Di Indonesia, nama Sengkuni kerap kali dikonotasikan dengan kelicikan, kebejatan moral, hasut, dan lain-lain. Dalam satu dekade belakangan ini, nama Sengkuni kembali riuh di panggung politik sebagai senjata untuk menyerang lawan yang dianggap manipulatif dan licik. Fenomena ini berakar kuat pada penggambaran karakter dalam pewayangan Jawa yang cenderung serba hitam-putih.
Di satu sisi, ada karakter “baik” tanpa cela yang tetap dipuja meski melakukan kesalahan. Di sisi lain, ada karakter “jahat” yang selalu dianggap salah, meskipun ia berperang dengan etika yang benar. Kelemahan narasi ini adalah lebih mengutamakan hasil akhir ketimbang proses, yang akhirnya menimbulkan kecenderungan untuk menghalalkan segala cara asalkan menang.
Sengkuni: Dendam dari Penjara Gandhara
Dalam versi pewayangan Jawa, Sengkuni hanyalah penghasut yang memicu perang besar Bharata Yuda. Ia menghasut Dhritarashtra agar merasa lebih berhak menjadi raja dibanding Pandu karena statusnya sebagai putra tertua, meski memiliki cacat kebutaan. Ia juga menanamkan kebencian pada Duryodhana terhadap keturunan Pandu sejak kecil, hingga memicu beragam tipu daya untuk melenyapkan mereka .
Namun, sedikit sekali orang Indonesia yang memahami latar belakang mengapa Sengkuni berbuat demikian karena ketidaklengkapan penceritaan oleh para narator lokal. Dalam versi asli India, Sengkuni (Shakuni) adalah seorang Pangeran dari Gandhara (sekarang Afghanistan) yang kerajaannya pernah ditaklukkan oleh Hastinapura. Pasca penaklukan, seluruh laki-laki Gandhara dipenjara dan hanya diberi makan sebutir beras per hari untuk tiap orangnya. Karena para tahanan menyepakati bahwa satu orang harus tetap hidup untuk membalaskan dendam bangsa mereka, seluruh butir beras yang diterima diberikan kepada Sengkuni.
Tujuan hidup Sengkuni adalah menuntaskan dendam rakyat Gandhara terhadap Hastinapura. Meskipun ayahnya, Raja Subala, akhirnya takluk dan para tahanan dibebaskan, dendam tersebut belumlah tuntas. Sengkuni juga merasa dihinakan oleh lamaran pernikahan Hastinapura terhadap adiknya, Gandhari, karena yang melamar adalah kerajaan yang pernah membunuh rakyatnya. Karena tidak memiliki militer yang kuat, Sengkuni memilih menghancurkan wangsa Kuru dari dalam melalui operasi senyap. Perang Bharata Yuda bagi Sengkuni adalah hasil kerja kerasnya untuk menghancurkan wangsa Kuru yang ia benci. Walaupun ia akhirnya terbunuh, tujuannya hampir sepenuhnya berhasil karena praktis hanya segelintir wangsa Kuru yang bertahan hidup pasca perang.
Kresna: Melawan Tiran dari Dalam
Bagaimana dengan Kresna? Sebagai titisan Dewa Wisnu, ia bertugas memerangi angkara murka. Namun, serupa dengan Sengkuni, Kresna (Krishna) juga berasal dari bangsa yang tertindas. Perbedaannya, bangsa Sengkuni dijajah kekuatan luar, sementara bangsa Kresna—wangsa Yadawa—ditindas oleh tiran dari bangsa sendiri, yaitu Kansa. Kondisi ini mengingatkan pada penderitaan rakyat Indonesia di bawah kekuasaan diktator Soeharto dan Orde Baru.
Kansa adalah saudara laki-laki dari ibu Kresna, Dewaki. Ia mengkudeta ayahnya sendiri, Raja Ugrasena, dan mengangkat dirinya sebagai raja Mathura. Karena takut akan ramalan bahwa ia akan dibunuh oleh keturunan kedelapan Dewaki, Kansa memenjarakan Dewaki dan suaminya, Wasudewa, serta membunuhi anak-anak mereka. Kresna, sebagai keturunan kedelapan, diselundupkan keluar sel dan dibesarkan oleh pasangan Nanda dan Yasoda. Setelah dewasa, Kresna bersama kakaknya, Balarama (Baladewa), berhasil menghabisi Kansa dan mengembalikan tahta pada Ugrasena sebelum akhirnya mendirikan kerajaan Dwaraka bagi wangsa Yadawa.
