Pengantar Redaksi
Esai ini menganalisis penggunaan ayat-ayat Al-Qur’an dalam pemakaman Ayatollah Ali Khamenei sebagai instrumen diplomasi simbolik Iran. Pembacaan ayat yang berbeda bagi delegasi Arab Saudi, Pakistan, dan India dipahami sebagai cara Teheran menyampaikan penghargaan, pesan, kritik, serta peringatan politik tanpa pernyataan resmi, meski otoritas Iran belum menjelaskan maksud pemilihan ayat tersebut. Dengan pendekatan teologi politik dan konsep kekuasaan simbolik, esai ini menunjukkan bagaimana Iran memanfaatkan ritual ta’ziyyah sebagai panggung diplomasi, legitimasi, edukasi, dan pembentukan ingatan atas perang. Diplomasi Al-Qur’an juga menyingkap dilema Asia Selatan yang berbicara dalam bahasa spiritual, tetapi bertindak di bawah tekanan kepentingan pertahanan, energi, ekonomi, diaspora, dan hubungan dengan kekuatan global. Penggunaan teks suci memberi nuansa spiritual pada diplomasi, namun beresiko menjadikan perbedaan politik menjadi kegagalan etik serta mempersempit peluang perundingan. Redaksi meringkas esai di atas dari kanal: https://thewire.in/diplomacy/when-scripture-became-statecraft-irans-quranic-diplomacy-and-south-asias-dilemmas
Ayat sebagai Nota Diplomatik
Pada pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, Iran menjadikan kitab suci sebagai bahasa diplomasi. Ayat-ayat Al-Qur’an yang berbeda dibacakan ketika delegasi asing mendekati peti jenazah. Duka kenegaraan pun berubah menjadi panggung isyarat politik. Pilihan ayat itu tidak cukup dipahami sebagai bagian dari tata upacara pemakaman belaka. Di dalamnya bekerja teologi politik, yakni penggunaan bahasa sakral untuk menyusun makna politik, mengukuhkan kedudukan moral, serta membedakan sahabat, pesaing, dan mitra yang masih dipandang ragu-ragu.
Otoritas Iran belum memberi penjelasan resmi mengenai alasan pemilihan ayat bagi tiap delegasi. Meski demikian, media Iran dan para pengamat kawasan membaca susunan itu sebagai komunikasi diplomatik yang dirancang, bukan bacaan keagamaan rutin. Diplomasi lazim bergerak lewat pernyataan, perjanjian, kunjungan, dan pemungutan suara. Iran memilih jalur lain. Ayat Al-Qur’an berfungsi seperti nota tanpa kertas yang menyampaikan tuduhan, kekecewaan, penghargaan, atau peringatan tanpa komunike langsung.
Daya utama siasat simbolik ini terletak pada sifatnya yang dapat disangkal. Negara tidak mengucapkan kalimat seperti Anda mengecewakan kami atau Anda berdiri bersama kami. Negara cukup menggelar ritual yang membuat pihak lain mendengar dirinya ditempatkan dalam kisah suci. Cara kerja itu dekat dengan gagasan Pierre Bourdieu tentang kekuasaan simbolik, kemampuan menggolongkan dunia dengan cara yang terasa alamiah, sah, dan bermuatan moral.
Carl Schmitt pernah menunjukkan bahwa jejak teologi bertahan di dalam konsep politik modern, terutama pada gagasan kedaulatan, keadaan pengecualian, dan otoritas. Ritual Iran membalik hubungan yang lazim antara agama dan politik. Teologi tidak ditempelkan sebagai hiasan politik, tetapi dijadikan tata bahasa politik yang terang. Pemakaman negara tampil sebagai teater kedaulatan yang menyatukan perkabungan, kemartiran, anti-imperialisme, dan kebijakan luar negeri. Duka diarahkan menjadi sumber legitimasi.
Pesan kepada Arab Saudi menjadi salah satu bagian paling tajam. Ketika delegasi Saudi mendekati peti, ayat yang dilaporkan dibaca ialah Surah Ali Imran ayat 13, ayat yang berkaitan dengan Perang Badar dan pertolongan Ilahi kepada pasukan kecil saat menghadapi kekuatan yang lebih besar. Riyadh tidak disebut sebagai musuh. Namun kerajaan itu ditempatkan dalam kerangka moral tentang kekuatan, perjuangan, dan keberpihakan Tuhan. Semiotika sakral bekerja dengan halus, mengadili tanpa tampak menjatuhkan vonis.
Bagi Pakistan, ayat yang dilaporkan dipilih ialah Surah Al-Isra ayat 80, doa tentang jalan masuk yang benar, jalan keluar yang benar, serta kekuasaan penolong dari Tuhan. Sejumlah komentator membacanya sebagai penghargaan atas sikap diplomatik Pakistan selama krisis. Untuk India, yang dibacakan ialah Surah Ali Imran ayat 173, tentang keteguhan orang beriman ketika mendapat kabar bahwa kekuatan besar telah berkumpul menghadapi mereka. Perbedaan itu memperlihatkan bahwa Iran tidak melihat Asia Selatan sebagai satu kelompok tunggal. Tiap negara dinilai menurut kedekatan, manfaat, dan keberanian moral yang dipersepsikan Teheran.
