Ketika Kebudayaan Harus Berpikir
Ada sesuatu yang sering luput ketika kita berbicara tentang Yogyakarta. Kita terlalu sibuk mengatakan bahwa Yogyakarta adalah kota budaya, kota pendidikan, kota sejarah, kota perjuangan, kota seni, dan berbagai sebutan lain yang semuanya benar, tetapi mungkin belum menyentuh persoalan yang paling mendasar. Kita telah begitu lama berbicara tentang apa yang dimiliki Yogyakarta, sampai lupa bertanya: apa yang diketahui Yogyakarta? Kita banyak membicarakan kebudayaan sebagai warisan, tetapi jarang bertanya apakah kebudayaan juga merupakan cara manusia mengetahui kehidupan? Kita berbicara tentang pendidikan sebagai sekolah dan perguruan tinggi, tetapi jarang bertanya pengetahuan macam apa yang sebenarnya sedang dibentuk di dalamnya? Kita berbicara tentang kemajuan melalui pertumbuhan ekonomi, teknologi, infrastruktur dan investasi, tetapi jarang bertanya: maju menuju kehidupan yang seperti apa?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terdengar terlalu filosofis untuk sebuah pembicaraan tentang pembangunan. Tetapi justru di situlah persoalannya. Kita terlalu sering menganggap bahwa pembangunan adalah urusan yang praktis, sedangkan pertanyaan tentang makna adalah urusan para pemikir. Akibatnya, kita dapat membangun banyak hal tanpa benar-benar mengetahui untuk apa semua itu dibangun.
Kita dapat menghasilkan manusia yang semakin terampil, tetapi belum tentu semakin bijaksana. Kita dapat menguasai teknologi yang semakin canggih, tetapi belum tentu semakin mampu memahami kehidupan. Kita dapat memiliki pendidikan yang semakin luas, tetapi belum tentu memiliki masyarakat yang semakin mampu membedakan mana yang penting dan mana yang sekadar menarik. Barangkali masalah kita bukan kekurangan pengetahuan. Barangkali kita justru kekurangan cara menggunakan pengetahuan untuk menentukan arah kehidupan.
Di sinilah Yogyakarta menjadi menarik. Bukan karena Yogyakarta lebih baik daripada daerah lain. Bukan karena Yogyakarta mempunyai kebudayaan yang harus ditempatkan lebih tinggi daripada kebudayaan lain. Tetapi karena Yogyakarta memiliki pengalaman panjang tentang bagaimana manusia hidup bersama pengetahuan. Ada pengalaman tentang pendidikan. Ada pengalaman tentang kebudayaan. Ada pengalaman tentang kehidupan masyarakat. Ada pengalaman tentang alam dan ruang hidup. Ada pengalaman tentang perubahan. Ada pengalaman tentang perjumpaan antara tradisi dan modernitas. Semua itu selama ini lebih sering kita sebut sebagai kebudayaan. Tetapi mungkinkah di dalam semua pengalaman itu tersimpan sesuatu yang lebih dalam: sebuah cara mengetahui kehidupan?
Saya kira di sinilah pembicaraan tentang Yogyakarta perlu bergerak satu langkah lebih jauh.
Kebudayaan selama ini terlalu sering diperlakukan seperti benda yang harus dijaga. Ada bangunan yang dilestarikan. Ada kesenian yang dipentaskan. Ada tradisi yang diwariskan. Ada bahasa yang diajarkan. Ada upacara yang dipertahankan. Semua itu penting. Tetapi kebudayaan akan kehilangan daya hidupnya apabila hanya menjadi sesuatu yang dipajang dan diulang. Kebudayaan yang hidup bukan kebudayaan yang tidak berubah. Kebudayaan yang hidup adalah kebudayaan yang mampu berpikir ketika berhadapan dengan perubahan.
Bukankah ini persoalan kita sekarang?
