Sejarah sering tidak adil pada orang-orang yang mati muda.
Pakubuwana V hanya memerintah tiga tahun. Tiga tahun yang oleh banyak penulis dianggap “biasa saja”, sekadar jembatan antara ayahnya yang keras, Pakubuwana IV, dan anaknya yang tragis, Pakubuwana VI yang dibuang ke Ambon.
Tapi tunggu dulu.
Kalau kita baca lebih dalam, justru di tangan raja yang “tiga tahun” inilah lahir salah satu karya sastra terbesar dalam sejarah peradaban Jawa, sebuah ensiklopedi raksasa yang menampung ribuan ilmu dari tasawuf hingga kuliner, dari astronomi hingga cara membuat keris, dari primbon hingga jamu tradisional.
Namanya: Serat Centhini.
FAKTA
Nama asli: Raden Mas Sugandi
Lahir: 13 Desember 1784
Wafat: 5 September 1823 (usia 38 tahun)
Masa pemerintahan: 10 Februari 1820 – 5 September 1823
Ibu: GKR. Pakubuwana, putri Adipati Cakraningrat dari Madura Barat
Julukan: Sinuhun Ngabehi / Sunan Sugih
Dimakamkan: Astana Kaswargan, Imogiri, Bantul
I. Pertanyaan yang Tidak Pernah Ditanyakan
Semua orang tahu Pakubuwana V memerintahkan penulisan Serat Centhini. Tapi hampir tidak ada yang bertanya: mengapa?
Jawabannya tersimpan dalam tembang pembuka karya agung itu sendiri. Pada Jilid 1, Pupuh 1, Tembang 1 (Sinom), Serat Centhini membuka dirinya dengan pernyataan yang tegas: Sri narpadmaja sudigbya, talatahing tanah Jawi, Surakarta Adiningrat, agnya ring kang wadu carik, Sutrasna kang kinanthi, mangun reh cariteng dangu, sanggyaning kawruh Jawa, ingimpun tinrap kakawin, Sang putra mahkota memerintahkan jurutulis mengumpulkan keseluruhan pengetahuan Jawa, digubah dalam bentuk tembang, agar menyenangkan yang mendengar.
Ini bukan sekadar proyek sastra. Ini adalah proyek keselamatan peradaban.
Raden Mas Sugandi, nama asli Pakubuwana V sebelum naik takhta, adalah putra mahkota yang dengan sadar memerintahkan sebuah proyek besar: tuliskan semuanya. Jangan ada pengetahuan Jawa yang terlewat dan punah. Hasilnya adalah Serat Centhini yang ditulis antara 1814–1823 dalam aksara dan bahasa Jawa dengan tulisan tangan.
DATA SERAT CENTHINI
Jumlah jilid: 12 jilid
Jumlah pupuh: 722 pupuh (versi transkripsi Kamajaya, 1991)
Jumlah tembang (bait): ±30.837 bait
Total halaman: ±3.467 halaman (ukuran 15 x 21 cm)
Perbandingan: Iliad Homer = 15.537 larik Odyssey = 12.363 larik
Serat Centhini diperkirakan mengandung lebih dari 200.000 larik
Juru tulis utama: Raden Ngabehi Ranggasutrasna (Sutrasna)
Sumber: Transkripsi Kamajaya, Yayasan Centhini, 1991; Ki Sumidi Adisasmita, 1975
II. Sunan Sugih: Kaya Harta, Kaya Ilmu
Julukan “Sunan Sugih”, Baginda yang Kaya, selama ini ditafsirkan sempit: kaya harta benda.
Tapi dalam tradisi Jawa, sugih punya dimensi yang jauh lebih dalam. Sugih sejati bukan soal emas di peti simpanan. Sugih sejati adalah sugih kawruh, kaya ilmu. Sugih batin, kaya batiniah.
Dan Pakubuwana V, dengan memerintahkan lahirnya Serat Centhini, sedang membangun sebuah bendahara ilmu yang tidak akan pernah habis diwariskan. Serat Centhini memuat hampir semua aspek kehidupan dan pikiran masyarakat Jawa: persoalan agama, kebatinan, kekebalan, dunia keris, makanan dan minuman, adat istiadat, tata cara membangun rumah, pertanian, primbon, seksualitas, semuanya terhimpun dalam satu karya raksasa.
“Serat Centhini mungkin bisa merupakan salah satu karya agung kesusastraan dunia.”
Denys Lombard, Le Carrefour Javanais (Nusa Jawa: Silang Budaya)
Orientalis Prancis Denys Lombard, dalam magnum opus-nya yang diterjemahkan sebagai Nusa Jawa: Silang Budaya, menyebut Serat Centhini dengan panjang lebar dan mengakuinya sebagai salah satu karya agung kesusastraan dunia. Ironi terbesar: karya yang menarik perhatian budayawan dunia itu justru tidak begitu dikenal oleh bangsanya sendiri.
Bandingkan dengan raja-raja sebelumnya yang mewariskan perang, perjanjian, atau penghinaan oleh kolonial. PB V mewariskan pengetahuan. Itu bukan warisan yang kecil. Itu warisan peradaban.
III. Keris dari Pecahan Meriam: Metafora yang Terlupakan
Ada satu detail kecil dalam biografi PB V yang hampir semua orang lewatkan: ia membuat keris pusaka dengan tangannya sendiri, bernama Kyai Kaget, yang ditempa dari pecahan meriam pusaka Kyai Guntur Geni, meriam yang terhubung dengan peristiwa Geger Pacinan 1740.
