Yang Luruh dan Yang Menyatu Dalam Badai Waktu

“Akar seluruh persoalan manusia adalah ingatan. Tanpa masa lalu, sebuah hari yang kita jalani akan menjadi sebuah permulaan baru. Bukankah ini hebat?” –Ashes of Time.

Dalam kekhawatirannya pada wabah kehilangan ingatan yang menyerang penghuni desa, Jose Arcadio Buendia mengalungkan papan-papan nama pada seluruh benda yang bisa dijangkaunya di Macondo. Hal ini ia lakukan karena para penduduk desa tak bisa membayangkan apa yang terjadi pada diri mereka seandainya ingatan betul-betul lenyap. Buendia berpikir pelekatan papan nama di tiap benda-benda di Macondo bisa mengganti fungsi ingatan orang-orang akan segala yang pernah mereka ketahui. Begitu vitalnya peran ingatan sehingga ia dan seluruh penghuni Macondo dibayangi ketakutan terhadap bahaya wabah kehilangan ingatan dan berandai-andai kehidupan yang telah dijalaninya selama beberapa waktu akan mengalami kehancuran mengerikan. Segala yang pernah akrab akan kembali asing. Setiap benda yang semula mereka kenal dengan baik akan menjadi benda baru yang misterius.

Seberapa pun konyolnya tindakan Jose Arcadio Buendia dalam novel Seratus Tahun Kesunyian karya Marquez tersebut, kita bisa memahaminya sebagai sebuah ikhtiar untuk melawan pengasingan manusia dari dunia di luar dirinya. Alih-alih menjadi persoalan, ingatan menjadi modal berharga manusia dalam menghadapi dan mengharmonisasikan dirinya dengan kehidupan kacau yang mereka jalani.

Berlainan dengan Marquez yang menempatkan memori dalam pengertian positif, lewat film-film garapannya, Wong Kar Wai menempatkan memori sebagai virus penyebab keterasingan dan kesunyian manusia dari realita yang melibatkannya. Namun Kar Wai tak sekedar menyuguhkan problem manusia dalam badai waktu dan ancaman negatif ingatan. Penjelajahannya atas problem waktu dan ingatan membawanya pada visi pembebasan ala kaum Buddhist atas belenggu waktu dan ingatan. Proposal Kar Wai dalam membebaskan manusia dari belenggu waktu dan ingatan yang merusak ini telah sejak awal ia utarakan lewat kutipan atas Liuzu Tanjing atau Platform Sutra karya Huineng:

Untuk menemukan signifikansi dari teks Buddhist tersebut, dan dengan demikian mengedepankan problema ingatan dalam diri manusia, secara visual ia menghadirkan gambar air atau lautan berombak dan gurun pasir secara berulang-ulang. Efek yang dihasilkan dari visualisasi semacam itu adalah pemadatan gejolak ingatan, penderitaan, kesunyian dan keterasingan yang dialami semua tokoh dalam filmnya.

Elemen-elemen ajaran Buddha tentang penderitaan dan keterasingan, strategi pemecahan dan pengulangan narasi (sebelum dikonsolidasikan dengan indah di bagian akhir), dan kekuatan visual yang jempolan menjadikan Ashes of Time sebagai salah satu film Kar Wai yang menghadirkan refleksi tentang waktu, ingatan, dan ancaman dunia distopia yang meluluh-lantakkan kepongahan manusia dalam kehidupan yang secara alamiah tanpa kendali. Kelak, ikhtiar Kar Wai untuk menyajikan film silat secara berbeda ini diikuti oleh Zhang Yimou lewat film Hero dan Ang Lee lewat film kolosalnya, Red Cliff.