Ketika teknologi mengubah cara manusia berkomunikasi, apakah kebudayaan hanya menjawab dengan mengatakan bahwa kita harus mempertahankan tradisi? Ketika kecerdasan buatan mulai mengubah cara manusia bekerja dan belajar, apakah kebudayaan hanya menjadi latar belakang upacara? Ketika kota tumbuh dan ruang hidup semakin sempit, apakah kebudayaan hanya berbicara tentang bangunan lama? Ketika anak-anak muda hidup dalam dunia digital yang batas-batasnya tidak lagi geografis, apakah kebudayaan cukup menjawab dengan meminta mereka mencintai warisan leluhur?
Mungkin tidak.
Mungkin kebudayaan harus melakukan sesuatu yang lebih sulit: mengajarkan cara berpikir.
Sesungguhnya Yogyakarta sudah mempunyai contoh bahwa kebudayaan dapat menjadi cara berpikir. Pengalaman pendidikan berbasis budaya yang tumbuh di Yogyakarta, misalnya, tidak sejak awal hanya berbicara tentang memasukkan kebudayaan ke dalam sekolah. Sistem pendidikan Tamansiswa pernah membangun gagasan tentang sekolah sebagai lingkungan pertumbuhan manusia, dengan sistem among yang menempatkan pendidikan sebagai tuntunan bagi perkembangan anak. Bahkan jejak fisiknya masih dapat ditemukan di kawasan Tamansiswa, yang hingga kini menjadi ruang pendidikan sekaligus ruang sejarah kebudayaan.
Yang menarik bukan sekadar bahwa Yogyakarta pernah mempunyai lembaga pendidikan yang berakar pada kebudayaan. Yang lebih penting adalah pertanyaan yang dapat kita tarik darinya: apakah pendidikan harus dimulai dari kebutuhan untuk mengisi kepala, atau dari kebutuhan untuk menumbuhkan manusia?
Pertanyaan itu masih sangat relevan hari ini.
Sebab ketika pendidikan semakin dipenuhi kurikulum, indikator, angka, sertifikat, kompetensi dan teknologi, kita perlu bertanya kembali: apa yang sebenarnya sedang kita tumbuhkan? Apakah sekolah hanya tempat anak memperoleh kemampuan untuk memasuki pasar kerja? Ataukah sekolah juga merupakan tempat manusia belajar memahami dirinya, orang lain, masyarakat dan dunia?
Di situlah pengalaman Yogyakarta menjadi lebih daripada sejarah pendidikan. Ia dapat menjadi laboratorium pemikiran pendidikan.
Inilah perbedaan penting antara kebudayaan sebagai warisan dan kebudayaan sebagai pengetahuan. Warisan menjawab pertanyaan: apa yang kita terima dari masa lalu? Pengetahuan mengajukan pertanyaan yang berbeda: apa yang dapat kita pelajari dari apa yang kita terima? Warisan dapat disimpan. Pengetahuan harus digunakan. Warisan dapat dikenang. Pengetahuan harus diuji dalam kehidupan. Warisan dapat diwariskan dalam bentuk simbol. Pengetahuan harus mampu menjawab persoalan baru.
Karena itu, kita tidak cukup mengatakan bahwa Yogyakarta memiliki nilai-nilai luhur. Kita harus berani bertanya: bagaimana nilai itu bekerja sebagai pengetahuan?
Ambil satu contoh: rasa. Kita sering menyebutnya sebagai bagian dari kebudayaan Jawa. Tetapi jika berhenti di sana, rasa menjadi istilah budaya yang indah tetapi tidak produktif. Pertanyaan yang lebih jauh adalah: apakah rasa merupakan kemampuan manusia membaca sesuatu yang tidak seluruhnya dapat ditangkap oleh kata dan angka? Bagaimana manusia belajar menggunakan rasa? Kapan rasa dapat dipercaya? Bagaimana rasa dibedakan dari prasangka? Bagaimana pengalaman rasa dibicarakan dengan orang lain? Bagaimana rasa dapat dipertemukan dengan ilmu pengetahuan?
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadikan kebudayaan bergerak.