Sepanjang persahabatannya dengan para Pandawa, Kresna melakukan tindakan yang secara substansi sama dengan Sengkuni: menggunakan tipu daya. Sebagai titisan dewa yang sudah paham bahwa perang besar akan terjadi, ia justru mengatur strategi untuk menyingkirkan musuh dengan muslihat terang-terangan. Ia adalah otak di balik kebohongan Yudhistira—karakter terjujur—untuk memperdayai Guru Drona tentang kematian anaknya, Aswatama, melalui skenario pembunuhan seekor gajah bernama sama . Ia pula yang menginstruksikan Bima untuk memukuli paha Duryodhana, meski secara etika perang gada, bagian paha dilarang untuk dipukul . Pelanggaran ini membuat Balarama marah besar dan menganggap kemenangan Bima tidak sah secara ksatria. Karma dari segala muslihat ini nyata: Kresna wafat terkena panah nyasar pemburu, dan wangsa Yadawa musnah akibat saling bunuh—sebuah wujud kutukan Gandhari yang melihat Kresna membiarkan kehancuran terjadi tanpa usaha nyata untuk mengakhirinya .
Melampaui Ilusi Hitam-Putih
Persamaan utama antara Sengkuni dan Kresna adalah metode muslihat yang mereka gunakan untuk menghancurkan musuh. Sayangnya, persamaan ini kurang dipahami oleh masyarakat Indonesia atau Jawa khususnya. Orang lebih senang menamai anak mereka “Kresna” atau “Krishna” karena menganggapnya pembela kebenaran tunggal, tanpa menyadari bahwa ia dan Sengkuni adalah “setali tiga uang” dalam hal penggunaan strategi manipulatif . Stigma “Sengkuni” hari ini hanyalah alat politik untuk melabeli lawan sebagai “kubu hitam” yang harus dimusnahkan, padahal Kresna pun bisa sama liciknya .
Untuk seluruh rakyat Indonesia: berhentilah memandang tokoh secara hitam-putih karena karakter seperti itu hanya ada dalam dongeng murahan. Tidak ada tokoh yang sepenuhnya hitam atau putih; semua manusia pada dasarnya abu-abu. Pola pikir dikotomis ini hanya membuat kita mudah bersimpati pada tokoh yang dicitrakan “dizalimi”, padahal ia mungkin memiliki rencana yang luar biasa jahat. Sebaliknya, kita juga gampang menghujat tokoh yang dianggap “hitam”, tanpa mau memahami latar belakang dan kondisi sejarah yang membentuknya.
Saya teringat kalimat dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, saat Jean Marais berpesan pada Minke: “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”. Inilah yang sering kali gagal dipahami bangsa kita. Kita harus bersikap adil pada semua orang, bahkan bagi penjahat sekalipun, keadilan harus diberikan melalui pengadilan.
Pengadilanlah yang berhak memutuskan apakah seseorang itu murni penjahat atau justru korban; jika terbukti penjahat ia layak dihukum, jika korban ia berhak atas kompensasi dan rehabilitasi. Janganlah kita terburu-buru mempahlawankan seseorang tanpa kejelasan, itu naif namanya. Sikap naif inilah yang membuat bangsa asing mampu menjajah kita dalam waktu yang sangat lama.
Saya yakin sekali, bahwa masyarakat Indonesia, khusunya yang ingatannya baik alias tidak gampang lupa ingatan, akan sadar bahwa ada satu pola yang berulang, dalam dua puluh tahun terakhir ini. Apakah pola itu? Yaitu bahwa para pemenang dalam kontestasi politik, adalah tokoh atau figur yang dilabeli dengan citra terzalimi. Lima pemilu terakhir (kalau tidak salah) tepatnya, tokoh-tokoh yang tersakiti inilah yang selalu menang.
Yang membedakan manusia bukanlah citranya, melainkan Keberpihakan. Apakah berpihak pada kaum tertindas atau penindas? Keberpihakan itu terlihat dari kesesuaian antara kata dan perbuatan, serta melalui program dan kebijakan ekonomi-politik yang nyata. Jangan lagi terjebak pada figur “merakyat” yang hampa program, namun menebar janji surga yang pada akhirnya dikhianati sendiri.

