Siapa Sebenarnya Orang Aceh?

Arkeologi Menjawab Apa yang Tersembunyi

‘Orang Aceh’ adalah konstruksi. Pertanyaan yang benar bukan ‘siapa orang Aceh’, tapi ‘populasi mana yang bertahan, datang, bertumpuk, dan akhirnya diberi nama Aceh oleh sejarah’?

Ini pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan di ruang kelas, tidak pernah masuk buku teks, dan hampir tidak pernah dijawab oleh penulis sejarah populer: siapa sebenarnya orang Aceh?

Jawabannya bukan satu nama. Bukan satu ras. Bukan satu gelombang migrasi. Orang Aceh hari ini adalah hasil dari setidaknya enam lapis populasi yang datang dalam kurun waktu lebih dari 10.000 tahun, dari manusia gua prasejarah hingga pedagang Minangkabau abad ke-17. Menyebut mereka semua ‘orang Aceh’ sebagai satu entitas tunggal adalah penyederhanaan yang menyembunyikan kebenaran yang jauh lebih kaya.

Dan di antara semua lapisan itu, ada satu yang paling sering diabaikan: lapisan Hindu-Buddha. Dan ada satu motor penggerak yang paling sering dilupakan: rempah dan kapur, bukan agama.

PERNYATAAN METODOLOGIS

Artikel ini menggunakan kerangka ‘arkeologi populasi’: bukan menggambarkan satu identitas tunggal, tapi merekonstruksi lapisan-lapisan populasi yang membentuk komposisi manusia di wilayah Aceh.

Klaim-klaim dalam artikel ini dibedakan secara eksplisit antara: (a) terbukti arkeologis, (b) didukung sumber tertulis yang dapat diverifikasi, dan (c) hipotesis yang masih memerlukan penelitian lanjutan. Pembaca diminta memperhatikan penanda ini.

Artikel ini adalah kelanjutan dari ‘Aceh Bukan Titik Nol’ (EMBAS, 2026) dan harus dibaca dalam konteks tersebut.

BAGIAN I: ENAM LAPISAN POPULASI DENGAN BOBOT BUKTI YANG BERBEDA

Sebelum membahas Hindu-Buddha atau rempah, kita harus memahami fondasi yang sesungguhnya: siapa yang sudah ada di tanah Aceh, dan siapa yang datang kemudian? Perlu digarisbawahi bahwa keenam lapisan ini tidak setara bobotnya secara arkeologis, beberapa didukung bukti kuat, beberapa masih hipotesis kerja.

Lapisan 1 — Pemburu-Peramu Hoabinh (TERBUKTI ARKEOLOGIS)

Ini yang paling tua dan paling solid buktinya. Manusia Bukit Kerang di Aceh Tamiang (12.550 BP) dan komunitas Loyang Mendale di dataran tinggi Gayo (8.430 BP) adalah representasi lapisan ini. Mereka secara morfologi tergolong Australomelanesid, secara fisik lebih dekat ke populasi Papua dan Melanesia modern daripada ke ‘Melayu’. Mereka adalah penghuni asli tanah ini sebelum gelombang migrasi Austronesia tiba.

Yang luar biasa: bukti DNA dari Loyang Mendale menunjukkan kesinambungan genetik dengan orang Gayo masa kini, artinya setidaknya sebagian populasi Aceh pedalaman adalah keturunan langsung komunitas pra-Austronesia ini. Ini bukan klaim, ini data genetik yang dipublikasikan secara ilmiah.

Lapisan 2 — Austronesia Maritim (TERBUKTI ARKEOLOGIS)

Sekitar 4.000 tahun lalu, penutur Proto-Austronesia dari Taiwan via Filipina mulai tiba di pesisir Sumatera. Mereka membawa kapak lonjong, kapak persegi, gerabah, dan pertanian. Kedatangan mereka bukan invasi, mereka masuk ke wilayah yang sudah berpenghuni dan terjadilah proses panjang akulturasi yang berlangsung ribuan tahun. Dari sinilah cikal bakal bahasa Aceh (rumpun Melayu-Polinesia) berakar, meski populasi yang menggunakannya mungkin bukan ‘pengganti’ melainkan ‘penerus campuran’ dari penghuni Hoabinh sebelumnya.

