Tragedi Cendekiawan Panji

Di sebuah flat sederhana di Clapham, London selatan, ada seorang anak lelaki yang tak pernah bersuara. Bukan karena ia bisu, melainkan karena baginya, kata-kata adalah benteng yang terlalu tinggi untuk dipanjat. Dunia bergerak cepat di sekelilingnya, sementara ia diam, menatap dari balik kaca yang tak terdengar.

Baru pada usia sebelas tahun, suara itu keluar. Lalu, mengalir seperti air yang lama tertahan. Pada usia delapan belas tahun, untuk pertama kalinya, ia bisa membaca dan menulis. Dua angka yang terlambat, menurut ukuran dunia. Tapi Jason Arday tidak pernah hidup menurut ukuran dunia.

Ia menjadi guru olahraga di siang hari. Di malam hari, ia menulis makalah akademik yang nyaris tak pernah ia pahami cara menuliskannya, dan makalah-makalah itu pun ditolak editor-editor jurnal dengan kasar. Namun, ia terus menulis. Ia meraih gelar sarjana, lalu master, lalu doktor, lalu kursi profesor di Durham dan Glasgow.

Akhirnya, pada Februari 2023, Jason Arday diangkat sebagai profesor kulit hitam termuda dalam sejarah 817 tahun Universitas Cambridge. Ia berusia tiga puluh tujuh tahun. Sebuah mimpi yang ia tulis sendiri di dinding kamarnya—”Suatu hari nanti aku akan bekerja di Oxford atau Cambridge”—kini menjadi kenyataan. Tapi mimpi, seperti kita tahu, adalah barang yang mudah dirampas.

Cambridge memujinya. Ia menjadi panji keberagaman, bukti bahwa meritokrasi masih hidup, bahwa anak dari imigran Ghana dengan disleksia dan autisme bisa mencapai puncak. Ia diangkat tinggi-tinggi, diterangi sorot, dijadikan jawaban atas segala pertanyaan tentang inklusi. Dan di sisi lain, mereka yang membencinya juga menjadikannya panji yang berkebalikan: panji kemunafikan.

Bagi mereka, Jason Arday adalah sampah DEI (Diversity, Equity, and Inclusion atau keberagaman, kesetaraan, dan inklusi) yang dianggap telah mengutamakan identitas di atas kecerdasan. Ia diteriaki, dihujat, diintimidasi. Ia disayang sebagai simbol dan dibenci sebagai simbol, dan dalam kedua posisi itu, ia bukan lagi manusia utuh yang bernapas dan merasa dan takut. Ia lenyap dalam narasi.

Ketika Nathan Cofnas, seorang peneliti Cambridge yang pernah kehilangan posisinya karena menulis bahwa orang kulit hitam memiliki kecerdasan lebih rendah dari orang kulit putih, menuduhnya melakukan plagiarisme dan membesar-besarkan kisah hidupnya, media sayap kanan Inggris menyambutnya dengan lahap. Wajah Jason memenuhi halaman depan selama berminggu-minggu. Teman-teman masa kecilnya dipanggil, kisah-kisahnya dipotong-potong, dikunyah, dimuntahkan kembali sebagai skandal.

Pada 5 Agustus 2026, ia mengundurkan diri. Ia berkata bahwa keputusan itu tak boleh disalahartikan sebagai ”penerimaan atas narasi-narasi yang telah mengelilingiku”. Ia telah mencapai batas dari apa yang secara wajar bisa ditanggung oleh siapa pun. Sembilan hari kemudian, ia ditemukan meninggal di rumahnya di Battersea. Usia empat puluh satu tahun. Polisi menyebutnya tak mencurigakan. Keluarganya kemudian berbicara tentang perundungan sistematis dan penghakiman publik yang terus-menerus ia alami selama lebih dari tiga tahun.

Di Trafalgar Square, puluhan ribu orang berkumpul dalam duka. Mereka membawa bunga, mereka membawa tanda-tanda, mereka membawa kemarahan. Jason Arday kembali menjadi panji. Kali ini, panji perlawanan: martir yang gugur dimakan oleh rasisme media.