Rajutan kisah-kisah patah hati

Ashes of time berangkat dari cerita silat legendaris China besutan Cin Yung (Jin Yong dalam penulisan mandarin), Pendekar Pemanah Rajawali. Berbeda dari Chin Yung atau Louis Cha yang menyajikan cerita silat secara penuh, Wong Kar Wai hanya fokus pada tokoh-tokoh yang sering dianggap sebagai dedengkot dunia persilatan seperti Ouwyang Hong (Racun Barat), Huang Yaoshi (Sesat Timur), Hong Qi (Raja Pengemis Utara), dan Pendekar Pedang dari Selatan yang mendekati kebutaan di usia menjelang 30 tahun. Tak hanya itu, Kar Wai melakukan subversi teks Cin Yung secara radikal. Ia mengubah teks aslinya sebagai sebuah cerita silat menjadi sebuah teks yang berkisah tentang keterasingan dan kesunyian manusia akibat hasrat obsesifnya pada ingatan demi mempertahankan dunia lamanya yang telah hancur berantakan.

Film ini bermula dari kehidupan sunyi dan terasing Ouwyang Hong di sebuah gurun setelah meninggalkan Gunung Unta Putih akibat pengkhianatan kekasihnya. Di tempat tinggal barunya itu ia hidup sebagai makelar dalam bisnis balas dendam. Setiap gerhana bulan kedua di musim semi ia akan kedatangan tamu seorang lelaki bernama Huang Yaoshi. Ia datang dari arah timur, singgah beberapa lama di gubugnya, lalu melanjutkan kembali perjalanannya ke Selatan.

Ouwyang Hong tak tahu kalau tamunya ini, seorang lelaki kelana yang tak membiarkan dirinya dikuasai oleh hasrat berlebihan pada seorang perempuan, berusaha keras menyimpan perasaannya pada perempuan yang dicintai dan yang telah melukai dirinya. Entah apakah demi persahabatannya dengan Ouwyang Hong atau karena tak mau mengambil resiko mencintai seseorang secara berlebihan, Huang Yaoshi meyakini bahwa “buah paling manis adalah yang tak tersentuh tangan manusia.” Dengan cara itu ia tetap bisa bertemu dengan perempuan pujaan hatinya sampai menjelang kematiannya. Lelaki penghuni gurun dan tamu tahunannya tersebut diikat oleh hubungan rumit mereka terhadap perempuan yang sama. Mereka bertemu setiap tahun sekali seolah-olah tak ada persoalan yang mengikat mereka berdua. Kehidupan tenang yang dijalani Ouwyang Hong di gurun pasir tak mengalami perubahan dramatis sampai Huang Yaoshi muncul dan membawakan oleh-oleh Anggur penghilang ingatan dari perempuan masa lalunya di Gunung Unta Putih.

Selain memperoleh kunjungan dari Huang Yaoshi, lelaki yang meninggalkan Gunung Unta Putih itu juga menerima kunjungan Pendekar Pedang dari Selatan yang mengalami patah hati karena istrinya tergoda pada Huang Yaoshi, Hong Qi yang memulai karir di dunia kang ouw sebagai seorang ahli pedang tanpa diributi dengan persoalan mengurus istri, dan Perempuan klan Murong yang memiliki ilmu pedang hebat akibat patah hati terhadap Huang Yaoshi. Dengan piawai Kar Wai merakit seluruh tokoh-tokohnya dalam hubungan sebab-akibat yang rumit laksana rantai karma yang tak berkesudahan. Rantai karma yang dalam ajaran Buddha lebih dimaknai secara vertikal (turun temurun dalam satu pohon keturunan) oleh Kar Wai diselewengkan menjadi horisontal, dari satu tokoh ke tokoh lainnya, sehingga ruh kesunyian dan keterasingan hampir tersebar merata ke semua tokoh-tokohnya. Ouwyang Hong, yang menjadi pusat cerita dalam film ini, ditempatkan sebagai simpul dari wabah buruk ingatan yang menyerang tokoh-tokoh lainnya.

Akibat bisnis yang dijalankan oleh Ouwyang Hong, Pendekar Pedang dari Selatan keburu tewas di gurun dalam perjalanannya menuju ke Pulau Bunga Persik dimana istrinya putus asa menunggu tanpa kepastian. Perempuan dari klan Murong tetap harus menanggung lara hatinya karena tak bisa membalaskan dendamnya pada Huang Yaoshi. Sementara Hong Qi, tokoh yang relatif tak terikat pada benang ruwet di antara keempat tokoh lainnya meski terlibat pada bisnis balas dendam di gurun, harus kehilangan salah satu ibu jarinya sebelum memperoleh nama besar di dunia kaipang dan dikenal di dunia persilatan sebagai Pengemis Utara.

