Pakubuwana VIII :Politik Sunyi di Tengah Dekonstruksi Kolonial Mataram (1858–1861)

Pendahuluan:
Raja yang “Tidak Melawan” atau Raja yang Sedang Menyelamatkan Sisa Peradaban?

Dalam historiografi kolonial, Pakubuwono VIII sering muncul hanya sebagai catatan kaki sejarah: raja tua, memerintah singkat, tanpa perang besar, tanpa ekspansi wilayah, dan tanpa pemberontakan terbuka terhadap Belanda.

Namanya tenggelam di antara tokoh-tokoh besar seperti Pangeran Diponegoro atau Sultan Agung yang dikenang karena perang dan kekuatan militernya.

Namun justru di situlah persoalannya.

Sejarah kolonial terlalu lama memakai ukuran yang sempit dalam menilai penguasa Jawa: siapa yang berperang dianggap besar, siapa yang tidak mengangkat senjata dianggap lemah.

Padahal ketika Pakubuwana VIII naik tahta pada 1858, dunia politik Jawa sudah berubah total.

Perang Jawa bukan sekadar konflik biasa. Perang itu menghancurkan tatanan lama Mataram, merusak ekonomi pedesaan, memukul psikologi masyarakat Jawa, dan menewaskan ratusan ribu orang. Banyak penelitian memperkirakan korban sipil Jawa mencapai sekitar 200.000 jiwa akibat perang, kelaparan, penyakit, dan kekacauan sosial yang mengikutinya.

Setelah perang berakhir, pemerintah kolonial Hindia Belanda tidak lagi memandang kerajaan Jawa sebagai mitra sejajar. Keraton dipertahankan, tetapi dipreteli kekuatannya secara perlahan.

Militer diperkecil.
Wilayah dipersempit.
Pajak diawasi.
Administrasi dikontrol.

Dan seluruh gerak politik keraton harus berhubungan langsung dengan Residen Belanda. Dalam situasi seperti itulah Pakubuwana VIII naik tahta.

Ia tidak memimpin negara yang kuat. Ia memimpin sisa-sisa dunia lama yang sedang dipaksa bertahan hidup.

Anak Siapa Sebenarnya Pakubuwana VIII?

Masih banyak kekeliruan mengenai silsilah beliau. Ada yang menyebut beliau putra Pakubuwana VI, bahkan ada yang tertukar dengan Pakubuwana VII.

Padahal sumber genealogis Kasunanan Surakarta menunjukkan bahwa Pakubuwono VIII lahir dengan nama Bendara Raden Mas Kusen pada 20 Mei 1789. Ia adalah putra Pakubuwono IV dari seorang selir bernama Mas Ayu Rantansari.

Dengan demikian, Pakubuwana VIII adalah kakak tiri dari Pakubuwono VII, bukan anaknya.

Ketika Pakubuwana VII wafat, situasi internal keraton membutuhkan figur senior yang memiliki legitimasi genealogis kuat untuk menjaga stabilitas istana. Dalam konteks itulah Pakubuwana VIII yang telah berusia lanjut kemudian naik tahta pada 1858.

Ia naik bukan di masa kejayaan. Tetapi di masa ketika Mataram sedang hidup di bawah bayang-bayang kolonialisme.

Raja Tua di Tengah Dunia yang Sudah Berubah

Ketika Pakubuwono VIII memerintah Surakarta antara 1858–1861, Kasunanan sebenarnya sudah tidak lagi memiliki kedaulatan penuh sebagaimana era Mataram abad ke-17.

Belanda telah belajar dari Perang Jawa bahwa kerajaan Jawa terlalu berbahaya bila dibiarkan kuat secara militer dan ekonomi.

Karena itu strategi kolonial berubah: bukan menghancurkan keraton secara langsung, melainkan mempertahankannya sebagai simbol budaya sambil perlahan mengikis fungsi politiknya.

Di sinilah banyak orang salah memahami Pakubuwana VIII. Karena dilihat dari kacamata perang, ia tampak diam.

Tetapi bila dilihat dari perspektif survival politik dan antropologi kekuasaan Jawa, justru di situlah strategi besarnya bekerja.

Politik Sunyi:
Bertahan Tanpa Mengangkat Senjata

Banyak penulis kolonial menganggap absennya perlawanan bersenjata sebagai tanda kelemahan.

Namun penilaian seperti itu sering mengabaikan realitas Jawa pasca-1830.

Setelah Perang Jawa, masyarakat mengalami kelelahan sosial yang luar biasa. Desa-desa rusak. Ekonomi kacau. Struktur aristokrasi terguncang. Dalam kondisi seperti itu, perang baru berpotensi menjadi bunuh diri politik bagi Surakarta.

Karena itu, pendekatan Pakubuwana VIII tampaknya diarahkan pada sesuatu yang lebih mendasar: menjaga agar identitas simbolik Mataram tidak hilang.

Beliau mempertahankan berbagai tradisi keraton seperti Sekaten, Garebeg, wayang kulit, gamelan, dan ritual istana lainnya yang selama berabad-abad menjadi pusat legitimasi budaya Jawa.

Bagi pejabat kolonial, kegiatan itu mungkin hanya tampak sebagai seremoni tradisional.

Tetapi bagi masyarakat Jawa, ritual keraton adalah tanda bahwa “pusat dunia” Mataram masih hidup.

Dalam perspektif antropologi politik, ritual bukan sekadar hiburan. Ia adalah theater of power, panggung tempat legitimasi dipertontonkan dan diwariskan.