Demikian pula eling lan waspada. Kita dapat mengajarkannya sebagai nilai moral. Tetapi kita juga dapat bertanya: apakah eling merupakan cara manusia mengetahui dirinya sendiri? Apakah waspada merupakan kemampuan membaca keadaan sebelum keadaan itu berubah menjadi persoalan? Jika demikian, keduanya bukan hanya ajaran tentang perilaku baik. Ia merupakan latihan kesadaran.
Begitu pula laku. Laku bukan sekadar tindakan. Di dalam laku terdapat pengalaman. Dan pengalaman yang direfleksikan dapat menjadi pengetahuan. Manusia mencoba, mengalami, gagal, memperbaiki, lalu memahami. Bukankah sebagian besar pengetahuan manusia sesungguhnya lahir melalui proses semacam itu?
Contoh yang menarik dapat kita lihat di Kotagede. Kawasan ini tidak hanya diperlakukan sebagai kumpulan bangunan tua atau situs sejarah. Konsep Living Museum Kotagede justru berusaha membaca kawasan sebagai kehidupan yang masih berlangsung. Di dalamnya terdapat sejarah, teknologi dan kemahiran tradisional, seni, agama, adat, kehidupan sehari-hari, serta dinamika masyarakat. Program eksplorasi kawasan bahkan membawa orang keluar dari museum menuju ruang kehidupan yang menjadi sumber pengetahuan itu sendiri.
Di sini kita menemukan sesuatu yang penting. Museum tidak lagi hanya menjadi tempat menyimpan masa lalu. Kehidupan masyarakat menjadi museum yang terus bergerak.
Tetapi gagasan itu sebenarnya masih dapat didorong lebih jauh. Jangan hanya bertanya bagaimana Kotagede dilestarikan. Tanyakan: apa yang dapat dipelajari Indonesia dari cara Kotagede bertahan sebagai masyarakat? Bagaimana pengetahuan tentang ruang, kerajinan, perdagangan, makanan, arsitektur, hubungan sosial dan perubahan kota diwariskan? Bagaimana pengetahuan itu berubah ketika generasi berganti? Mana yang masih relevan? Mana yang harus ditinggalkan? Mana yang dapat dikembangkan menjadi pengetahuan baru?
Dengan pertanyaan semacam itu, sebuah kawasan budaya tidak lagi menjadi objek wisata. Ia menjadi ruang belajar.
Contoh lain bahkan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di tengah kota Yogyakarta terdapat kelompok-kelompok masyarakat yang mengembangkan pertanian pekarangan. Salah satunya, KWT Gemah Ripah, mengembangkan pengelolaan pekarangan menjadi kegiatan produktif sekaligus wisata edukasi, dengan dukungan pengetahuan tentang budidaya, pengolahan produk dan pemasaran.)
Sekilas ini mungkin hanya kegiatan pertanian masyarakat. Tetapi mengapa kita tidak membacanya sebagai pengetahuan?
Di sana terdapat pengetahuan tentang bagaimana ruang kota yang terbatas dapat digunakan untuk menghasilkan pangan. Ada pengetahuan tentang hubungan antara tanaman, keluarga dan lingkungan. Ada pengetahuan ekonomi ketika hasil kebun diolah menjadi produk bernilai tambah. Ada pengetahuan sosial ketika warga bekerja bersama. Ada pengetahuan ekologis ketika manusia belajar kembali bahwa kehidupan kota tetap bergantung pada tanah, air dan tumbuhan.
Bukankah inilah yang dimaksud dengan pengetahuan yang hidup?
Pengetahuan tidak selalu lahir di laboratorium. Ia dapat lahir dari pekarangan. Tidak selalu lahir dari universitas. Ia dapat lahir dari pengalaman warga. Tidak selalu ditulis dalam jurnal. Ia dapat hidup dalam praktik yang dilakukan berulang kali, diperbaiki, dan diwariskan.
Persoalannya adalah apakah kita mampu mengenalinya sebagai pengetahuan. Di sinilah pendidikan juga harus dikritik.