Lapisan 3 — Pengaruh India: Hindu-Buddha (DIDUKUNG BUKTI, PERLU DIPERLUAS)

Ini lapisan yang paling sering dilewati dalam narasi populer Aceh. Bukti arkeologisnya ada, meski tidak sebesar di Jawa atau Sumatera Selatan, dan akan dibahas tersendiri dalam Bagian II artikel ini.

Lapisan 4 — Pedagang Arab, India, dan Cina (TERBUKTI HISTORIS)

Mereka datang bukan untuk mendirikan kerajaan. Mereka datang untuk kapur dan lada. Jalur ini sudah ada sejak abad ke-5 M, jauh sebelum Islam lahir di Mekah. Detail ekonomi-politiknya dibahas dalam Bagian III.

Lapisan 5 — Diaspora Minangkabau: Aneuk Jamee (TERBUKTI HISTORIS-LINGUISTIK)

Suku Aneuk Jamee, yang namanya sendiri berarti ‘anak tamu’ dalam bahasa Aceh, adalah keturunan perantau Minangkabau dari Rao, Pariaman, Lubuk Sikaping, dan Pasaman yang bermigrasi ke pesisir barat-selatan Aceh terutama pada abad ke-17. Bahasa mereka adalah dialek Minangkabau yang menyerap kosakata Aceh. Mereka kini mendiami Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Aceh Singkil, dan Simeulue, dan dalam kehidupan sehari-hari, mereka bukan lagi Minang, bukan lagi Aceh, tapi entitas ketiga yang lahir dari pertemuan dua budaya Islam.

Lapisan 6 — Suku Singkil: Studi Kasus Populasi yang Terabaikan (HIPOTESIS KERJA)

Ini lapisan yang paling perlu mendapat perhatian khusus, karena menyimpan pertanyaan-pertanyaan arkeologis yang belum terjawab. Orang Singkil di Aceh Singkil dan Subulussalam adalah contoh paling dramatis dari ‘populasi yang tersembunyi di balik label Aceh’.

Nama ‘Singkil’ sudah dikenal setidaknya sejak abad ke-15, tercatat dalam tulisan Tom Pires, Petrus Plancius, dan Syekh Abdurra’uf as-Singkily. Populasi aslinya disebut dengan berbagai nama: Suku Singkil, Suku Julu, Orang Hulu, dan Pakpak Boang. Nama-nama yang berbeda ini sendiri sudah bercerita, tentang sebuah populasi yang identitasnya diperebutkan oleh berbagai narasi besar.

FAKTA

Orang Singkil/Pakpak Boang: satu dari lima sub-etnis Pakpak (bersama Simsim, Keppas, Pegagan, Kelasen), bermukim di Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Subulussalam.

Marga-marga Pakpak Boang: Saraan, Sambo, Bacin, berbeda dari marga Pakpak lainnya, dan sebagian mirip dengan marga Karo dan Gayo.

Penelitian terbaru (Jurnal Dampeng, 2025) oleh A. Aslym Combih (sejarawan MAA Aceh Singkil) menyimpulkan: bukti historis dan antropologis menunjukkan kesamaan fisik dan budaya antara orang Singkil dengan Batak, Karo, Gayo, Alas, Kluet, dan Pakpak, semuanya diduga berakar pada migran Austro-Melanesoid prasejarah.

Status nama ‘Singkil’ sebagai Singkil, Julu, Orang Hulu, atau Pakpak Boang: menunjukkan fragmentasi identitas yang belum terselesaikan secara akademis.

Yang menarik secara arkeologis: jika orang Singkil memang berakar pada migran Austro-Melanesoid prasejarah yang sama dengan orang Gayo, Alas, dan Kluet, maka mereka semua bisa jadi cabang-cabang dari satu pohon populasi yang sudah ada di dataran tinggi Sumatera jauh sebelum kerajaan-kerajaan berdiri. Perbedaan marga, bahasa, dan budaya yang kita lihat sekarang bisa jadi produk dari divergensi selama ribuan tahun dalam isolasi geografis pegunungan.