Godaan anggur ajaib dari Huang Yaoshi maupun kegagalan bisnisnya dengan Pendekar Pedang dari Selatan dan Perempuan Klan Murong tak membuat Ouwyang Hong berkeinginan meninggalkan gurun. Namun menghadapi kepolosan dan kesederhanaan hidup Hong Qi, kesediaannya untuk menolong orang tanpa pamrih (meski harus kehilangan salah satu ibu jari tangannya), membuat kenyamanan hidup Ouwyang Hong di gurun sirna. Setelah kehilangan salah satu ibu jari tangannya Hong Qi memutuskan meninggalkan gurun dan melanjutkan pengembaraannya. Pertanyaan yang dilontarkan Ouwyang Hong perihal tempa tujuan berikutnya dijawab Hong Qi dengan senyum menantang: “Ke tempat yang tidak pernah kukunjungi.”

Jawaban sederhana itu membuat Ouwyang Hong terhenyak. Ia tahu selama ini dirinya menghindar dan ingin melupakan masa lalu pahitnya di Gunung Unta Putih. Namun semakin dihindari, peristiwa itu justru menjelma menjadi kanker ganas yang merusak dirinya. Horison di balik hamparan pasir gurun yang selama ini dianggap menyimpan hal yang sama kini tampak lain. Ia kemudian tahu salah satu sebab tidak munculnya Huang Yaoshi dari sisi timur gurun adalah karena perempuan yang ia cintai di Gunung Unta Putih telah meninggal dunia. Kesadaran itu membuatnya membakar gubug yang telah ditinggalinya, kembali ke Gunung Unta Putih, dan menjadi penguasa di wilayah itu. Namanya kemudian lebih dikenal sebagai Racun Barat.

Belenggu Ingatan dan Pribadi masokis

Di film ini Wong Kar Wai secara cerdik mengikat Ouwyang Hong, Huang Yaoshi, Hong Qi, dan Pendekar Pedang dari Selatan dan tokoh-tokoh lainnya dalam mata rantai kisah cinta yang saling mengunci. Tokoh-tokoh yang nantinya menjadi dedengkot dunia persilatan dipaksanya menghadapi pertarungan lain yang jauh lebih dahsyat dari segala pertempuran di dunia kang ouw. Mereka tak sekedar membuktikan diri sebagai seorang pesilat tangguh tapi juga harus membuktikan diri sebagai manusia yang tegar di hadapan aliran peristiwa dramatik yang tak diharapkannya. Kalau dalam serial cerita silat Pendekar Rajawali dari selatan karya Chin Yung kita melihat tokoh-tokoh ini unjuk kebolehan ilmu silat dan siasat saat bertempur dengan musuh-musuhnya, maka di dalam Ashes of Time kita melihat kepiawaian Kar Wai dalam menghadirkan tokoh-tokoh dunia persilatan yang tengah bertempur menghadapi ingatannya sendiri. Dan kalau Jose Arcadio Buendia dalam novel Seratus Tahun Kesunyian menjadikan ingatan sebagai sekutu, maka tokoh-tokoh dalam film ini menjadikan ingatan sebagai seteru. Kematian dalam pertempuran seorang pendekar melawan pendekar lain atau menghadapi bandit hanya sekali untuk selamanya. Namun kematian menghadapi kenangan? Pertanyaan itu tak mampu dijawab oleh Ouwyang Hong hingga detik-detik sebelum ia memutuskan meninggalkan gurun pasir. Pendekar Pedang dari Selatan bahkan tak sempat menemukan solusi dari pertanyaan serupa yang membuatnya melarikan diri dari Pulau Bunga Persik karena keburu mati di gurun dalam perjalanan menemui istrinya yang telah ia tinggalkan sekian lama. Pribadi perempuan dari klan Murong terbelah, antara ingin menghabisi Huang Yaoshi dan menghabisi dirinya sendiri yang tak bisa mengenyahkan bayang-bayang pendekar dari Timur itu. Bahkan Huang Yaoshi, orang yang telah menjaga dirinya dari segala ikatan terhadap perempuan, tak mampu melepaskan diri dari beban ingatan. Ia terus berkelana, tak ingin menyentuh buah paling manis itu, dan merasa kalah terhadap keakbaran hidup yang ada di sekelilingnya. Mereka menjalani kehidupan yang sunyi dan terasing dari segala yang pernah dekat dengan mereka di masa lalu…

