DALAM buku Liberal Fascisms (2026), Slavoj Zizek mengulas bagaimana krisis kapitalisme global melahirkan bentuk-bentuk baru populisme, otoritarianisme, dan politik identitas. Salah satu bagian penting buku tersebut adalah “Donald Trump as a Gramscian”, sebuah pembacaan kritis terhadap sosok Donald Trump dan kebangkitan populisme kanan di Amerika Serikat. Bagi Zizek, fenomena Trumpisme bukan sekadar penyimpangan politik sementara, melainkan gejala dari krisis mendalam demokrasi liberal.
Untuk menjelaskan hal itu, Zizek meminjam konsep interregnum dari Antonio Gramsci, yaitu situasi ketika tatanan lama mulai runtuh sementara tatanan baru belum lahir. Pada masa transisi semacam ini, masyarakat mengalami ketidakpastian sosial, ekonomi, dan politik yang ekstrem. Gramsci menyebut situasi tersebut sebagai masa munculnya “gejala-gejala morbid”. Dalam konteks Amerika kontemporer, Trump dipahami sebagai salah satu gejala tersebut: figur populis yang lahir dari krisis legitimasi demokrasi liberal dan meningkatnya kemarahan sosial.
Namun, Zizek tidak melihat Trumpisme semata sebagai persoalan individu atau karakter personal Donald Trump. Ia menyoroti bagaimana kapitalisme neoliberal, media massa, dan perang budaya menciptakan kondisi yang memungkinkan populisme kanan berkembang luas. Ketimpangan ekonomi, ketidakamanan sosial, serta hilangnya kepercayaan terhadap institusi politik liberal menjadi lahan subur bagi tumbuhnya politik populis yang mengandalkan emosi, ketakutan, dan polarisasi identitas.
Di titik ini, analisis Zizek beririsan dengan pemikiran Francis Fukuyama dalam Identity: The Demand for Dignity and the Politics of Resentment (2018). Fukuyama menjelaskan bahwa politik modern tidak lagi semata ditentukan kepentingan ekonomi, tetapi juga oleh tuntutan pengakuan identitas (thymos). Banyak warga merasa kehilangan martabat, diabaikan elite liberal, dan tercerabut dari identitas kolektif akibat globalisasi serta perubahan sosial yang cepat. Perasaan tersingkir tersebut kemudian dimobilisasi oleh kalangan populis kanan melalui retorika nasionalisme, agama, dan identitas primordial lainnya.
Menurut Fukuyama, kemenangan Trump pada 2016 bukanlah kecelakaan sejarah, melainkan konsekuensi logis dari krisis institusional yang telah lama berkembang di Amerika Serikat. Demokrasi liberal mengalami pembusukan politik ketika kebijakan publik semakin dikendalikan oligarki ekonomi dan kelompok kepentingan. Dalam situasi seperti itu, Trump berhasil memobilisasi politik ressentiment: kemarahan dan rasa terhina dari kelompok masyarakat yang (merasa) kehilangan status sosial maupun identitas primordialnya.
Fenomena ini dapat dipahami lebih jauh melalui gagasan Erich Fromm dalam Escape from Freedom (1941). Fromm berpendapat modernitas memang membebaskan manusia dari ikatan tradisional dan otoritas lama, tetapi kebebasan itu sekaligus melahirkan rasa kesepian, keterasingan, dan kecemasan eksistensial. Ketika individu kehilangan pegangan sosial, mereka cenderung mencari perlindungan pada figur otoriter atau identitas kolektif yang “menjanjikan” kepastian dan rasa aman.
Trumpisme menunjukkan gejala tersebut. Di tengah globalisasi dan neoliberalisme yang menciptakan ketidakpastian ekonomi dan sosial, sebagian masyarakat Amerika merasa teraleniasi. Trump kemudian tampil bukan hanya sebagai politisi, tetapi juga sebagai simbol kepastian di tengah krisis. Slogan nasionalistik seperti Make America Great Again (MAGA) bekerja bukan sekadar sebagai gerakan politik, melainkan sebagai janji psikologis untuk memulihkan rasa bangga, aman, dan identitas kolektif yang dianggap hilang.
Karena itu, Trumpisme tidak dapat dijelaskan hanya melalui faktor ekonomi. Ia lahir dari perpaduan antara ketimpangan sosial, krisis demokrasi liberal, kecemasan psikologis, dan politik identitas. Populisme kanan tumbuh ketika masyarakat merasa tidak lagi diwakili institusi politik yang ada, lalu mencari jawaban sederhana melalui figur populis yang menawarkan kepastian semu dan solidaritas eksklusif.
Pada akhirnya, fenomena Trump dalam lanskap populisme kanan menunjukkan bahwa krisis politik kontemporer bukan sekadar persoalan satu tokoh, melainkan cerminan dunia yang sedang kehilangan orientasi. Ketika sistem lama mengalami defisit legitimasi sementara alternatif baru belum terbentuk, politik mudah berubah menjadi arena kemarahan, manipulasi identitas, dan kecenderungan menuju otoritarianisme baru

