Pembaca sejarah Tiongkok sejak awal hingga penghujung abad ke-20 tak akan pernah bisa mengabaikan peran Deng Xiaoping. Dialah salah satu saksi sejarah ketika Sun Yat Sen berhasil menghapus kekuasaan imperial Manchu. Ia menjadi pelaku sejarah ketika Tiongkok dilanda perang akibat konflik politik internal antara Guomindang dan PKT. Ia menjadi salah satu tokoh sentral selain Mao dan Zhou sejak Republik Rakyat Tiongkok secara resmi berdiri sejak 1949. Dia pulalah orang yang membangun Tiongkok dari bahaya kehancuran yang mengerikan setelah era Mao Zedong–Zhou Enlai selesai. Bahkan ketika sudah tidak memiliki jabatan apa pun di PKT, di usia renta yang mestinya diisi dengan kegiatan santai, dengan pembawaan keras kepala Deng berusaha menyempurnakan impiannya tentang kemakmuran Tiongkok yang ia idam-idamkan sejak pertengahan kedua tahun 1950-an.
Al kisah, ketika mengunjungi Shanghai pada 1992, sebagai seorang veteran politik komunis yang sudah tidak memiliki jabatan resmi apapun di Partai Komunis Tiongkok (PKT), Deng Xiaoping mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait kelanjutan eksperimen sistem ekonomi pasar yang dimulai di Guangdong sebelum menyebar ke berbagai kota besar hingga pedesaan Tiongkok. Pada tahun 1992, “Kebijakan Pintu Terbuka” yang Deng rancang sejak akhir 1970-an telah berhasil mendekatkan PKT ke dunia luar dan dunia luar ke PKT demi lancarnya modernisasi ekonomi. Didorong oleh kemauan keras untuk mencapai kemakmuran ekonomi Tiongkok, satu dekade pasca pengembangan Zona Ekonomi Khusus di Guangdong dan Fujian, Deng Xiaoping mempertegas kebijakan reforma ekonomi-politik Tiongkok agar lebih sesuai dengan model ekonomi yang diangankannya. Dengan lugas ia menyatakan bahwa siapa pun yang menghambat berjalannya proses reformasi ekonomi Tiongkok dan komitmen negeri itu untuk membuka diri dengan dunia luar harus keluar dari partai.
Di masa itu, kebijakan ekonomi dan industrialisasi di bawah kepemimpinan duo Jiang Zemin dan Li Peng menetapkan kemajuan ekonomi Tiongkok akan berada di angka pertumbuhan 5-6% per tahun. Sementara Deng Xiaoping beranggapan bahwa pertumbuhan ekonomi itu dianggap terlalu lambat dan menghambat kemampuan internal Tiongkok yang mampu tumbuh di angka 9-10% per tahun. Deng Xiaoping menekan pemerintah pusat Beijing di bawah kepemimpinan Jiang Zemin dan Li Peng yang terkesan ragu dalam menjalankan agenda reformasi dan kebijakan membuka diri pada dunia luar. Selama gerilya politik 1990-1992, dalam keadaan tuli dan tubuh yang makin renta, Deng sempat menuliskan konsep kebijakan ekonomi Tiongkok, mengirimnya ke media dengan nama samaran, dan memicu debat internal di antara pemimpin teras PKT.
Pernyataan yang diliput oleh berbagai media di Hong Kong, Shanghai, dan Guangdong ini menjadi puncak dari gerilya politik yang pernah dilakukan oleh seorang politisi paling gaek di dunia selain Mahathir Muhammad. Pasca peliputan pernyataan Deng Xiaoping tersebut Tiongkok melakukan reorganisasi besar-besaran di sektor ekonomi: dipacunya industri manufaktur, diperkuatnya industri berbasis teknologi tinggi dan sektor jasa, pengenalan jasa
keuangan sampai ke kota-kota kecil, penyerapan modal asing secara besar-besaran dan efisiensi BUMN dan kelompok-kelompok usaha pedesaan atau kota kecil. Rapat besar PKT tahun 1992 secara resmi mengadopsi gagasan Deng Xiaoping tentang kebijakan “Ekonomi Pasar Sosialis.” Tulisan Deng yang dimuat dengan nama samaran itulah yang kemudian menjadi draf kebijakan Jiang Zemin dan Li Peng.