Ritual tersebut berlangsung setelah perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Pada Juni 2025, Amerika Serikat mengebom fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan untuk mendukung operasi militer Israel. Serangan itu memperkecil harapan bagi hidupnya kembali diplomasi nuklir dan mendorong Teheran ke sikap yang lebih konfrontatif. Kerusakan yang muncul bersifat material sekaligus simbolik. Aset strategis dan wibawa daya tangkal terpukul, sementara negara menghadapi tuntutan untuk menunjukkan bahwa Iran tidak dipermalukan.
Pemakaman menjawab luka kedua itu. Kerentanan militer diubah menjadi klaim kekuatan moral. Peti jenazah menjadi sarana pendidikan negara tentang cara perang harus diingat, sebagai ujian dan sejarah Ilahi, bukan sebagai kekalahan atau kegagalan strategi. Melalui ritual yang terkendali, Iran menarik garis antara mereka yang masuk dalam komunitas perlawanan, mereka yang berada di luarnya, dan pihak yang masih menggantung di tengah.
Dilema Asia Selatan
Negara-negara Asia Selatan menanggapi perang dengan kehati-hatian, evakuasi warga, dan sikap yang diatur agar tidak mengunci pilihan. India menyerukan dialog serta penurunan ketegangan, tetapi tidak berpihak tegas kepada Iran ataupun Israel. Kementerian Luar Negeri India meminta saluran diplomatik yang telah tersedia dipakai untuk meredakan krisis. Melalui Operasi Sindhu, New Delhi juga mengevakuasi 4.415 warga India dari Iran dan Israel dengan penerbangan khusus. Itu adalah diplomasi penilaian risiko, bukan solidaritas ideologis.
Sikap India lahir dari jaringan kepentingan yang padat dan saling bertentangan. Iran penting bagi proyek Pelabuhan Chabahar, akses ke Asia Tengah, serta konektivitas Eurasia. Israel berperan dalam teknologi pertahanan, intelijen, dan pertanian. Amerika Serikat berada di pusat ambisi global India, kemitraan teknologi, serta upaya mengimbangi Cina. Negara-negara Teluk juga menentukan keamanan energi, kiriman uang, dan nasib jutaan pekerja India. Dalam susunan itu, kejernihan moral menjadi kemewahan diplomatik. Otonomi strategis lebih tampak sebagai cara mengelola tekanan yang berlawanan daripada doktrin kemerdekaan penuh.
Nada Pakistan berbeda, walau strukturnya mirip. Islamabad mengecam serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran sebagai pelanggaran hukum internasional dan menegaskan hak Iran untuk membela diri berdasarkan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Namun Pakistan juga menghindari langkah yang dapat memutus hubungan dengan Washington. Solidaritas retorisnya dibatasi tekanan ekonomi, pertimbangan keamanan, dan ketergantungan multilateral. Bahasa Pakistan lebih tegas secara moral dibanding India, tetapi pilihan kebijakannya tetap terbatas.
Di situlah paradoks diplomasi Asia Selatan terlihat. Negara berbicara dengan bahasa moral, sementara tindakannya bergerak di bawah batas material. Pakistan menyerukan solidaritas Muslim dan hukum internasional, namun terikat pada jaringan keuangan serta keamanan Barat. India mengusung penahanan diri dan otonomi strategis, namun langkahnya dibentuk oleh perhitungan pertahanan, energi, dan diaspora. Bangladesh serta Sri Lanka juga menekankan penurunan ketegangan dan kehati-hatian diplomatik. Asia Selatan tidak mengelola perang sebagai aktor geopolitik bersama. Kawasan itu mengalaminya sebagai pinggiran yang rentan terhadap gejolak Asia Barat.
Diplomasi Al-Qur’an Iran menyingkap kerentanan tersebut. Negara-negara Asia Selatan bukan cuma bereaksi terhadap peristiwa militer. Mereka juga ditafsirkan, dinilai, dan diingat oleh kekuatan kawasan. Sikap diam, operasi evakuasi, pernyataan, dan ketidakhadiran masuk ke dalam peta moral pihak lain. Pesan Iran karena itu juga berbicara tentang terbatasnya daya tawar negara yang bergantung pada Asia Barat, tetapi tidak ikut membentuk tata keamanannya.
Ada bahaya di balik politik semacam ini. Ketika teks suci dipakai untuk menilai diplomasi, perbedaan politik dapat berubah menjadi kegagalan moral. Kehati-hatian strategis mudah dianggap sebagai kepengecutan, sedangkan persaingan dapat dinaikkan menjadi pertarungan kosmis. Teologi politik memberi kedalaman simbolik kepada negara, tetapi juga dapat mempersempit peluang perundingan. Jika diplomasi diikat pada sejarah suci, kompromi semakin sulit dipertanggungjawabkan.
Asia Selatan karena itu membutuhkan kebijakan Asia Barat yang lebih serius daripada evakuasi saat krisis, pemantauan harga minyak, dan pernyataan berhati-hati. Kebijakan itu harus mampu membahas hukum internasional, risiko nuklir, perlindungan migran, kepekaan sektarian, serta kerentanan maritim dalam satu kerangka. Tanpa daya itu, negara-negara Asia Selatan akan terus mengelola akibat tanpa ikut membentuk sebab.
Iran telah menunjukkan bahwa perang tidak selesai ketika rudal berhenti. Perang berlanjut melalui ingatan, ritual, dan narasi. Diplomasi Al-Qur’an merupakan usaha untuk menguasai babak sesudah pertempuran. Asia Selatan menangani api yang menyala, sedangkan Iran berusaha menentukan makna asap yang tertinggal.

