Dalam horizon filsafat kontemporer, pembacaan terhadap konsep Übermensch yang diperkenalkan oleh Friedrich Nietzsche tidak lagi memadai apabila ditempatkan semata sebagai afirmasi eksistensial individual yang terlepas dari struktur ontologis realitas yang lebih luas; sebaliknya, ia menuntut reinterpretasi dalam kerangka metafisika yang mampu menjelaskan dinamika keberadaan secara berlapis dan bergradasi.
Dalam konteks ini, sintesis dengan pemikiran Mulla Sadra membuka kemungkinan pembacaan yang lebih radikal, di mana gagasan tentang manusia yang melampaui dirinya (self-overcoming) tidak lagi dipahami sebagai proyek voluntaristik berbasis will to power, tetapi sebagai manifestasi dari prinsip ontologis yang lebih fundamental, yakni tasykik al-wujud (gradasi eksistensi) dan al-ḥarakah al-jawhariyyah (gerak substansial). Melalui paradigma ini, manusia tidak sekadar “menciptakan nilai”, melainkan bergerak secara inheren dalam lintasan intensifikasi wujud yang mengandaikan keterkaitan intrinsik antara dimensi material, biologis, dan transenden.
Ketika konstruksi ini diproyeksikan ke dalam ranah transcendental ecology, maka relasi manusia dengan alam tidak lagi dapat direduksi menjadi relasi instrumental atau bahkan etis dalam pengertian normatif semata, melainkan harus dipahami sebagai ekspresi dari kontinuitas ontologis antara manusia dan kosmos, di mana setiap entitas ekologis–dari mikroorganisme hingga sistem biotik kompleks–berpartisipasi dalam spektrum wujud yang sama, meskipun dengan intensitas yang berbeda.
Dalam kerangka tersebut, Übermensch memperoleh artikulasi baru sebagai entitas yang tidak hanya melampaui batas-batas antropologisnya, tetapi juga melampaui paradigma dualistik yang memisahkan manusia dari alam, sehingga proses self-overcoming bertransformasi menjadi eco-ontological overcoming, yakni kemampuan untuk menyadari dan mengaktualkan posisi manusia sebagai simpul kesadaran dalam jaringan kosmik yang lebih luas.
Pada tataran ini, konsep insan kamil dalam filsafat Ṣadraian–yang bergerak dari potensialitas menuju aktualitas melalui tahapan-tahapan eksistensial–beririsan dengan kebutuhan epistemik untuk merekonstruksi ilmu ekologi sebagai disiplin yang tidak hanya berbasis pada observasi empiris, tetapi juga pada kesadaran metafisik tentang kesatuan wujud.
Dengan demikian, biomonitoring, misalnya, tidak lagi dipahami sekadar sebagai teknik pengukuran parameter lingkungan, tetapi sebagai upaya membaca “gejala ontologis” dari degradasi atau intensifikasi wujud dalam suatu sistem ekologis. Dalam konteks ini, penggunaan biomarker sederhana–seperti respons fisiologis embrio ikan–dapat ditafsirkan sebagai indikator dari gangguan pada aliran wujud yang seharusnya bergerak menuju kesempurnaan, sehingga pencemaran tidak hanya merupakan problem kimiawi, tetapi juga deviasi ontologis dari harmoni kosmik.
Lebih jauh, integrasi antara Übermensch dan ekologi transenden mengimplikasikan bahwa krisis ekologis modern tidak dapat diselesaikan melalui pendekatan teknokratis semata, karena akar masalahnya terletak pada disrupsi dalam cara manusia memaknai dirinya dalam struktur wujud. Nietzsche telah mengidentifikasi kehampaan nilai sebagai kondisi patologis manusia modern, namun solusi yang ia tawarkan–yakni penciptaan nilai oleh individu superior–tidak cukup untuk mengatasi fragmentasi ontologis antara manusia dan alam.
Di sinilah filsafat Mulla Sadra menawarkan koreksi mendasar dengan menegaskan bahwa nilai tidak diciptakan secara arbitrer, melainkan ditemukan melalui proses intensifikasi eksistensi yang membawa manusia semakin dekat pada Realitas Mutlak.
Doa syakbaniyah mengajarkan kita :
”Wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku kesempurnaan keterputusan (dari selain-Mu) menuju-Mu.
Terangilah pandangan hati kami dengan cahaya yang memandang kepada-Mu,
hingga pandangan hati itu mampu menembus tabir-tabir cahaya,
lalu sampai kepada sumber keagungan,
dan ruh kami pun bergantung pada kemuliaan kesucian-Mu”.
Dalam kerangka ekologi transenden, ini berarti bahwa etika lingkungan bukanlah konstruksi eksternal yang dipaksakan kepada manusia, tetapi konsekuensi internal dari kesadaran ontologis yang lebih tinggi; semakin tinggi intensitas wujud seseorang, semakin kuat pula kecenderungannya untuk menjaga keseimbangan ekologis, karena ia tidak lagi melihat alam sebagai objek eksternal, melainkan sebagai ekstensi dari keberadaannya sendiri.
Dengan demikian, Übermensch dalam perspektif Sadraian dapat direkonstruksi sebagai “manusia ekologis-transenden”, yakni individu yang mencapai tingkat kesadaran di mana batas antara subjek dan objek ekologis menjadi cair, dan tindakan terhadap lingkungan dipahami sebagai tindakan terhadap diri sendiri dalam pengertian ontologis. Dalam kondisi ini, eksploitasi alam menjadi bentuk ketidaktahuan eksistensial, sementara konservasi dan restorasi ekologis menjadi ekspresi dari pengetahuan yang telah mencapai tingkat kasyf (penyingkapan).
Narasi ini sekaligus menggeser pusat gravitasi ilmu lingkungan dari paradigma positivistik menuju paradigma integratif yang menggabungkan dimensi empiris, filosofis, dan spiritual. Oleh karena itu, penelitian dalam bidang ekotoksikologi–termasuk studi tentang bahan pencemar seperti mikroplastik dan biomarker–dapat memperoleh kedalaman baru apabila ditempatkan dalam kerangka ini, di mana data empiris tidak hanya dianalisis sebagai fenomena statistik, tetapi juga sebagai refleksi dari dinamika wujud yang lebih luas.
Akhirnya, sintesis antara Nietzsche dan Mulla Sadra dalam konteks ekologi transenden menunjukkan bahwa proyek menjadi manusia luar biasa (extraordinary human) tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab kosmiknya; manusia tidak hanya dipanggil untuk melampaui dirinya, tetapi juga untuk memulihkan relasinya dengan seluruh tatanan keberadaan.
Dalam pengertian ini, Übermensch bukanlah puncak individualitas yang terisolasi, melainkan titik kesadaran di mana manusia menyadari dirinya sebagai bagian dari arus besar wujud yang bergerak menuju kesempurnaan, sehingga setiap tindakan ekologis–baik destruktif maupun konstruktif–memiliki implikasi ontologis yang melampaui batas-batas ruang dan waktu empiris.

