Kita sering takut mengkritik zionisme karena ia sengaja disamakan dengan agama Yahudi. Padahal, mengkritik zionisme bukanlah membenci orang Yahudi. Zionisme adalah ideologi politik kolonial yang menjadikan perampasan tanah, supremasi, kekerasan negara, dan pengusiran sebagai alat kekuasaan. Sebagaimana komunisme, kapitalisme, liberalisme, dan ideologi politik lainnya dapat diperiksa serta dikritik, zionisme pun wajib terbuka terhadap kritik. Tidak ada ideologi yang boleh dibuat kebal dari pertanggungjawaban moral dan politik. Ketika sebuah ideologi membenarkan penjajahan, diskriminasi, dan penghancuran kehidupan manusia, kritik terhadapnya bukan hanya hak, melainkan kewajiban moral dan kebangsaan.
Dalam praktiknya, ideologi ini telah menghasilkan kehancuran dan pertumpahan darah dari Palestina dan Lebanon hingga berbagai wilayah Timur Tengah. Jika seluruh darah para korbannya dikumpulkan, mungkin telah menjadi danau darah. Namun tragedi sebesar itu terus disamarkan melalui propaganda: rakyat Palestina disebut teroris, penjajahan disebut keamanan, penghancuran Gaza disebut “self-defence”, dan genosida diturunkan derajatnya menjadi sekadar “konflik”. Bahasa semacam ini bertentangan dengan sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab karena menghapus kemanusiaan korban sekaligus menormalkan penderitaan mereka.
Di Eropa dan Amerika, jaringan serta narasi pro-zionisme kerap membingkai Islam sebagai ancaman utama. Ketakutan terhadap Islam kemudian mengalihkan perhatian publik dari kolonialisme, pendudukan, dan kekerasan yang dilakukan atas nama keamanan. Di Timur Tengah, politik pecah belah mempertentangkan sesama Muslim, memperuncing perbedaan mazhab, etnis, dan negara. Di tingkat global, umat beragama pun diadu domba, seolah-olah konflik ini merupakan perang antaragama, bukan persoalan penjajahan, supremasi, dan perampasan hak. Politik adu domba seperti ini bertentangan dengan semangat Persatuan Indonesia dan prinsip hidup berdampingan secara damai di antara bangsa, agama, dan kelompok sosial.
Dalam daya rusaknya terhadap kemanusiaan dan kemampuannya menyusup ke dalam politik, media, serta cara berpikir masyarakat, zionisme dapat menjadi ancaman yang tidak kalah—bahkan lebih berbahaya—daripada komunisme. Komunisme dahulu secara terbuka dikenali sebagai ideologi; sedangkan zionisme kerap bersembunyi di balik bahasa agama, demokrasi, keamanan, dan pemberantasan terorisme. Karena bekerja melalui bahasa yang tampak moral dan demokratis, ideologi ini dapat melemahkan kepekaan masyarakat tanpa selalu dikenali sebagai bentuk penjajahan.
Prof. AS Hikam pernah menegaskan bahwa zionisme tidak identik dengan agama. Karena itu, ada zionis Yahudi, zionis Kristen, bahkan zionis Muslim. Sebaliknya, banyak orang Yahudi menolak zionisme karena tidak rela agama mereka dipakai untuk membenarkan kolonialisme, fasisme, dan pembantaian. Membedakan agama Yahudi dari zionisme sangat penting agar kritik tetap diarahkan kepada ideologi dan kekuasaan politik, bukan berubah menjadi kebencian terhadap suatu agama atau etnis.
Zionisme tidak hanya menjajah tanah, tetapi juga berusaha menjajah bahasa, pikiran, dan kesadaran moral kita. Pembunuhan disebut operasi keamanan, korban sipil dianggap kerusakan tambahan, dan genosida diperlakukan seperti berita biasa. Sedikit demi sedikit, kita dibuat tidak peka terhadap darah manusia. Pikiran dan agama kita diarahkan agar lebih sensitif terhadap perlawanan korban daripada terhadap kekerasan penjajah. Ketika bahasa publik dimanipulasi dan suara korban dibungkam, prinsip Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan ikut dirusak, sebab masyarakat tidak lagi memperoleh ruang yang jujur untuk menilai kekuasaan.
Di sinilah kerusakan moral itu terjadi. Agama yang seharusnya membela kehidupan, keadilan, dan kaum tertindas justru dipaksa menjadi pembenar kekuasaan. Kita dibuat menjauh dari ajaran agama yang suci: membenci kezaliman, mencegah pembunuhan, dan membela manusia tanpa membedakan agama maupun bangsanya. Penggunaan agama untuk membenarkan supremasi, perampasan, dan pembunuhan juga bertentangan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Ketuhanan dalam Pancasila tidak mungkin dipisahkan dari penghormatan terhadap kehidupan dan martabat manusia.
Karena itu, jangan biarkan kritik terhadap zionisme dibungkam dengan tuduhan kebencian agama. Yang kita lawan bukan suatu agama atau etnis, melainkan ideologi penjajahan dan supremasi. Sikap yang sesuai dengan Pancasila adalah menolak antisemitisme sekaligus menolak zionisme; menghormati orang Yahudi sebagai sesama manusia sekaligus mengkritik ideologi politik yang membenarkan penjajahan.
Zionisme adalah ideologi berbahaya karena merusak kemanusiaan, memecah belah umat beragama, menumpulkan kepekaan moral, dan membenarkan penjajahan. Zionisme bertentangan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa ketika agama diperalat untuk kekuasaan; bertentangan dengan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab ketika kehidupan manusia dihancurkan; bertentangan dengan Persatuan Indonesia ketika umat dan bangsa diadu domba; bertentangan dengan prinsip kerakyatan ketika propaganda mengendalikan kesadaran publik; serta bertentangan dengan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia ketika perampasan tanah, diskriminasi, dan ketimpangan hak dibenarkan.
Zionisme juga suka menyensor dan menyingkirkan yang mengkritisinya, sehingga dalam tulisan inipun terpaksa dengan menulis zionisme. Ancaman zionisme sangat nyata terhadap agama dan Pancasila: merusak agama, merusak akal, merusak Pancasila, mengadu domba umat beragama, mematikan kemanusiaan, dan menjadi terbiasa dan membenarkan penjajahan, pembunuhan dan pembantaian.
Karena itu, penolakan terhadap zionisme bukanlah agenda kebencian agama. Ia merupakan konsekuensi dari kesetiaan kepada Pancasila, Pembukaan UUD 1945, dan amanat bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Menolak zionisme adalah sikap anti-penjajahan. Mengkritiknya bukan kebencian agama, melainkan tanggung jawab moral. Membela korban penjajahan adalah pengamalan Pancasila. Diam di hadapan penjajahan bukanlah moderasi, melainkan ketaklukan.
Moh Yasir Alimi
Wakil Ketua PWNU Jateng 2018-2023
Mustasyar NU Jatisari