BATAS KLAIM

Hubungan genetik antara orang Singkil, Gayo, Alas, dan Kluet belum diuji secara DNA. Yang ada baru kemiripan linguistik dan budaya.

Marga-marga Singkil yang mirip Pakpak tidak otomatis berarti ‘asal Batak’. Kemiripan marga bisa mencerminkan kontak budaya jangka panjang tanpa perpindahan populasi besar.

Klaim bahwa orang Singkil adalah ‘suku asli Aceh’ versus ‘cabang Pakpak yang masuk Aceh’ adalah perdebatan yang belum selesai, dan tidak bisa diselesaikan tanpa penelitian DNA populasi yang komprehensif.

Populasi-populasi kecil lain: Kluet (Aceh Selatan), Devayan dan Sigulai (Simeulue), Lekon, Haloban, semuanya ‘belum ditemukan sejarah asal-usulnya secara tertulis’. Ini celah penelitian, bukan fakta yang bisa diklaim.

Aceh bukan satu suku. Aceh adalah konfederasi populasi yang dibungkus satu nama oleh sejarah, dan ilmu pengetahuan belum selesai membuka setiap bungkusnya.

BAGIAN II: BUKTI KONKRET HINDU-BUDDHA DI ACEH

Lapisan Hindu-Buddha di Aceh bukan mitos dan bukan spekulasi. Ia punya bukti arkeologis yang terverifikasi. Yang perlu diakui jujur adalah: buktinya lebih sedikit dan lebih tersebar dibanding di Jawa atau Sumatera Selatan, dan sebagian telah hilang karena transformasi budaya. Tapi ‘lebih sedikit’ tidak sama dengan ‘tidak ada’.

Bukti 1 — Arca Awalokiteswara dari Banda Aceh (Abad ke-9–10 M)

Ini temuan paling konkret dan paling jarang disebut: sebuah kepala arca Awalokiteswara dari batu andesit ditemukan oleh Kolonial Belanda pada tahun 1930-an di kawasan Prada/Lingke, Banda Aceh (Koetaradja). Arca ini diperkirakan memiliki tinggi total 135–140 cm. Berdasarkan gaya dan ikonografinya, ia ditanggali abad ke-9 sampai ke-10 M.

Arca ini kini menjadi koleksi Museum Nasional Indonesia, dengan Nomor Inventaris 248. Ini bukan klaim, ini objek fisik yang bisa dilihat, dirujuk, dan diverifikasi siapapun. Dan ini membuktikan bahwa pada abad ke-9 sampai ke-10 M, di wilayah yang kini menjadi ibu kota Aceh, ada komunitas atau setidaknya penganut Buddha yang cukup mapan untuk menghasilkan arca andesit seukuran itu.

FAKTA

Arca Awalokiteswara, Banda Aceh: batu andesit, tinggi total diperkirakan 135-140 cm, ditemukan di kawasan Prada/Lingke (Koetaradja), abad ke-9–10 M.

Koleksi Museum Nasional Indonesia, Nomor Inventaris 248.

Awalokiteswara adalah Bodhisattva (makhluk pencerahan) dalam tradisi Buddha Mahayana, kehadirannya menunjukkan pengaruh Buddha Mahayana, bukan sekadar kontak dagang.

Jurnal Naditira Widya (BRIN, 2022) mengkonfirmasi: Aceh termasuk dalam tujuh provinsi Sumatera yang memiliki temuan arca batu atau perunggu dari masa klasik Hindu-Buddha.

Bukti 2 — Pola Sebaran Arca Buddha Sumatera

Penelitian Eka Taim (BRIN) yang dipublikasikan dalam Naditira Widya, Vol. 16 No. 2 (2022) mengonfirmasi bahwa Aceh merupakan salah satu dari tujuh provinsi di Sumatera yang memiliki temuan arca batu atau perunggu dari masa Hindu-Buddha. Pola sebarannya menunjukkan keterkaitan dengan jaringan pengaruh Buddha di Sumatera yang berkembang melalui jalur perdagangan dan maritim dari Sumatera Selatan ke utara, melintasi Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga mencapai Aceh.