Sekilas ini hanya kisah keris biasa.
Tapi bagi yang mau berpikir lebih jauh, ini adalah pernyataan sikap yang sangat kuat. Meriam adalah senjata perang. Senjata dalam konteks 1740 yang menyaksikan pertumpahan darah massal. PB V mengambil serpihan dari simbol kekerasan itu dan mengubahnya menjadi pusaka, sesuatu yang disakralkan, dijaga, diwariskan.
Ini bukan sekadar keahlian seorang empu. Ini adalah sikap seorang raja terhadap sejarah: ambil yang hancur, lebur ulang, jadikan sesuatu yang bermakna.
KAJIAN KRITIS
Klaim interpretatif dalam artikel ini, bahwa pembuatan Kyai Kaget merupakan ‘pernyataan sikap terhadap sejarah’, adalah argumen orisinal EMBAS berdasarkan konteks historis.
Sumber primer tentang detail pembuatan Kyai Kaget: Wikipedia (mengutip tradisi lisan dan babad keraton), belum ditemukan sumber akademik yang secara spesifik membahas dimensi simbolik keris ini.
Pembaca didorong untuk melacak lebih jauh via: Haryono Haryoguritno (2006), Keris Jawa: Antara Mistik dan Nalar, untuk konteks tradisi peleburan benda pusaka.
IV. Tiga Tahun yang Ternyata Tiga Abad
Pakubuwana V memerintah 1820–1823. Tiga tahun.
Tapi Serat Centhini, yang ia perintahkan sejak masih menjabat Adipati Anom, masih dikaji oleh para peneliti hingga hari ini. Ia menjadi referensi dalam studi gender, tasawuf, etnobotani, sastra Jawa, antropologi kuliner, dan bahkan pengobatan herbal tradisional.
Sejarah yang adil tidak menghitung berapa lama seseorang berkuasa. Sejarah yang adil menghitung berapa lama pengaruhnya hidup setelah ia tiada.
Dan dengan ukuran itu, Pakubuwana V, si raja tiga tahun yang meninggal di usia 38, adalah salah satu raja paling berpengaruh dalam sejarah Jawa. Bukan karena ia menang perang. Bukan karena ia menghentikan penjajahan.
Tapi karena ia tahu, bahwa di tengah dunia yang goyah akibat kolonialisme, yang paling berbahaya bagi sebuah peradaban bukan pedang musuh, melainkan lupa.
Dan ia memilih untuk tidak membiarkan Jawa lupa. Itulah warisan sejati Sunan Sugih.
CATATAN METODOLOGI
- Angka Serat Centhini (722 pupuh, 30.837 tembang, 3.467 halaman, 12 jilid) bersumber dari transkripsi Kamajaya (Yayasan Centhini, 1991) dan dikonfirmasi oleh kajian Murwati dalam Jurnal Metalingua (Universitas Trunojoyo Madura, 2018).
- Pujian Denys Lombard terhadap Serat Centhini dikonfirmasi dari sumber Nusa Jawa: Silang Budaya (terjemahan Indonesia, Gramedia, 1996).
- Klaim interpretatif (Kyai Kaget sebagai metafora, makna ‘sugih kawruh’) ditandai sebagai argumen EMBAS dan bukan pernyataan faktual tunggal.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Primer & Naskah
- Kamajaya (Karkono Kamajayakusuma). 1991. Serat Centhini: Suluk Tambangraras (Transkripsi dari aksara Jawa ke Latin). 12 jilid. Yogyakarta: Yayasan Centhini.
- Ki Sumidi Adisasmita. 1975. Pustaka Centhini: Ichtisar Seluruh Isinya. Yogyakarta: UP Indonesia.
- Repositori Kemendikdasmen RI. “Serat Centhini Latin 1.” https://repositori.kemendikdasmen.go.id/25133/ [diakses 2026].
Kajian Akademik
- Lombard, Denys. 1996. Nusa Jawa: Silang Budaya, Kajian Sejarah Terpadu (3 jilid). Terjemahan dari Le Carrefour Javanais (1990). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
- Murwati, Rini. 2018. “Serat Centhini dalam Masyarakat Jawa (Tinjauan Resepsi Sastra).” Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Metalingua, Vol. 3, No. 1. Universitas Trunojoyo Madura. DOI: https://doi.org/10.21107/metalingua.v3i1.7032
- Florida, Nancy K. 1995. Writing the Past, Inscribing the Future: History as Prophecy in Colonial Java. Durham: Duke University Press.
- Ricklefs, M.C. 2007. Polarising Javanese Society: Islamic and Other Visions (c. 1830–1930). Leiden: KITLV Press.
- Wibawa, Sutrisna. 2013. “Nilai Filosofi Jawa dalam Serat Centhini.” Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta.
Sumber Keraton & Sejarah Umum
- Miksic, John (ed.). 2006. Karaton Surakarta: A Look into the Court of Surakarta Hadiningrat. Singapore: Marshall Cavendish Editions. ISBN 981-261-226-2.
- Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu.
- Andjar Any. 1980. Raden Ngabehi Ronggowarsito, Apa yang Terjadi? Semarang: Aneka Ilmu.
- Haryono Haryoguritno. 2006. Keris Jawa: Antara Mistik dan Nalar. Jakarta: Indonesia Kebanggaanku.
EMBAS — Sejarah Islam Jawa & Kritik Historiografi Kolonial
Kotagede, Yogyakarta Mei 2026
Sumber Artikel: Facebook Mohammad Basyir