Kita telah lama menganggap pendidikan sebagai proses memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid. Anak belajar sesuatu, menghafalnya, diuji, memperoleh nilai, lalu melanjutkan ke tingkat berikutnya. Pendidikan menjadi semakin terukur. Tetapi apakah manusia yang semakin banyak mengetahui otomatis semakin mampu menjalani kehidupan? Pertanyaan ini tidak sederhana.
Seorang anak dapat mengetahui banyak hal tentang lingkungan, tetapi apakah ia mampu merasakan ketika lingkungannya rusak? Ia dapat mengetahui teori tentang masyarakat, tetapi apakah ia mampu memahami orang lain? Ia dapat mengetahui teknologi, tetapi apakah ia mengetahui kapan teknologi harus digunakan dan kapan harus dibatasi? Ia dapat memperoleh nilai akademik yang tinggi, tetapi apakah ia mengetahui apa yang layak diperjuangkan dalam hidup?
Mungkin pendidikan kita terlalu sering mengajarkan apa yang harus diketahui, tetapi belum cukup mengajarkan bagaimana mengetahui. Padahal, yang terakhir justru semakin penting.
Bahkan ketika Yogyakarta mulai menggunakan teknologi digital untuk pendidikan karakter, pertanyaan tersebut tidak menjadi lebih kecil, melainkan semakin besar. Ada contoh aplikasi SiMHabit yang dikembangkan di sebuah sekolah di Yogyakarta untuk memantau kebiasaan murid dan menghubungkan pembentukan karakter dengan teknologi digital.
Contoh seperti ini menarik bukan karena teknologinya. Justru yang menarik adalah pertanyaan yang mengikutinya: dapatkah teknologi membantu manusia membentuk kebiasaan baik tanpa mengubah karakter menjadi sekadar data?
Di sinilah kita perlu berhati-hati. Digitalisasi pendidikan tidak otomatis berarti pendidikan menjadi lebih maju. Teknologi dapat membantu manusia melihat sesuatu, tetapi tidak otomatis membuat manusia memahami sesuatu. Data dapat menunjukkan perilaku, tetapi tidak otomatis menjelaskan maknanya. Aplikasi dapat memantau kebiasaan, tetapi pertumbuhan manusia tidak seluruhnya dapat dipantau melalui layar.
Maka teknologi seharusnya tidak menggantikan pengetahuan manusia tentang kehidupan. Ia harus memperluas kemampuan manusia untuk membaca kehidupan.
Anak-anak masa depan akan hidup dalam dunia ketika informasi tidak lagi menjadi barang langka. Mesin dapat mencari informasi dalam hitungan detik. Kecerdasan buatan dapat menjawab pertanyaan dalam berbagai bidang. Mesin dapat merangkum buku, membuat gambar, menganalisis data, bahkan membantu manusia mengambil keputusan. Jika demikian, apakah sekolah masa depan masih cukup hanya mengajarkan pengetahuan?
Barangkali tidak.
Yang harus semakin kuat justru kemampuan untuk bertanya, merasakan, membedakan, menilai, merefleksikan, dan mengambil keputusan. Dengan kata lain, pendidikan harus kembali kepada pertanyaan mendasar: bagaimana manusia menjadi manusia melalui pengetahuan?
Di sinilah gagasan tentang Pendidikan Khas Kejogjaan dapat dibaca lebih jauh. Bukan semata-mata sebagai tambahan materi tentang kebudayaan Yogyakarta. Bukan pula sekadar memasukkan istilah, simbol, tradisi, atau nilai lokal ke dalam pembelajaran. Yang jauh lebih penting adalah menjadikan pengalaman Yogyakarta sebagai cara belajar membaca kehidupan.
Anak tidak hanya belajar tentang gotong royong. Ia mengalami kerja bersama. Anak tidak hanya mengetahui tentang lingkungan. Ia membaca perubahan lingkungan di sekitarnya. Anak tidak hanya menghafal tepa selira. Ia belajar memahami posisi orang lain. Anak tidak hanya mengetahui memayu hayuning bawana. Ia belajar melihat hubungan antara tindakan manusia dan keberlangsungan kehidupan.
