untuk menghadapi para dissident. Pemecatan Rodrigues merupakan gelombang pertama langkah Trump untuk membersihkan secara sistematis, yang disebut “Operation Clean House”. Sumber-sumber internal menyebutkan sekitar dua ratus staf akan dibersihkan.
Daftar tersebut meliputi analis CIA yang memberi penilaian intervensi di Venezuela, para diplomat di Kemenlu yang memperingatkan dampak dari tindakan unilateral, hingga pihak Kemenkeu yang menghitung risiko jika dilakukan pendudukan Venezuela. Pembersihan tersebut tidak terjadi tiba-tiba, melainkan didasari motivasi ideologis dan sistematis dari inner circle Trump.
Intinya, ancaman terhadap AS bukan berasal dari luar, melainkan dari birokrasi “deep state”, yakni para pegawai negeri yang memiliki kebajikan dan loyalitas pada negara. Mereka dieliminasi bukan karena korupsi atau inkompeten, melainkan karena visinya sebagai kekuatan AS; kebijakan luar negeri yang lebih didasarkan pada upaya menjauhkan personalisasi politik luar negeri AS.
Kebijakan luar negeri AS nantinya akan berdasarkan pada instingnya Trump; ia akan memilih staf yang loyal padanya dan mencampakkan mereka yang menentangnya. Di AS terjadi transformasi dari struktur kelembagaan menuju endurance pribadi ketika pakar digantikan oleh loyalis. Keputusan penting bukan lagi direncanakan oleh para pakar, melainkan oleh loyalis. Keputusan diambil oleh inner circle yang hanya menyenangkan Trump, bukan untuk kepentingan negara.
Hasilnya: tindakan militer yang spektakuler secara visual, namun secara strategis berakibat AS terisolasi secara internasional dan terbelah di tingkat nasional. Hegemoni AS yang berdasarkan kekuatan institusi dihancurkan. Penafian terhadap kegagalan dan personalisasi kekuasaan mencerminkan sistem otoritarian. Jika semua kritik diabaikan, maka sistem seperti ini akan terputus dari realitas.
Jenderal Rodrigues bukan satu-satunya yang menjadi korban petualangan Trump. Analis tingkat tinggi CIA, Morison, yang merupakan spesialis kawasan Amerika Latin, menunjukkan bahwa penculikan Nicolas Maduro tidak hanya menimbulkan masalah regional. Analisisnya menunjukkan bahwa masalah Venezuela sifatnya struktural, tidak hanya secara politik, tetapi intervensi militer kemungkinan besar justru menguatkan instabilitas, bukan meredakannya. Analisis Morison tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga dapat memprediksi dengan tepat.
Ramalannya tentang reaksi regional, kecaman internasional, dan perpecahan internal AS terbukti jitu. Bukannya dihargai, Morison justru dituduh sebagai pengkhianat. Hal tersebut menjadi peringatan kepada para analis lainnya bahwa memberikan analisis objektif terhadap musuh, sekutu, serta dinamika internasional dapat berakibat bencana bagi karier mereka.
Terdapat paralel sejarah dengan apa yang pernah dilakukan Hitler, di mana staf birokrasi yang membawa kabar buruk digantikan dengan informasi yang diharapkan sang Führer. Uni Soviet di bawah Stalin mengalami fenomena yang sama. Realitas digantikan ideologi, dan kritik dipandang sebagai pengkhianatan. China di bawah Mao juga melakukan pembersihan yang menghilangkan kompetensi serta dinamika, lalu digantikan dengan konformitas, yang berakhir negatif terhadap perkembangan China.
AS setelah intervensi di Venezuela bergerak ke arah ini dan akan berakibat pada kesalahan strategi. Hal ini justru terjadi saat persaingan internasional semakin intensif, di mana strategi fleksibilitas dan keputusan cerdas sangat menentukan kelangsungan eksistensi AS.
Keberhasilan China dalam empat dasawarsa terakhir berdasarkan pada kemampuannya menyesuaikan kebijakan dengan kompetensi, bukan ideologi. Pimpinan China menggantikan para loyalis dengan mereka yang kompeten, sehingga berhasil mempercanggih keputusan politik luar negerinya.