Di Hamparan Perak, Deli Serdang (Sumatera Utara) berbatasan langsung dengan wilayah Aceh, ditemukan sekitar 30 arca Buddha bergaya seni Gupta dan Sailendra dari abad ke-7–8 M, disertai votive tablet (tablet mantra tanah liat) abad ke-6–9 M. Gaya seninya identik dengan arca dari Palembang (pusat Sriwijaya). Ini menunjukkan bahwa jaringan Buddha Sriwijaya sudah mencapai kawasan perbatasan Aceh-Sumatera Utara sejak abad ke-7.

DEBAT ILMIAH

Kehadiran arca Buddha di Aceh tidak serta-merta membuktikan adanya ‘kerajaan Hindu-Buddha Aceh’. Arca bisa juga merupakan barang dagangan, persembahan dari pedagang, atau milik komunitas perantau Buddha yang tidak membentuk entitas politik.

Absennya candi atau prasasti berbahasa Sanskerta di Aceh adalah fakta yang harus diakui. Ini membedakan Aceh dari Jawa atau Sumatera Selatan yang memiliki bukti lebih massif.

Penjelasan yang lebih hemat (parsimoni): pengaruh Buddha di Aceh adalah pengaruh jaringan perdagangan Sriwijaya, bukan pengaruh kerajaan Hindu-Buddha lokal yang berdiri sendiri.

Bukti 3 — Segitiga Benteng Hindu: Indra Patra, Indra Puri, Indra Purwa

Di Aceh Besar berdiri tiga benteng kuno yang namanya mengandung ‘Indra’, nama Dewa Indra dalam tradisi Hindu. Benteng Indra Patra di Ladong, Masjid Raya, adalah yang paling utuh (luas 4.900 m²). Arkeolog Repelita Wahyu Oetomo (Balai Arkeologi Medan) mencatat bahwa secara arsitektur, bagian-bagian benteng masih memiliki motif bangunan bercorak Hindu-Buddha yang kemudian mengalami adaptasi ketika Islam masuk.

Tradisi menyebut benteng ini didirikan sekitar abad ke-7 M berkaitan dengan ekspansi pengaruh India ke pesisir utara Sumatera dan awal berdirinya Kerajaan Lamuri. Namun ini perlu diposisikan dengan jujur: klaim spesifik tentang pendirinya (‘putra Raja Harsya yang melarikan diri dari Huna’) adalah tradisi lisan yang belum dikonfirmasi arkeologi.

BATAS KLAIM

Benteng Indra Patra, arsitektur bercorak Hindu-Buddha : TERBUKTI (Repelita Wahyu Oetomo, Balai Arkeologi Medan).

Identitas pendiri (‘putra Raja Harsya dari India’) : TRADISI LISAN, belum dikonfirmasi arkeologi.

Penetapan abad ke-7 M sebagai masa pendirian : HIPOTESIS KERJA berdasarkan arsitektur komparatif, bukan penggalian stratigrafi.

Yang dapat diklaim dengan aman: ada struktur bangunan pra-Islam di Aceh Besar dengan motif Hindu-Buddha, dan ini adalah bukti nyata pengaruh India di Aceh sebelum Islam.

Bukti 4 — Hamzah Fansuri dan Akar Sanskerta yang Tersembunyi

Hamzah Fansuri, sufi besar Aceh abad ke-16, menggunakan takhallus (nama pena) ‘Fansuri’, merujuk ke Fansur, nama Arab-Persia untuk Barus. Dalam syair-syairnya ia menyebut dirinya ‘anak Fansur’. Tapi di mana letak jejak Hindu-Buddhanya?

Kata ‘kafur’ (kapur barus dalam bahasa Arab) kemungkinan berasal dari kata Melayu-Austronesia ‘kapur’ yang sendiri mungkin berasal dari kata Sanskerta ‘karpura’. Sementara nama ‘Fansur’ dalam bahasa Arab diturunkan dari ‘Baros’ melalui rantai fonetik yang panjang. Yang penting secara arkeologis-linguistik: nama kota perdagangan terpenting di pesisir barat Sumatera melewati lapisan bahasa Sanskerta sebelum sampai ke bahasa Arab, bukti bahwa jalur perdagangan pra-Islam yang membawa pengaruh India sudah ada jauh sebelum Islam tiba.