Bagaimana seorang lelaki gaek yang sudah tuli dan uzur—berusia 86 tahun ketika memulai gerilya politiknya dan 88 tahun ketika memeroleh kemenangan monumental dalam bentuk output kebijakan ekonomi Tiongkok—masih memiliki komitmen kerja politik yang bisa mengatasi kondisi fisiknya sendiri?
Tugas sejarah “Paifang”
Di sebuah desa kecil bernama Paifang yang masuk dalam teritori Guang’an, Provinsi Sechuan, monumen “Paifang” tegak berdiri sejak 1774. Monumen ini didirikan untuk menghormati seorang tokoh rendah hati bernama Deng Shimin. Shimin berasal dari desa itu dan konon bersama dua saudaranya berangkat ke ibukota kerajaan untuk mengikuti tiga tahap ujian negara. Bila peserta lolos ujian tahap pertama namun tidak lolos di tahap kedua, maka ia menjadi pejabat negara tingkat rendah. Bila ia lolos tahap kedua tapi tidak lolos di tahap ketiga, maka ia menjadi pejabat negara tingkat menengah. Namun apabila peserta bisa lolos sampai tahap ketiga, maka ia akan mendapatkan anugerah besar sebagai pejabat tinggi.
Karena kecakapan pengetahuan dan potensi dedikasinya pada negara, Deng Shimin lolos sampai tahap ketiga. Ia mendapatkan tiket langka untuk menjadi pejabat tinggi dan mengabdi pada kekaisaran Manchu. Selama masa pengabdiannya pada kekaisaran Manchu, ia dikenal sebagai salah satu pejabat yang punya akses langsung pada Kaisar lewat memo-memo rahasia yang ia kirimkan. Capaian bersejarah itu yang membuat desa kelahirannya dinamakan Paifang dan sebuah tugu didirikan sebagai penghormatan pada Deng Shimin dan dua saudaranya yang lain.
Deng Xiaoping lahir dari keluarga bangsawan kecil yang masih punya hubungan darah dengan Deng Shimin. Ia lahir pada 1904, tujuh tahun sebelum Kerajaan Tiongkok di bawah Kaisar Puyi yang lemah dibubarkan oleh Sun Yat Sen. Sudah sejak bayi ibunya mendapatkan firasat kalau anak mereka akan menjadi pejabat tinggi di Tiongkok. Itulah sebabnya meski kesejahteraan ekonomi keluarganya dihancurkan oleh kebiasaan berjudi sang ayah (Deng Wenmin), sejak kecil Deng Xiaoping mendapatkan privilese pada pendidikan. Sejak usia lima tahun ia dididik dengan standar pendidikan Konfusian sebagaimana keluarga terdidik Tiongkok era kekaisaran. Setelah pendidikan klasik di Paifang dan Xiexing, ia dimasukkan ke sekolah dasar yang dikelola publik kota kecil Guang’an—lulus di usia sebelas tahun—dan menyelesaikan sekolah menengah pertama pada usia empat belas tahun. Selesai dengan pendidikan menengah pertama di Guang’an, ia melanjutkan pendidikannya ke Chungqing dan memperoleh penguasaan tentang studi klasik Konfusian di samping belajar sejarah, matematika, Sains, dan Bahasa Tiongkok.