Tapi di tengah riuh itu, di tengah air mata dan tuntutan itu, adakah yang benar-benar melihatnya sebagai pribadi yang otentik? Sosok ayah dari dua anak yang suka berlari maraton untuk amal, yang mengumpulkan lebih dari £5,5 juta untuk puluhan badan amal, juga menjadi pembawa obor Olimpiade London 2012. Seorang pekerja kemanusiaan di Brasil berkata kepadanya, bahwa ia ditakdirkan untuk hal-hal besar, tapi juga untuk hal-hal yang sangat menyedihkan dan sulit.

Inilah ironi yang paling menyayat: Jason Arday menghabiskan seluruh karir akademiknya meneliti ketimpangan struktural dalam pendidikan, menulis tentang bagaimana anak-anak muda dari minoritas etnis mengalami ketidakadilan sistemik, tentang bagaimana rasisme bekerja bukan hanya di jalanan tapi di ruang-ruang kelas dan ruang-ruang rapat. Ia menulis semua itu dengan cermat, dengan data, dengan kesaksian.

Dan kemudian, dalam hidupnya sendiri dan dalam kematiannya sendiri, ia menjadi bukti hidup dari semua yang ia tulis. Ia menjadi korban dari sistem yang ia coba bongkar. Karya-karyanya bukan sekadar teks akademik; ia menjadi nubuat atas nasibnya sendiri. Dan kita, yang membaca berita duka itu, hanya mengangguk-angguk dan melanjutkan hidup, seolah tragedi itu adalah bagian dari skenario yang memang sudah ditulis.

Filsuf Martin Buber pernah mengingatkan bahwa manusia sejati hadir dalam relasi ”Aku-Engkau”, bukan dalam kungkungan ”Aku-Itu”. Ketika kita menjadikan seseorang sekadar objek atau sekadar panji kemenangan dan panji kekalahan, kita kehilangan dia sebagai manusia yang bernapas, yang ragu, yang takut. Jason Arday adalah simbol bagi terlalu banyak orang, dan dalam proses menjadi simbol, ia kehilangan tubuhnya, kehilangan napasnya, kehilangan hak untuk menjadi rumit. Ia layak diperdebatkan, dikritik, dan diuji sebagai seorang cendekiawan. Ia layak dipertanyakan metodologinya, argumennya, bukti-buktinya.

Tapi, ia tak layak dihancurkan. Ia tak layak dijadikan medan perang bagi mereka yang hanya ingin menang dalam perang budaya. Sebab, di balik semua narasi besar itu, ada seorang lelaki yang baru bisa bicara pada usia sebelas tahun, yang menulis mimpi di dinding kamar karena ia percaya—bahkan ketika dunia tak mempercayainya—bahwa ia bisa sampai ke puncak.

Kini ia pergi. Diam lagi, seperti di masa kecilnya. Tapi kali ini keheningannya adalah keheningan abadi yang tak akan kembali bersuara. Dan kita, yang masih di sini, yang masih punya kata-kata, berutang padanya sesuatu yang lebih dari sekadar air mata. Kita berutang padanya untuk berhenti menjadikan manusia sebagai panji. Kita berutang padanya untuk mulai membaca manusia sebagai puisi yang rumit, bukan sebagai slogan yang diulang-ulang sampai usang.

Jason Arday pernah berkata bahwa sebelas tahun keheningannya adalah ”hak istimewa” karena ia belajar melihat dunia dengan cara yang berbeda. Mungkin, sekarang, di dalam keheningan yang baru, ia melihat kita dari suatu tempat yang tak terjangkau teriakan. Mungkin juga, ia tersenyum sedih, menyaksikan kita yang masih sibuk memperebutkan panji-panjinya, tanpa pernah benar-benar membaca tulisannya.

08/21/2026

Akuat Supriyanto
Akuat Supriyanto
Pengajar FEB UNPAD, Trainer perhitungan dampak inovasi sosial, esais dan anggota Socio FC Porto.

Related Articles

Artikel baru