Dengan demikian, pendidikan tidak sekadar membuat anak tahu tentang Yogyakarta, tetapi belajar mengetahui melalui pengalaman Yogyakarta. Ini pergeseran kecil dalam kalimat, tetapi besar dalam konsekuensi.
Dan akhirnya kita sampai pada persoalan kemajuan.
Selama ini kemajuan terlalu sering diukur dari apa yang dapat dilihat dan dihitung. Jalan semakin panjang. Gedung semakin tinggi. Ekonomi semakin besar. Teknologi semakin cepat. Investasi semakin banyak. Kota semakin modern. Semua itu penting. Tetapi apakah sebuah masyarakat pasti semakin maju ketika semua indikator tersebut meningkat?
Bagaimana jika jalan semakin baik tetapi manusia semakin jauh satu sama lain? Bagaimana jika teknologi semakin canggih tetapi manusia semakin kehilangan kemampuan untuk berpikir sendiri? Bagaimana jika ekonomi semakin besar tetapi alam semakin rusak? Bagaimana jika kota semakin modern tetapi anak-anak tidak lagi mempunyai ruang untuk mengenal tetangganya? Bagaimana jika pendidikan semakin tinggi tetapi masyarakat semakin sulit membedakan antara kecerdasan dan kebijaksanaan?
Mungkin kita membutuhkan definisi kemajuan yang lebih dalam. Kemajuan bukan hanya kemampuan manusia melakukan lebih banyak hal. Kemajuan adalah kemampuan manusia mengetahui apa yang seharusnya dilakukan.
Di sinilah Yogyakarta dapat menawarkan sesuatu yang penting bagi Indonesia.
Bukan model pembangunan yang harus ditiru mentah-mentah. Bukan resep kebudayaan yang harus diberlakukan di seluruh Indonesia. Tetapi sebuah pertanyaan: bisakah sebuah wilayah menjadikan pengalaman hidupnya sebagai sumber pengetahuan untuk menghadapi masa depan?
Saya membayangkan Yogyakarta bergerak ke arah itu.
Yogyakarta bukan hanya kota pendidikan. Ia menjadi ruang di mana pendidikan menghasilkan cara berpikir baru. Yogyakarta bukan hanya daerah budaya. Ia menjadi ruang di mana kebudayaan menghasilkan pengetahuan baru. Yogyakarta bukan hanya tempat perguruan tinggi berdiri. Ia menjadi ruang di mana perguruan tinggi, masyarakat, kebudayaan, teknologi, dan pengalaman sehari-hari saling belajar. Yogyakarta bukan hanya tempat orang datang mencari ilmu. Ia menjadi tempat pengetahuan diuji oleh kehidupan.
Inilah saatnya kita perlu menggagas bersama tentang Yogyakarta Knowledge Province.
Istilah itu tidak perlu dipahami sebagai label administratif baru, dan mungkin perlu dicarikan istilah yang pas dan trep. Intinya, gagasan ini lebih tepat dipahami sebagai cita-cita peradaban. Sebuah keadaan ketika Yogyakarta memiliki kemampuan untuk menemukan, mengumpulkan, menguji, mengembangkan, menyimpan, dan menggunakan pengetahuan bagi kehidupan. Pengetahuan tidak hanya berada di kampus. Ia ada di kampung. Di sawah. Di pasar. Di sekolah. Di komunitas. Di lingkungan seni. Di ruang digital. Di pengalaman orang tua. Di kegagalan anak muda. Di pengalaman masyarakat menghadapi bencana, perubahan iklim, perubahan ekonomi, urbanisasi, dan teknologi.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi: siapa yang paling berhak disebut memiliki pengetahuan? Pertanyaannya: bagaimana semua pengetahuan itu dipertemukan sehingga menjadi daya hidup bersama?