Cukup dengan pendidikan di Tiongkok, pada 1920, ia diberangkatkan ke Perancis
untuk studi lanjutan di Bayeux Middle School di Normandy sambil bekerja paruh waktu. Ada beberapa hal yang membuatnya terjun ke dunia politik sampai akhir hayatnya. Pertama, ia sampai di Perancis tiga tahun setelah berlalunya Revolusi Oktober di Rusia. Kedua, ia dan serombongan siswa Tiongkok seperti dirinya datang di waktu yang salah. Pasca Perang Dunia I, anak-anak muda Perancis yang semula maju ke medan perang kembali mencari pekerjaan biasa. Dua faktor ini membuat rombongan mahasiswa Tiongkok yang dikirim ke Perancis susah mencari pekerjaan. Ketiga, pertemuannya dengan Zhou Enlai. Kesusahan mencari kerja dan terjadinya serangkaian diskusi tentang posisi Tiongkok dalam relasinya dengan Barat mengantarkan Deng pada kesadaran bahwa Tiongkok menjadi bulan-bulanan Barat. Perjumpaannya dengan ideologi komunisme dan kebanggaannya secara primordial sebagai orang Tiongkok di Perancis tersebut membuat ia bergabung dengan para pekerja media bawah tanah.
Awalnya ia bekerja sebagai seorang mimeograph di bawah kepemimpinan Zhou Enlai, senior yang usianya enam tahun lebih tua darinya. Saat itu Zhou Enlai telah menjadi pemimpin muda Tiongkok yang menemui kaum radikal sebangsanya di Jepang dan Inggris sebelum melakukan kerja-kerja politik di Perancis. Di antara ekspatriat Tiongkok di Perancis, Zhou dihormati sebagai seorang pemimpin alamiah di antara generasi muda Tiongkok karena naluri strategi dan kemampuannya dalam mengajak orang dari beragam latarbelakang untuk bekerjasama. Bersama Zhou Enlai, kamerad sekaligus mentor politiknya, Deng belajar memainkan diplomasi yang halus dengan Barat sekaligus melakukan perubahan struktural akbar di Tiongkok tanpa mengguncang sendi-sendi politik yang dibangun oleh PKT sejak awal.
Berlayar di lautan politik Tiongkok modern yang ganas
Sepulang dari pengembaraan intelektual dan politiknya di Perancis dan Uni Soviet, Deng Xiaoping bergabung dengan Partai Komunis Tiongkok pimpinan Mao Tse Tung. Bersama duo Mao Zedong dan Zhou Enlai, ia meniti karir politik PKT dari partai kecil sampai memeroleh kemenangan monumental berupa pendirian Republik Rakyat Tiongkok. Sejak periode 1926 sampai paruh pertama dekade 1950-an, Deng menjadi satu di antara sangat sedikit orang kepercayaan Mao. Sebagaimana pengakuan Deng sendiri, di masa-masa itu, Deng mempercayai Mao dan Mao pun mempercayainya. Reputasinya yang masyhur dalam Perang PKT melawan Kuomintang di Hua Hai dan kepintarannya dalam kerja-kerja ekonomi rakyat adalah dua faktor penting yang menarik para pemimpin PKT waktu itu. Ia menuruti apa pun perintah Mao berkenaan dengan pengelolaan negeri Tiongkok pasca pendirian Republik Rakyat Tiongkok.
Namun pelaksanaan kebijakan Lompatan Jauh ke Depan yang dilucurkan oleh Mao Zedong perlahan-lahan memperlebar jarak antara Mao (pelaksana visioner romantik yang tidak terekonstruksi) dan Deng (pelaksana pragmatis). Sekalipun memenuhi perintah-perintah Mao, Deng memperluas jangkauan kebebasannya dengan tidak meminta arahan Mao seperti yang ia lakukan sebelumnya. Antara 1960-1961 Deng memainkan peran aktif dalam mengarahkan penyesuaian-penyesuaian realistis dalam industri, pertanian, pendidikan dan sektor-sektor lain
demi mengurangi ekses Lompatan Jauh ke Depan. Perbedaan cara pandang dalam kebijakan Lompatan Jauh ke Depan antara Mao dan Deng ini belum membuat Deng terpental dari posisi politbiro. Untung saja ia memiliki kepiawaian dalam kerja-kerja diplomatik sehingga tidak mengalami bencana politik yang lebih besar seperti rekan-rekannya. Keberhasilan kerja-kerja Deng dalam menghadapi ketegangan diplomatik Uni Soviet membuat Mao masih memberi kepercayaan politik padanya.