Ingatan sebagai batu penjuru yang menguatkan keberadaan manusia dalam badai waktu dalam film ini justru membelenggu dan menghalangi manusia untuk menyaksikan dan mengalami hal-hal baru. Tokoh-tokoh dalam Ashes of Time tak bisa menemukan hal-hal baru seperti yang dikhayalkan oleh Huang Yaoshi apabila ia menenggak anggur ajaib dan terkutip di bagian awal tulisan ini: Tanpa masa lalu, sebuah hari yang kita jalani akan menjadi sebuah permulaan baru. Akibatnya, segala yang terjadi di gurun akan dimaknai oleh Ouwyang Hong sebagai versi lain dari apa yang ia alami di masa lalu. Itulah sebabnya kenapa pertanyaan Hong Qi tentang kebiasaan orang yang melihat gunung dan apa yang ada di baliknya dijawab skeptis oleh Ouwyang Hong: “sisi lain mungkin hanya menjadi persamaan.” Kita tak bisa membayangkan hal-hal baru seperti yang diandaikan oleh Allan Lightman dalam Mimpi-Mimpi Einstein.

“Tanpa ingatan, setiap malam adalah malam yang pertama, setiap pagi adalah pagi yang pertama, setiap ciuman dan sentuhan adalah yang pertama… Sesampai di rumah, tiap lelaki menjumpai seorang perempuan dan anak-anak yang menunggu di ambang pintu, memperkenalkan diri, membantu menyiapkan santap malam, membacakan cerita untruk anak-anak. Sementara itu, tiap perempuan yang kembali dari kerja bertemu dengan suami, anak-anak, sofa, lampu-lampu, kertas dinding dengan motif Cina. Di larut malam, tidak dijumpai suami-istri yang membicarakan kegiatan sehari-hari, kegiatan anak-anak di sekolah atau jumlah tabungan mereka di bank. Yang ada adalah senyuman mereka, darah yang berdesir, rasa sakit di antara paha seperti saat pertamakali 15 tahun yang lalu… [Mimpi-Mimpi Einstein: 60]”

Ekspresi keterbelengguan pada ingatannya tampak sewaktu Ouwyang Hong mengajak istri kakaknya untuk kabur dari Gunung Unta Putih. Lelaki pengembara itu masih meyakini bahwa pengalaman romantiknya di masa lalu bersama perempuan itu bisa diulangi lagi di masa kini dan masa depan. Tapi harapan dan keyakinannya bertepuk sebelah tangan. Kegagalan untuk mereplikasi pengalaman masa lalunya membuat ia patah hati, sehingga ia memutuskan pergi meninggalkan Gunung Unta Putih, berkelana ke berbagai tempat, lalu akhirnya menetap di gurun. Belenggu ingatan tak berhenti hanya sampai di situ. Perempuan-perempuan yang ia temui di kemudian hari akan ia sama-samakan atau dikontraskan dengan bekas kekasihnya. Efek buruk ingatannya itu membuat Ouwyang Hong tak mau membantu membalaskan dendam perempuan pembawa keledai ketika ia meminta bantuannya. Apa sebabnya? Karena perempuan itu memiliki kemiripan dengan perempuan dari Gunung Unta Putih yang telah menyakitinya! Bahkan ketika Huang Yaoshi membawakan titipan seguci anggur ajaib yang diyakini membuat seseorang mampu melupakan masa lalunya, Ouwyang Hong menolak meminumnya.

