(Ditulis 19 Oktober 2022, direvisi 28 April 2926)
Ada sebuah jalan di Bengkulu bernama Jalan Sentot Alibasyah. Saya melewatinya berkali-kali selama tiga puluh tahun tinggal di kota itu. Tapi bertahun-tahun saya tidak benar-benar memikirkan siapa dia, siapa yang namanya diabadikan di aspal itu, siapa yang tidur di tanah Bengkulu jauh dari Jawa, jauh dari segala yang pernah ia perjuangkan.
Sebagai arkeolog, saya terlatih membaca benda-benda bisu. Tembikar yang pecah. Fondasi yang terkubur. Tulang yang menceritakan perang tanpa satu kata pun. Dan makam, makam adalah dokumen paling jujur yang pernah ada. Tidak ada propaganda di sana. Tidak ada narasi yang diputarbalikkan penguasa.
Makam Sentot Alibasya Prawirodirdjo ada di Desa Bajak, Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu. Koordinatnya tercatat: 3°47’20.7″ Lintang Selatan, 102°15’48.4″ Bujur Timur. Ketinggian 38 meter di atas permukaan laut. Saya pernah ke sana. Dan saya berdiri lama di depan batu nisan itu, dengan perasaan yang sulit saya jelaskan.
Di situlah Napoleon Jawa, sebutan yang diberikan kepadanya oleh musuh-musuhnya sendiri, berbaring selamanya. Bukan di Madiun kota asalnya. Bukan di tanah Jawa yang ia bela dengan darah. Di Bengkulu. Sebagai orang buangan.
Ia dibunuh dua kali: pertama oleh Belanda di medan perang, kedua oleh sejarawan yang menghapus namanya dari halaman utama sejarah Indonesia.
I. Darah yang Tidak Bisa Diam
Untuk memahami Sentot, kita harus memahami dari mana darahnya mengalir. Dan darah itu penuh gejolak bahkan sebelum ia lahir.
Ayahnya adalah Raden Ronggo Prawirodirdjo III, Bupati Wedana Mancanegara Wetan, penguasa wilayah timur jauh Kesultanan Yogyakarta yang berpusat di Madiun. Ronggo III bukan sekadar bupati biasa. Ia menantu Sultan Hamengkubuwana II, suami dari Gusti Bendoro Raden Ayu Maduretno, putri darah biru keraton. Ia penasihat politik sultan. Ia orang yang kehadirannya diakui bahkan ditakuti, baik oleh Yogyakarta maupun oleh pihak kolonial.
Dan Ronggo III membenci Belanda dengan cara yang sangat konkret, bukan sekadar dalam hati.
Ketika Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels mulai merampas hutan-hutan Jawa, termasuk wilayah Madiun, untuk kayu jati pembuatan kapal perang Belanda, Ronggo III menolak tunduk. Ia melindungi rakyat dan kepala-kepala desa dari monopoli brutal itu. Daendels marah. Tuduhan demi tuduhan dilontarkan. Dan pada 20 November 1810, Ronggo III membuat keputusan yang mengubah segalanya: ia berangkat ke Madiun bersama 300 pengikutnya, menolak panggilan Daendels ke Batavia, dan mendeklarasikan perlawanan.
Hasilnya tragis dan memalukan sekaligus. Ia hanya bertahan dua minggu. Pada 17 Desember 1810, dalam pertempuran terakhir di tepi Bengawan Solo, Ronggo III gugur. Jenazahnya dibawa ke Yogyakarta, bukan untuk dimakamkan dengan hormat sebagai pahlawan, melainkan untuk dipamerkan di alun-alun utara keraton sebagai tubuh seorang penjahat. Baru pada tahun 1957, Sultan Hamengkubuwana IX meluruskan penghinaan itu dengan memindahkan jenazahnya ke pemakaman yang layak di Giripurno.
CATATAN ARKEOLOGI
Makam Ronggo III di Banyusumurup tempat pemakaman pertamanya sebagai ‘pemberontak’, adalah situs yang belum pernah mendapat survei arkeologi sistematis. Sebuah ironi besar: kita memiliki prasasti Mataram Kuno yang dijaga ketat, sementara situs-situs yang berkaitan langsung dengan perlawanan antikolonial abad ke-19 nyaris tidak tersentuh penelitian arkeologis sama sekali. Ini bukan kelalaian kecil, ini adalah keputusan politik yang menyamar sebagai kelalaian akademik.