Selepas penggulingan Nikita Kruschev dan diluncurkannya kebijakan Revolusi Kebudayaan, lewat instrument tentara merah dan istrinya—Jiang Qing—, Mao mulai menyerang pihak-pihak dalam pemerintahan Tiongkok yang mengambil ‘jalan kapitalis’. Ketua Mao memobilisasi Tentara Merah dan para kombatan yang lebih tua untuk menyerang pihak-pihak seperti Liu Shaoqi dan Deng Xiaoping. Akibat serangan politik yang diikuti penahanan tanpa adanya fasilitas perawatan kesehatan, Liu Shaoqi meninggal secara mengenaskan di tahanan rumahnya, sementara istrinya dijeblokan ke penjara. Sejak 1967, Deng dan istrinya masuk daftar tahanan rumah, dipisahkan dari anak-anaknya meski ia masih bisa mengakses Koran dan buku serta mendengarkan radio. Di tahun 1969, ketika clash pertama dengan Uni Soviet pecah, Mao mengirimkan Deng Xiaoping ke beberapa tempat di Jiangxi.
Jauh dari Mao dan lingkaran elite PKT membuat Deng memiliki kesempatan untuk menjaga jarak dengan kegaduhan politik di Beijing. Jingxi menyelamatkannya karena tidak harus mempertahankan diri dari serangan-serangan yang tidak bisa diperkirakan dari para lawan politiknya. Seperti Churchill, de Gaule, Lincoln, dan para pemimpin nasional lain yang terjungkal dari ketinggian jabatan dan menghabiskan waktu dalam ketidakmenentuan sebelum kembali ke posisinya semula, Deng menemukan jeda jauh dari politik sehari-hari yang memungkinkannya menggapai tujuan-tujuan nasional besar dalam jangka panjang. Selama masa-masa penuh perenungan di Jiangxi inilah Deng Xiaoping yakin bahwa persoalan China tidak semata-mata disebabkan oleh kekeliruan Mao namun juga dari cacat-cacat mendalam dalam sistem yang dibuat Mao dan yang mengarahkan Mao pada Lompatan Jauh ke Depan dan Revolusi Kebudayaan yang mengerikan.
Di antara para pemimpin teras PKC saat itu, sebenarnya Mao menggadang-gadang dua orang yang akan menjadi suksesornya: Lin Biao dan Deng Xiaoping. Baik Mao maupun Zhou sadar betul kedua-duanya memiliki kapasitas yang sama untuk menggantikan pemimpin puncak Tiongkok sepeninggal Mao. Namun sejak serangan-serangan politik yang diarahkan pada Deng Xiaoping dalam implementasi kebijakan Lompatan Jauh ke Depan dan Revolusi Kebudayaan, Mao menjatuhkan pilihannya pada Marsekal Lin Biao. Sayangnya, sebagai seorang pemimpin tunggal yang nyaris tanpa kritik, Mao tidak mudah mempercayai orang-orang di sekelilingnya, termasuk Marsekal Lin Biao sendiri.
Dalam sebuah perjalanan dari Hangzhou ke Beijing, Mao berhenti di Shanghai. Semula ia berniat melanjutkan perjalanannya dengan kereta dari Shanghai menuju Beijing. Namun nalurinya mengatakan ada yang tidak beres sehingga ia meminta Wang Hongwen dan Xu Shiyou—orang kepercayaan Lin Biao—kembali ke Beijing sembari menitipkan pesan agar Lin Biao segera menemuinya begitu ia sampai di Beijing. Bukti-bukti yang ia kumpulkan di
Shanghai kemudian membuktikan adanya usaha kudeta dari Lin Biao. Keputusannya untuk berhenti di Shanghai dan menunda kepulangannya ke Beijing telah menyelamatkannya. Begitu percobaan kudeta lewat sabotase kereta gagal, Lin Biao bersama keluarga dan pengikutnya melarikan diri dengan pesawat terbang ke Uni Soviet. Sayangnya pesawat yang membawa Lin Biao meledak ketika baru sampai di Mongolia.