Apakah belenggu ingatan ini hanya terjadi pada Ouwyang Hong? Tidak. Hampir sebagian besar tokoh-tokoh dalam Ashes of Time terjangkiti wabah yang sama. Pendekar Pedang dari Selatan pergi meninggalkan pulau bunga persik, berkelana ke berbagai tempat, meninggalkan istrinya dirundung rasa bersalah dan kesepian, sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali lagi kepada perempuan itu. Sewaktu di tengah perjalanan bertemu dengan Huang Yaoshi, dan ditawari untuk meminum anggur ajaib, ia pun menolak. Dan saat menyaksikan perempuan pembawa keledai yang ingin membalas dendam atas kematian saudaranya ia mencium perempuan itu seperti ia mencium istrinya sendiri. Apa yang dipikirkan oleh pendekar pedang dari Selatan ini melihat perempuan yang diciumnya itu menangis?

“Aku tak tahu kenapa aku menciumnya. Aku tak bisa mengendalikan diriku sendiri. Ketika berjalan menjauh dari perempuan itu, kurasakan airmatanya secara perlahan mengering di wajahku. Apa jadinya kalau istriku sendiri yang menangis seperti itu.”

Bentuk paling problematik dari ingatan divisualisasikan oleh tokoh perempuan dari klan Murong. Oleh cinta tak sampainya pada Huang Yaoshi, kepribadiannya pecah menjadi dua, Murong Yin dan Murong Yang. Dengan memanfaatkan karakter Yin dan Yang, Wong Kar Wai secara jenial menggambarkan Murong Yin sebagai perempuan yang ingin menghabisi Huang Yaoshi dan Murong Yang sebagai perempuan yang dicintai dan mencintai Huang Yaoshi. Dua perempuan yang hadir silih berganti di depan Ouwyang Hong ini sebenarnya satu. Bahkan dalam keadaan mabuk, perempuan itu membelai Ouwyang Hong yang sedang tidur seolah-olah ia tengah membelai Huang Yaoshi.

Kuatnya belenggu ingatan pada diri manusia ini membuat mereka, secara sadar atau tak sadar, berperilaku masokhis. Obsesi terhadap hal-hal indah di masa lalu membuat Pendekar Pedang dari Selatan memutuskan tak mau bersahabat lagi dengan Huang Yaoshi karena pengembara itu dianggap mengganggu keharmonisan dirinya dengan istrinya. Penolakan dirinya dan Ouwyang Hong untuk menenggak anggur ajaib secara tidak tak terelakkan membuat kedua tokoh ini melestarikan trauma masa lalu masing-masing. Bahkan Huang Yaoshi, yang terus melakukan perjalanan siklikal, akhirnya harus menyakiti dirinya dengan mengunjungi dan mendengar keluh-kesah asmara dari perempuan idaman Ouwyang Hong. Mereka memang memperoleh kenikmatan dan kenyamanan dengan melakukan hal-hal semacam itu — sebuah kenikmatan dan kenyamanan yang dihasilkan karena menyakiti diri mereka sendiri.

Dunia distopia dan perulangan abadi masa lalu

Kelumpuhan manusia di hadapan keperkasaan masa lalu pada akhirnya membuat mereka cenderung hidup dalam dunia distopia. Gejala ini bisa dikenali dari penolakannya untuk menerima pengaruh dari luar atau ketertutupannya pada hal-hal baru. Ide tentang progresi waktu secara linear tak bisa diterima karena mereka meyakini bahwa waktu bergerak siklikal. “Sisi lain hanya menjadi persamaan belaka.” Maka berhadapan dengan kenyataan bahwa waktu bergerak maju secara linear, manusia mendayagunakan daya ingatnya untuk mereplikasi segala hal yang terjadi di masa lalu guna mengharmonisasikan dirinya dengan keadaan-keadaan dan situasi baru. Gagasan perulangan abadi Nietzche mewujud dalam perilaku manusia dalam menghadapi dan menundukkan situasi khaos masa kini lewat penyamaannya dengan yang pernah terjadi di masa lalu.