Dan Pakubuwana VIII tampaknya memahami itu dengan sangat baik.

Menjaga “Roh” Mataram Saat Tubuh Politiknya Lumpuh

Inilah sisi paling penting yang sering diabaikan.

Setelah kekalahan besar Perang Jawa, kerajaan-kerajaan Jawa kehilangan banyak kekuatan nyata. Namun selama simbol dan struktur budaya masih bertahan, identitas Mataram belum sepenuhnya mati.

Karena itu, menjaga keraton tetap hidup secara budaya menjadi sangat penting.

Pada masa pemerintahan Pakubuwono VIII, struktur internal keraton tetap dipelihara: hierarki bangsawan, posisi abdi dalem, tata upacara, pranata istana, dan jaringan sosial aristokrasi Jawa tetap berjalan di tengah tekanan birokrasi kolonial.

Hal ini penting karena keraton bukan hanya tempat tinggal raja. Ia adalah pusat orientasi budaya, sosial, dan simbolik masyarakat Jawa tradisional.

Dalam banyak kasus kolonial di Asia Tenggara abad ke-19, kerajaan tidak selalu dihancurkan secara frontal. Yang sering terjadi justru pengikisan perlahan terhadap fungsi dan wibawanya.

Karena itu, kemampuan Surakarta mempertahankan kesinambungan simbolik hingga akhir abad ke-19 tidak dapat dilepaskan dari upaya para penguasanya, termasuk Pakubuwana VIII.

Raja Monogami di Tengah Politik Dinasti

Satu aspek menarik yang jarang dibahas serius adalah kehidupan personal Pakubuwono VIII.

Beberapa sumber menyebut beliau sebagai salah satu penguasa keturunan Mataram yang dikenal hidup monogami dan tidak menjalankan praktik poligami besar seperti lazimnya raja-raja Jawa sebelumnya.

Dalam tradisi kerajaan Jawa, perkawinan sering menjadi alat membangun aliansi politik dan memperluas jaringan aristokrasi. Karena itu, pilihan hidup semacam ini cukup tidak biasa untuk ukuran seorang raja abad ke-19.

Namun aspek ini perlu dipandang hati-hati dan tidak berlebihan, sebab sumber mengenai kehidupan personal raja Jawa abad ke-19 masih terbatas dan sering bercampur tradisi tutur.

Meski demikian, bila dibaca dalam konteks politik kolonial, gaya hidup yang lebih sederhana itu dapat dipahami sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas internal keraton di tengah tekanan eksternal yang besar.

Semakin banyak jaringan keluarga dan kepentingan politik di dalam istana, semakin besar pula potensi konflik internal yang dapat dimanfaatkan kolonialisme melalui politik pecah-belah.

Mengapa Masa Pemerintahannya Tetap Penting?

Secara politik, masa pemerintahan Pakubuwono VIII memang singkat, sekitar tiga tahun hingga wafatnya pada 1861.

Namun dalam sejarah Jawa abad ke-19, stabilitas justru menjadi sesuatu yang sangat mahal.

Surakarta berada dalam tekanan kolonial yang kuat, tetapi tidak mengalami ledakan perang saudara besar ataupun krisis suksesi yang menghancurkan lembaga keraton.

Setelah wafatnya Pakubuwana VIII, tahta kemudian diteruskan oleh Pakubuwono IX.

Dalam konteks itu, Pakubuwana VIII dapat dipahami sebagai figur transisi penting: bukan penguasa ekspansionis, melainkan penjaga kesinambungan simbolik Mataram di tengah proses dekonstruksi kolonial terhadap kerajaan-kerajaan Jawa.

Kesimpulan:
Benteng Terakhir yang Tidak Terlihat

Sejarah sering kali lebih mudah mengingat tokoh yang berperang daripada tokoh yang menjaga agar sesuatu tidak runtuh.

Padahal setelah Perang Jawa menghancurkan tatanan lama Mataram, tugas seorang raja berubah drastis.

Ia tidak lagi hanya dituntut menjadi pemimpin perang. Ia harus menjadi konservator peradaban.

Pakubuwono VIII mungkin tidak meninggalkan kemenangan militer besar. Namun ia mewariskan sesuatu yang lebih sunyi: keberlangsungan simbolik sebuah dunia Jawa yang sedang digerus kolonialisme.

Ia memahami bahwa ketika pedang sudah patah dan kekuasaan politik telah dipersempit, budaya menjadi benteng terakhir yang masih dapat dipertahankan.

Dan mungkin, di tengah sejarah yang penuh kegaduhan perang, menjaga agar peradaban tidak padam justru merupakan bentuk kepahlawanan yang paling sulit dikenali.

Daftar Pustaka

  1. A History of Modern Indonesia Since c.1200 — M.C. Ricklefs.
  2. The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785–1855 — Peter Carey.
  3. Kehidupan Dunia Kraton Surakarta 1830–1939 — Darsiti Soeratman.
  4. Writing the Personal Self: Javanese Literati Identity, c.1800–1965 — Nancy K. Florida.
  5. Arsip genealogi dan babad Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Yogyakarta, 21 Mei 2026

Sumber Artikel: Facebook Mohammad Basyir

Mohammad Basyir Zubair
Mohammad Basyir Zubair
Pengamat Arkeologi & Penulis Populer-Akademik | Kotagede, Yogyakarta

Related Articles

Artikel baru