Kematian Lin Biao membuka kembali kesempatan bagi Deng untuk kembali ke Beijing. Tidak lama setelah Lin Biao meninggal, Mao mengundangnya kembali ke Beijing dan diminta aktif kembali di PKT meski di bawah pengawasan Gang of Four yang diketuai oleh Jiang Qing, istri Mao Tse Tung. Peristiwa tak terduga lain yang mengikuti kembalinya Deng ke pentas politik elite PKT adalah kematian Mao Tse Tung pada 9 September 1976. Meski Gang of Four dan Hua Guofeng—pemimpin politik tertinggi di Tiongkok pilihan Mao—berusaha mengganjal langkah-langkah politik Deng Xiaoping sebagai pemimpin tertinggi Tiongkok, ketakutan sebagian besar elite politik di Tiongkok pada masa depan negeri tirai bambu itu pasca kepemimpinan politik Mao membuat mereka memalingkan harapannya pada Deng Xiaoping.
Fajar baru reforma ekonomi
Sepeninggal Mao, Deng sangat menyadari kehidupan politik Tiongkok telah jenuh dengan berbagai rumusan kebijakan yang bising sejak awal pendirian republik (1949). Perdebatan teoritik yang berlarut-larut tentang jalan kemajuan Tiongkok bukan hanya membuat keropos mental mereka, namun juga membuat spekulasi-spekulasi teoritik soal jalan kemajuan itu berujung pada permusuhan tak bermutu di internal partai komunis sendiri. Sementara penerapan kebijakan Lompatan Jauh ke Depan dan Revolusi Kebudayaan justru menciptakan kesengsaraan bagi masyarakat Tiongkok di berbagai lapisan masyarakat.
Keberhasilan Deng dalam mentransformasikan ekonomi Tiongkok terletak pada keberaniannya untuk bereksperimen dan kemampuannya menghitung sumberdaya politik dan ekonominya. Sebagaimana yang pernah diakuinya sendiri, ketika secara de facto menjadi pemimpin puncak Tiongkok pada 1978, Deng Xiaoping tidak memiliki cetak-biru kebijakan pembangunan ekonomi yang jelas. Dalam kata-kata bijak bangsa Tiongkok, kakinya mesti meraba-raba bebatuan di dasar sungai sembari terus menyeberang. Ia hanya berpikir bagaimana caranya membuka tirai bambu negaranya pada kemajuan lmu pengetahuan, teknologi, sistem manajemen dan ide-ide baru dari berbagai penjuru dunia dengan mengabaikan sistem politik negara-negara yang menjadi sumber 4 kebutuhan dasar Tiongkok itu.
Pilihan untuk mereformasi ekonomi Tiongkok diambil dari pertimbangan pengalaman negara-negara Asia Timur dan Tenggara yang relatif berhasil melakukan transformasi ekonomi dengan menerapkan sistem ekonomi pasar meski bangunan politik dalam negerinya bersifat otoritarian. Kemajuan ekonomi Jepang sejak 1945, menggeliatnya perekonomian di Korea Selatan sejak era Park Chung Hee, kemajuan Singapura di era kepemimpinan Lee Kuan Yew, dan pelajaran ekonomi dari Hongkong dan propinsi Taiwan yang dianggapnya membangkang membangun optimisme dalam diri Deng kalau Tiongkok bisa mengikuti pelajaran dari negara tetangganya tersebut.
Pasca Sidang PKT ke-11 pada 1978, Deng dan elite PKT lainnya berusaha mendistribusikan kekuasaan yang semula terpusat pada figur Mao Tse Tung. Hua Guofeng dan Hu Yaobang secara bergantian berada pada posisi Ketua PKT, Deng Xiaoping mengendalikan Tiongkok lewat dua instrumen—militer (dengan mengetuai Komisi Militer Tiongkok) dan isu-isu kebijakan luar negeri, sementara Chen Yun menjadi penentu kebijakan-kebijakan ekonomi strategis Tiongkok. Pasca disingkirkannya Gang Empat dan afiliasi politik mereka di tubuh PKT, secara perlahan tapi pasti Deng menjadi dirigen dari berbagai kebijakan ekonomi dan politik strategis Tiongkok.