Hampir sebagian besar tokoh-tokoh dalam Ashes of Time, kecuali Hong Qi, hidup dalam dunia distopia semacam itu. Baik Ouwyang Hong, Huang Yaoshi, Perempuan klan Murong, Pendekar Pedang dari Selatan, hingga perempuan idaman Ouwyang Hong mengalami kehancuran dunia dan kehidupan lamanya dan tak mampu membangun dunia beserta kehidupan baru di atas reruntuhan dunia lama mereka. Itu sebabnya kenapa Perempuan klan Murong tak mau mengakui bahwa dalam kemabukannya ia sedang membelai Ouwyang Hong. Alih-alih mengakui kalau ia sedang membelai Ouwyang Hong, perempuan itu justru meyakinkan dirinya bahwa ia sedang membelai Huang Yaoshi. Begitu pula yang terjadi dengan Ouwyang Hong. Wabah distopia itu merusak akal sehatnya sehingga ia membayangkan tangan yang sedang membelai tubuhnya itu milik istri kakaknya walaupun sebenarnya bukan. Pendekar Pedang dari Selatan berperilaku sama menyedihkannya. Ketika ia menatap dan kemudian menciumnya perempuan pembawa keledai sebelum berangkat ke medan laga ia merasa sedang menatap dan mencium istrinya.

Huang Yaoshi, tokoh yang paling menjaga jarak dari semua perempuan, bahkan tak bisa melepaskan diri dari bayangan perempuan idamannya, justru saat ia menenggak anggur ajaib. Ketegaran dan kemenangan luarnya karena tak menghadapi nasib tragis seperti sebagian besar tokoh dalam film ini tak berarti apa-apa karena jauh di dasar hatinya ia terkurung dalam penjara patah hati pada bekas kekasih Ouwyang Hong. Secara metaforis, Wong Kar Wai menghadirkan visualisasi memukau atas keterpenjaraan manusia pada kenangan dalam bentuknya yang paling halus dan tersimpan hanya untuk dirinya sendiri lewat penghadiran sangkar burung yang terus menerus berputar, wajah kuyu Huang Yaoshi yang terpaku pada sangkar tersebut, dan scene-scene yang tampak kabur. Dalam keadaan mabuk, Ouwyang Hong bertanya kenapa ia terus memandang sangkar burung di depannya, dan lelaki yang selalu datang dari arah timur gurun itu menjawab diplomatis: “karena ia begitu dekat.”

Kenyamanan untuk hidup dalam dunia lama tersebut mengakibatkan tokoh-tokoh dalam film ini menolak kemungkinan-kemungkinan lain yang menghampiri mereka. Baik Ouwyang Hong maupun Pendekar Pedang dari Selatan menolak menenggak anggur ajaib yang dibawa Huang Yaoshi. Mereka tak bisa membayangkan hidup tanpa dendam atau trauma yang menyertai mereka selama ini. Bukankah mengerikan hidup dalam sebuah dunia di mana masa lalu tidak pernah ada? Ketakutan semacam inilah yang mungkin dirasakan oleh Jose Arcadio Buendia dan penduduk Macondo. Hanya bedanya keluarga Buendia dan penduduk Macondo memandang dampak ingatan secara positif sementara tokoh-tokoh dalam film Ashes of Time memandang dampak ingatan lebih negatif. Selain karena tak ingin kehilangan momen-momen indah dari peristiwa masa lalu, para tokoh-tokoh melankolis ini juga tak ingin melupakan begitu saja pihak-pihak yang dianggap bertanggungjawab terhadap bencana yang menimpa mereka.