Dalam kondisi inilah Sentot lahir dan tumbuh. Ayahnya seorang pejuang yang mati dikhianati sistem. Ibunya, Nyi Mas Ajeng Genosari, seorang garwa paminggir (selir) yang meninggal pada tahun yang sama dengan pemberontakan ayahnya, 1810. Sentot menjadi anak yatim piatu sebelum usianya genap dua tahun.
Tanyakan kepada psikolog modern: apa yang tumbuh dari anak yang kehilangan segalanya di usia dua tahun, yang nama ayahnya dicap sebagai pemberontak, yang warisan keluarganya adalah perlawanan dan kematian yang tragis? Tanyakan kepada arkeolog: apa yang tertinggal ketika seluruh lapisan tanah kehidupan seseorang diporak-porandakan sejak dini?
Yang tertinggal adalah bara.
II. “Sentot” : Nama yang Melesat Seperti Tombak
Perang Jawa meletus pada 1825. Pangeran Diponegoro yang juga buyut Hamengkubuwana I seperti halnya keluarga Ronggo, mengangkat senjata melawan kolonial. Dan pemuda berumur tujuh belas tahun bernama Prawirodirdjo bergabung.
Di sinilah sejarawan konvensional biasanya berhenti pada kalimat datar: “Sentot bergabung dengan Diponegoro dan menjadi panglima.” Kalimat yang membunuh keagungan dengan kesederhanaan yang malas.
Yang sesungguhnya terjadi jauh lebih kompleks dan lebih menggelegar dari itu.
Nama “Sentot” bukan nama lahir. Itu nama gelar perang, dari kata Jawa yang berarti melesat, meloloskan diri, terbang. Nama itu diberikan bukan karena ia pengecut yang lari dari pertempuran, melainkan karena taktiknya yang membuat Belanda frustrasi luar biasa: menyerang secepat kilat lalu hilang, muncul di tempat yang tidak terduga, memukul lalu menghilang sebelum musuh sempat bereaksi. Dalam terminologi militer modern, inilah yang disebut hit-and-run warfare, tetapi dilakukan dengan kecanggihan taktis yang jarang dimiliki panglima muda manapun.
Diponegoro sendiri yang menganugerahkan gelar “Ali Basah”, diambil dari istilah Turki Utsmani “Ali Pasha” yang berarti panglima tinggi. Menurut sejarawan Peter Carey dalam The Power of Prophecy (KITLV Press, 2007), gelar ini kemungkinan terinspirasi dari Muhammad Ali Pasha, penguasa Mesir yang naik dari bawah menjadi kekuatan militer yang menggetarkan dunia. Bukan kebetulan. Diponegoro memilih gelar itu dengan kesadaran penuh: ia memandang perangnya sebagai bagian dari gelombang kebangkitan Islam yang lebih luas, dan Sentot adalah ujung tombak terdepannya.
TITIK BALIK
Diponegoro tidak hanya memberi Sentot gelar militer. Ia memberi anak yatim piatu berusia 17 tahun itu sesuatu yang jauh lebih berharga: identitas, makna, dan alasan untuk hidup. Dendam pribadi bertemu dengan perjuangan kolektif. Dan dari pertemuan itulah lahir panglima yang paling ditakuti Belanda dalam Perang Jawa.
Sebagai arkeolog, saya terbiasa membaca lanskap. Dan lanskap Perang Jawa adalah lanskap gerilya yang luar biasa cerdas secara taktis. Sentot memahami medan dengan cara yang melampaui sekadar hafalan peta. Ia menggunakan pagar-pagar bambu sebagai kamuflase pasukan kudanya, menyembunyikan kavaleri di balik rimbun bambu, lalu meledak keluar pada saat yang paling tidak terduga.
Ia memahami bahwa mobilitas adalah keunggulan absolut ketika berhadapan dengan kekuatan artileri berat Belanda.
Hasilnya: sepanjang 1825 hingga 1826, pasukan Sentot dan Diponegoro memenangkan serangkaian pertempuran penting, di Lengkong, di Kejiwan, di Delanggu. Bahkan setelah kekalahan besar di Gawok pada Oktober 1826, Sentot tidak hancur. Ia menyesuaikan diri, bergeser ke perang gerilya yang lebih halus dan lebih mematikan.
H.J.J.L. de Stuers, komandan Belanda yang berhadapan langsung dengannya di lapangan, terpaksa mengakui dalam catatannya bahwa Sentot adalah seorang Jawa muda yang berapi-api dan dalam segala hal brilian, yang tahu cara membuka jalur bagi dirinya sendiri dengan energi dan kecerdikannya.