Dalam ranah kebijakan ekonomi, misalnya, ia dan Chen Yun memainkan peran sebagai pemacu dan pengendali dalam pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Di awal 1979 sampai 1982, Deng harus menahan ambisinya untuk melihat tingginya laju pertumbuhan ekonomi Tiongkok karena analisis ekonomi yang sangat hati-hati dari Chen Yun, terutama kemampuanya yang tak tertandingi untuk menghitung kesiapan Tiongkok untuk melakukan transformasi ekonomi berangkat dari kondisi terbaru saat itu. Masa-masa ini bersamaan dengan eksperimentasi dan perluasan secara besar-besaran perubahan kebijakan agraria Tiongkok dari pertanian kolektif ke sistem tanggungjawab rumah tangga yang pertamakali diperkenalkan oleh Wan Li di Provinsi Anhui. Keberhasilan terobosan kebijakan agraria ini membuat Tiongkok memastikan keamanan pasokan pangannya sendiri dan kemampuannya dalam menyuplai bahan-bahan ekspor pertanian serta input bahan mentah untuk industri ringan.
Meski Deng menjadi pemimpin puncak Tiongkok pasca meninggalnya Mao Tse Tung, dalam melakukan eksperimentasi sistem ekonomi pasar ia tak menjadi penentu tunggal. Agar eksperimentasi ekonomi sistem pasarnya tidak mengguncang ekonomi Tiongkok secara umum yang masih bercorak sosialis, ia dikontrol oleh Chen Yun yang dikenal sebagai satu-satunya Elite PKT yang memiliki spesialisasi kerja di bidang ekonomi sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok. Elite PKT ini bekerja untuk memastikan transformasi ekonomi di Tiongkok tidak sampai menyebabkan inflasi tinggi yang mengarah pada kekacauan ekonomi. Sejak 1980 sampai akhir hayatnya, Chen Yun-lah ekonom otodidak yang berkali-kali menyelamatkan ekonomi Tiongkok dari fenomena overheating karena arus modal yang masuk secara besar-besaran ke Tiongkok. Ia, misalnya, mendesak merubah nama Zona khusus usulan Deng menjadi Zona Ekonomi Khusus (SEZ) untuk menghindari anggapan kelompok komunis garis keras Tiongkok yang mencurigai eksperimentasi usulan Deng Xiaoping ini sebagai sebuah proyek politik. Pada bulan Maret 1980, di bawah tekanan kuat, Deng merubah nama Zona Khusus menjadi Zona Ekonomi Khusus.
Pada 1984, lima tahun sejak Tiongkok mereformasi ekonominya, proyek rintisan ekonomi pasar di empat Provinsi—Guangdong, Fujian, Guangzhou, dan Shekou—menunjukkan hasil spektakuler. Di tahun inilah, program reformasi ekonomi Tiongkok bergerak maju dengan menetapkan 14 kota di sepanjang pesisir Tiongkok sebagai Zona Pembangunan ekonomi dan Teknologi. Keberhasilan Chen Yun dalam mengendalikan laju inflasi dan menstabilkan ekonomi Tiongkok mendorong Deng Xiaoping mengambil inisiatif untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi lewat industrialisasi dan pengenalan ekonomi pasar
di Tiongkok.
Di tahun-tahun ini, posisi Deng mulai tak tergoyahkan sebagai pemimpin tertinggi Tiongkok. Ia, misalnya, berhasil menggeser Hua Guofeng yang mendapatkan mandat langsung sebagai Ketua PKT dari Mao Tse Tung dan menggantinya dengan Hu Yaobang yang telah puluhan tahun bekerja bersamanya sejak di Guangdong.