Tertutupnya kemungkinan terhadap hal-hal baru ini menimbulkan friksi atau konflik antara mereka yang meyakini bahwa dunia ini terbuka pada berbagai kemungkinan baru. Mereka, tanpa bisa dihindari, meyakini bahwa dunia ini bersifat monolitik. Pendekar Pedang dari Selatan berjanji untuk membunuh Huang Yaoshi kalau mereka punya kesempatan untuk bertemu lagi. Lelaki dengan rambut dibiarkan tergerai itu dianggap telah menghancurkan kehidupan harmonisnya bersama sang istri saat ia memasuki kehidupan rumah tangganya. Tindakan Hong Qi untuk membantu membalaskan dendam perempuan pembawa keledai menciptakan kemarahan Ouwyang Hong. Saat Hong Qi pulang dengan salah satu ibu jari tangannya hilang, Ouwyang Hong mengutuk perilaku Hong Qi yang dianggap bodoh, bahkan menolak untuk memanggilkan tabib agar luka-luka Hong Qi cepat sembuh. Kelak friksi inilah yang membuat Ouwyang Hong dan Hong Qi bertarung dan menemui ajalnya secara bersamaan. Namun hal paling mengganggu Ouwyang Hong, selain kegilaan Hong Qi dalam membalaskan dendam keluarga perempuan pembawa keledai, adalah ketika ia akhirnya menerima istrinya untuk ikut serta dalam petualangan barunya. Melihat kepergian Hong Qi dan istrinya meninggalkan Gurun ia merasa iri. Inilah yang dipikirkan oleh Ouwyang Hong: “Suatu kali aku pernah punya kesempatan seperti itu — bersama dengan perempuan yang kucintai. Tapi entah kenapa aku tak mengambil dan menjalaninya.”

Ia yang menyatu dalam badai

Ketika baru sampai di gurun, Hong Qi adalah seorang petualang yang ingin lepas dari ikatan yang dianggap membelenggu kebebasannya sebagai seorang petualang atau pendekar. Ia bertemu dengan Ouwyang Hong dan menuruti semua perintahnya dengan imbalan yang setara. Namun selama mengikuti penguasa gurun itu Hong Qi merasa susah membedakan dirinya dengan makelar bisnis balas dendam tersebut. Kebingungan ini membuat ia sampai merasa kehilangan dirinya sendiri. Dalam keadaan itulah ia memperhatikan perempuan pembawa keledai. Sesuatu dalam dirinya terjadi. Ia merasakan dorongan tiba-tiba untuk membantu perempuan itu dalam membalaskan dendam keluarganya.

Keberhasilannya dalam membalaskan dendam harus dibayar dengan putusnya Ibu jari tangan kanannya serta luka-luka di sekujur tubuh yang membuatnya hampir menemukan ajal. Ouwyang Hong menolak untuk memanggilkan tabib dan menyembuhkan luka-lukanya. Ia tetap menolak membantu kesembuhan Hong Qi saat perempuan yang mirip kekasihnya di Gunung Unta Putih menawarkan tubuhnya demi kesembuhan Hong Qi. Untung ia tak keburu meninggal. Seiring berjalannya waktu, kesehatannya pulih, dan ia berusaha melatih kekuatan tangannya. Sesekali ia menatap ke balik horison sembari bertanya-tanya apa yang ada di balik gurun pasir itu. Ouwyang mengerti apa yang ada di balik benak Hong Qi.

“Itu pertanyaan yang dilontarkan oleh seseorang di beberapa titik dalam kehidupannya. Mereka memandang sebuah gunung dan ingin tahu apa yang ada di baliknya. Aku ingin memberitahunya bahwa apa yang ada di balik sebuah gunung itu sama dengan yang ada di sekelilingnya.”

Namun rupanya Hong Qi punya pikiran lain. Pengalaman yang baru saja ia peroleh membuktikan bahwa hidup selalu membuka kemungkinan-kemungkinan baru. Kalau demikian kenapa ia menganggap bahwa keikutsertaan istrinya sebagai penghalang bagi dirinya dalam memuaskan hasrat tualangnya? Ia harus melihat dan mengalami lebih dulu hal-hal di luar sana agar bisa tahu perbedaannya dengan seluruh pengalaman yang telah ia peroleh. Pertimbangan itu yang membuat ia mantap meninggalkan gurun. Ekspresi wajah dan nada optimis terasa dalam kata-katanya ketika Ouwyang Hong bertanya kemana tujuan berikutnya setelah meninggalkan gurun.