BATAS KLAIM

Etimologi ‘karpura’ (Sanskerta) → ‘kapur’ (Melayu) → ‘kafur’ (Arab) → ‘Fansur’ adalah rekonstruksi linguistik yang masuk akal tapi belum sepenuhnya dibuktikan dalam literatur lingustik historis yang terverifikasi.

Yang dapat diklaim dengan aman: nama Fansur/Barus sudah ada dalam sumber pra-Islam (Ptolemaeus abad ke-2 M, sumber Cina abad ke-6 M), menunjukkan bahwa kota ini dikenal dunia sebelum Islam lahir.

Jejak Hindu-Buddha di Aceh bukan dihancurkan oleh Islam. Ia diserap, diubah namanya, dan dilupakan secara perlahan. Tapi ia tidak pernah benar-benar pergi, ia tinggal dalam nama-nama, dalam batu-batu benteng, dalam arca yang kini terdiam di lemari museum Jakarta.

BAGIAN III: SEBELUM SULTAN ADA KAPUR, EKONOMI REMPAH YANG MENDAHULUI SEGALANYA

Ini adalah argumen yang paling jarang dibuat tapi paling fundamental: pedagang Arab dan India tidak datang ke Aceh karena Islam. Mereka datang jauh sebelum Islam ada dan mereka datang karena kapur dan rempah.

Sumber Tertua: Barus dalam Catatan Dunia

Keberadaan Barus sebagai kota dagang sudah tercatat dalam sumber Cina dari abad ke-6 M yang secara konsisten menyebutnya sebagai sumber kamper (kapur barus). Ptolemaeus dari abad ke-2 M menyebut ‘Baroussa’ dalam tulisan geografisnya, meski identifikasi persis ‘Baroussa’ dengan Barus yang sekarang masih diperdebatkan oleh sebagian sejarawan.

Yang lebih konkret: sumber Cina dari Dinasti Tang menyebut bahwa pada sekitar 674 M di pantai barat Sumatera sudah ada perkampungan yang dihuni pedagang Arab. Ini dua abad setelah Sriwijaya berdiri (abad ke-7 M) dan terjadi bersamaan dengan masa awal Islam di Arab. Artinya: ketika Islam baru berusia puluhan tahun, pedagang Arab sudah ada di Sumatera, bukan sebagai penyebar agama, tapi sebagai pebisnis kapur.

FAKTA

Sumber Cina abad ke-6 M: Barus sebagai penghasil kamper terbaik, sudah masuk jalur perdagangan internasional.

Sumber Cina Dinasti Tang: sekitar 674 M, sudah ada perkampungan Arab di pantai barat Sumatera.

G.R. Tibbetts (sejarawan): kontak dagang Arab-Nusantara sudah berlangsung sejak abad ke-5 M, dua abad sebelum Islam lahir di Mekah.

1848 M: harga kapur barus Fansur kualitas no.1 mencapai 2.000 dolar per pikul, 100 kali harga kapur Cina kualitas sama (sumber: laporan perdagangan Belanda).

DEBAT ILMIAH

Identifikasi ‘Baroussa’ Ptolemaeus dengan Barus Tapanuli: sebagian sejarawan menerimanya, sebagian mempertanyakannya karena koordinat Ptolemaeus untuk Asia Tenggara memiliki ketidakakuratan yang diketahui.

Hipotesis Claude Guillot bahwa ‘Barus’ dalam sumber Arab-Cina pra-abad-9 merujuk ke kawasan yang lebih luas mencakup ujung utara Sumatera (termasuk Aceh): hipotesis menarik tapi belum menjadi konsensus akademik.

Prof. Dr. Husaini (USK Banda Aceh): klaim Barus sebagai ‘titik nol Islam Nusantara’ tidak sejalan dengan temuan arkeologis. Barus punya peran penting dalam perdagangan, tapi tidak bisa disebut titik awal masuknya Islam secara definitif.

Komoditas yang Mengundang Dunia

Bukan hanya kapur. Pesisir barat Aceh adalah salah satu penghasil lada hitam terbaik di dunia kuno. Kemenyan (benzoin) dari pedalaman Gayo dan Alas juga menjadi komoditas incaran. Ketika Marco Polo singgah di Lambri (Aceh Besar) pada 1292, ia mencatat adanya ‘banyak kapur dan berbagai jenis rempah-rempah’, dan masyarakatnya saat itu masih menyembah berhala, bukan Islam.

