Di berbagai media sosial hari ini, kita bisa saksikan dengan jelas lautan manusia di jalanan Caracas yang menuntut pembebasan Nicolas Maduro, Presiden sah Venezuela, yang diculik oleh Amerika Serikat. Ini sesungguhnya merupakan jawaban telak bagi para pengamat politik dadakan, yang termakan propaganda Amerika Serikat, dan menuduh Delcy Rodriguez telah berkhianat.
Saat ini, seharusnya mereka bisa menyaksikan bahwa rakyat Venezuela sedang memperlihatkan kepada dunia bahwa kedaulatan sebuah bangsa bukanlah hal yang bisa dibeli dengan US$ 2 miliar atau sekadar kesepakatan 50 juta barel minyak.
Secara umum, ada tiga poin penting yang perlu kita pahami dari perkembangan terbaru ini:
- Demonstrasi Rakyat sebagai Amunisi Diplomasi
Gelombang aksi massa yang meneriakkan pembebasan Maduro, pada dasarnya adalah “peluru” utama bagi Delcy Rodriguez dalam perundingan dengan Amerika Serikat di bawah Trump. Delcy kini bisa berkata: “Anda boleh mengincar minyak kami, tapi Anda tidak bisa menguasai rakyat kami.” Tanpa kondisi yang stabil di lapangan, akan mustahil bagi Amerika Serikat untuk mengambil minyak Venezuela dengan tenang. Militansi rakyat inilah yang sebenarnya membuat posisi tawar Delcy tetap tegak di tengah kepungan militer Amerika Serikat.
Demonstrasi rakyat yang mendukung Venezuela juga terjadi di berbagai belahan dunia, bahkan di Amerika Serikat sendiri, di New York City, kota di mana Nicolas Maduro dan Cilia Flores diadili.
Terkait kepungan militer ini, laporan investigasi dari sejarawan geopolitik Vijay Prashad dan Carlos Ron (dalam artikel The current situation in Venezuela: a government in charge, a people resilient) menjelaskan mengapa minyak sebanyak 50 juta barel tersebut akhirnya dijual ke Amerika Serikat. Sedianya, minyak tersebut ditujukan untuk Tiongkok, namun Beijing secara militer tidak mampu menjamin keamanan logistik di bawah blokade ketat armada laut AS di Karibia. Pilihan pahit pun diambil: mengalihkan kargo ke AS dengan harga pasar internasional demi mendapatkan dana segar (likuiditas) secepat mungkin untuk menyambung hidup rakyat.
- Strategi Menghindari Perang Saudara
Delcy Rodriguez sesungguhnya sedang menempuh jalan yang sangat senyap. Ia harus memastikan perut rakyat tetap terisi melalui dana segar hasil penjualan minyak ke Amerika Serikat, akan tetapi, di saat yang sama ia harus menjaga supaya bara api revolusi tetap menyala. Jika ia hanya mengandalkan retorika tanpa siasat ekonomi, maka rakyat akan mati kelaparan. Sebaliknya, jika ia hanya berbisnis tanpa prinsip, revolusi akan mati kehilangan marwah. Langkahnya saat ini adalah sebuah upaya untuk menghindari kolapsnya negara yang bisa berujung pada perang saudara yang lebih berdarah.
- Keteguhan di Balik Siasat
Meski ditekan habis-habisan oleh narasi Trump yang mengklaim telah “menguasai” Venezuela, laporan dari Peoples Dispatch telah mengonfirmasi bahwa Delcy tetap konsisten pada satu syarat dalam penjualan minyak tersebut: pembebasan Nicolas Maduro dan Cilia Flores secara tanpa syarat. Rakyat yang berdemonstrasi di jalanan Venezuela sesungguhnya sangat paham bahwa pemimpin mereka sedang bersiasat, bukan menyerah. Mereka turun ke jalan bukan untuk melawan Delcy, melainkan untuk berdiri di belakangnya sebagai perisai hidup.
Penutup
Bagi kita di Indonesia, fenomena ini adalah pelajaran berharga tentang Solidaritas dan Siasat. Bahwa melawan imperialisme tidak cukup dengan kepalan tangan, tetapi juga dengan kecerdikan mengelola sumber daya yang kita miliki pada saat kritis. Selain itu, solidaritas internasional juga menjadi penentu. Kita bisa lihat bagaimana demonstrasi di berbagai belahan dunia, termasuk di negara-negara Asia Tenggara seperti Filipina, yang ditandai dengan lautan massa menyemut di jalanan menolak perang di Venezuela. Revolusi Bolivarian sedang diuji dalam “kawah candradimuka” sejarah saat ini, yaitu di antara tekanan ekonomi global dan kesetiaan rakyat jelata.