Bayangkan jika pengalaman Kotagede tentang ruang dan warisan hidup dibaca bersama oleh arsitek, sejarawan, warga, ahli lingkungan dan anak-anak sekolah. Bayangkan jika pengalaman pertanian pekarangan di tengah kota tidak berhenti sebagai kegiatan kelompok masyarakat, tetapi diteliti untuk menjawab persoalan pangan perkotaan. Bayangkan jika pengalaman pendidikan berbasis budaya tidak berhenti sebagai program sekolah, tetapi menjadi sumber penelitian tentang bagaimana manusia belajar melalui pengalaman, rasa, seni dan lingkungan. Bayangkan jika teknologi digital tidak hanya digunakan untuk membuat administrasi pendidikan lebih cepat, tetapi untuk membangun arsip pengetahuan masyarakat yang memungkinkan pengalaman lokal dibaca dan dipelajari lintas generasi.
Di situlah sebuah wilayah mulai berubah dari pemilik kebudayaan menjadi penghasil pengetahuan.
Jika pertanyaan ini berhasil dijawab, Yogyakarta dapat mengambil peran yang jauh lebih besar daripada sekadar mempertahankan citra sebagai kota budaya dan pendidikan. Yogyakarta dapat menjadi laboratorium kehidupan.
Tempat masa lalu tidak sekadar dikenang, tetapi dibaca. Tempat tradisi tidak sekadar dipertahankan, tetapi dipikirkan kembali. Tempat ilmu pengetahuan tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi menjawab persoalan kehidupan. Tempat teknologi tidak hanya digunakan untuk mempercepat pekerjaan, tetapi diuji dampaknya terhadap manusia. Tempat pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi membentuk manusia yang mampu membaca dunia.
Bukankah bangsa ini membutuhkan ruang seperti itu?
Refleksi
Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Indonesia juga tidak kekurangan informasi. Universitas semakin banyak. Teknologi semakin maju. Data semakin melimpah. Tetapi kita masih berhadapan dengan persoalan yang sangat tua: bagaimana menggunakan semua pengetahuan itu dengan bijaksana?
Mungkin karena itu, masa depan tidak cukup dibangun dengan knowledge economy. Kita juga membutuhkan knowledge for life.
Pengetahuan yang tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga menjaga kehidupan. Pengetahuan yang tidak hanya membuat manusia lebih cepat, tetapi juga membuatnya lebih sadar. Pengetahuan yang tidak hanya membuat masyarakat lebih kompetitif, tetapi juga lebih manusiawi.
Dan mungkin di sinilah Yogyakarta menemukan tugas sejarahnya yang baru. Bukan mengulang masa lalu. Bukan pula hidup dari kejayaan masa lalu. Tetapi menjadikan pengalaman masa lalu sebagai kemampuan untuk membaca masa depan.
Sebab kebudayaan yang hanya ingin bertahan pada akhirnya akan menjadi benda. Pendidikan yang hanya ingin menyampaikan pengetahuan akan menjadi rutinitas. Dan kemajuan yang hanya ingin tumbuh akan kehilangan arah.
Kita membutuhkan sesuatu yang lebih hidup. Kita membutuhkan kebudayaan yang mampu berpikir. Pendidikan yang mampu membuat manusia membaca kehidupan. Dan kemajuan yang tahu untuk apa ia harus dicapai.
Maka pertanyaan terbesar Yogyakarta mungkin bukan lagi: “Apa yang kita miliki?”
Melainkan: “Apa yang dapat kita ketahui dari apa yang kita miliki?”
Dan setelah mengetahuinya: “Apa yang dapat kita lakukan dengan pengetahuan itu untuk kehidupan?”
Di situlah Yogyakarta dapat melampaui dirinya sendiri. Ia tidak hanya menjadi pewaris kebudayaan. Ia menjadi penghasil pengetahuan tentang kehidupan.
Dan jika suatu hari Yogyakarta benar-benar mampu melakukan itu, mungkin kontribusinya kepada Indonesia tidak lagi terutama terletak pada apa yang diwariskan dari masa lalu, melainkan pada apa yang berhasil ditemukan untuk masa depan.
Yogyakarta tidak hanya menjadi tempat orang datang untuk belajar. Yogyakarta menjadi tempat pengetahuan belajar kembali kepada kehidupan.