Ini detail penting yang sering diabaikan: di Aceh Besar tahun 1292, satu abad setelah Samudera Pasai sudah memeluk Islam, masih ada kantong-kantong yang belum Islam. Ini bukan anomali, ini bukti bahwa Islamisasi adalah proses bertahap yang berlangsung berabad-abad, dipandu oleh jalur perdagangan rempah, bukan oleh keputusan politik satu kerajaan di satu titik waktu.

Kapur barus mendahului Islam. Rempah mendahului sultan. Jaringan perdagangan mendahului semua kerajaan yang mengklaim sebagai ‘kerajaan Islam pertama’. Inilah urutan yang benar, urutan yang diajarkan oleh arkeologi dan sumber dagang, bukan oleh hikayat.

BAGIAN IV: KETERBATASAN PENELITIAN DAN APA YANG SESUNGGUHNYA BELUM KITA KETAHUI

Artikel sebelumnya (Artikel I seri ini) sempat menyebut tsunami 2004 sebagai peluang arkeologis. Klaim itu perlu dikoreksi dan dipertegas: sampai saat ini, tidak ada dokumentasi akademis yang terverifikasi tentang temuan arkeologis signifikan yang terekspos akibat tsunami 2004 dan kemudian diteliti secara sistematis. Yang ada adalah laporan-laporan fragmental yang tidak ditindaklanjuti.

Ini bukan cerita tentang peluang yang ada. Ini cerita tentang kapasitas arkeologi yang tidak memadai. Dan itu adalah masalah yang berbeda, masalah kelembagaan, masalah anggaran, masalah prioritas nasional.

AGENDA RISET

Penelitian DNA (aDNA dan DNA populasi hidup) untuk semua kelompok etnis Aceh: Gayo, Alas, Singkil/Pakpak Boang, Kluet, Devayan, Sigulai, untuk merekonstruksi sejarah populasi Aceh secara ilmiah.

Ekskavasi arkeologis sistematis di Benteng Indra Patra untuk mendapatkan pertanggalan stratigrafi yang akurat.

Survei dan inventarisasi seluruh situs arkeologi di Aceh yang belum terdaftar sebagai cagar budaya.

Penelitian historis-linguistik tentang populasi Singkil/Pakpak Boang: apakah mereka berakar dari populasi yang sama dengan Gayo dan Alas, atau merupakan kelompok yang datang kemudian?

Kolaborasi BRIN dan Balai Arkeologi Aceh untuk program penelitian jangka panjang yang tidak bergantung pada siklus proyek tahunan.

Yang Kita Tahu vs Yang Kita Belum Tahu

Yang terbukti arkeologis:

Hunian manusia di Aceh sejak minimal 12.550 BP (Bukit Kerang). Kesinambungan DNA Gayo dari populasi prasejarah. Pengaruh budaya Austronesia di dataran tinggi Aceh (Loyang Mendale). Kehadiran arca Buddha di Banda Aceh abad ke-9–10 M. Jaringan perdagangan internasional melalui Aceh sejak abad ke-6 M.

Yang didukung sumber tertulis tapi perlu bukti arkeologis:

Keberadaan Lamuri sebagai kerajaan pra-Islam. Peran Fansur/Barus dalam jaringan dagang pra-Islam. Kehadiran pedagang Arab di Sumatera barat sejak abad ke-7 M.

Yang masih hipotesis kerja:

Asal-usul orang Singkil dari populasi Austro-Melanesoid prasejarah. Kronologi pasti Benteng Indra Patra. Luasnya pengaruh Sriwijaya di wilayah Aceh. Keberadaan situs Paleolitik di Aceh.

Yang tidak kita ketahui sama sekali:

Asal-usul orang Sigulai dan Devayan di Simeulue. Asal-usul orang Kluet di Aceh Selatan. Apakah ada situs arkeologis penting yang tenggelam di lepas pantai Aceh akibat kenaikan permukaan laut pasca-glasial.