“Ke tempat-tempat yang belum pernah kudatangi. Dengan sedikit keberuntungan, suatu hari nanti aku akan terkenal. Kalau suatu hari kau mendengar munculnya seorang pendekar berjari sembilan, itu pasti aku.”

“Dan dia?” tanya Ouwyang Hong sambil mengarahkan wajah ke arah istri Hong Qi.

“Aku akan membawannya. Seperti katamu, dimana ada kemauan, di situ ada jalan.”

Melangkahlah Hong Qi diiringi angin Selatan yang mulai berhembus kencang membawanya ke arah Utara. Ia menyatu ke dalam badai, entah apakah akan dilemparkan dalam ketiadaan ataukah berhasil muncul dari balik badai sebagai manusia baru yang lebih kuat. Visi utopian tentang manusia baru dengan jalan pembebasan ala kaum Buddhist ini mewujud sempurna dalam diri Hong Qi. Di kemudian hari ia membuktikan diri lahir sebagai manusia baru. Di utara ia bergabung dengan kelompok kaipang dan terkenal dengan keahlian kungfunya. Orang-orang menyebutnya sebagai Pengemis Utara.

Penutup

Secara keseluruhan film Ashes of Time besutan Wong Kar Wai ini menyuguhkan pada kita gambaran tentang mereka yang luruh dan akhirnya lenyap dalam badai waktu. Lewat strategi visualisasi yang romantik dan erotik, film ini memberi nuansa lain atas genre film silat yang biasa kita tonton. Di bagian akhir film, dalam suatu perbincangan yang sangat puitik antara Huang Yaoshi dan perempuan idaman Ouwyang Hong, kita memperoleh afirmasi dari kelenyapan manusia dalam badai waktu tersebut. Perempuan idaman Ouwyang Hong, dalam balutan busana merah, duduk di tepian jendela. Mukanya menatap kosong ke luar rumah sebelum ia bertanya secara retorik pada Huang Yaoshi soal apa yang penting dalam hidup setelah lelaki yang ia cintai sepenuh hati ternyata tak hidup bersamanya.

“Anakmu,” jawab Huang Yaoshi pasti.

“Dulu kupikir begitu. Namun ketika tumbuh besar, ia pasti akan meninggalkanku. Tak ada lagi hal berharga yang kumiliki… Segala hal berubah. Aku selalu berpikir menjadi pemenang sampai aku mematut diriku di cermin dan melihat wajah seorang pecundang di sana.”

Ucapan ini serupa dengan apa yang ada di benak Huang Yaoshi ketika mendengarkan kisah asmara menyakitkan dari perempuan cantik itu. Kekalahan manusia di masa kini membuat mereka ingin menebusnya dengan kembali ke masa lalunya yang indah dan penuh kemenangan. Ini sejalan pertanyaan retorik berikutnya dari Perempuan itu: Bukankah luar biasa kalau kita bisa kembali ke masa lalu? Dalam kasus Ouwyang Hong, ia memoderasikan kekalahan masa kininya dengan penanda waktu kelahirannya.

“Aku lahir di saat terjadi gerhana matahari total. Cinta ditakdirkan di luar jangkauan.”

Kepergian Hong Qi dan ketidakhadiran Huang Yaoshi membuat Ouwyang Hong mengambil keputusan keluar dari gurun. Sebelum pergi ia mencoba anggur ajaib pemberian perempuan pujaannya yang diantarkan oleh Huang Yaoshi. Ia kecele. Ternyata anggur itu tak mampu memusnahkan masa lalu! Semakin ingin dilupakan, perempuan itu justru makin tergambar jelas di benaknya. Dalam perjalanannya meninggalkan gurun, ia memperoleh pelajaran berharga yang bisa bermanfaat bagi siapa pun yang terbelenggu oleh ingatan:

Kalau kau tahu hal-hal terbaik dalam hidupmu tak bisa kau peroleh, jalan terbaik dari itu semua adalah dengan tidak melupakannya… []

Dwi Cipta
Dwi Cipta
Penulis cerpen, esai dan novel.

Related Articles

Artikel baru