Musuh sendiri yang menulis itu. Bukan panegyric dari pendukungnya.
III. Ketika Pedang dan Uang Tidak Bisa Dipegang Bersamaan
Pada Desember 1828 tahun ketiga perang yang melelahkan, Diponegoro memberikan kepada Sentot tanggung jawab yang paling besar dalam sejarah hidupnya: komando militer menyeluruh atas seluruh pasukan perlawanan, sekaligus wewenang memungut pajak dari wilayah-wilayah yang dikuasai.
Diponegoro sendiri, dalam catatannya yang kemudian menjadi Babad Diponegoro, sebuah otobiografi yang oleh Peter Carey disebut sebagai karya autobiografi pertama dari pemimpin pribumi Asia Tenggara, dan telah diakui UNESCO sebagai Memory of the World pada 2013, mengabadikan dilema ini dengan sebuah pepatah Jawa yang menghantui:
“Lamun tiyang nyepeng pedhang dipunsambi nyepeng arta kadospundi, punapa tan kapiran?”
(“Bila orang yang memegang pedang juga diserahi untuk memegang uang, bagaimana jadinya? Tidakkah urusan akan terlantar?”)
Diponegoro tahu. Ia ragu. Tapi kondisi perang yang semakin terdesak memaksanya menyetujui permintaan Sentot.
Dan apa yang dikhawatirkan Diponegoro terbukti. Sentot yang brilian di atas kuda, yang tidak kenal rasa takut di medan perang, yang taktiknya membuat ribuan serdadu Belanda frustasi, ternyata tenggelam dalam labirin administrasi keuangan. Ia buta huruf. Ia seorang pejuang, bukan birokrat. Laporan-laporan menumpuk. Keputusan-keputusan tersendat. Dan ketika Belanda membangun benteng baru di Nanggulan, Sentot terlambat bereaksi, dan pasukannya kalah. Ini bukan pengkhianatan. Ini tragedi manusia.
Setelah kekalahan telak di Pertempuran Siluk pada September 1829, Sentot terpisah dari Diponegoro. Persediaan makanan habis. Rakyat yang selama empat tahun menjadi tulang punggung logistik perlawanan, kelelahan, miskin, dan mulai kehilangan harapan. Pada 16 Oktober 1829, Sentot menyerahkan diri kepada Belanda.
Penyerahan Sentot bukan akhir perjuangan, itu awal dari strategi yang lebih gelap, lebih sunyi, dan lebih berani dari apapun yang pernah ia lakukan di medan pertempuran terbuka.
IV. Mata-Mata Paling Berbahaya yang Pernah Dimiliki Nusantara
Belanda merasa menang. Mereka memiliki panglima Diponegoro yang paling ditakuti, kini berdiri di depan mereka. Mereka pikir mereka bisa menggunakannya. Betapa naifnya.
Setelah serangkaian tugas di Batavia, termasuk memimpin pasukannya meredam kerusuhan di Purwakarta pada 1832, Sentot beserta pasukan Jawanya dikirim ke Sumatera Barat pada 1833 untuk membantu menumpas Perang Paderi. Belanda berpikir mereka sedang mengirim senjata ampuh mereka sendiri ke front berikutnya.
Yang sesungguhnya terjadi adalah sesuatu yang jauh lebih mencengangkan. Di Sumatera Barat, Sentot ditempatkan di wilayah Lintau dengan apanase sekitar 5.000 jiwa. Tetapi Sentot bukan hanya tinggal di sana sebagai komandan. Ia melakukan hal yang membuat Belanda akhirnya menyadari kesalahan fatal mereka: ia bertemu dalam pertemuan-pertemuan rahasia dengan Tuanku Imam Bonjol, pemimpin utama Kaum Paderi. Ia masuk ke wilayah Pagaruyung di luar yurisdiksinya. Dan dalam pelanggaran protokol yang sangat simbolis, ia menyebut pejabat-pejabat Belanda bukan dengan “bapak” sebagaimana seharusnya, melainkan dengan “saudara”.
DEBAT ILMIAH
Apakah persekutuan Sentot dengan Paderi adalah spontanitas solidaritas Islam, atau strategi terencana sejak awal? Dokumen-dokumen resmi Belanda, sebagaimana dikutip berbagai sumber sejarah, membuktikan adanya persekongkolan, tetapi motivasinya tetap diperdebatkan. Yang jelas: Sentot tidak pernah benar-benar berhenti melawan. Ia hanya mengganti medan perang. Dari sabana Jawa ke ngarai Minangkabau.
