Nomaden

Barangkali sejarah yang kita pelajari di sekolah adalah sejarah yang ditulis oleh mereka yang menetap. Di sana, perjalanan manusia digambarkan sebagai sebuah garis lurus: dari pemburu dan pengumpul, lalu menjadi petani, membangun desa, mendirikan kota, melahirkan kerajaan, negara, industri, hingga akhirnya peradaban modern. Dalam narasi itu, masyarakat nomaden selalu diletakkan pada halaman pertama sejarah, seolah-olah mereka hanyalah tahap awal yang harus segera ditinggalkan.

Diam-diam kita menerima kesimpulan itu. Nomaden identik dengan keterbelakangan. Menetap identik dengan kemajuan.

Namun setiap kali sejarah disusun secara linear, selalu ada sesuatu yang tercecer. Sebab sejarah bukan hanya tentang apa yang berhasil dibangun, melainkan juga tentang apa yang hilang ketika pembangunan itu berlaberlangsung.

“Aku menetap,” kata Barat.

“Dengan menetap aku membangun kota, menulis hukum, mendirikan universitas, menciptakan industri, dan mengumpulkan kekayaan.”

Timur mengangguk santai.

“Tetapi sejak engkau menetap, engkau mulai mengenal pagar.”

Pagar bukan sekadar kayu atau tembok. Ia adalah sebuah cara berpikir.

Begitu pagar berdiri, tanah berubah menjadi milik. Ketika tanah menjadi milik, lahirlah perebutan. Dari perebutan lahirlah perang. Dari perang lahirlah negara. Dari negara lahirlah mesin-mesin kekuasaan yang tak pernah selesai memperluas dirinya.

Karl Marx pernah menunjukkan bahwa sejarah modern digerakkan oleh akumulasi modal. Modal tidak pernah mengenal kata “cukup”. Ia hanya mengenal pertumbuhan. Kapital harus terus berkembang, menumpuk, memperluas ruang produksi, dan mencari wilayah-wilayah baru untuk dieksploitasi. Kolonialisme bukanlah kecelakaan sejarah. Ia adalah konsekuensi logis dari cara berpikir yang menganggap bumi sebagai objek kepemilikan.

Mungkin, tanpa kita sadari, semua itu bermula ketika manusia memutuskan bahwa ia harus menetap selamanya.

Martin Heidegger pernah berbicara tentang dwelling—berhuni. Tetapi berhuni, baginya, bukan berarti memiliki. Berhuni adalah cara manusia merawat bumi, bukan menguasainya. Modernitas kemudian mengubah makna itu. Kita tidak lagi berhuni; kita menduduki. Kita tidak lagi menjaga; kita mengeksploitasi.

Rumah akhirnya bukan lagi tempat pulang, melainkan simbol status.

Tanah bukan lagi tempat tumbuh, melainkan aset.

Hutan bukan lagi saudara, melainkan komoditas.

Laut bukan lagi kehidupan, melainkan cadangan ekonomi.

Di situlah bahasa kehilangan kesuciannya.

Sebaliknya, masyarakat nomaden tidak mengenal ilusi keabadian ruang.

Mereka tahu bahwa padang rumput akan habis.

Mereka tahu sungai akan berubah.

Mereka tahu musim akan berganti.

Karena itu mereka bergerak.

Bukan karena mereka miskin, melainkan karena mereka memahami bahwa kehidupan sendiri adalah gerak.

Laozi berbisik dari abad yang sangat jauh.

“Lihatlah air.”

Air tidak pernah memperebutkan tempat. Ia mengalir menuju titik terendah. Justru karena kerendahannya itulah ia mampu mengikis gunung yang paling keras.

Dalam Tao, yang hidup adalah yang bergerak.

Yang membeku perlahan-lahan mati.

Islam mengajarkan pelajaran yang hampir sama.

Seluruh nabi adalah pengembara.

Adam memulai sejarah manusia dengan perpindahan.

Ibrahim meninggalkan tanah leluhurnya.

Musa menyeberangi padang pasir.

Muhammad berhijrah.

Bahkan setiap Muslim diwajibkan mengelilingi Ka’bah, berlari kecil antara Shafa dan Marwah, bergerak menuju Arafah, Muzdalifah, Mina. Hampir seluruh ritus besar Islam adalah perjalanan.