Rusia di bawah Putin mendasarkan kebijakan politiknya secara pragmatis dan mengutamakan tujuan jangka panjang, bukan preferensi jangka pendek. Namun, apa yang dilakukan Trump dengan mengganti tenaga kompeten dengan para loyalis merupakan simtom dari keruntuhan kekuatan hegemoni dan ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tatanan dunia. Penyingkiran Rodrigues adalah simtom dari memudarnya budaya AS yang menghargai dissens (perbedaan pendapat), dan justru menuduhnya sebagai pengkhianatan.
Demokrasi yang sehat memerlukan suara kelembagaan yang menyuarakan kebenaran sebagai instrumen kepemimpinan yang baik. Namun dalam sistem autokrasi, hal tersebut merupakan ancaman bagi pemimpin otoriter. Keputusan mengeliminasi Rodrigues menunjukkan sistem apa yang akan dikembangkan di AS. Transformasi ini sudah terlihat pada penunjukan ekspert yang tidak berpengalaman. CIA kehilangan pakar terbaiknya yang memahami persoalan Amerika Latin. Kemenlu kehilangan diplomat terbaiknya yang berpengalaman puluhan tahun di kawasan tersebut.
Kerugian ini tidak hanya bersifat personal, tetapi juga intelektual. AS kehilangan institusi dengan pakar yang memiliki kedalaman analisis yang menjadi landasan utama politik luar negeri. Pihak luar negeri juga melihat bahwa jika AS kehilangan pakar terbaiknya, berarti memudarnya kepercayaan terhadap kompetensi AS. Jika politik AS berbasiskan loyalitas pribadi, bukan pada profesionalitas, maka mereka cenderung mengurangi kerja samanya dengan AS.
Jika mereka memahami bahwa staf birokrasi AS lebih takut kehilangan jabatannya dibandingkan ancaman dari luar, maka mereka akan melihat AS sebagai negara yang lemah dan tidak dapat dipercaya.
China dan Rusia mengamati perkembangan ini dengan cermat dan minat yang besar. Mereka melihat AS telah melakukan sabotase terhadap posisinya sendiri, sehingga posisi relatif mereka menjadi lebih kuat. Semakin AS mengeliminasi kepakarannya, maka kedudukan birokrasi yang berfungsi baik di Beijing dan Moskow akan meningkatkan daya saing kedua negara tersebut. Semakin AS tergantung pada loyalitas dan bukan kompetensi, maka sistem meritokrasi mereka akan menjadi lebih baik dibandingkan AS.
Pengkhianatan kini didefinisikan sebagai tindakan mempertanyakan kebijakan dan metode sang Presiden. Definisi ini mengubah AS, dari Republik yang diatur melalui Undang-Undang menjadi negara yang tergantung pada suasana hati yang berubah-ubah dari seorang Presiden. Pemecatan Rodrigues merupakan tanda pertama pembersihan sistematis. Minggu-minggu mendatang akan memperlihatkan apakah institusi-institusi AS cukup kuat untuk bertahan mengatasi personalisasi ini, atau mereka akan runtuh seperti institusi demokrasi lainnya dalam sejarah yang hancur berhadapan dengan terkonsentrasinya kekuasaan autokrat.
Jika orang-orang terbaik dieliminasi, maka berikutnya kebenaran akan menjadi sasaran. Jika kebenaran mati, maka demokrasi juga akan mati. AS berada di titik balik: apakah tetap menjadi Republik berdasarkan Konstitusi atau menjadi Imperium yang tergantung pada perasaan hati Presiden yang berubah-ubah. Pemecatan Rodrigues menunjukkan jalan mana yang dipilih Trump. Apakah rakyat akan mengikutinya atau memilih jalan lain? Masa depan demokrasi AS tergantung pada jawaban mereka.
Bogor, 10 Januari 2026
Suchjar Effendi
Analyst Geopolitik dan Geoekonomi
Artikel ini diterbitkan atas izin penulisnya

