Pasca-Wafatnya Ayatollah Khamenei: Akankah Iran Menjadi “Medan Perang Jawa” bagi Imperialisme Modern?

Kabar duka yang mengguncang dunia hari ini, yaitu kabar wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Di tengah dentuman agresi udara yang masih membara di langit Teheran, sebuah pertanyaan besar menyeruak dalam benak saya: Apakah kematian Sang Rahbar akan mematahkan semangat perlawanan bangsa Iran terhadap agresor imperialis, AS dan Israel?

Awalnya, banyak pihak berspekulasi bahwa kehilangan figur sentral seperti Ayatollah Khamenei akan menciptakan kekosongan kekuasaan (vacuum of power) yang fatal. Namun, setelah saya coba lihat lebih dalam melalui riset online dan studi konstitusi, asumsi tersebut terlihat terlalu dini. Iran bukanlah negara yang dibangun di atas pasir, melainkan di atas fondasi hukum yang sangat rapi dan terstruktur.

Mekanisme Kolektif: Perisai Konstitusional

Dalam hukum dasar Republik Islam Iran, kedaulatan negara tidak boleh berhenti meski pemimpin tertingginya tiada. Sesuai Pasal 111 Konstitusi Iran, mekanisme Kepemimpinan Kolektif otomatis berjalan seketika. Sistem ini menjadi “rem darurat” agar negara tidak limbung.

Siapa saja yang memegang kendali dalam kepemimpinan kolektif ini? Ada tiga unsur utama yang secara otomatis memegang tampuk kekuasaan sementara: Presiden Republik Islam Iran, Pimpinan Mahkamah Agung, dan salah satu ahli fiqih senior dari Dewan Garda. Ketiga elemen ini mewakili integrasi antara eksekutif, yudikatif, dan otoritas keagamaan. Hal ini membuktikan bahwa Iran memiliki sistem politik yang dipimpin secara kolektif oleh para ulama melalui doktrin Wilayatul Faqih.

Saat ini, Majelis Ahli (Assembly of Experts) dilaporkan akan segera bersidang dalam suasana darurat. Agenda tunggalnya adalah memutuskan siapa yang akan menjadi Pemimpin Tertinggi berikutnya. Biasanya, dalam kondisi perang dan pengepungan seperti ini, Majelis Ahli tidak akan memilih sosok yang lemah. Mereka akan mencari figur yang kuat, visioner, dan pantang menyerah sebagai manifestasi dari semangat juang bangsa Iran yang telah teruji selama ribuan tahun sejarah Persia.

Strategi Pecah Belah dan Solidaritas Nasional

Kita harus waspada bahwa politik pecah belah (devide et impera) kemungkinan besar sedang dan akan terus dilancarkan oleh AS dan Israel. Mereka melihat celah pada sosok Presiden Iran saat ini, Masoud Pezeshkian, yang berasal dari kubu moderat. Narasi yang akan mereka bangun adalah mempertentangkan antara kelompok moderat yang ingin diplomasi dengan kelompok konservatif yang ingin perang total.

Namun, para agresor ini lupa pada satu variabel penting: Patriotisme. Dengan wafatnya Ayatollah Khamenei di tengah agresi asing, garis demarkasi politik domestik biasanya akan meluruh. Rasa sakit hati kolektif akibat serangan ke jantung kedaulatan akan memaksa Presiden Pezeshkian untuk mengedepankan sikap nasionalisme yang jauh lebih keras. Di bawah bayang-bayang kepergian pemimpin mereka, tidak ada ruang bagi sikap kompromistis yang terlihat seperti menyerah.

Harga Diri Bangsa: Menolak Jadi Boneka

Jika AS dan Israel menganggap bahwa bangsa Iran—dengan segala faksi politik dan ideologinya—akan menyerah begitu saja dan bersedia dijadikan “boneka imperialis”, maka mereka sedang berhalusinasi. Bangsa Iran memiliki self-esteem atau harga diri yang sangat tinggi. Mereka memiliki memori kolektif tentang pahitnya masa pemerintahan Syah yang dianggap sebagai kepanjangan tangan Barat.

Sejarah mencatat bahwa bangsa yang memiliki akar peradaban kuat tidak akan bisa dikontrol dengan remote kontrol dari Washington atau Tel Aviv. Perlawanan mereka bukan sekadar soal militer, tapi soal eksistensi identitas sebagai bangsa yang merdeka. Menjadikan Iran sebagai boneka adalah misi yang mustahil, karena setiap tetes darah yang tumpah di Teheran justru akan menyuburkan benih-benih perlawanan baru yang lebih radikal.

Belajar dari Perang Diponegoro: Lubang Kebangkrutan Penjajah

Prediksi saya, ini akan menjadi perang panjang yang melelahkan (war of attrition). AS dan Israel akan terjebak dalam pusaran konflik yang tidak berujung, yang pada akhirnya akan menguras habis sumber daya, logistik, dan ekonomi mereka.

Fenomena ini mengingatkan kita pada sejarah perlawanan rakyat Nusantara. Pemerintah Kolonial Belanda dulu sangat jumawa dengan kekuatan militernya yang modern. Namun, mereka akhirnya mengalami kebangkrutan total dan kehabisan kas negara setelah harus menghadapi perlawanan dahsyat Pangeran Diponegoro. Dukungan rakyat Jawa secara semesta membuat Belanda memenangkan pertempuran secara teknis, tapi kalah secara ekonomi dan moral.

Situasi di Iran hari ini memiliki kemiripan sosiologis. Jika AS dan Israel terus merangsek, mereka akan menghadapi “Perang Jawa” dalam skala global. Mereka mungkin punya rudal tercanggih, tapi mereka tidak punya ketahanan untuk berperang selamanya melawan bangsa yang memiliki militansi tinggi. Pada akhirnya, para imperialis ini akan terengah-engah, kehabisan nafas ekonomi, dan terpaksa angkat kaki dengan tangan hampa, meninggalkan beban hutang perang yang akan meruntuhkan hegemoni mereka sendiri.

Kedaulatan tidak bisa dibeli dengan dolar, dan martabat tidak bisa dihancurkan dengan bom. Iran sedang menunjukkan pada dunia bahwa spirit Diponegoro—spirit perlawanan kaum santri dan rakyat jelata terhadap penjajah—masih hidup dan insyaAllah akan selalu menang pada akhirnya.

Daftar Pustaka

Al Jazeera. (2024). Iran’s reformist Masoud Pezeshkian wins run-off presidential vote. Diakses pada 1 Maret 2026, dari https://www.aljazeera.com/news/2024/7/6/irans-reformist-masoud-pezeshkian-wins-run-off-presidential-vote-reports

Constitute Project. (1989). Iran (Islamic Republic of’s) Constitution of 1979 with Amendments through 1989. Diakses pada 1 Maret 2026, dari https://www.constituteproject.org/constitution/Iran_1989

The Iran Primer – USIP. (2024). The Supreme Leader. Diakses pada 1 Maret 2026, dari https://iranprimer.usip.org/resource/supreme-leader

WIPO Lex. (1989). Constitution of the Islamic Republic of Iran. Diakses pada 1 Maret 2026, dari https://www.wipo.int/wipolex/en/legislation/details/8161

Harsa Permata
Harsa Permata
Alumni Filsafat UGM, Dosen di berbagai universitas di Yogyakarta.

Related Articles

Artikel baru