Penutup
Tugas sejarah yang telah dipancangkan oleh leluhurnya lewat pendirian Tugu Paifang barangkali hanya akan menjadi cerita belaka seandainya kehidupan politik Deng Xiaoping berhenti di masa Revolusi Kebudayaan 1966-1976. Bahkan ketika sang ayah, dalam keadaan bangkrut mau bersusah-payah mengusahakan dana agar ia bisa belajar di Perancis, Deng tak begitu peduli tentang apa yang akan terjadi dengan dirinya di masa depan. Namun mimpi Sang Ibu tentang kebesaran dirinya di masa depan dan ketangguhan perempuan itu dalam mempertahankan martabat keluarga ketika suaminya terjerembab kebiasaan berjudi dan kematian istri pertamanya saaat melahirkan anak pertama telah memberi orientasi awal tentang bagaimana ia harus menilai perjuangan politiknya di Tiongkok.
Entah kenapa benak saya selalu menyambungkan prestasi reformasi ekonomi dan kebijakan membuka diri Tiongkok pada dunia luar dan transformasi besar-besaran negeri itu sampai menjelang kematiannya sebagai dedikasi terselubung Deng Xiaoping pada ibunya. Bila Sang Ibu harus berjuang sendirian untuk membesarkan tiga anaknya, Deng justru mengajak seluruh penduduk Tiongkok agar bersama-sama bangkit dari keterpurukan pasca Revolusi Kebudayaan.
Sesudah Mao meninggal, yang dibutuhkan Tiongkok adalah mengerjakan ide-ide pembangunan dengan panduan kenyataan-kenyataan yang ada di hadapan mereka. Bila di masa remaja sampai tahun 1952 Deng begitu artikulatif menyuarakan gagasannya, maka sejak 1978 ia lebih banyak mengkampanyekan “sedikit bicara banyak kerja” dan “Belajar merumuskan kebijakan dari “apa yang ada di depan mata.” Ia meyakini betul sumberdaya manusia yang sangat besar di Tiongkok bisa menjadi keuntungan komparatif mereka ketika berinteraksi dengan dunia luar. Selama nyaris tujuh puluh tahun ia telah menggunakan sepasang matanya yang awas untuk merekam apa saja yang sudah dicapai oleh negeri tirai bambu itu, kelebihan dan kelemahannya, serta kebutuhan-kebutuhan paling mendesak bagi negerinya di masa depan. Ia, salah satu orang yang punya nafas paling panjang dalam mengawal RRT sejak awal pendiriannya hingga era tinggal landas, memadukan kesabaran revolusioner seorang pemimpin politik dengan determinasi pembangunan dalam negeri, semata-mata agar bagian terbesar dari rakyat Tiongkok merasakan buah dari pendirian negara mereka sejak awal abad dua puluh.
Ia memang tak menyaksikan Tiongkok di masa sekarang, yang tampak digdaya di bidang ekonomi dan tengah menapaki jalannya sendiri sebagai salah satu negara paling berpengaruh di bidang ekonomi dan teknologi. Ia hanya bisa memberikan bagian terbaik dari dirinya pada negeri yang sangat ia cintai dan sangat ia angankan bisa makmur dan berdaulat di
masa depan. Bila ia merasa bahwa bagian terbaik dari dirinya adalah kemampuan untuk melihat jalan terbaik bagi pembangunan Tiongkok dan panjangnya nafas yang dibutuhkan untuk sampai pada apa yang dicita-citakan, ia akan menyumbangkan dua bagian terbaik dari dirinya itu. Dan mungkin, mungkin saja, itu pula yang membuat ia menulis wasiat sederhana: menyumbangkan kornea mata dan paru-parunya untuk bahan penelitian. Bila mentor politiknya, Chou Enlai meminta abu jenazahnya ditebarkan di daratan Tiongkok, Deng Xiaoping justru meminta abu jenazahnya di buang ke laut.
Ia tak pernah mengira, dua puluh tahun kemudian, di bawah pemerintah Xi Jinping, Tiongkok menyemai mimpi menguasai ekonomi dunia lewat lautan![]
*Dwi Cipta: Penulis cerpen, esai dan novel. Karya-karyanya di antaranya adalah Darah Muda (Novel), Renjana (Kumpulan Cerpen), Vice versa (Kumpulan esai sastra), Victoria (Novel terjemahan karya Knut Hamsun).