Satu kata itu,”saudara” alih-alih “bapak”, mungkin terdengar sepele. Tapi dalam logika kolonial yang sangat hierarkis, itu adalah subversi yang sangat disengaja. Sentot sedang mengatakan sesuatu yang sangat jelas kepada siapapun yang mau mendengar: saya tidak mengakui superioritas kalian. Kita setara. Sesama manusia.
Belanda akhirnya menyadari apa yang sedang terjadi. Sentot ditangkap. Pasukannya dibubarkan dan diserap ke dalam KNIL. Ia dibawa kembali ke Batavia, dan ironisnya, sempat diizinkan menunaikan ibadah haji sebelum akhirnya dibuang.
V. Bengkulu: Tanah Pengasingan yang Tidak Pernah Melupakannya

Saya tinggal di Bengkulu selama tiga puluh tahun. Saya tahu betul betapa beratnya angin laut Samudra Hindia di musim-musim tertentu, betapa sunyinya malam di pinggiran kota, betapa jauhnya Bengkulu dari pusat kekuasaan dan pusat ingatan kolektif bangsa ini.
Di situlah Sentot menghabiskan sisa hidupnya. Di kota yang pernah menjadi tempat pengasingan Bung Karno puluhan tahun kemudian. Ada ironi yang menyayat: dua pejuang terbesar bangsa ini, dari dua era yang berbeda, sama-sama dihukum dengan cara yang sama, dibuang ke ujung Sumatera yang terpisah dari pusat segalanya.
Di Bengkulu, Sentot tidak menyerah pada keputusasaan. Ia mengajarkan ilmu Islam kepada masyarakat setempat. Ia mendidik. Ia meneruskan hidup dengan cara yang masih bermakna dalam batas-batas penjara tak terlihat yang melingkupinya. Selama lebih dari dua dekade ia hidup sebagai orang buangan.
Pada 17 April 1855, Sentot Alibasya Prawirodirdjo meninggal dunia. Usianya sekitar 47 tahun. Ia dimakamkan di Desa Bajak, Kecamatan Teluk Segara. Di tanah yang bukan tanahnya. Di kota yang bukan kotanya.
CATATAN ARKEOLOGI : SITUS YANG TERLUPAKAN
Makam Sentot di Desa Bajak, Kecamatan Teluk Segara, Bengkulu (koordinat: 3°47’20.7″ LS, 102°15’48.4″ BT, ketinggian 38 mdpl) telah diakui sebagai situs sejarah. Ada jalan yang dinamai menurut namanya. Tapi tidak ada survei arkeologi yang pernah dilakukan secara sistematis terhadap situs ini dan lingkungan sekitarnya.
Tidak ada penelitian tentang benda-benda peninggalan yang mungkin ada di lokasi. Tidak ada upaya serius untuk mendokumentasikan stratigrafi situs. Bandingkan dengan perhatian yang diberikan kepada situs-situs pra-Islam yang jauh lebih tua, dan kita akan melihat dengan sangat gamblang bagaimana ingatan kolektif bangsa ini dikelola, atau lebih tepatnya, diabaikan secara selektif.
Nama Sentot hidup di aspal jalan. Tapi jasadnya, kisahnya, kompleksitas hidupnya, semua itu terkubur dalam dua lapisan tanah sekaligus: tanah literal di Bengkulu, dan tanah metaforis berupa narasi sejarah yang menyederhanakannya menjadi catatan kaki.
VI. Pengkhianat atau Patriot? Pertanyaan yang Salah
Historiografi Indonesia selama puluhan tahun telah berdebat tentang label untuk Sentot: pengkhianat karena menyerah kepada Belanda, atau patriot karena bersekutu diam-diam dengan Paderi? Perdebatan ini, menurut saya, adalah perdebatan yang salah sejak akarnya.
Karena perdebatan itu menggunakan kategori-kategori yang dipinjam dari logika nation-state abad ke-20 dan diterapkan kepada seorang manusia yang hidup di dunia abad ke-19 yang sama sekali berbeda. Sentot tidak hidup dalam dunia “Indonesia” entitas itu belum ada. Ia hidup dalam dunia di mana loyalitas tersusun berlapis: kepada trah darah, kepada sultan, kepada Islam, kepada tanah yang dipijaknya.