Seolah agama ingin mengingatkan bahwa manusia tidak pernah diciptakan untuk menetap.

Rasulullah bersabda,

“Hiduplah di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”

Hadis itu bukan sekadar nasihat moral. Ia adalah sebuah ontologi. Cara memahami keberadaan manusia.

Musafir tidak pernah membawa seluruh isi rumahnya. Ia hanya membawa yang diperlukan. Yang lain ditinggalkan.

Karena tujuan musafir bukan menguasai persinggahan, melainkan mencapai tujuan perjalanan.

Gilles Deleuze dan Felix Guattari bahkan melangkah lebih jauh.

Mereka memperkenalkan apa yang disebut nomadology.

Bagi mereka, kaum nomaden bukan sekadar orang yang berpindah tempat. Nomaden adalah cara berpikir yang menolak pusat-pusat kekuasaan. Ia tidak membangun hierarki yang kaku. Ia bergerak seperti rimpang seagrass di bawah tanah—menyebar ke segala arah tanpa memiliki satu batang utama.

Sebaliknya, negara modern selalu berpikir seperti pohon besar.

Ada akar.

Ada batang.

Ada pusat.

Ada penguasa.

Segala sesuatu harus tunduk kepada satu struktur.

Nomaden tidak demikian.

Ia hidup dalam jaringan.

Ia tidak mendominasi ruang.

Ia melewati ruang.

Ironisnya, justru masyarakat modern semakin kehilangan kemampuan untuk bergerak.

Tubuhnya berpindah dari kota ke kota.

Pesawat melintasi benua.

Internet menghubungkan seluruh dunia.

Namun jiwanya tetap menetap pada satu hal: akumulasi.

Byung-Chul Han menyebut manusia modern sebagai subjek yang mengeksploitasi dirinya sendiri. Kita bekerja bukan lagi karena dipaksa, melainkan karena percaya bahwa semakin banyak yang dimiliki, semakin lengkap kehidupan kita.

Padahal yang bertambah bukan kebahagiaan.

Melainkan kecemasan.

Semakin besar rumah, semakin besar rasa takut kehilangannya.

Semakin tinggi jabatan, semakin besar kegelisahan mempertahankannya.

Semakin banyak modal, semakin sedikit waktu untuk menikmati kehidupan.

Akhirnya manusia menjadi penjaga gudangnya sendiri.

Ia mengumpulkan benda sepanjang hidup, lalu meninggalkan semuanya dalam satu sore yang kita sebut kematian.

Kearifan Timur tidak pernah memandang kematian sebagai tembok.

Ia hanyalah jembatan.

Dalam Tao, kehidupan mengalir sebagaimana air kembali ke laut.

Dalam Islam, kematian adalah perpindahan dari satu alam menuju alam yang lebih luas.

Jika demikian, bukankah seluruh hidup sebenarnya adalah perjalanan nomaden?

Rumah hanyalah persinggahan.

Tubuh hanyalah kendaraan.

Bumi hanyalah sebuah terminal yang akan kita tinggalkan.

Mungkin karena itu, pertanyaan terbesar bukanlah apakah manusia harus hidup menetap atau berpindah-pindah.

Pertanyaan yang lebih mendasar ialah: apakah jiwa kita masih mampu menjadi seorang musafir?

Sebab seseorang dapat tinggal puluhan tahun di rumah yang sama tanpa pernah menjadi tawanan rumahnya.

Sebaliknya, seseorang dapat mengelilingi seluruh dunia, tetapi tetap menjadi tahanan hasrat kepemilikan.

Nomaden akhirnya bukan persoalan kaki.

Ia adalah persoalan kesadaran.

Kesadaran bahwa tidak ada satu pun yang benar-benar kita miliki.

Kita hanya singgah.

Mengambil seperlunya.

Merawat seperlunya.

Mencintai tanpa menggenggam.

Lalu melanjutkan perjalanan.

Barangkali justru di situlah letak rasionalitas yang terlupakan. Peradaban bukan diukur dari seberapa lama manusia mampu menetap di bumi, melainkan dari seberapa ringan ia mampu meninggalkan bumi ketika saat perjalanan berikutnya telah tiba.

ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

“Kembali (bergerak)lah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai (oleh-Nya).” (QS. Al-Fajr [89]: 28)

Related Articles

Artikel baru