Nurani di Aspal Jakarta: Solidaritas Ojol untuk Kedaulatan Venezuela

Dunia seolah terkagum-kagum dengan laporan tentang “kesuksesan” Operasi Absolute Resolve di Venezuela pada awal Januari 2026. Banyak analis militer dan kolom media nasional, termasuk ulasan di salah satu situs web “progresif”, yang memuji operasi tersebut sebagai sebuah “mahakarya militer” atau “simfoni presisi” yang mengombinasikan Akal Imitasi (AI) dan dominasi teknologi Pentagon. Mereka membedah bagaimana algoritma Amerika di lapangan mampu mematikan sistem listrik Caracas hingga melumpuhkan alutsista Rusia dan China dengan begitu “mulus” tanpa hambatan sama sekali. Akan tetapi, di tengah kekaguman terhadap mesin perang tersebut, saya ternyata malah kagum ketika menyaksikan sebuah fenomena yang jauh lebih bermartabat dan tinggi nilai kemanusiaannya di jalanan Jakarta.

Ratusan pengemudi ojek online (Ojol) yang berada di bawah bendera Perhimpunan O2 melakukan demonstrasi di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat pada Rabu (14/1/2026). Mereka tidak sedang menuntut algoritma tarif, tetapi menyuarakan solidaritas internasional: bebaskan Presiden Nicolas Maduro dan hentikan agresi terhadap negara berdaulat.

Hal ini bagi saya, adalah sebuah keluarbiasaan, karena di tengah kelas menengah intelektual Indonesia yang terkagum-kagum dengan operasi militer Amerika Serikat di Venezuela. Kawan-kawan Ojol, sebagai perwakilan kelas buruh, ternyata memilih untuk melakukan aksi sebagai solidaritas sesama rakyat tertindas.

Menolak “Sihir” Teknologi, Membela Kedaulatan

Bagi sebagian pengamat yang terpana pada kecanggihan drone dan sensor termal, aksi ojol ini mungkin terlihat janggal. Akan tetapi, kawan-kawan ojol justru sedang menunjukkan pemahaman geopolitik yang jauh lebih dalam daripada para analis yang memuja teknologi militer. Sebagaimana dinyatakan Ketua Umum O2, Cecep Saripudin, klaim demokrasi Amerika adalah “omong kosong” ketika fakta di lapangan memperlihatkan pelanggaran hukum internasional.

Di saat para analis sibuk mengagung-agungkan bagaimana AS bisa masuk ke “kamar tidur diktator” melalui dimensi siber dan luar angkasa, kawan-kawan Ojol justru menampilkan sisi kemanusiaan mereka, yaitu bahwa kedaulatan sebuah bangsa sedang dirampas demi kepentingan ekonomi global. Mereka mahfum bahwa secanggih apa pun pedangnya, penusukan terhadap sebuah kedaulatan, pada dasarnya tetaplah sebuah kejahatan. Kepekaan nurani kemanusiaan para pengemudi ojol ini merupakan antitesis dari narasi yang mendewakan kekerasan teknologi.

Memang, sebuah sikap untuk bersolidaritas itu biasanya lahir dari rasa senasib sepenanggungan. Ketertindasan rakyat Venezuela akibat perampasan kedaulatan bangsa, sumber daya alam, dan kehidupan yang sudah mereka bangun bersama pemerintah, sesungguh adalah hal yang juga dirasakan oleh para Ojol di jalanan Jakarta dan seluruh Indonesia.

Hal ini mengingatkan saya pada sejarah Indonesia dulu, pasca proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Saat itu kaum buruh pelabuhan di Australia bersolidaritas terhadap perjuangan rakyat Indonesia, yang telah berhasil memerdekakan diri dari kolonialisme Belanda dan Pemerintahan Militer Jepang, dengan melakukan aksi mogok, supaya kapal-kapal Belanda tidak bisa dengan mudah angkat sauh dari sana menuju Indonesia.

Sinisme Elit dan Ketulian Sosiologis

Ironisnya, solidaritas tulus dari bagian kelas buruh ini justru disambut dengan banjir sinisme dari para influencer media sosial. Salah seorang selebritas medsos bahkan mengejek aksi tersebut sebagai sebuah “kegilaan” dan mengaku “tidak paham lagi” dengan jalan pikiran para pengunjuk rasa. Sinisme semacam ini menyingkap sebuah ketulian sosiologis sekaligus arogansi kelas yang akut.

Dalam pandangan saya, mungkin bagi kaum elitis digital, kesadaran politik rakyat marjinal sering kali dianggap sebagai penyimpangan biasa atau sekadar “pengalihan isu”. Mereka gagal memahami bahwa kawan-kawan ojol memiliki naluri anti-kolonialisme dan imperialisme yang jauh lebih genuine. Massa Ojol yang menuntut pemerintah RI untuk mengecam AS sebenarnya tengah menjalankan mandat konstitusi kita, khususnya kalimat pertama dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu untuk menghapuskan penjajahan di muka bumi. Mereka paham bahwa penindasan ekonomi yang mereka alami dalam keseharian di aspal Jakarta sesungguhnya sebanding dengan penjarahan kedaulatan energi di Caracas.

Penutup: Kedaulatan Bukan Mahakarya Algoritma

Tragedi Caracas, sebenarnya merupakan pengingat bagi bangsa-bangsa Global South. Yaitu bahwa kedaulatan sebuah bangsa tidak dapat dan tidak boleh ditentukan oleh seberapa canggih sistem AI atau seberapa kuat daya acak radar lawan. Kedaulatan sebuah bangsa dan negara, sejatinya hidup dalam militansi rakyat yang menolak untuk tunduk pada kolonialisme dan imperialisme.

Jika para elit medsos dan para intelektual pemuja Amerika Serikat di bawah Trump menyepelekan dan menganggap remeh aksi solidaritas kawan-kawan Ojol, mungkin masalahnya tidak terletak pada rakyat yang dianggap “gila”, tetapi pada hati nurani para elit itu sendiri yang sudah lama beku dan tumpul oleh kenyamanan materi dan kekayaan di menara gading. Solidaritas Ojol terhadap bangsa Venezuela (Solidaritas Aspal/Jalanan) di Jakarta telah memperlihatkan secara gamblang bahwa nurani anti-kolonialisme tidak butuh teknologi canggih untuk mengerti mana yang benar dan mana yang sekadar perampokan berkedok “mahakarya militer”. Ia hanya butuh nurani kemanusiaan, yang melihat bahwa semua manusia seharusnya tidak boleh ditindas oleh manusia lainnya, dan penindasan manusia atas manusia adalah hal yang harus dihapuskan dari dunia ini.

Harsa Permata
Harsa Permata
Alumni Filsafat UGM, Dosen di berbagai universitas di Yogyakarta.

Related Articles

Artikel baru