Dari sudut pandang arkeologi, kita belajar bahwa manusia masa lampau tidak bisa dipahami dengan memproyeksikan kategori masa kini ke atas tindakan mereka. Itu adalah kesalahan metodologis mendasar.
Ketika seorang arkeolog menemukan sebuah gerabah, ia tidak bertanya apakah gerabah itu “modern” atau “kuno” menurut standar hari ini, ia bertanya apa fungsi gerabah itu dalam konteks zaman dan masyarakatnya sendiri.
Terapkan logika yang sama kepada Sentot. Dalam konteks zamannya: ia seorang Muslim yang melihat sesamanya ditindas, dari Jawa hingga Sumatera. Ia seorang bangsawan yang dendam pribadinya terhadap Belanda mengakar sejak kematian ayahnya. Ia seorang prajurit yang tidak pernah sekalipun melupakan dari mana ia berasal.
Sejarah yang baik bukan sejarah yang menghakimi dengan standar hari ini. Sejarah yang baik adalah sejarah yang mendengarkan, mendengarkan konteks, mendengarkan keheningan antara baris-baris dokumen, mendengarkan tanah yang menyimpan tulang.
VII. Apa yang Tersisa di Tanah Bengkulu
Saya kembali lagi dalam ingatan ke makam itu. Batu nisan sederhana di Desa Bajak. Koordinat yang tercatat rapi dalam database situs sejarah, tapi hampir tidak ada peneliti yang datang. Jalan yang dinamai sesuai namanya, Jalan Sentot Alibasyah yang dilewati ribuan orang setiap hari tanpa tahu siapa yang namanya tertera di papan hijau itu.
Perang Jawa 1825–1830, sebagaimana dicatat Peter Carey, menewaskan sekitar 200.000 jiwa di pihak Jawa dan menguras 20 juta gulden dari kas kolonial Belanda, hampir membangunkan kebangkrutan mereka. Itu adalah perang paling mahal dan paling mematikan yang pernah dihadapi Belanda di Nusantara. Dan di jantung perang itu, selama bertahun-tahun, berdirilah seorang pemuda dari Maospati yang kedua orang tuanya sudah mati sebelum ia mengerti artinya perjuangan.
Sebagai arkeolog, saya percaya bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya terkubur. Dan tugas kita, arkeolog, sejarawan, siapapun yang peduli pada kebenaran adalah menggalinya kembali bukan untuk memuja, bukan untuk menghukum, melainkan untuk memahami.
Sentot Alibasya Prawirodirdjo layak mendapat lebih dari sebuah papan nama jalan. Ia layak mendapat survei arkeologi yang serius di situs makamnya. Ia layak mendapat kajian ulang yang membebaskannya dari dikotomi pengkhianat-atau-patriot yang melelahkan itu. Ia layak dilihat sebagai apa yang sesungguhnya ia: manusia yang luar biasa, yang hidup di zaman yang luar biasa kejam, dan yang menolak patah meski dipatahkan berulang kali.
Ia dibunuh dua kali. Oleh Belanda yang membuangnya ke Bengkulu. Dan oleh sejarah yang membuangnya ke catatan kaki. Sudah waktunya kita mengembalikannya ke halaman utama.
RUJUKAN
- Carey, Peter. The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785–1855. Leiden: KITLV Press, 2007. (Edisi Indonesia: Kuasa Ramalan, Jakarta: KPG, 2012.)
- Carey, Peter. Destiny: The Life of Prince Diponegoro of Yogyakarta 1785–1855. Oxford: Peter Lang, 2014. (Edisi Indonesia: Takdir, Jakarta: Penerbit Buku Kompas.)
- Qomar, Akhlis Syamsal & Carey, Peter. Benteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta: Riwayat Raden Ronggo Prawirodirjo III dari Madiun, sekitar 1779–1810. 2023.
- Wikipedia (Inggris): “Sentot Prawirodirdjo”, untuk data biografi dasar dan kutipan de Stuers. Diakses April 2026.
- Wikipedia Bahasa Indonesia: “Pemberontakan Raden Ronggo” dan “Ronggo Prawirodirjo III”. Diakses April 2026.
- Darmansyah, 2002, dikutip dalam entri genealogi Sentot Alibasyah (Geni.com): lokasi dan koordinat makam di Bengkulu.
- Babad Diponegoro, otobiografi Pangeran Diponegoro dalam aksara Pegon, Memory of the World UNESCO 2013.
Sumber Artikel: Facebook Mohammad Basyir