PENUTUP: PERTANYAAN YANG BENAR UNTUK ACEH

Kita sudah terlalu lama mengajukan pertanyaan yang salah tentang Aceh. ‘Kerajaan Islam mana yang pertama?’ adalah pertanyaan kompetisi, bukan pertanyaan ilmiah. ‘Siapa yang paling berhak mengklaim warisan Aceh?’ adalah pertanyaan politik, bukan pertanyaan arkeologis.

Pertanyaan yang benar adalah: bagaimana lapisan demi lapisan manusia, dari pemburu Hoabinh, penutur Austronesia, komunitas berpengaruh Buddha, saudagar Arab pembawa Islam, perantau Minangkabau, hingga komunitas-komunitas tersembunyi di kepulauan dan pegunungan, membentuk mozaik manusia yang kita sebut ‘Aceh’ hari ini?

Jawaban atas pertanyaan itu tidak ada di hikayat. Tidak ada di kronik kerajaan. Tidak ada di buku teks sekolah. Ia ada di tanah, di lapisan-lapisan sedimen gua-gua Gayo, di cangkang-cangkang kerang Tamiang yang terus digerus, di nisan-nisan Kampung Pande yang menunggu ekskavasi, di arca Awalokiteswara yang terdiam di lemari Museum Nasional Jakarta, di DNA orang-orang Singkil dan Sigulai yang belum pernah diuji.

Aceh bukan satu identitas. Aceh adalah pertemuan ribuan tahun manusia. Dan pekerjaan kita, pekerjaan arkeologi, pekerjaan sejarah, pekerjaan ilmu pengetahuan, adalah menghormati kerumitan itu, bukan menyederhanakannya demi narasi yang nyaman.

Siapa sebenarnya orang Aceh? Semua yang pernah tinggal dan membentuk tanah itu, dari manusia gua 12.000 tahun lalu hingga pedagang kapur abad ke-7, dari komunitas berpengaruh Buddha hingga sultan-sultan Islam, dari perantau Minangkabau hingga komunitas Sigulai yang asal-usulnya belum kita ketahui.

Itulah jawaban yang jujur. Dan kejujuran itulah termasuk kejujuran mengakui batas pengetahuan kita sendiri, yang membuat Aceh lebih menarik dari apapun yang pernah ditulis tentangnya.

REFERENSI UTAMA

  • 1. Wiradnyana, Ketut. Berbagai publikasi tentang Loyang Mendale. Balai Arkeologi Sumatera Utara.
  • 2. Repelita Wahyu Oetomo. ‘Lamuri Telah Islam Sebelum Pasai’. Balai Arkeologi Medan.
  • 3. Naditira Widya Vol.16 No.2, 2022. ‘Persebaran Arca Buddha Abad ke-7–9 Masehi’. Balai Arkeologi Kalimantan Selatan/BRIN.
  • 4. Tengkuputeh.com. ‘Arca Awalokiteswara: Jejak Buddha di Aceh’. Museum Nasional Indonesia, Inv. No. 248.
  • 5. Combih, A. Aslym. ‘Singkil dalam Lintasan Sejarah’. Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture, 2025.
  • 6. Nasruddin, dkk. Sistem Kekerabatan Masyarakat Suku Aneuk Jamee. LP2M UIN Ar-Raniry, 2016.
  • 7. Guillot, Claude, dkk. (2008). Barus Seribu Tahun Lalu. Forum Jakarta-Paris / EFEO.
  • 8. Tibbetts, G.R. Arab Navigation in the Indian Ocean Before the Coming of the Portuguese. RAS/OUP, 1971.
  • 9. Husaini, Prof. Dr. ‘Bongkar Fakta Barus Bukan Titik Nol Islam Nusantara’. Dialeksis.com, 2025.
  • 10. Artikel I EMBAS: ‘Aceh Bukan Titik Nol’. Mohammad Basyir Zubair, 2026.

Yogyakarta, 26 Juni 2026

Sumber Artikel: Facebook Mohammad Basyir

Mohammad Basyir Zubair
Mohammad Basyir Zubair
Pengamat Arkeologi & Penulis Populer-Akademik | Kotagede, Yogyakarta

Related Articles

Artikel baru